Sunday, February 3, 2008

menanti dan menunggu

Pada suatu pagi, ada kelinci kecil yang sedang menatap angkasa biru di tengah padang rumput yang hijau dan luas.
"Kenapa kau menanti Sang Elang?",tanya Pohon Pinus.
"Hari masih pagi, udara sangat segar untuk dihirup..",jawab kelinci kecil sambil menarik nafas sedalam-dalamnya,"Bukankah begitu Pinus?aahhh, segar sekali.."
kelinci kecil tidak menjawab pertanyaan Pohon Pinus dan mengalihkannya sambil meloncat agak menjauh.
"Hay kelinci kecil! Kebodohan apa lagi yang akan kau lakukan dengan menanti Sang Elang?",tanya seekor Belalang.
"Hay Belalang! Lihat! Matahari baru terbit! Sedang hangat-hangatnya! Bukankah ini hari yang indah untuk berjemur?",jawab kelinci kecil sambil melompat lebih jauh lagi.
Kali ini kelinci kecil memutuskan untuk melompat ke tempat yang lebih jauh lagi.
Ke tempat dimana hanya ada dia dan langit.
Ke tempat dimana ia bisa melongok ke angkasa dengan bebas.
Tanpa was-was.
Ia meloncat.
Terus meloncat dan menjauh.
Tiba-tiba di pertengahan jalan ia merasakan nyeri.
"Wah, luka ini kan sudah sembuh" Pikirnya dalam hati.
Tanpa memeriksa sumber nyerinya ia terus menjauh.
Dan berehentilah ia di bawah Pohon Beringin.
Walaupun serasa habis napasnya, tapi blum putus asa ia.
"Kelinci kecil.."
"Pohon Beringin, bolehkah aku merebahkan badanku di akar-akar kayumu? Aku ingin menengadahkan kepalaku tapi nyeri ini mengurangi kekuatanku..",tanpa mengizinkan Pohon Beringin berkata lebih lanjut kelinci kecil melambungkan sebuah permintaan.
"Baiklah, kelinci kecil..",Pohon Beringin yang bijaksana mengizinkan.
Dengan menggugurkan beberapa daunnya yang kecil-kecil ia berusaha melindungi kelinci kecil dari angin pagi yang dingin menggigit.
Sambil menatap angkasa, kelinci kecil mulai menggigil.
Angin pagi ini sedang dingin.
Nyerinya tidak berkurang.
Dilongoknya sumber nyeri itu.
"Wah, ternyata berdarah..pantas perih..",lirihnya.
Pohon Beringin berusaha semampunya merendahkan ranting-ranting rimbunnya untuk menangkis angin berhembus.
"Kelinci kecil, taukah kau bahwa Sang Elang adalah pemangsa kelinci?"
Kelinci kecil diam.
Tetap menatap angkasa. Mengaguminya. Mengagumi luasnya yang tak terhingga.
"Pohon Beringin, mengapa Sang Elang terlahir dengan sosok gagah dan angkuhnya yang memesona?",kelinci kecil yang tidak menjawab pertanyaan Pohon Beringin malah balik bertanya.
"Karena ia milik langit dan cakrawala",Pohon Beringin terdiam sebentar dan menjawab lagi,"Dan segala sesuatu milik langit dan cakrawala juga milik kebebasan."
Kelinci kecil menerawang.
Terus menatap angkasa.
Harapannya sederhana.
"Kelinci kecil apa yang kau lakukan?",tanya Pohon Beringin lagi.
"Aku hanya melakukan hal sederhana. Menatap angkasa. Ya, hanya menatap angkasa. Aku tidak sedang mengharapkan apa-apa",kelinci kecil menjawab.
Ia mengumpulkan sisa-sisa logikanya disela-sela rasa nyeri yang terus menyiksanya.
"Pohon Beringin, mengapa ia hanya melukaiku dan tidak memangsaku saja dan meninggalkanku takjub akan sosoknya?",dengan nafas satu-satu dan terengah-engah kelinci kecil melontarkan pertanyaan lain lagi pada Pohon Beringin.
Pohon Beringin jatuh iba pada kelinci kecil.
Awalnya ia terdiam.
Namun ia pun akhirnya memberanikan diri bertanya pada kelinci kecil,
"Kelinci kecil, apakah kau sedang menanti Sang Elang?"
...
tidak ada jawaban.
"Kelinci kecil..",dipanggilnya kelinci kecil dengan lembut.
...
Tidak ada jawaban.
Dilongoknya kebawah.
Mata kelinci kecil terbuka nanar tidak berkedip.
Basah.
Luka nya pun menganga masih mengalirkan darah.
Pohon Beringin tidak mendapatkan jawaban, apa yang sedang dilakukan kelinci kecil.