Tuesday, April 14, 2009

oh kini ku..tauuuuuu....

pagi ini saya sikat gigi dua kali. tidak sengaja, karena saya lupa sudah menggosok gigi sebelumnya. tiba-tiba saja pikiran saya berkelana saat saya menggosok gigi untuk kedua kalinya dan tersadar, 
"Ah, sekarang saya tau maksud dari musisi-musisi lagu mendayu-dayu yang sering bilang cinta tak harus miliki!"

begini pasalnya,

saat saya sudah mencolek odol dan menyikat gigi untuk yang kedua kalinya, pagi tadi, waktu mandi, saya baru ingat, lalu saya bermonolog dalam hati,
"Lho, kok gw gosok gigi lagi sih? tadi kan udah? ahh, udah kacau ni otaknya, kan urutannya biasanya gosok gigi itu pertama kali kalo mandi ga keramas! yaudah gpp deh, gw suka kok, kegiatan menggosok gigi..."

pikiran istirahat sebentar.

lalu si otak sebelah yang tidak sedang mengkoordinasikan otot tangan dan notabene menganggur, 
bagian otak yang juga sering tidak ikut solat waktu solat sudah menjadi kegiatan rutinitas badan, dan menjadikan saya kehilangan ingatan sudah rakaat berapa saya di tengah tengah solat, 
bagian otak yang melamun dan berpikir kemanamana saat bagian yang lain mengkoordinasikan mata dan mulut untuk membaca, dan membuat saya harus membaca berulang ulang supaya mengerti,
kembali menggelembungkan ide dengan ceria,

"hihi..gw suka gosok gigi! gw juga suka mandi! mandi tu enaaaaak :D soalnya gmana ya? segeerr terus rasanya kaya jadi baru aja, jadi kaya officially memulai hari baru!"
...
"gw cinta mandi! yeah :D"
...
"eh, gw cinta mandi tapi kok ga sering mandi ya?"
"yeee, cinta mandi juga bukan berarti harus sering sering mandi sampe 3x sehari juga kalee"

TING!

oooo..ya ya ya..mungkin ini ya rasanya, yang orang orang sering bilang, cinta tak harus miliki.

eh, sama kan ya?

Friday, April 10, 2009

Kumbakarna di Alengka, dan Aku di Jakarta.

Alkisah di sebuah kerajaan Alengka, hiduplah sang panglima serta ksatria pemberani dan lurus hati yang rajin bertapa. Kumbakarna, namanya. Ia tidak lain adalah salah satu adik dari raja Alengka, Dasamuka, yang juga dikenal dengan nama Rahwana.

Kumbakarna galau dan meragu karena Alengka negerinya tercinta akan berperang dengan Ksatria-ksatria Ayodya. Kenapa hatinya gentar? Padahal Kumbakarna adalah salah satu panglima sakti negeri Alengka. Kenapa galau masih saja ia rasakan? Padahal ia tau, kewajibannya lah berperang sampai titik darah penghabisan demi tanah kelahirannya. Tapi kenapa, kenapa nuraninya meragu?

Diam-diam jiwa nya berontak, pendiriannya kian goyah tak menentu arah. Batas rasionalnya mengaum keras karena ia sadar ia adalah seorang panglima perang tangguh, dan negerinya dalam keadaan siaga perang. Tindakan terhormat dan heroik apa yang tidak akan ia kerahkan bagi pertiwinya tercinta? Tetapi perasaan halusnya terusik karena ia tau penyulut perang ini adalah negerinya sendiri, ulah raja mereka, kakaknya, yang menculik Shinta demi nafsunya semata. Dan sejujurnya nuraninya memihak ksatria-ksatria Ayodya pemberani yang akan menggempur negerinya, apalagi, adik bungsunya tersayang, Wibisana, telah lebih dulu teguh pendiriannya untuk membela Rama mengalahkan kelaliman, walaupun itu berarti ia menjadi pengkhianat negerinya.

Di satu sisi ia tidak tega berkhianat dari tanah airnya, meski ia tau ia ada di pihak yang salah, dan di sisi lain, sebagai makhluk hidup yang berbakti kepada Sang Pencipta ia ingin bergabung menegakkan kebenaran bersama ksatria-ksatria Ayodya dan Wibisana yang telah lama tertindas oleh kejahatan dan ketidakadilan yang ditimbulkan Dasamuka.

Jalan mana yang akan ia tempuh?

Berangkatlah sang panglima tangguh, Kumbakarna, membawa panji-panji perang negeri Alengka dengan hati masygul. Meski demikian, kekuatannya sungguh sulit ditaklukan. Tidak cukup satu ksatria yang melawan untuk mengalahkannya, walau ia berperang setengah hati.

Keraguan itu ia pikul terus selama di medan perang. Air mata itu ia tahan terus sampai membekas di hatinya yang garang. Nuraninya tersayat untuk setiap ksatria Ayodya yang tewas di tangannya yang melenggang. Sampai pada akhirnya maut menjemput dan ia sambut dengan lapang.

Demikianlah kisah Kumbakarna, sang panglima perang negeri Alengka yang gundah hatinya. Ia mencintai tanah kelahirannya walau ia tau negerinya tidak seberharga itu karena ada di pihak yang lalim, tapi tetap, ia mencintainya, berperang untuknya, walau hatinya sudah milik negeri lain. Apa itu namanya ya? Selingkuh nasionalisme? Selingkuh tanah air?

Dan di tengah-tengah kemacetan yang menjebak selama berjam-jam ini aku diam mengamati sambil merutuki kota ini: JAKARTA. Jakarta-ku “sayang”. Sudah dua hari ini Jakarta menggila macetnya, entah karena menyambut kepulangan orang-orang yang menjawab panggilan pesta demokrasi rakyat, atau karena sudah tiga hari belakangan jakarta diguyur hujan, dan, seperti biasa, banjir melanda dimana-mana.

Entah berapa kali sudah aku menyangkal perasaanku terhadap kota kelahiranku ini. Entah berapa kali kunyatakan cintaku pada kota-kota lain. Aku selalu bilang aku muak, aku benci jakarta modern ini, dan semua hiruk pikuk konsumerisme dan budaya konsumtif abege tularan selebriti-selebriti ibukota. Mobil mewah dimanamana, butik-butik kemang tidak pernah sepi pembeli. Membuat aku sering berpikir, ”Kata siapa Indonesia miskin?”. Sejujurnya aku memang muak. Muak setengah hidup (yang mana setengahnya lagi sudah pasti mati dan menjadi istilah yang sudah sangat umum).

Aku muak.

Muak dengan kemacetan yang super.

Muak dengan kepadatan yang sudah sangat diluar batas normal.

Muak dengan orang-orangnya yang cemerlang tetapi individual tidak punya toleransi.

Muak dengan orang-orangnya yang kaya raya tetapi di jalan, egonya membibit menjadi seluas pulau Jawa, padahal Batavia tempat mereka tinggal cuma secuil ditengahnya.

Muak dengan kreasi kreatif otak orang-orang medianya yang tayang di televisi, yang seperti virus menyebar ke seluruh Indonesia, dan format acaranya tidak jauh dari mengeksploitasi kemiskinan dan kepapa-an rakyat jelata.

Muak dengan para developer berkuasa yang oportunis, yang terus membangun kota ini tanpa memperhatikan tingkat kepadatan penduduk, lingkungan, maupun kapasitas beban bangunan yang harus dipikul tanah kelahiranku ini.

Aku muak, dan aku ingin menangis.

Kenapa aku ingin menangis? Kalau aku memang sebegitu benci dan muaknya dengan kota ini, apa peduliku kalau kota ini suatu hari nanti benar-benar tenggelam karena semakin taun permukaan tanah Jakarta semakin turun?

Kalau aku memang muak, apa peduliku?

Aku..peduli...ternyata rasa muakku lahir karena protesku tidak kunjung bisa tersalurkan, tidak tau kemana harus disuarakan, tidak punya solusi untuk diajukan. Aku peduli. Bagaimanapun ini kota tempat aku lahir, menjadi balita, menjadi abege, kemudian berusaha menemukan jatidiri. Aku masih mengalami saat daerah jakarta selatan masih sepi, hijau, dan sinergis sampai sekarang bersesak jejal pertokoan dan perumahan-perumahan model gedong yang dipaksakan pada lahan sempit, tidak sinergis.

Aku menyayangi kota yang menjadi saksi tertatihnya langkah pertamaku sebagai manusia, tapi aku benci wajahnya yang sekarang, yang semakin hari kian tidak kukenali.