Tuesday, March 28, 2017

guilt-free parenting, parents talk by Pustakalana and Bright Beginning


Pengantar diskusi ini adalah, di era sekarang, dimana informasi itu dengan mudahnya bisa terakses, sengaja maupun tidak, belum lagi algoritma ngeri search engine dan media sosial, membuat kita terpapar dengan banyak sekali informasi, termasuk informasi parenting. Belum termasuk share dari berbagai group chat. sedemikian mudahnya membagi berita sampai kadang jadi simpang siur mana yang benar teruji bisa diterapkan mana yang konsep mengawang-awang-manunggaling-kawulo-gusti.

Pencitraan sempurna di media sosial juga seringnya membuat berbagai ibu yang gegap gempita dengan arus informasi, depresi karena merasa kurang sempurna menjadi seorang Ibu.

Berkaca pada pengalaman pribadi, saya sendiri pun seringkali merasa bersalah. Contohnya, jikalau di siang hari anak pertama "bertingkah" dan stock sabar saya sungguh sedang tipis karena ada palu imajiner berulang memukul kepala saya sampai berdengung,  "deadline, deadline, deadline". Kemudian disaat yang bersamaan, naga dalam perut saya demo akibat belum diberi sesajen dari pagi sementara saya belum sempat masak sama sekali, karena seharian belum juga duduk, disibukkan dengan olahraga cuci baju-cuci piring-jemur baju-menyusui-lipat baju dari jemuran-gendong si adik. Dan naga lapar yang terpelihara dalam perut saya di fase menyusui ini buasnya minta ampun. Jadilah saya ambil jalan pintas untuk bertengkar dengan si sulung. Kalau sudah habis drama satu musim pertikaian, untungnya kami terbiasa saling meminta maaf, memeluk, dan mencium dan saling menyatakan rasa sayang masing-masing, tapi...bukan berarti semasa bertikai tadi tidak terjadi apa-apa. Terbukti dengan, di lain waktu, jika saya mendengus sedikit saja, atau si sulung melakukan kesalahan sedikit saja (yang mana sangat wajar, namanya juga anak-anak) dengan refleks ia akan langsung menatap saya dengan mata bundar besarnya, pupilnya melebar, ia khawatir, lalu berujar cepat, "Ibu ga marah?" beberapa kali. Pilu rasanya hati saya. Segitu buasnya saya ya? Sama dengan ibu-ibu normal lainnya, saat si sulung tertidur saya seringkali menatapnya, hati saya tergerus, tenggorokkan saya tercekat, dada saya sesak akan rasa penyesalan. Dan sama juga dengan ibu-ibu normal lainnya, siklus diatas akan berulang kok di kemudian hari, begitu terus, entah sampai kapan, saya harap sih tidak usah terulang lagi ya, tapi prakteknya cyin.. *kehilangan kata-kata *cuma bisa lempar bantal ke penonton *sambil senyum malu malu buas *lari ke backstage *cari kueh manis *laper *anaknya gampang banget laperan sih *bukan baperan, catat, tapi laperan

"Rasa Bersalah" ini sesungguhnya wajar. Sangat wajar. Karena itu tandanya saya masih ingin menjadi lebih baik lagi. Sampailah pada beberapa minggu kebelakang, saya berdiskusi dengan teman saya Arie dan Chica. Ardhana Riswarie, seorang art therapist yang menjadi pembicara di Parents Talk ini dan Chica, founder dari Pustakalana, perpustakaan anak yang punya program-program anak dan orangtua, yang menampung acara Parents Talk.




Dalam diskusi itu tersebutlah sebuah keyword, "Guilt-free Parenting". Jadi sesungguhnyalah rasa bersalah itu wajar, yang tidak wajar adalah jika kita, saya, sebagai ibu, terus-terusan bergumul dengan rasa bersalah itu. Maka sepakatlah kami untuk membuka ruang diskusi bagi para orangtua bertemakan "guilt-free parenting" karena saya rasa banyak sekali diluar sana rekan seperjuangan yang relate dengan siklus rasa bersalah tadi. Arie juga menawarkan solusi bagi para ibu yang punya "hantu" rasa bersalah. 

Acara dibagi menjadi dua sesi; sesi diskusi tanya jawab dan mini workshop. Dalam sesi diskusi Arie dan Melva (psikolog dan play therapist) menjelaskan perkembangan dan milestone anak usia pra-sekolah. Setelah itu ditutup dengan mini workshop membuat mandala, dipandu Arie, serta proses reflektif dari mandala masing-masing peserta.

Ada beberapa poin penting yang saya catat untuk saya bawa pulang, pengetahuan baru dan bahan bakar untuk stock sabar saya yang tipis dan usang.



  1. Tahapan perkembangan emosi anak menurut Erikson. Disini yang dibahas 3 tahapan pertama, sampai usia prasekolah (pojok kiri bawah di catatan)
    • Tahapan trust vs mistrust (usia 0-1,5 tahun): Pada tahapan ini anak belajar mengenali orang-orang disekitar mereka, anak akan belajar apakah ia bisa mempercayai orangtuanya, orang-orang sekitarnya. Pupuk kepercayaan anak pada diri kita sebagai orangtua di tahapan ini. Targetnya, selesai tahapan ini anak merasa aman berada dalam lingkungannya.
    • Tahapan autonomy vs shame and doubt (1,5 - 2 atau 3 tahun): Nah ini, anak pertama saya sedang berada di tahapan ini, menuju tahapan selanjutnya. pada tahapan ini, anak sedang senang-senangya mengeksplorasi batas kemampuan mereka sendiri. Mau pilih baju sendiri, punya pendapat sendiri yang bertolak belakang dengan aturan orangtua (kemudian menuntut pendapatnya yang diikuti semua khalayak rumah), mau ikut masak, mau ikut cuci piring, mau ikut jemur, merasa bisa makan sendiri (kemudian berantakan), dan lain sebagainya. Di tahap ini, seringkali orangtua kurang sabar meladeni anaknya (iya, saya maksudnya *tunjuk tangan), dan besar godaan untuk menyabotase proses belajar anak di tahap ini. Jebakannya (saya sih merasa ini jebakan, haha) karena ini tahapan autonomy vs shame & doubt, jika saya memarahi anak atas proses eksplorasinya (yang seringnya merepotkan alih-alih membantu, ya namanya juga proses eksplorasi ya..) maka ia akan merasa dihakimi, dan bisa jadi defensif. Terjadilah episode demi episode pertikaian. Melva memberi contoh saat anak di usia ini sedang belajar pipis di kamar mandi kemudian ngompol. Di contoh ibunya tidak marah alih-alih mengajak si anak mencuci sendiri celananya dan berkata, "oh, ini waktunya ganti celana dan mencucinya", lalu saya membayangkan ibu-ibu dengan cahaya dan sinar lembut dari belakang menerangi rambut halusnya yang panjang dan rapih, baju putihnya yang bersih membalut sempurna di badannya. Sementara di kasus keseharian saya, saya akan refleks menyatukan kedua alis saya di tengah, mendengus kesal, sedikit melotot, rambut acak-acakan (karena emang dari bangun tidur gakan sempet nge-blow ke salon, sampe kapanpun sih kayanya gakan sempet), baju bau asi dan ada noda disana-sini, akibat belum ganti baju karena belum sempat mandi dari kemarin, apalagi keramas. Apalagi kalau dia ngompolnya diatas sofa. yuk mariii *lambai-lambai silk scarf manja. tumbuh tanduk mungkin sejenak. Pada tahap ini, anak akan belajar, akankah ia menjadi mandiri, atau akan terus tergantung pada ibu atau orangtuanya?
    • Tahapan initiative vs guilt (antara 2 atau 3 tahun sampai 6 tahun): Pada tahapan ini, pola prilaku dan sosialisasi yang sudah anak dapat di rumah, akan menjadi caranya melihat lingkungan sosial yang lebih besar. Disinilah terjadi proses eksplorasi dan penemuan hubungan-hubungan sosial. Dimana ia berada dalam lingkungan masyarakat, dalam pertemanannya di keseharian. Bagaimana ia mengidentifikasikan jati dirinya, kesukaannya. Di tahap ini pula mulai berkembang keterampilan leadership dan decision making. Melva memberi contoh, seorang anak perempuan bernama Tini, usia 5 tahun, yang ingin menjadi pemain sepakbola kemudian dilarang ibunya. Ibunya berkata bahwa sepakbola itu untuk laki-laki. Di hari ulangtahun Tini, alih-alih mendapatkan bola seperti yang ia minta, ia mendapatkan boneka barbi. Tini pun marah dan membanting barbi-nya didepan banyak tamu. Pada tahapan ini sebaiknya orangtua tidak dengan mudah dan cepat menghakimi identitas yang sedang dicari anak, karena inilah tahapan mereka mulai punya inisiatif atas diri, mengidentifikasi hobi/kesukaan mereka dengan "ke-aku-annya". Karena segala penghakiman di tahapan ini akan membuat mereka bertanya reflektif, "am i good or bad?"
  2. Fungsi-fungsi otak; dari belahan secara vertikal dan horizontal dan hubungannya dengan kebutuhan anak dan apa yang harus kita penuhi berdasarkan fungsi otak tadi (gambar otak di kiri atas dan dibawahnya)
    • Jika dibelah secara horizontal, otak manusia terdiri dari 3 bagian: (dari bawah ke atas) Reptil, Mammal, dan Rational. Ibarat sebuah rumah, Reptil adalah fondasinya, Mammal adalah badan rumahnya, Rational adalah atapnya. Bagian Reptil bertanggungjawab mengendalikan rasa takut dan kemampuan bertahan (survival). Jika anak sudah merasa aman (terkait dengan tahap pertama tahapan Erikson), maka ia bisa belajar untuk mulai mengolah emosinya, yang dikelola oleh bagian otak Mammal, ditengah. Jika ia bisa mengenali dan mengolah emosinya, maka ia akan bisa meraba logika dan mengasah kemampuan berpikirnya, dikendalikan oleh bagian otak diatas, Rational.
    • Seperti kita semua pahami, bahwasannya otak kiri bertanggungjawab pada segala logika berpikir serta eksakta, dan otak kanan bertanggungjawab pada olah rasa emosi dan seni. Meskipun demikian, mereka tidak bisa dilihat secara terpisah, adalah diantara mereka corpus callosum; the great mediator. Lewat corpus calosum ini kita bisa membantu bagian otak yang kurang dominan ikut berkembang. Contohnya, untuk membantu anak kesulitan belajar (otak kiri), digunakanlah terapi dengan pendekatan seni, agar dengan terapi olah rasa tadi, lewat corpus callosum terbuka jalan menuju otak bagian kiri.
  3. Kontrol perilaku X kontrol psikologis
    • Kembali ke tiga tahapan pertama anak menurut Erikson serta fungsi otak, dalam memaksimalkan perkembangan anak, sebaiknya kita tidak mengendalikan anak lewat tekanan secara psikologis, alih-alih kendalikan perilakunya. Contoh, jika anak berulah, ganti reaksi atau pertanyaan, "Kamu sayang ibu ga sih? Kamu ga sayang ibu ya?" atau "Kamu tuh, selalu bikin ibu kesel, ga nurut!" kedua reaksi tadi "menyerang" emosi dan konsep diri sang anak, bisa menyebabkan kebingungan dan ia adopsi sebagai jati dirinya. Jika kita mengendalikan perilaku anak, kita harus spesifik dengan perilaku mana yang kita anggap salah dan tidak menekan perasaan atau sisi psikologisnya. Saya rasa secara bahasa mungkin ga banyak berubah, tapi di titik ini kita harus bisa mengendalikan emosi diri kita sendiri sehingga bisa bertanya dengan ti'is style (gaya bertanya non-emosi/emosi netral). Contoh, "Kenapa kamu ngompol?" tidak dilanjutkan dengan embel-embel drama, "kamu tau ga sih, kerjaan Ibu tuh banyak. Kamu selalu deh ngompol (bener gitu selalu?). Kamu ga sayang Ibu ya (mulai..mulai..)?" atau, "Kenapa kamu nangis teriak-teriak?" tidak dilanjut dengan, "Berenti nangis, jangan nangis, kamu malu-maluin!". Dijawab atau tidak, selama si anak memiliki pendengaran yang normal sebetulnya ia mendengar, percayalah, tapi ia belum selesai mengolah emosi yang sedang dirasakannya. Beri ia waktu, jika sudah kembali tenang, coba ajak bicara lagi, bernegosiasilah dengan sabar seperti menghadapi kabel merah dan biru pada bom di film-film action yang dibintangi Sylvester Stallone.
  4. Beri batasan (gambar lingkaran di kanan tengah)
    • Dalam rangka mengontrol perilaku, untuk membantu, kita bisa menciptakan "dinding batasan", bernegosiasilah di awal dan konsistenlah dengan perkataan dan konsekuensi di awal. contoh (a) kasus paparan gadget: diawal bernegosiasi "30 menit ya.." si anak pasti tidak pikir panjang langsung setuju, yang penting dapet. Pasang timer, menjelang 30 menit, ingatkan anak, "sebentar lagi selesai ya.." satu kali, dua kali, sampai timer betul berbunyi. Minta gadget baik-baik, dan beri pengertian akan kesepakatan di awal, untuk menghormati kesepakatan dan menepati janji. (b) kasus anak susah mandi: beri batasan yang jelas dan definitif, misalnya, pokoknya dalam 1 hari anak harus mandi. Batasan ini harus juga sudah mendapat kesepakatan anak ya. Jika pagi anak tidak mau mandi, coba beberapa jam kemudian, terus sampai sore. Ingatkan kembali perjanjian di awal, jika tidak mau juga sampai waktu mandi lewat beritau konsekuensi nyata dan logis yang bisa ia dapat kalau ia tidak mandi, seperti bau, gatal, atau rasa tidak nyaman karena keringat. Dengan penyampaian apa adanya dan tidak berusaha menakut-nakuti tentunya yaa :)
    • Tentu saja batasan-batasan ini harus sesuai dengan gaya hidup orangtua atau pengasuh. be realistic. Kalau ingin anak mandi, tentunya ia harus melihat orang-orang di sekitarnya selalu mandi. Kalau ingin anak tidak terpatri pada layar gadget, tentunya orang-orang di sekitarnya juga harus punya hidup diluar layar gadget, dan seterusnya.
  5. How to deal with guilt and keypoints takeaway
    • huff! akhirnya, poin terakhir! OKEH, ini yang paling penting. "Gimana ya, saya sudah terlanjur sering "menyerang" psikologis anak, lihat, dia dikit-dikit nanya, Ibu ga marah, saya udah salah banget ini, salah terus? Jadi saya salah? Saya bukan ibu yang baik?" *nangis sambil lari-lari keluar bangunan nyari air ujan. Kalo kata Arie kemarin, ya nggak gitu juga. coba diterima rasa bersalah tadi, akui kita sebagai orangtua, sebagai Ibu melakukan kesalahan. Setelah diterima dan diakui, coba cari waktu yang tepat untuk dibicarakan dengan anak. Contoh, saat anak bertanya, "Ibu, Ibu ga marah?" waktu ia menumpahkan setitik air susu di lantai, setelah menjawab, "Enggak.." coba tanya balik, "Kenapa kamu pikir Ibu marah?" kalau ia bisa menjawab coba respon jawabannya dan beri pengertian bahwa kita marah saat itu karena, misalnya, saat ia menumpahkan susu tempo hari, kita sedang banyak pekerjaan, sehinggahal kecil membuat kita marah. Mintalah maaf dan berikan konfirmasi bahwa itu bukan kesalahan si anak, tapi situasi kadang tidak ideal dan membuat kita, sang Ibu, menjadi marah.
    • Segala hal yang membuat kita merasa bersalah pada anak, coba diluruskan lewat percakapan-percakapan. Bisa dibuka dengan cerita dongeng yang mirip atau menganalogikan, bisa dibuka dengan cerita sambil menggambar, atau menunggu waktu anak bertanya. Meminjam istilah Arie, "Ya tinggal diluruskan aja, sama anak.."
    • Tidak usah merasa bersalah jika kita tidak bisa 24 jam selalu in-tune dengan anak, karena memang wajarnya kita punya jeda agar pribadi masing-masing masih punya ruang untuk berkembang. Walau anak lahir dari rahim kita, tapi kita dan mereka adalah dua individu. Dan dua individu selalu perlu jeda dan ruang gerak. Kita selalu bisa "kembali" ke frekuensi anak saat ia membutuhkan kita atau "pergi" dari frekuensi anak saat kita perlu waktu untuk mencerna hal lain.
    • Kreatiflah dalam bernegosiasi saat menyepakati batasan. Gunakan contoh kasus pada buku cerita favoritnya, gunakan pretend-play, gunakan tokoh imaginary, gunakan apapun. sekali batasan sudah disepakati kita memiliki jangkar untuk mengendalikan perilaku anak alih-alih menyerang sisi emosi dan psikologisnya.
    • kembali mengutip Arie, "Parenting itu 10% knowledge, 90% intuisi" semua teori yang pernah kita lahap, pada akhirnya harus menyesuaikan kebutuhan anak yang sangat berbeda-beda. Asah intuisi kita sebagai orangtua, sebagai Ibu, karena at the end of the day, that is the most powerful tools that we have, beyond any theories :)
Sekian buibu, pakbapak! huf udah kaya nulis sripsi! mudah-mudahan tulisan panjang lebar ini bermanfaat yess! 

Please stay sane whenever, wherever you are. Karena hanya jika kita bisa mengakses pintu-pintu emosi kita sendiri, baru kita bisa mengolahnya, untuk kemudian bisa menghadapi anak dengan ti'is style tadi. Terimalah, akuilah bahwa kita tidak akan terus bisa waras, tapi bukan berarti kita selalu tidak waras (pindah alamat dong ke Sumber Waras Tidak kalo gitu), kita selalu punya pilihan untuk mengambil pelajaran, menerima rasa bersalah, kemudian move on dan mengurai simpul masalah satu persatu.

semangaaat!

tertanda,
penghuni sumber waras tidak

:p

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...