Sunday, October 15, 2023

mati, hilang, dan kehilangan

Hari ini salah satu kawan saya berpulang, setelah sekian bulan, tidak hanya ia tapi juga istri dan anak satu-satunya berjuang melawan sakitnya.


Saya mengenalnya dengan nama Kikio. Pertama bertemu dan kenal saat untuk pertama kalinya saya mencoba untuk bekerja sambil kuliah di Bandung, saat itu tahun 2005/2006 seingat saya. Radio Prambors baru saja melebarkan sayapnya untuk membuka studio siaran lokal di berbagai kota selain Jakarta, unit, sebutannya. Jaman SD SMP, Radio Prambors termasuk radio yang selalu saya dengar sama Mba Tuk, ART di rumah yang seumuran dengan saya. Kami juga suka coba-coba telfon untuk request lagu, yang nyoba nelfonnya udah ngandelin muscle memory jemari, karena begitu nada sibuk, harus refleks tekan tombol pemutus dan cepat-cepat memencet nomor radio. Telfon rumah saya belum ada tombol redial kala itu. Penyiarnya Fla, inget betul saya. Saat itu rasanya saya masih SMP. Fla termasuk inspirasi awal yang memotivasi saya untuk bisa fluent berbahasa Inggris. Memori saat SMA beda lagi, karena kemudian ingatan saya akan Radio Prambors di kala itu lekat dengan sponsor pensi, hingar bingar dinamika band indie, dan Katakan Cinta (Halo Mba Vena!). Saat beranjak kuliah, ingatannya berbeda lagi, kala itu saya lebih tertarik dengan siaran pagi yang selalu menghibur (karena ada waktu untuk mendengarkan diatas jam 7 juga, haha), ada Dagienkz dan Desta. Walau sesaat setelahnya saya pindah ke Bandung. Jadi waktu dapat tawaran kesempatan bekerja di Prambors saya ga pikir dua kali. Baru kepilih jadi ketua himpunan jurusan saya lepas. Kegiatan fasilitator aktivitas kreatif anak-anak, yang saya suuuka banget, saya lepas. Tujuan saya jelas, saya mau kerja di Prambors, whatever it takes. Kuliah bisa sambil, haha kebalik.

Ingat betul saat itu pertama kali saya diminta ke kantor Prambors Bandung, di Hotel Preanger. Sambil bawa printed cv, ga kebayang orang-orang yang ada di dalamnya seperti apa, siapa, ga kenal siapa-siapa juga, saya masuk dan menemui seseorang yang duduk di depan meja (dan komputer PC-nya) yang terbuka, bukan di dalam ruangan khusus, di depan studio siaran. Saya celingak-celinguk awkward, disambutnya dengan pertanyaan, 

"Cari siapa?"
"Euh..ini ada janji temu.."
"Oh, calon produser yang baru ya? Sebentar ya.."

Saya duduk di kursi depan mejanya, Ia berlalu ke ruangan di sebelah, ruangan Mas Willy, Program Director Prambors Bandung yang dicomot dari Semarang, pada masanya. 

"Ditunggu ya, nanti masuk aja kesana", ujarnya saat kembali dari ruangan sebelah.

Setelah itu saya tidak ingat detail pasti apa yang terjadi, saya hanya ingat deal gaji bulanan diluar tunjangan ini itu, yang saya tidak ambil pikir juga jumlahnya, bukan karena nominalnya, tapi karena saya memang ingin bekerja, belajar, memulai dan menjadi bagian dari tim yang membangun Prambors Bandung. Hari pertama masuk kerja saya bertemu Ia lagi, setelah itu saya tau, Ia memperkenalkan diri dengan nama Kikio. Kikio mengenalkan saya ke setiap penyiar Prambors dan operator saat itu. Dari yang standby dari malam sampai subuh untuk relay siaran Desta Dagienkz (ini pada masanya emang gini nulisnya, haha, iya saya juga asa euhh..nahaa. Namanya Ari, dulu ada Ari Tulang, karena dia kebalikan dari "tulang" makanya dipanggilnya jadi Daging. At least itu informasi yang saya dapat haha), penyiar-penyiar jam 10, penyiar prime time sore, penyiar malam. Ada Alax, Laras, Mba Ayu, Sandra, Shindu, Yas, dan Joy. Luthfy saat itu sudah lebih dulu kenal karena sempat bertemu saat Ia mengajar di DJ Ari. Saat itu Ia masih jadi penyiar 99ners. Rasanya Luthfy juga yang merekomendasikan saya masuk Prambors. Dari lini operator ada Sahrul, Ridho, Rezda. Ga cuma itu, Kikio yang ngenalin sama anak-anak (ya waktu itu bukan anak2 juga sih..mereka lebih senior dari kita2 yang di prambors ya hahahaha) Female dan Delta. Ga hanya penyiar tapi juga operator, tim sales, tim produksi, tim teknis, tim support, FO sampe "bos-bos" di sana, haha. Waktu itu masih ada Oom Leo (Pak Leo) yang katanya tim yang diposisikan sementara di Bandung dari Jakarta. Sampe sekarang saya ga tau kenapa tapi Pak Leo ini lumayan sering diledekin dan dijadikan bulan-bulanan, haha, cuma denger aja, ikutan ketawa, tapi ga ikut paham konteksnya. Seringnya mereka pakai bahasa Sunda, terutama sama penyiar-penyiar sore. Saat itu saya belum terlalu akrab dengan bahasa Sunda.

Semenjak ada saya, Kikio jadi bisa lebih fokus sama produksi siaran. Tugas copy writing iklan, VO (Voice Over), hampir semua dialihkan ke saya. Dikasih template word dan brief, saya bikin, acc Kikio. Kalo Kikio acc saya lanjut kirim ke tim produksi, cari talent VO, booking talent VO, dan directing pas take VO. Semuanya ngikutin arahan Kikio di awal. Saya merasa semangat dan senang dengan pekerjaan ini karena saya diijinkan, bahkan diapresiasi, untuk mengeluarkan ide-ide yang mungkin aneh, haha. Biasanya ditanggapi dengan, "Apaan sih?", sekarang, "Ok, lucu, cobain aja!" Ga lama tanggung jawab saya nambah, providing topik untuk penyiar, terutama penyiar di saat Kikio belum sampai kantor, juga directing penyiar kapanpun dibutuhkan. Waktu itu Kikio fokus sama acara prime time unit, penyiarnya Shindu sama Yas. Jadi hampir sisa kerjaan lain saya yang back up dengan senang hati. Saya belajar banyak banget. Ga cuma ilmu teknis, tapi juga bahasa Sunda, politik dan dinamika pergaulan dan skena Bandung. Kikio juga membawa Shindu dan Yas saat itu secara ga langsung jadi mentor saya. Mungkin karena Kikio "bertanggung jawab" mendidik saya, membuat Shindu dan Yas juga merasa perlu membekali, ngasih tau, dan nasehatin saya tentang semua-semuanya, haha.

Saya inget banget, pernah ada masanya, saat itu saya baru putus cinta, dan satu-satunya lagu yang saya mau dengar adalah lagunya John Mayer yang Heart of Life. Tiap saya ada di kantor lagu itu pasti saya sisipkan ke playlist siaran. Shindu protes waktu itu, "INI PASTI SI KIWIL NIH!" hahahahahha, tapi Kikio ga protes. Kikio (maupun Shindu dan Yas) saat itu ga pernah jadi sosok yang "temen curhat" menye-menye. Kikio cuma banyak nanya, terus (mungkin) kalo cerita saya terlalu "NAON SIH MANEH GITU DOANG" dia cuma nyengir dan mendengus, sambil matanya lekat di layar komputer. Abis itu dia ngasih kerjaan, atau ngasih referensi, atau pulang kerja ngajak makan bareng Shindu Yas. Paling sering nyengir dan mendengus aja sih. Khas-nya Kikio di mata saya. Tapi dia selalu nanya update. Shindu sama Yas juga semodel sama Kikio. Tapi saya ga feel offended atau diremehkan, kebalikannya, walau ga gitu ditanggepin menye-menyenya, saya selalu merasa ditemenin. WALAU SERING JUGA saya nangis gara2 mereka hahahahaha, biasanya karena ngasih tau kalo kerjaan saya kurang bagus tanpa tedeng aling-aling, hahahaha. Hih gemess! Biasanya saya kalo menye-menye sama penyiar-penyiar pagi yang seumuran, haha, sama Laras atau sama Teh Reina, dulu sempat ada Teh Reina, senior saya yang KP di Prambors. Kalo udah malem dan menye-menye, biasanya tim operator yang jadi teman saya, haha, aduh malu kalo inget, maaf yaaaa Rezda, Ridho, Sahrul! Waktu Luthfy sudah menjabat jadi PD, sering juga saat itu saya "curhat" sama Luthfy, tapi konteksnya lebih ke...dia perlu memastikan performa saya ga kendor, absen ga banyak, dll, hahahha. Tapi mereka semua adalah "Kakak" buat saya dengan segala mines dan ples-nya. Dan pintunya Kikio. 

2006

Ga lama saya kerja bareng Kikio di Prambors Bandung, mungkin setahun-an. Sesaat setelah acara gagasannya, Rock Comedy Attack (RCA) di approve dan mengudara, Kikio undur dari Prambors Bandung, menitipkan juga Yas dan Ucay penyiar RCA-nya. Saya lupa saat itu Ia meneruskan bertualang kemana. Yang saya ingat adalah tanggung jawab-tanggung jawab yang perlu saya emban selepasnya Kikio ga di Prambors. Semua acara kontan jadi tanggung jawab saya, sejalan dengan script iklan, VO, belum lagi kalau ada liputan keluar dan event-event siaran di luar. Saat itu saya sibuk menerapkan jurus-jurus yang sudah Kikio ajarkan sebelumnya. Ga sempurna, ingat betul saya pernah diajak ngobrol one on one sama Shindu karena menurutnya saya kurang "berisi", disuruh baca koran, baca artikel tuh kompas dot kom, jangan baca artikel majalah aja. Berita tuh lokal juga di angkat, tujuan kita tuh mencerdaskan juga, raising awareness, jangan fun-fun aja, sesekali ada artikel berita yang ga selalu berkaitan sama musik atau fashion. HAHA, abis. Belum selesai, pernah juga di pelototin dan di hardik Shindu gara-gara pas waktu gantiin Yas jadi tandem pas Yas ga bisa siaran, saya ngomong "mcd bau kapitalis" hahahahahhahaha. INGET BANGET itu volume mic saya langsung diturunin, dia melotot, tapi sambil ngalihin pembicaraan bridging ke lagu. Abis saya dimarahin. Kayanya abis itu dilaporin ke Kikio, haha, kalo ga Shindu yang cerita ya saya yang cerita sih. Soalnya tiap Kikio main ke studio semua ngeriung dan cerita ini itu selewat.

Rasanya memory saya banyak yang di-compress, di-zip, ga banyak yang saya ingat setelah-setelahnya. Apalagi setelah itu Prambors pindah kantor, tim kami berkembang, ada Eeto yang menggantikan Kikio mengisi peran produser. Berdatangan juga penyiar-penyiar baru. Ga lama saya juga memutuskan keluar. Prambors sudah tidak membuat saya excited lagi. Setelah itu pertemuan-pertemuan dengan Kikio bisa dihitung jari, baik yang kebetulan maupun janjian. Waktu Kikio menikah, lalu waktu saya mau menikah, ketemuan di Potluck yang baru pindah ke Wahid Hasyim saat itu, dan Kikio sedang menjadi bagian dari Potluck. Kikio sempat memberikan wejangan tentang kehidupan pasca menikah. Setelah itu ga pernah ketemu lagi yang janjian. beberapa kali ga sengaja ketemu di Gambir, Kikio sudah bekerja di Agency, saya sudah di Labtek Indie. Pertemuan kami juga singkat jelas padat, update karier, sedikit Kikio cerita juga sedang menjaga Ayahnya yang sakit di Jakarta, itulah sebabnya sering jumpa di Gambir juga. Sempat sekali ambil foto, wefie. 

2019

Sampai terakhir banget ketemu tahun lalu, 19 September 2022. Waktu itu emang janjian, sekalian ajak Fani yang baru pulang sekolah dari US, ketemuan di Kozi DU. Ga foto, selain karena belum mandi, karena juga mikir buat apa, hehe. Tapi Kikio merekam saya dan Fani yang lagi ngobrol, candid. Waktu itu ketemu Kikio badannya mengurus, tapi itu (saya pikir) karena sedang giat bersepeda. Dari rumah di Buah Batu ke kantor yang di Raden Patah pulang pergi naik sepeda. Lepas 19 September sempat beberapa kali janjian jumpa tapi ga kejadian. Ada aja, dari yang kaki saya retak, sambung positif covid, pas sembuh Kikio yang padet submit beberapa pitch, lalu notifikasi whatsapp percakapan kami senyap. 

Sampai Juni tahun ini kembali saya kontak Kikio. Lihat postingan Yas, Kikio masuk borromeus, saya tanya, "Sakit apa Ki?" karena bulan November terakhir kontak Ia bilang sehat. Kikio cerita sejak maret terdiagnosa Sirosis Hati, dan saat itu asites-nya kambuh, penumpukan cairan di perut. 16 Juni itu jadi whatsappan terakhir saya sama Kikio. Bertemu lagi minggu lalu, saya, Sahrul dan Sonson menyempatkan menjenguknya di RSHS. Beberapa kali lihat fotonya di instagram, saya pikir saya siap ketemu Kikio dengan sosoknya yang berubah. Ternyata masih pilu juga lihatnya. Kikio ga berubah masih iseng aja, ngomentarin Sonson dan Sahrul. Jus melon tanpa es dan minim gula yang kami bawa diminum habis. Tapi saat itu Kikio bilang ke saya, dengan ucapan yang sepatah-dua patah kata, lirih, "Gw teh capek..gw capek. gw mikir, ini teh ujungnya apa sih". Kikio juga cerita belanja online, beli kokakola, cuma buat diliatin aja. Sedih banget. Cerita juga kapan tau makan yamin, mie-nya aja, katanya, "Enaaaaaaaak banget! Sumpah enak banget!"

Sepanjang waktu kami mematung, mengajak bicara, mendengarkan. Berusaha untuk bersikap biasa dan tertawa. Tapi kami pilu. Sekitar pukul 12 lewat kami pamit. "Nuhuun pisan!", kata Kikio. "Yooo..sing enggal damang ya Kii!" 

Mendapat kabar pagi ini saat tadi bangun tidur cukup mengaduk-aduk. Saya ga tau how to process. Yang terlintas di benak saya Teh Mira istrinya Kikio dan Cika anaknya. Ada rasa sesuatu, tapi kurang kenal itu rasa apa ya. Kebetulan pagi ini ada janji, jadi dapat kesempatan diam sendirian tanpa banyak mikir, karena cuma lihat jalanan. Ga bisa ke rumah Kikio buat melepas jenazah, saya mikir. Juga mencerna, perasaan yang hinggap. Pagi tadi juga ditelfon Ibu, memperbarui kabar Bapak yang kondisi kesehatannya juga sudah tidak prima, dengan segala dinamika komunikasi di rumah. Saya tidak paham rasa yang hinggap. Saya jadi ingat wawancara Keanu Reeves. 


"What do you think happened when we die, Keanu Reeves?"
".......fuuhhhh...I know that the one who loves us will miss us."

Ini bukan lagi persoalan mereka yang meninggalkan, mereka sudah selesai, tapi yang ditinggalkan. Rasa yang hinggap, saya pikir, ini bukan lagi tentang Kikio. Tapi perasaan-perasaan mereka yang pernah bersinggungan dengan Kikio, dan fitrah manusia yang mudah berempati. Buat saya, yang membuat perasaan entah apa rasanya, mungkin karena memikirkan Teh Mira dan Cika. 

Saya belajar dari Kikio. Saya belajar untuk menikmati segala sesuatu selama bisa. Saya belajar bahwa semua yang saya terima ini nikmat, ia bisa diambil kapan saja. Saya juga diingatkan bahwa semuanya hanya sementara, cuma soal-soal yang perlu kita sense dan responds. Dan walaupun makhluk yang disebut manusia ini punya perasaan, tapi perasaan bukan segalanya, bukan semuanya. Dan kita hanya sebagian kecil dari seluruh cerita. Karena hanya kecil dan sesaat itu, setiap detiknya harus dinikmati dan diperjuangkan yang terbaik. 

Hmm..gw masih suka marah-marah dan ga sabaran sih Ki, apalagi kalo udah tertekan di dalam pressure cooker kehidupan. Termasuk ga sabar experiencing life process itself. But i will die trying and resist those tempatation to surrender to the default of so-called auto-pilot lyfe.

Semoga amal ibadah Kikio diterima di sisi-Nya. 
Semoga Teh Mira dan Cika selalu dalam lindungan-Nya, dimudahkan segala usahanya, dan diberi kelancaran dalam segala niat baiknya. Aamiin.

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...