Saturday, August 12, 2023

(Kem)Bali: Denpasar-Ubud Naik Bus!

Break minggu ini saya mengunjungi Nuha ke Ubud 😀

Akhir Juli kemarin sebetulnya saya juga ke Bali dengan sahabat-sahabat kuliah, dan ke Ubud juga, tapi dengan mindset dan companion yang berbeda, rasa sebuah perjalanan juga menjadi varian yang berbeda-beda.

Kali ini saya pergi ke Ubud dari Denpasar, yang jaraknya kurang lebih 19 kilometer. Kata Gmaps sekitar 70-80 menit naik mobil, 50 menit naik motor, dan 100-150 menit naik bus. Dan karena ada opsi naik Teman Bus, cencuuuuu aku pilih naik Bus..dengan hati yang sangat gembira hahaha! Saya suka banget naik transportasi publik yang terawat, bagus, dan sistematis (kalo berantakan, kotor, dan acak-acakan ga suka karena painful 🥲). Soalnya banyak interaksi yang bisa diamati, diresapi, dan banyak melewati tempat-tempat yang bisa dengan leluasa saya cermati, dan saya pikir-pikir (hahahahaha apaaaa lagi dipikir-pikir, emang oskadon, "yen tak pikir-pikir". Udah ahh).

Nuha bilang, dari tempat saya menginap, saya harus naik ojek dulu sekitar 7 menit, "Ke Halte Katrangan, Kak, nanti naik Bus K4B dari sana..". Baik. Pagi sekitar jam 10 lewat saya melaju dengan ojek ke halte bus Katrangan. 

Turun dari ojek saya bingung, juga tukang ojek-nya, haha. Soalnya di titik maps emang ga ada tulisan Halte sih, dan itu pinggir jalan banget. Ternyata setelah celingak-celinguk ini "halte"-nya:

keliatan ga? coba kita zoom in ya..

Naaah, ini dia..serupa tempat pemberhentian bus aja ternyata..bus stop..

Setelah percaya diri kalau itu dia tujuan saya, akhirnya saya pun menyeberang jalan dan menunggu di balik tanda berhenti bus ini, menanti bus K4B yang kata Gmaps akan lewat setiap 7 menit.

Pemandangan dari tempat saya berdiri menunggu Bus K4B


Pemandangan di belakang saya. Untung tempat pemberhentiannya di depan sebuah rumah yang gerbang depannya cukup tinggi, jadi ada bayangan buat neduh sambil nunggu. Terik juga jam 10an..

Sempat agak ragu juga, "Bus nya bakal lewat ga ya? kaya apa ya Bus nya?" eh kira-kira 4 menit kemudian saya melihat penampakan Bus K4B dari kejauhan. Menurut informasi staff hotel, pembayaran Bus bisa dengan uang elektronik atau QR, aman kalau begitu.

katanya sih, 1 jam 11 menit..

Seperti ini penampakan dalam Bus. Rapi, bersih, dan terawat. Pak Supir juga ramah dan tertib. Full AC.

Begitu masuk, Pak Supir mempersilakan saya untuk membayar dengan QR, yang barcode-nya sudah terpajang di dashboard Bus, sambil Bus perlahan maju saya membayar dengan QR. Rp 4,400 saja, saya tinggal duduk nyaman. Di dalam hanya ada 3 penumpang lainnya, dua pribumi dan seorang perempuan asing yang membawa ransel carrier dan 2 tas kecil lainnya, sedang duduk sambil membaca buku traveling guide Bali. Itu cuma kelihatan sendal jepitnya saja, haha. 

Jalan yang kami lewati, ini ada yang jual Ubi Cilembu, hahahahahaha.

Kira-kira di pemberhentian Batubulan, naik tiga orang anak muda dan satu keluarga yang terdiri dari Ibu, Ayah, Anak perempuan balita, dan Nenek dari balita tersebut. Tidak lama di pemberhentian selanjutnya naiklah seorang perempuan paruh baya yang tampak seperti penjual kipas, Ia tampak membawa kotak dagangannya dan anak balitanya yang juga perempuan. Kira-kira 2 pemberhentian selanjutnya naiklah seorang perempuan yang tampak sudah berusia senja. 

Saya mengamati saja setiap interaksi. Bagaimana sang balita yang naik bersama keluarganya cerewet sekali, tampak terus mengajak bicara si perempuan asing yang kini menutup bukunya dan berusaha ramah berinteraksi kembali, yang mana tak lama ia disembur bersin si anak. Dua kali. Hahahahahahaha, saya ketawa tapi kasihan juga. Untung dia ga lihat saya ketawa. Setelah itu si anak perempuan berusaha mengajak interaksi anak perempuan penjual kipas, tapi si anak perempuan penjual kipas ini lebih anteng, hanya duduk di pangkuan ibunya sambil memeluk, tidak lama saya perhatikan tampak Ia tertidur sementara si anak perempuan yang satunya masih sibuk berbicara dengan bahasanya sendiri. Saat sang ibu mengoper sampah pembungkus makanan ke sang ayah, perempuan berusia senja yang duduk dekat kotak tempat sampah sigap menawarkan tangannya untuk menerima sampah. Sang ayah sempat memberi gestur sungkan, tetapi sang perempuan berusia senja memberi gestur, "Sudah, ayo, sini, gapapa", dan akhirnya sampah dioper tanpa seorang pun harus berdiri.

Quotes yang menarik, sejalan dengan apa yang sering saya dan Saska diskusikan, tentang aspirasi kami untuk jadi pribadi yang melihat dunia atau menerima apapun dengan mindset "biasa aja", ga perlu merasa menjadi "si paling", hahahahahaha, yang surprisingly, ga mudah.
Ga perlu jadi empath, ga perlu jadi membenci juga, ga perlu menghakimi, tapi mencoba untuk memahami, apapun itu, segala sudut pandang dan kemungkinannya..

Saya refleks tersenyum melihatnya. Pas banget, saya sedang sambil meneruskan membaca  buku "Humankind", sampai pada chapter dimana Bregman membedah berbagai riset psikologi sosial yang selama ini menyimpulkan bahwa manusia itu egois dan buruk. Tapi setelah ditilik kembali ternyata simpulan-simpulan riset-riset tersebut sedikit dibelokkan dan tidak objektif. Walau sering terbersit di kepala saya, "Bregman tampak trying too hard untuk membuktikan bahwa manusia pada dasarnya baik..", tapi sungguh, saya ingin sekali mempercayai esai-esai Bregman dalam buku ini. Dan melihat interaksi di dalam transportasi publik yang ramah ini, sungguh menghangatkan hati saya, sehangat terik matahari dari luar yang menembus kaca Bus yang dingin pagi ini.

Di pemberhentian RS Ari Santhi, sang perempuan berusia senja turun. Oh akan ke Rumah Sakit rupanya..sang balita perempuan yang ceriwis tadi melemparkan sayonara yang dibalas sama meriah oleh sang perempuan berusia senja yang perlahan menuruni tangga Bus, keluar. Tiga orang muda-mudi yang naik berbarengan dengan keluarga kecil tadi juga sama ceriwisnya, duduk di depan saya. Lucu kalau menguping obrolan asik orang lain di dalam transportasi publik.

Tidak lama Bus sampai di wilayah Ubud. Satu-persatu para penumpang turun. Pertama sang perempuan asing, lalu muda-mudi tiga orang yang rencananya akan pulang naik transportasi online (lho kok saya tau, hahahahaha). Di Monkey Forest, keluarga kecil dengan anak perempuan ceriwis tadi turun, menyusul sang penjual kipas dengan anak perempuannya turun dekat Ubud Art Market, saya turun terakhir di pemberhentian akhir, Puri Ubud.

Ini pemandangan saat saya hendak turun, disana terlihat QR code untuk membayar di dashboard Bus, saat naik ga sempet saya foto.

Bus Stop terakhir, Puri Ubud, tempat saya turun.

Sesampainya di sana, Nuha sudah menunggu, setelah saya berjumpa dan melepas kangen, kami langsung menuju destinasi pertama: Eco Ego. Hehehehehe. Ini ceritanya waktu 2 minggu lalu kesini dengan sahabat-sahabat kuliah, sempet mampir dan saya naksir anting-anting di toko ini, tapi karena pulangnya buru-buru mengejar sunset di Seminyak, saya ga enak kalo berhenti dulu untuk transaksi beli anting. Jadi deh, baru sekarang kesampaian belinya :)

Setelah itu kami memutuskan cari tempat makan, karena selain sudah jam makan siang, kami perlu tempat yang enak buat ngobrol :) Pilihannya Seniman Coffee, Tropical Ants atau Little..Little apa ya, lupa, hahahahahaha. Akhirnya pilihan jatuh pada Tropical Ants, dan karena agak jauh dari Art Market Ubud, kami meutuskan naik Ojek. Yang lucu, begitu dapet Ojek, chat konfirmasi Abang Ojek saya adalah, "Wait". Dia bahkan ga pake template auto chat 🤣 keren banget!

wait

Selama perjalanan, saya menjumpai Ibu-ibu pedagang yang outfitnya unik sekali. Kalau dilihat sekilas pattern-nya nabrak, tapi saya suka model rok-nya, saya juga suka kenyataan bahwa Si Ibu nabrakin pattern tapi dia PD-PD aja, haha. Kombo dengan kaos kaki walau alas kakinya sendal. KEREN BHUK!

Lalu karena agak macet dan cukup terik, saya sambil menghabiskan es krim magnum varian baru, rasa matcha, yang kami beli sesaat sebelum ojek kami sampai :)

Tidak lama kami sampai di Tropical Ants. Restoran kecil di samping sawah yang homy banget. Awalnya kami duduk menghadap sawah, rasanya seperti duduk depan layar lebar dengan resolusi super detail, padahal ini pemandangan sungguhan!

kaya gini nih, ngajeblak depan meja, depan mata!

Menunya Tropical Ants, ada ceritanya :)

Tapi ga lama saya memutuskan untuk pindah, karena mejanya rendah (dan anginnya ngagelebug). Saya perlu meja agak tinggi supaya kamera laptop saya agak eye-level karena perlu meeting 30 menit lagi 😅. I know, i know, pamaeh pisan..yea well..lyfe.. 🫠

mandatory wefie as evidence! katanya risercer tuh mesti evidence-based, please 🙃

Ngobrol sama Nuha menyenangkan, karena saya bisa cerita ngalor ngidul (setelah meeting), mudah-mudahan buat Nuha juga menyenangkan 😅. Saya menyimak cerita-cerita Nuha dengan pekerjaan barunya, riset-risetnya yang seru-seru, temuan-temuannya tantang sistem sosial dan kasta di masyarakat Bali, dampak kasta dan kesempatan serta pendidikan. Kami membahas soal benang merah intisari buku "Humankind" dan hasil diskusi saya dengan Saska soal "menjadi biasa aja", godaan untuk merasa menjadi "Si Paling", mudahnya kepleset jadi Social Justice Wadimor (hahahahahahhaha, istilah terakhir saya kutip dari story-nya Nuha yang bikin saya ngakak), white-ass previledge saviour mindset, bedanya empati dan simpati, sampai ideasi pekerjaan masa tua kalo mau pensiun dan pindah ke Bali (ehem, driver mobil online). Seneng banget bisa ngobrol santai sambil angin sepoi-sepoi yang makin sore makin ga santai..jadi ngegelebuk..hahahahha. Akhirnya jelang matahari mulai malu-malu, kami juga merencanakan untuk bubar. Seneng banget dapet obrolan, pemandangan sawah, dan waktu jeda yang boleh terasa (sedikit) santai.

Nuha kembali melakukan riset perjalanan ke bus stop mana kita bisa berhenti supaya saya bisa naik Bus K4B lagi. Beneran berasa diasuh ya, tinggal terima rute aja dari Dik Nuha 😌. Baik banget Nuha emang, udah mah ambil cuti buat ketemu saya, ditraktir makan, digambar, disuapin rute pula, hahahahaha. Tak lama kami memesan ojek dan menuju bus stop yang saya udah lupa lagi namanya hahahahaha. BLOG PERJALANAN MACAM APA INIH!

Ojek saya melewati belakang Mongkey Forest, sebelumnya ia masuk ke sebuah jalan yang di ujungnya ada lapangan kecil. Sore itu banyak sekali orang beraktifitas di lapangan tadi. Tua, muda, anak-anak. Seneng banget liatnya.


Sesaat sebelum ojek saya sampai di pemberhentian Bus


Begitu sampai pemberhentian Bus, Nuha sudah lebih dulu sampai dan menunggu saya 🥲. Bahkan sampai pas mau pulang pun dianterin sampai pemberhentian Bus, huhuhuhu. Eh ga lama, pas banget ada Bus K4B yang berhenti, siap membawa penumpang (yang isinya cuma seorang) kembali ke Denpasar. Saya hanya sempat foto lagi satu kali dengan Nuha, memeluknya terakhir sebelum saya naik Bus, "Ayo, ayo Kak, cepet..", "Makasih ya Paaaak!", Ujar Nuha segera setelah saya naik ke dalam Bus, berterima kasih karena si Bapak mau menunggu kami seremonial pelepasan dulu 🥹. Beneran diasuh saya, hahaha, kebalik ya..maaf ya Nuh..

Bus langsung melaju. Hanya ada saya dan seorang perempuan lagi sebagai penumpang. Didalam bus mulai terasa kepala sakit. Antara kopi, angin, atau AC yang merubah suhu luar dan dalam ruangan terasa mendadak bagi tubuh. Saya hanya bisa bersandar di kursi yang ga ada sandarannya itu. Banyak telen ludah supaya mual yang mulai terasa berkurang. Lihat ponsel, baterai saya sudah mau habis. Ga ada colokan. Baik, saya airplane mode dulu, yang penting bisa dipakai panggil ojek nanti sesampainya di Jalan Katrangan.

Sambil terkulai saya melihat stiker-stiker Bus di depan mata saya. Hiburan.


Dilarang berasap.
Dilarang mengeluarkan 3 jari disamping minuman.
Dilarang, "Eh gw suka sama lo, lo mau jadi cewe gw ga?"
Dilarang, anjing.
Dilarang menusuk landar dengan benda tajam kecil dari belakang.
Dilarang megangin mba-mba yang kebelet pipis.


Ini tangga tempat turun keluar Bus. Cukup curam ya, untung ada pegangannya. 


Saya terjemahin ya, ini artinya bus ini khusus untuk orang-orang yang ga tahan berada di area dalam ruangan.


Mulai sore jalanan mulai macet. Sekarang hanya saya penumpang satu Bus ini. Kira-kira lepas maghrib, saat langit sudah gelap, Bus baru tiba di Jalan Katrangan, yang mana nama pemberhentiannya adalah "Art Center Selatan". Saya pun turun, tak lupa berterima kasih kepada Pak Supir (dan Tuhan Yang Maha Esa), mematikan airplane mode untuk pesan ojek.

Sesampainya di penginapan saya cuci-cuci, ganti baju, minum panadol, dan istirahat. Sampai jumpa di tulisan dan cerita petualangan berikutnya!

Salam,
Perempuan sakit kepala tapi ga punya oskadon jadi ga bisa ngomong, "yen tak pikir pikir.."

*menulis sambil ditemani OST Spirited Away yang ceritanya tentang petualangan baru seorang anak perempuan. Petualangan dan perjalanan hardship yang di akhir petualangannya Chihiro (Sang Heroinne) menjadi pribadi yang baru dan bertumbuh. Sebuah animasi yang empowering dengan segala kesederhanaannya 🥲














Tuesday, August 8, 2023

(kem)Bali: 1, 2, 3/15 Barbie, Laundry, dan Warung Saking Timur

day 2, DONE! 😀🙌🏼

Hari pertama dan kedua terlewati dengan aman, alhamdulillah pekerjaan sesi 1 selesai dengan meaningful :)

Di hari ketiga saat jeda, sebelum masuk ke pekerjaan sesi 2, saya mulai dengan olahraga dan disambung dengan sarapan dan beberapa meeting update pekerjaan lain. Tiba-tiba tergerak pengen nonton Barbie. Haha, di Bandung ga sempet. Untungnya ada Puput, teman kuliah yang sekarang tinggal di Bali. Bermodalkan ajakan impulsif, disambut dengan gayung. Maksudnya gayung bersambut. Jadilah kami mendadak makan siang bareng terus nonton Barbie, sambil nunggu jam pulang sekolah anak-anaknya Puput juga 😀✨

day 3 outfit
featuring FrenchLaceLover Matilda ♥️

  

Film Barbie bagus banget deh. Beneran 🥲! Sepanjang nonton Barbie saya ketawa-tawa, nangis, ketawa-tawa, terharu, terenyuh. IH PARAH SIH BAGUS AMAT! Ceritain tentang film Barbie-nya nanti ya, pokoknya bagus banget! Tinggal nonton Oppenheimer nih!

Pulang nonton sama Puput saya melanjutkan niat hari ini: mencuci baju di Laundry Coin! Waktu lihat rekomendasi Google Maps, yang terdekat dan reviewnya bagus, adalah si CityCoin Laundry. Tempat ini juga direkomendasikan Puput. Jadilah saya bergegas kembali keluar setelah memastikan daya baterai ponsel saya cukup terisi, pergi dengan ojek.

Sampai disana ternyata ruangannya cukup enak, ada sofa, ada juga meja panjang dan kursi. Waktu buka pintu masuknya, disambut sama stiker Biznet, asumsi saya disini ada internet dan kenceng. Staff di CityCoin ini juga helpful, cekatan, dan clear penjelasannya. Jadilah saya tiba-tiba member, HAHAHAHA. Engga deng, emang kalo nyuci disana akan otomatis jadi member. 

  

Dan bener internetnya LANCAR JAYA! Kaya jalan tol baru dibuka, beda banget sama di hotel, dengerin lagu aja tersendat-sendat 🥲. Setelah kurang lebih 90 menit, cucian saya selesai. Saatnya cari makan malem. Agak bingung juga mau makan malem apa, tapi pengen cari makanan masakan rumahan yang menunya Bali banget. Kembali google maps to the rescue. Di saat itulah saya membaca nama "Warung Saking Timur" dengan embel-embel sandangan "top rated". Lihat jarak, kurang lebih 1 kilo, dengan waktu tempuh kira-kira 12 menit berjalan kaki. 



"Gojek, jalan, gojek, jalan?" 
"Jalan aja ahh, sambil liat2 ada apa aja yang kelewat!" 

Akhirnya saya memutuskan jalan kaki. Sempet agak khawatir karena diarahinnya masuk ke gang-gang, tapi kupikir aman ahh, cabs ajah! Cobain jadi Gang-ster Bali, Gang siSter 😛

Begitu keluar dan jalan beberapa meter dari CityCoin Laundry, agak khawatir karena jalanan utamanya sedikit sepi, dan rasanya kaya gelap..kaya kurang gitu lampu jalan. Tapi kembali saya memberanikan diri yang sedikit deg-degan. Selama masih ada motor lalu lalang, hajar bleh!

ini jalan utamanya, di luar CityCoin Laundry

Makin lama mulai terlihat jalan yang saya lalui jadi lebih ramai, saya lega. Sampai akhirnya Gmaps mengarahkan saya untuk belok, masuk ke jalan perumahan. Asli gelap! Ada truk berhenti di salah satu sisi jalan di tengah jalan itu sih, tapi pasang lampu hazard gitu. Lagi-lagi terbersit untuk pesen ojek aja apah..tapi kok kaki saya udah belok aja..agak ga singkron. Akhirnya otak saya coba compensate dengan mengarahkan laju kaki untu berjalan lebih cepat. Atuuut..

Ini jalan perumahannya, ini sudah di ujung jalan. Aslinya gelap sih beneran, dan sepiiiiii...di foto kelihatan lebih terang.

Ga lama, jalanan perumahan ini bermuara pada jalan raya, walau jalan rayanya lebih kecil dan masih remang-remang, setidaknya ada kendaraan-kendaraan yang seliweran, saya tenang. Tapi curiga nih, Gmaps bilang sebentar lagi saya harus berbelok ke kanan, tapi sepanjang lewat jalan cuma melewati gang-gang sempit satu motor. 

Kecurigaan saya kontan terbayar, tidak lama saya dihadapkan pada gang yang gelap, dan ga kelihatan ujungnya 😫

"Lanjut, apa pesen ojek pulang aja ya, gausah makan malem?"
"Tapi ini kalo liat di review dan foto-foto menu di warung makannya kayanya enak lho!"
"Iya sih, tapi ga laper-laper amat kok, bisa ditahan.."
"Tapi dikit lagi nyampe nih, masa nyerah?"

Kaki saya putar balik dari mulut gang, menuju jalan besar. Tangan saya bolak-balik ambil ponsel mau buka aplikasi pesan ojek. 

"Eh, tapi coba balik dulu deh segelap apa sih, mata?", otak saya masih coba merayu kaki dengan mengalihkan perhatian ke mata. Berhasil, kaki saya putar balik lagi.
"Ah gilaaa, gelap banget! dan ga ada jaminan itu ada ujungnya 😫" Si penakut dateng lagi, haha.
Kaki langsung putar balik lagi. 
...
Ada untungnya jalanan sepi sih, kalo ga mungkin saya disangka lagi Poco-poco.
malenggang pata pata..ngana pe goyang pica pica..ngana pe body..POCO POCOOOO!

"Yaudah, kalo mau putar balik, tapi apa gamau coba foto dulu, nanti ada justifikasi waktu cerita se-serem apa gang nya.."
kaki langsung nurut putar balik lagi, tangan sigap keluarin kamera ponsel.
Di saat itulah ada motor berbelok ke gang sempit tadi dari jalan besar.
"Naaah..motor aja lewat, pasti ada ujungnya! MASUK!"
Dengan segenap sisa-sisa keberanian akhirnya saya menyanggupi untuk "BISMILLAH YA ALLAH" sambil nahan mewek jalan masuk! 

Jalan. Jalan. Jalan. Tidak lupa gonggongan-gonggangan anjing yang tidak tampak dimana fisiknya. Saya berasa jadi kafilah, karena berlalu. Tsahh! Kafilah itu apa sih artinya sebenernya? mau googling tapi udah kemaleman, nanti ga beres-beres ini ceritanya.

Ga lama saya lihat lampu, lalu dengar suara gamelan. 

Mulai kelihatan, di ujung gang ada tembok..pantesan..makanya dari mulut gang ga kelihatan ujungnya..

Tiba-tiba saya ga merasa sepi lagi, dan mulai bisa melihat ujung gang yang terhalang tembok putih. Ternyata tadi ga kelihatan ujungnya ya karena memang ada tembok. Saya harus belok dulu, kiri..lurus sedikit, baru kanan..naaah..alhamdulillah kelihatan jalan raya!

Di samping mulut jalan raya, ada bangunan ini yang menjadi sumber suara gamelan. Sepertinya sedang berlatih untuk upacara Kuningan Sabtu nanti.

Begitu keluar jalan raya, belok kiri, jalan sedikit, mungkin 15-30 langkah, sampai deh, "Warung Saking Timur"! Alhamdulillah. Berhasil, berhasil, HORE! Bellisimo! Berhasil, berhasil, HORE!




Warungnya sudah sepi, masih ada pengunjung dua grup, tapi sudah sepi. Mungkin karena sudah malam, saya ga sadar sudah hampir pukul 20:30, padahal warung ini tutup pukul 22:00. Tapi ya apa boleh buat, nasi sudah menjadi pindang matah pelecing telur..

    Makanannya enak, otentik masakan rumahnya. Sambal matahnya juga ga terlalu pedas, hanya sambal pelecing-nya puedess..itu yang merah. Dan yang penting lagi, harganya sangat bersahabat 😀♥️

Kira-kira begitu, petualangan saya hari ini. Salam dari Dora keriting yang kembrobyos. Karena jalan kaki sekilo. Karena deg-degan. Juga karena kepedesan!


Pas break 3 hari lagi kemana ya kitaaa? 😀

Sebenarnya pengen banget ketemu teman-teman yang dulu ada di kosan dekat ISI di tahun 2009, tapi saya sudah ga punya kontak mereka lagi..hmmm..internet..show me your power 🪄





Saturday, August 5, 2023

(kem)Bali


25 Februari tahun 2009 adalah tanggal keberangkatan saya ke Bali untuk melakukan penelitian skripsi kala itu. Saat itu saya ga kenal siapa-siapa, belum tau juga mau tinggal di mana. Ga bisa nyetir motor, sementara di Bali ga ada transportasi publik. Modal pertama saya kala itu rekomendasi alamat kos-kosan dekat ISI Denpasar dari Biang Bulan, narasumber pertama penelitian saya, seorang penari yang juga dokter dan kebetulan tinggal juga di Bandung.

Pengalaman keseharian, cerita, dan serba-serbinya saya tulis dengan patuh di blogspot ini. Malahan, pertama kali saya membuat blog ini justru tujuannya adalah untuk mendokumentasikan dan men-jurnal-kan perjalanan penelitian saya ke Bali. Jurnal selama saya di Bali membolang saat itu saya satukan dengan hashtag #JurnalPenelitian Skripsi (iya saya juga gumon sendiri kenapa itu dikasih jeda ya hesteg nya 😅🥲).

Membaca kembali jurnal perjalanan saya kala itu selalu bikin saya senyum-senyum sendiri bahkan beberapa post membawa kembali memori yang bikin saya ketawa-tawa. Untung saya tulis! Karena sebagian besar cerita saya lupa sudah. Dan kalau dibaca-baca lagi, saya pikir waktu itu saya pergi dengan bekal yang minim. Tapi ternyata saya keliru. Karena kalau dipikir-pikir segala kemudahan dan kebetulan yang saya dapatkan juga adalah bekal berharga. Saya pergi dengan doa selamat dan manfaat dari Ibu Bapak saya. Dan karena saya bepergian sendiri, ternyata itupun menarik doa-doa lain dari orang-orang baru yang saya temui. Di hari keberangkatan, di pesawat saya duduk dan ngobrol dengan seorang ibu lain yang juga mendoakan saya setelah kami akan berpisah sesampainya di bandara. Mungkin saya mengingatkannya pada anaknya. Mungkin. Ingatan ini pun baru saya dapatkan kembali saat membaca Jurnal tadi. Di warung makan khas Madiun "Handayani" yang sempat saya datangi untuk makan siang, saya dapat doa dari pemilik warung, namanya Pak Muhartoyo, yang katanya saya mengingatkannya akan cucunya. Di ISI saat saya "mencuri" jaringan wifi-nya saat libur, untuk posting blog, saya bertemu Pak Hendra, seorang dosen dari Bandung. Ada Boit yang lewat Omuu-nya saya bisa membeli Lonely Planet second keluaran tahun 1999 dan lewat celetukan dan sapaannya mengandung peduli dan sayang. Ada Budi Sradha yang bantuin pesen tiket pesawat dan beli online-nya, karena jaman itu proses pembayaran tiket online lumayan jelimet dan saya ga ngerti. Ada Anika Miranti yang tak pernah luput membaca update harian blog saya, selalu komen, dan nanya kalau sudah beberapa hari saya ga posting. Saat itu jaringan internet belum lazim, untuk saya update blog saja harus ke warnet dulu. Kalau mau menyapa orang yang jauh, ya SMS atau telepon 😅. Ada Mba Danti yang menghubungkan saya ke Mas Bondi yang baiiik banget mau minjemin saya sepeda lipetnya, dan di hari-hari terakhir traktir saya makan, tau aja mahasiswa ga punya uang yakan 🥲 mana charger laptop sempet rusak dan terpaksa beli baru 😭. Ada teman-teman baru di kosan yang baik banget tiap libur bawa saya ke kampung halaman mereka, kasih saya akses gratis ke pertunjukkan-pertunjukkan tari yang bisa saya rekam untuk kepentingan penelitian. Ada Winda dan Ratih yang pinjemin saya kamera video recorder. Ada Oggy juga yang sepulang saya penelitian, bantuin mindahin Mini DV artefak rekaman penelitian saya ke CD. Semoga kalian semua sehat ya, lancar rejeki dan usaha kalian, terlebih, semoga dimudahkan selalu untuk merasa cukup dan bahagia. Aamiin.

Saat itu saya ke Bali dengan excitement menjelajah dunia baru, unknown possibility yang kemudian mempertemukan saya dengan segudang pengalaman bermanfaat, pupuk-pupuk yang menumbuhkan saya menjadi saya yang sekarang. Bahkan inspirasi nama Laut saya dapat karena perjalanan skripsi ini (walau saat itu boro-boro mikir nama anak, pacar aja gada *ehem). Saat ini kebetulan saya ke Bali lagi untuk waktu yang cukup lama, kurang lebih 15 hari untuk urusan pekerjaan. Dan kebetulan, daerah tempat saya beraktivitas tidak terlalu jauh dari ISI Denpasar, tempat saya mengambil data saat itu. Pertama sampai sebetulnya agak hilang orientasi, saya bahkan lupa alamat tempat kos saya tahun itu. Tapi sempat tanya-tanya peserta yang memang orang Bali, Mba Lisa namanya, penari juga :) Dari Mba Lisa saya dapat nomor telepon dan alamat Bu Arini, narasumber utama penelitian saya. Membaca kembali jurnal perjalanan saat itu juga membantu pelan-pelan ingatan demi ingatan kembali. Rasanya lucu. Ada perasaan excited, ada perasaan nostalgic, yang jelas saya punya banyak pertanyaan, 

"Apa kabar kawan-kawan dulu ya?" 

"Dimana ya mereka sekarang?" 

"Mungkin ga ya untuk ketemu lagi sekarang?" 

Saya benar-benar berharap mereka semua sehat dan hidup serba berkecukupan..

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...