Saturday, December 26, 2020

refleksi si anak yang sering merusak mainan mahal-mahal untuk eksperimen

Kami mungkin memang cuma "anak"
yang tugasnya adalah membuat "kesalahan".
Kami hanya perlu ditegur dengan lembut, dengan kasih,
difasilitasi dengan dibantu ditunjukkan dimana kami membuat kesalahan,
bukan dengan hentakan, mata melotot, dan menuntup ruang tumbuh dengan ancaman,
"Pokoknya Ibu bilang begitu, nurut! Jangan jatuh nanti aku sedih."

Mungkin Ibu benar, mungkin Bapak benar,
kembali lagi, 
kami haya anak,
yang belajar untuk hidup,
yang akan terus tumbuh sampai kapanpun usia kami.

Ibu Bapak yang sudah lebih dulu hidup dan belajar,
kami perlu dibimbing, difasilitasi.

Kalau kami berbuat salah, bimbing kami mengenalil titik letak dimana kesalahan itu terjadi,
dengan sejuta pengertian dan pemahaman, bukan dengan kepanikan.

Bantu dan dampingi kami keluar dari kesalahan, kegagalan,
bukan marah justru karena kami melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan,
karena kami belajar.

Bertahan kuat bersama-sama kami walau Bapak Ibu sedih melihat kami susah,
bukan dengan mencegah kami melalui kesulitan, dan berkata,
"Rasanya aku menjadi sakit kalau sedih dengan keadaanmu.."

Ibu, Bapak..
seperti Ibu Bapak dulu belajar dan tumbuh, justru dengan melewati rintangan demi rintangan,
kesullitan demi kesulitan,
begitulah kami, anak, akan tumbuh justru dengan melewati kesalahan demi kesalahan,
kegagalan demi kegagalan.

Bantu kami dengan menjadi fasilitator,
menjadi cermin,
menjadi pelatih, menjadi coach.
Bantu kami memahami seluk beluk kehidupan dengan kasih,
dengan berani,
bukan dengan amarah karena kami membuat kesalahan dan gagal,
bukan dengan melindungi kami dari kesulitan agar bisa tumbuh dan belajar.

Saturday, November 14, 2020

puisi tipe AAAA

melantur sampai terbentur.
terbentur sampai nyebur, byur byur byur.
cukup dalam sampai bertemu ubur-ubur.
gapapa deh ketemu ubur-ubur,
selama belum di dalam kubur,
nanti ketahuan kalau manusia suka kufur.

melantur sampai terbentur

kadang rasa lelah itu datang melesap, 
tanpa permisi sedikitpun, tidak bahkan sekedar mengucap "yo wasap!"

begitu saja, 
tanpa mukadimah, 
tanpa preambule, 
tanpa prologue, 
tapi blum tentu tanpa appendix, 
dan embel-embel.

kadang rasa lelah itu datang, begitu saja, dalam hitungan jentikan jari, dalam diam dan kesunyian pikiran.
dia datang membawa-bawa rasa kalah,
dengan bumbu-bumbu nostalgia,
kadang bumbu pedas persaingan tetangga,
yang penuh dengan seolah-olah,
ditambah penokohan Ibu Subangun dalam serial Rumah Masa Depan.

eh, siapa ya Ibu Subangun?
padahal pernah nonton serialnya pun tidak.
hebat ya beliau sungguh ikonik.
seperti barang antik,
atau barang seni yang tidak-tidak,
walau kadang kurang simetris yang penting tetap sebangun.

lagi bicara apa sih,
pikiran itu perlu dilatih,
mengungkapkan perasaan saja tertatih,
makanya ikut merpati putih,
loh apa sih,
ih, ih, ih.

kadang rasa lelah itu datang melesap, 
tanpa permisi sedikitpun, tidak bahkan sekedar mengucap "yo wasap!"

Sunday, May 10, 2020

adonan.


hari-hari gini pengennya goler-goleran aja, kalo ga ada yang ngejar-ngejar sambil bilang,
"Ayo kamu, goler-goleran, sini jadi adonan aja.."

*Gambar diambil dari pameran Imagi Manggi, Agustus 2008, S. 14

Perjalanan Lintas Waktu Lewat Lagu: Sebuah Nostalgia

"..remember those times, i fought to get out? I want to get out. Those pictures so clear they fade in my mind, you leavin' me here with ashes and fire. These people don't heal, these people don't feel, these people aren't real so make me this deal: gimme gimme love, gimme gimme love when i'm gone."

Beruang Madu yang pemalas membuka matanya. Menatap langit-langit dari peraduannya. Another day has arrived.

"It's Beruang MUDA..dan saya tidak malas.."

Hup! Dengan segenap daya upaya dari core muscles-nya, Ia pun bangun dari tempat tidurnya, lalu menyeret jasadnya berjalan menuju ruang makan. Membuka kulkas dan tudung saji di atas meja makan.

"Kriiiing..kriiing..kriiing.."

Ponsel-nya berbunyi.

"hoaaahmm..halo?"
"Selamat siang, kami dari Bank Berdiri Sendiri, saya Tuti si tutup tilpun karena sering saya dihadapkan dengan orang-orang yang menutup tilpunnya sebelum saya selesai mengajukan penawaran dari bank kami, Bank Berdiri Sendi.."

Beruang Madu menutup ponselnya sembari kembali menguap..menggaruk perutnya sedikit. Bukan karena gatal. Tapi menguap sambil menggaruk perut atau punggung itu enak sekali.

kembali ia menatap layar ponselnya. Sebetulnya kali ini Beruang Madu punya segudang pekerjaan yang diberikan oleh Lebah-lebah sibuk. Kotak pos-nya sudah penuh. Pelikan si tukang pos sudah sering marah-marah karena tidak cukup lagi ada tempat untuk surat-surat baru yang masuk. Tiap-tiap lewat depan gua nya, Pelikan Pos selalu berteriak, "Astaga Naga! Bangun Woyy!"

Ia kembali dari lamunannya, dan menatap layar ponselnya dengan sadar sekarang. Jempolnya mengetuk simbol not balok, menggeser layar ke atas, bawah, samping, sambil menyeret kembali jasadnya ke kursi malas dekat sinar matahari, ia duduk bersender sambil mengetuk sekali lagi layar ponselnya.

"I don't want a friend, I want my life in two. Just one more night, waiting to get there, waiting for you. I'm done fighting all night, when I'm around slow dancing in the dark.
You have made up your mind, i don't need no more signs.
Can you? Give me reasons we should be complete. You should be with him, I can't compete.
Can't you see? I don't wanna slow dance, in the dark."

"She don't wanna tell lies, she just wanna feel alive, she just wanted more time.
I'm looking for a long ride, she just want a test drive. Now you on the west side, I'll see you in the next life. Waiting on a sacrificial life, waiting on the ones who didn't fight, I told you not to waste my fucking time.."

Mendengarkan Tuan Kusunoki membuatnya teringat pada teman-temannya beberapa tahun ke belakang. Dua lagu terakhir, "Slow Dancing in the Dark" dan "Test Drive" membawanya pada kenangan si Kelinci Bodoh. Apa kabar dia sekarang ya, mudah-mudahan tambah pintar sedikit, tidak mudah dibodohi lagi. Ia juga teringat kawan Alien-nya, si-sensitif-yang-sering-salah-paham.

"Hahahahahaha"

Untuk pertama kalinya di hari ini Beruang Madu tertawa geli, mengingat teman-temannya yang tampak memudar, tiap-tiap hari bertambah. Tampaknya mereka tidak hilang. they're still there somewhere. Ia tersenyum lega masih bisa menemukan kepingan-kepingan makhluk-makhluk absurd itu tersimpan aman. Bukan untuk ditemui kembali, tapi kepingan-kepingan ini membuatnya less lonely. Kadang loneliness terjadi saat seseorang melupakan kepingan-kepingan macam ini. Beruang Madu berpikir, seseorang lahir sendiri, nantinya mati sendiri. Rasanya yang membuat seseorang kesepian bukan absennya orang lain, tapi absennya kesadaran akan diri sendiri. Semacam luruh begitu mungkin ya? mungkin. Beruang Madu manggut-manggut.

Pemutar lagu memulai lagu baru. Musiknya ringan, lucu, menggoda otot-ototnya untuk bergoyang. Pundaknya mulai naik turun, kini kepalanya yang maju mundur. Persis ikan Mujaer. Maju mundur. Untung dia beruang. Ia lalu berdiri, berjalan menuju tempat cucian piring. Ia mulai mencuci piring sambil berjoged. Kegiatan cuci piring dibayangkannya bagai konser dengan meja turntable mewujud dari tempat cuci piringnya.


Lagu ini liriknya sedih tapi musiknya lucu. Beruang Madu jadi teringat teman-temannya yang dulu sering bertemu di depan jendela sebuah ruang temu. Walau tanpa janji temu. Seolah bertemu memang kewajiban saja, padahal bukan. Mereka sering menemani Beruang Madu menertawakan hal-hal sedih dalam kesehariannya. Ia jadi rindu teman-temannya di masa itu.

Beruang Madu suka sekali mendengarkan Tuan Kusunoki. Sepertinya bukan karena ia rupawan, tapi karena Tuan Kusunoki mengingatkannya pada fragmen-fragmen cerita yang ada di kepalanya. Dia pikir Tuan Kusunoki ini termasuk golongan umbi-umbian tortured artist, dan dia pikir dia juga termasuk ke dalam golongan umbi yang sama.


"Tok tok tok!"
"..."
"Kulonuwuuun!"
Ada yang mengetuk pintu gua-nya. Kaget juga, sudah lamaa sekali Beruang Madu tidak dikunjungi. Ponselnya masih memutar "Rain On Me" saat ia membuka penutup gua-nya. Siapa perempuan yang berdiri di depannya ini ya? Mengajaknya berbicara tetapi sesekali berbicara sendiri entah kemana, seperti ada orang lain yang mendengarkannya berbicara di ujung lain. Ujung yang mana?

***

"oh hai! kali ini kita kedatangan tamu! Mari kita sambit, Beruaaang Madu yang Pemalaaass!"
*prok prok prok prok prok

"ehem.."
"..."
"Beruang muda..dan tidak malas.."
"oh come on, you're not that young anymore!"
"o whoops. hold your thoughts there lady. You may age, i don't.." She said it with a certain eerie calmness and meany grin.
"Kubis.."

Bagi pirsawan yang belum pernah bertemu Beruang Madu, dia pernah hadir 11 tahun lalu. Tepatnya 11 tahun 6 bulan yang lalu. Beruang yang penuh penyangkalan dan tidak delusional (menurutnya) ini, hadir di kisah ini. Lalu 6 bulan kemudian hadir lagi di sini.

Dan hari ini dia kembali hadir di sini.

"Jadi..apa kabar Beruang Madu, what's up?"
"Saya kesepian, perlu teman ngobrol."
"Di sini wfh juga?"
"Hah? Apa wfh? Kamu ngomong apa sih?"
"Wfh..you know.."
"..." Beruang Madu melongo. Planga plongo. Lalu.. "I'm busy..", seraya menutup kembali penutup gua-nya.
"Hey, people are always busy. And there's always an excuse when you need one..."
"I'm not people..saya Beruang Muda.."
"Ok, ok, halo Beruang Muda! Jadi ngobrol apa kita hari ini?"
"BOOM..." gua-nya tertutup kembali.
"Eh, mau kemana kamu, halo..haloooo? Beruang Madu, eh Muda!"
...
"Eh mau kemanaaa? jangan pundungaaan..kalo ketemu Cika nanti kamu jadi sungai!"
...


"klinting.."
ada pesan teks masuk.

To: Barbara
From: Beruang Madu Pemalas
Pesan:

https://www.youtube.com/playlist?list=PLEFTRR61m562els7WOTqNKMqoLM2wU4HA 



Tuesday, March 24, 2020

Cerita Jelgava, Latvia



“Mau ke Latvia ya Mba? Di mana tuh Mba, Latvia?”, Sapa petugas penerbangan yang menyambut saya di loket check-in.
“Di area baltic Mba, di Eropa Utara sebagian masuk timur, hehe..”
“Ooo..jarang loh, orang kita yang kesana. Emang ada apa Mba di sana?”
“Ada meeting Mba..hehehhe”
“Oooo..pantess..kalo ga ada meeting sih ga akan ke sana ya Mba? hihihihi”
“hehehehe..” (ketawa awkward)

Ga banyak orang tau di mana Negara Latvia. Thanks to SAMS Project, saya berkesempatan mengunjungi negara ini. Pengalaman saya mengunjungi Latvia, seperti pengalaman lain yang akan didapatkan saat seseorang pergi jauh merantau, somehow even more humbling us down. Saya rasa pengalaman untuk bisa berkunjung ke negara lain, menjelajah, belajar tentang bagaimana masyarakat lain di belahan bumi lain hidup, sama berharganya dengan pengalaman bekerja dalam project SAMS-nya sendiri.

Perjalanan kali ini membuat saya sadar bahwa manusia..hanyalah manusia, dengan segala karakteristiknya, di negara manapun mereka hidup. Salah satu dari sekian banyak faktor yang kemudian membedakan perilaku manusia satu dengan manusia lainnya secara general, bisa jadi faktor tempat hidup mereka. 

Pengalaman dari perjalanan ini yang mengingatkan saya untuk tidak senantiasa membusungkan dada adalah, pengalaman menyaksikan peralihan musim memasuki musim semi. 

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan dingginnya suhu -1 derajat celcius, walau belum juga berjodoh melihat salju turun. Rekan-rekan disana bilang, bukan derajat suhu yang membuat dingin bisa menusuk sampai tulang. Minus sekian derajat hanya akan membuat rasa dingin, tanpa rasa menusuk, jika tidak disertai angin dan kelembaban. Angin dan kadar kelembaban udaralah yang berperan dalam keputusan apakah dingin ini akan menusuk atau tidak. Saya mungkin belum berjodoh dengan salju turun, tapi saya dijodohkan dengan sesuatu yang tidak kalah cantik dan berharga, melihat tumbuhnya benih-benih musim semi.






Di udara yang dingin, dengan tamparan angin perairan baltic di pantai Ventspills dan semenanjung Kolka yang membuat wajah saya mati rasa (sungguh tidak enak rasanya), saya menyaksikan tunas-tunas merangkak menunjukkan denyut hidupnya pada batang-batang kurus tanaman yang meranggas semusim sebelumnya untuk bisa bertahan hidup. Saya juga menyaksikan orang yang merawat tanaman mawarnya, dengan melindungi tunas-tunas bunga mawar yang hendak mekar dengan cabang-cabang pohon birch. Saya bertanya-tanya, mengapa mereka harus melindungi tunas-tunas ini dengan dahan-dahan pohon birch? Ternyata langkah ini diambil untuk melindungi tunas-tunas baru bunga mawar dari dinginnya udara, supaya saat di titik suhu beku, alih-alih tunas-tunas baru yang membeku, serabut dedaunan dari dahan-dahan tadi yang membeku terlebih dulu, memberi kelembaban tertentu dan menjaga mereka tidak membeku. 


Memperhitungkan luas kebun mawar sebuah penginapan, saya berpikir betapa telatennya orang yang merawat kebun ini. Bayangkan dia harus memotong-motong dan mencari dahan-dahan pohon birch dengan ukuran yang kurang lebih seragam, lalu dengan hati-hati menutupi semua tunas-tunas mawar sampai terpayungi. Saya jadi teringat kisah Pangeran Kecil dan bunga mawarnya yang di certakan Antoine de Saint Exupery.

Pekerjaan yang rasanya bukan untuk saya. Saya mungkin tidak punya keteguhan hati yang cukup untuk bisa sampai telaten tingkat ini. haha.



Satu lagi pemandangan yang membuat saya takjub sebagai perempuan tropis tulen. Ketertiban dan keseragaman pohon-pohon meranggaskan dedaunannya. Kombinasi pemandangan itu, udara dingin yang menusuk sendi dan satu dua burung gagak yang beterbangan di atas membawa saya pada memori film-film Tim Burton yang pernah saya lahap. Saya bertanya pada seorang rekan, seorang Jerman, apa rasanya selalu melihat pemandangan ini dari tahun ke tahun? Karena yang saya sadari, saat itu saya merasa “sepi” tapi di saat yang sama saya merasakan sebersit ketenangan, entah apakah karena melihat semuanya seragam atau apa. Jawabnya, pemandangan ini membuatnya merasa “aman”, selalu bisa mengetahui sedang di tahap apa dalam tahun ini ia berada, segera setelah melongokkan pandangannya keluar, memberikannya kemananan, bahwa semuanya masih “in the right order”. Rasanya saya sedikit lebih paham kenapa mayoritas dari mereka mudah patuh dan lebih disiplin, mungkin ini salah satu faktor pembentuknya. Dia juga mengaku salah satu hal yang menurutnya stressful saat dia berada di Indonesia atau negara tropis lainnya adalah karena semua terjadi dengan pacunya sendiri-sendiri. Seperti "berantakan" dan "tidak beraturan". ha ha. You tell me.




Dari mendarat di kota Riga, melalui perjalanan darat kurang lebih 30 menit ke kota Jelgava ditemani kawanan hutan pohon birch di kanan kiri, dua hari beraktivitas di University of Life Science and Technology Jelgava yang bermukim di Istana Jelagava (Jelgava Pills), dilanjutkan dengan perjalanan susur pantai; Ventspills, dan Kolka melewati kota tua Kuldiga. Bermalam di kastil/istana Jounmoku Pills, lalu kembali ke kota Riga untuk terbang pulang ke Indonesia, yang menyambut saya dengan kewaspadaan penyebaran virus corona. Perjalanan saya kali ini disudahi dulu. 

Selain membawa oleh-oleh coklat, roti, manisan, madu, mainan, batu-batu dan kerang pantai, saya juga membawa secuil rasa tenang, mengetahui bahwa manusia..hanyalah manusia tidak peduli dia ada dimana. Semua dedikasi, kerja keras, dan keteguhan hati pada niatmu memberikan dampak-lah yang pada akhirnya akan mendefinisikan siapa dirimu.

---

A glimpse of Jelgava,




banyak bangunan dengan gaya peninggalan arsitektur uni soviet.



"interested in getting lost?"


Latar belakang, tempat rapat, University of Life Science and Technology Jelgava. Fakultasnya bertempat di bangunan bekas istana. Enak banget ya kuliah di sini berasa princess gitu tiap kuliah pasti. Si Laut sama Koral pasti seneng banget kalo kesini 😌✨👸🏻
Kalo latar depan fokus fotonya itu bekal selama di sana, bahan pertukaran budaya lewat palet rasa: Cumi Kecombrang Resep Ninin. Asli ngeunah, silakan langsung cek IG Resep Ninin ya sis kalo mau coba, hati-hati ketagihan. Terimakasih kepada tangan Neng Diece yang sudah melahirkan kuliner ini 😋

Selepas pertemuan di Jelgava, kami menyempatkan diri mengambil jalan memutar susur pantai dan menginap 2 malam sebelum sampai kembali di Riga untuk terbang pulang.

Pertama kami berhenti di kota tua Kuldiga.





ASLI, SEPI banget brayy!

Dari Kuldiga, kami melaju dan bermalam di Ventspills. Besok paginya kami melancong, dimulai dari pantainya, berujung di pasar becek lokal, hahahahaha.





*ku takut di takol




Entah ada apa dengan Ventspills dan Sapi. Tapi asli banyak banget patung sapi dengan berbagai varian, mutasi, dan pose. Ini salah 3 nya, ga jodoh nangkep semua sapi 😅


Bukan sapi.

Dari Ventspills kami menuju Jounmoku Pills, sebuah Kastil lama yang sekarang sudah alih fungsi menjadi penginapan. Iya, saya bermalam di istana...Laut sama Koral pasti iri bukan main 🤣✨👸🏻♥️




ini pemandangan paginya. Sing suwer asli tiris.


Ingin rasanya ku berteriak, "into the unKNOOOOWN!" *nyanyi tapi ngegas *langsung dihajar kawanan massa *polusi suara *nonton frozen II dulu



kaca mobilnya ada es serutnya~


hasil pungutan susur pantai, bukan pungutan suara.


Dengan membawa hasil pungutan susur pantai dan roti sourdough pasar lokal, 
Indonesia, saya kembali :)

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...