Sunday, May 10, 2020

adonan.


hari-hari gini pengennya goler-goleran aja, kalo ga ada yang ngejar-ngejar sambil bilang,
"Ayo kamu, goler-goleran, sini jadi adonan aja.."

*Gambar diambil dari pameran Imagi Manggi, Agustus 2008, S. 14

Perjalanan Lintas Waktu Lewat Lagu: Sebuah Nostalgia

"..remember those times, i fought to get out? I want to get out. Those pictures so clear they fade in my mind, you leavin' me here with ashes and fire. These people don't heal, these people don't feel, these people aren't real so make me this deal: gimme gimme love, gimme gimme love when i'm gone."

Beruang Madu yang pemalas membuka matanya. Menatap langit-langit dari peraduannya. Another day has arrived.

"It's Beruang MUDA..dan saya tidak malas.."

Hup! Dengan segenap daya upaya dari core muscles-nya, Ia pun bangun dari tempat tidurnya, lalu menyeret jasadnya berjalan menuju ruang makan. Membuka kulkas dan tudung saji di atas meja makan.

"Kriiiing..kriiing..kriiing.."

Ponsel-nya berbunyi.

"hoaaahmm..halo?"
"Selamat siang, kami dari Bank Berdiri Sendiri, saya Tuti si tutup tilpun karena sering saya dihadapkan dengan orang-orang yang menutup tilpunnya sebelum saya selesai mengajukan penawaran dari bank kami, Bank Berdiri Sendi.."

Beruang Madu menutup ponselnya sembari kembali menguap..menggaruk perutnya sedikit. Bukan karena gatal. Tapi menguap sambil menggaruk perut atau punggung itu enak sekali.

kembali ia menatap layar ponselnya. Sebetulnya kali ini Beruang Madu punya segudang pekerjaan yang diberikan oleh Lebah-lebah sibuk. Kotak pos-nya sudah penuh. Pelikan si tukang pos sudah sering marah-marah karena tidak cukup lagi ada tempat untuk surat-surat baru yang masuk. Tiap-tiap lewat depan gua nya, Pelikan Pos selalu berteriak, "Astaga Naga! Bangun Woyy!"

Ia kembali dari lamunannya, dan menatap layar ponselnya dengan sadar sekarang. Jempolnya mengetuk simbol not balok, menggeser layar ke atas, bawah, samping, sambil menyeret kembali jasadnya ke kursi malas dekat sinar matahari, ia duduk bersender sambil mengetuk sekali lagi layar ponselnya.

"I don't want a friend, I want my life in two. Just one more night, waiting to get there, waiting for you. I'm done fighting all night, when I'm around slow dancing in the dark.
You have made up your mind, i don't need no more signs.
Can you? Give me reasons we should be complete. You should be with him, I can't compete.
Can't you see? I don't wanna slow dance, in the dark."

"She don't wanna tell lies, she just wanna feel alive, she just wanted more time.
I'm looking for a long ride, she just want a test drive. Now you on the west side, I'll see you in the next life. Waiting on a sacrificial life, waiting on the ones who didn't fight, I told you not to waste my fucking time.."

Mendengarkan Tuan Kusunoki membuatnya teringat pada teman-temannya beberapa tahun ke belakang. Dua lagu terakhir, "Slow Dancing in the Dark" dan "Test Drive" membawanya pada kenangan si Kelinci Bodoh. Apa kabar dia sekarang ya, mudah-mudahan tambah pintar sedikit, tidak mudah dibodohi lagi. Ia juga teringat kawan Alien-nya, si-sensitif-yang-sering-salah-paham.

"Hahahahahaha"

Untuk pertama kalinya di hari ini Beruang Madu tertawa geli, mengingat teman-temannya yang tampak memudar, tiap-tiap hari bertambah. Tampaknya mereka tidak hilang. they're still there somewhere. Ia tersenyum lega masih bisa menemukan kepingan-kepingan makhluk-makhluk absurd itu tersimpan aman. Bukan untuk ditemui kembali, tapi kepingan-kepingan ini membuatnya less lonely. Kadang loneliness terjadi saat seseorang melupakan kepingan-kepingan macam ini. Beruang Madu berpikir, seseorang lahir sendiri, nantinya mati sendiri. Rasanya yang membuat seseorang kesepian bukan absennya orang lain, tapi absennya kesadaran akan diri sendiri. Semacam luruh begitu mungkin ya? mungkin. Beruang Madu manggut-manggut.

Pemutar lagu memulai lagu baru. Musiknya ringan, lucu, menggoda otot-ototnya untuk bergoyang. Pundaknya mulai naik turun, kini kepalanya yang maju mundur. Persis ikan Mujaer. Maju mundur. Untung dia beruang. Ia lalu berdiri, berjalan menuju tempat cucian piring. Ia mulai mencuci piring sambil berjoged. Kegiatan cuci piring dibayangkannya bagai konser dengan meja turntable mewujud dari tempat cuci piringnya.


Lagu ini liriknya sedih tapi musiknya lucu. Beruang Madu jadi teringat teman-temannya yang dulu sering bertemu di depan jendela sebuah ruang temu. Walau tanpa janji temu. Seolah bertemu memang kewajiban saja, padahal bukan. Mereka sering menemani Beruang Madu menertawakan hal-hal sedih dalam kesehariannya. Ia jadi rindu teman-temannya di masa itu.

Beruang Madu suka sekali mendengarkan Tuan Kusunoki. Sepertinya bukan karena ia rupawan, tapi karena Tuan Kusunoki mengingatkannya pada fragmen-fragmen cerita yang ada di kepalanya. Dia pikir Tuan Kusunoki ini termasuk golongan umbi-umbian tortured artist, dan dia pikir dia juga termasuk ke dalam golongan umbi yang sama.


"Tok tok tok!"
"..."
"Kulonuwuuun!"
Ada yang mengetuk pintu gua-nya. Kaget juga, sudah lamaa sekali Beruang Madu tidak dikunjungi. Ponselnya masih memutar "Rain On Me" saat ia membuka penutup gua-nya. Siapa perempuan yang berdiri di depannya ini ya? Mengajaknya berbicara tetapi sesekali berbicara sendiri entah kemana, seperti ada orang lain yang mendengarkannya berbicara di ujung lain. Ujung yang mana?

***

"oh hai! kali ini kita kedatangan tamu! Mari kita sambit, Beruaaang Madu yang Pemalaaass!"
*prok prok prok prok prok

"ehem.."
"..."
"Beruang muda..dan tidak malas.."
"oh come on, you're not that young anymore!"
"o whoops. hold your thoughts there lady. You may age, i don't.." She said it with a certain eerie calmness and meany grin.
"Kubis.."

Bagi pirsawan yang belum pernah bertemu Beruang Madu, dia pernah hadir 11 tahun lalu. Tepatnya 11 tahun 6 bulan yang lalu. Beruang yang penuh penyangkalan dan tidak delusional (menurutnya) ini, hadir di kisah ini. Lalu 6 bulan kemudian hadir lagi di sini.

Dan hari ini dia kembali hadir di sini.

"Jadi..apa kabar Beruang Madu, what's up?"
"Saya kesepian, perlu teman ngobrol."
"Di sini wfh juga?"
"Hah? Apa wfh? Kamu ngomong apa sih?"
"Wfh..you know.."
"..." Beruang Madu melongo. Planga plongo. Lalu.. "I'm busy..", seraya menutup kembali penutup gua-nya.
"Hey, people are always busy. And there's always an excuse when you need one..."
"I'm not people..saya Beruang Muda.."
"Ok, ok, halo Beruang Muda! Jadi ngobrol apa kita hari ini?"
"BOOM..." gua-nya tertutup kembali.
"Eh, mau kemana kamu, halo..haloooo? Beruang Madu, eh Muda!"
...
"Eh mau kemanaaa? jangan pundungaaan..kalo ketemu Cika nanti kamu jadi sungai!"
...


"klinting.."
ada pesan teks masuk.

To: Barbara
From: Beruang Madu Pemalas
Pesan:

https://www.youtube.com/playlist?list=PLEFTRR61m562els7WOTqNKMqoLM2wU4HA 



Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...