Monday, January 2, 2023

Galau Versi 2000an

Train of thoughts dari meninggalkan jejak, mikirin perihal meninggal, jadi inget lagu I Will Follow You into the Dark, terus jadi inget lagu-lagu Death Cab for Cutie (DCfC) dan Postal Service yang jadi favorit. Selain terngiang-ngiang, terbayang-bayang juga visual video klip lagu "I Will Follow You into the Dark" yang ikonik dengan sketchbook berisi gambar-gambar kelinci. 

Bicara soal video klip I Will Follow You into the Dark ini, saya jadi sadar betapa video klip dan topik lagu ini nempel di pola pikir dan alam bawah sadar saya, karena gambar buku cerita yang saya buat untuk buku Kinci Baya saya dan Laut ternyata mirip banget sama gamabr-gambar kelinci di sini. Padahal referensi gambarnya dulu total dari pinterest, beneran lupa sama video klip ini. Pada masanya, di zamannya, di mana Youtube belum ada (atau kalaupun sudah ada, belum lazim digunakan secara massal, apalagi di Indonesia) penyebaran video klip (dan lagu-lagu, album, dari band-band Independent, band-band yang albumnya ga di release sama major label yang jangkauannya kurang global) itu lewat flashdrive atau flashdisk. Colok, copy, dan paste dari satu komputer ke komputer lainnya. Ga jarang dia jadi kena, bawa, dan menularkan virus. 




Iya, pernah ada lho, jaman-jaman itu. Layaknya dulu pernah ada sebuah zaman di mana kalau mau telfon teman, harus telfon ke telfon rumahnya, dan bersiap berkata-kata sopan di depan karena bisa saja yang mengangkat itu Ibu, Bapak, atau malah Nenek Kakeknya teman. Satu telfon buat sekeluarga.

ENIWEIII, kenapa jadi kemana-mana..

dari I Will Follow You Into the Dark, beralih ke video klip "What Sarah Said" yang sangat menghantui, bikin overthinking. Cerita sedikit tentang video klip dan lagu What Sarah Said ini, jaman lagu ini masih jadi topik hangat percakapan, saya tinggal di sebuah kosan di Bandung. Lagu ini (beserta video klipnya) sering kami bahas di sore hari saat kami berkumpul di meja makan. Ada yang baru pulang kampus, pulang kerja, atau baru keluar dari kamar, baru bangun, haha. Sambil ada yang makan, ada yang ngerokok, ada yang ikut duduk buat ikut gosip aja. Mostly berdebat hal-hal trivial yang kurang penting, seperti makna lagu dan video klip "What Sarah Said" ini. 

"Itu tuh cewenya hantu, nyet.." (jaman ini ngomong nyet untuk menyapa teman kaya musim banget)
"Masa sih, itu kayanya imajinasi deh, atau flashback.."
"Iya liriknya aja 'Love is watching someone's die..' Gila sih emang lagu nih.."
Lalu anggota lain partisipan diskusi ikut nyamber dan menimpali,
"Hah, kok love is watching someone's die sih? gw ga ngerti.."
"Iya ego (bahasa slenge'an "bego", lagi-lagi jaman ini juga kata ego(k) itu sering dijadikan panggilan), Cinta tuh ngeliat orang mati. Kaya semacam test gitu lho, lo bisa ga? Cinta tuh let go..", si paling filosofis langsung menimpali dan melanjutkan di saat semua sedang sunyi mencerna kebingungannya masing-masing, "Pertanyaannya kan, 'So who's gonna watch you die..' gila gila gila.."

Ya gitu deh kira-kira, abis ini pembahasan bisa lari-lari kemana-mana banget, terus ngobrol sampe dini hari. ENIWEIII, poin dari postingan ini sebenernya mau bahas Galau Versi 2000an sih. Diambil dari sampel lagu-lagu Death Cab for Cutie, Postal Service, dan Iron & Wine. Kalau diingat-ingat, pemaknaan lagu-lagu mereka terhadap "cinta" (galau kan biasanya karena cinta ya..apalagi usia-usia waktu itu sih, fix galau karena urusan cinta hahahahaha), at least yang di sampel di sini menurut saya dalem banget sih, dan sepertinya tanpa sadar saya adopsi.

Dimulai dari lagu I Will Follow You into the Dark (DCfC, 2005) yang dibuka dengan lirik, 
"Love of mine, someday you will die, but I'll be close behind, I'll follow you into the dark"
WOY, orang mah yang-yangan tuh, "aduh, aku cinta kamu, kamu sempurna banget, dunia miliki kita, yang lain ngontrak." ini, "Yow cintaku, suatu saat kamu akan mati.." hahahahaha. Keren banget tapi menurut saya sih, dan pembuka lagu ini kaya "BLAKKK!" langsung nempel banget di otak saat itu, membuat saya punya pemahaman dan perspektif lain kalau bahas "cinta". Lagu ini ditutup dengan chorus "And if Heaven and Hell decide that they both are satisfied. Illuminate the no's on their vacancy signs. If there's no one beside you when your soul embarks. Then I'll follow you into the dark."

Ngomong-ngomong kalau ada yang penasaran, ini di youtube saya bikinin playlistnya, tinggal di play aja. Niat banget emang, padahal banyak kerjaan 🥲 oh my..


Lanjut ke lagu "What Sarah Said" (DCfC, 2005), tadi udah dibahas ya, lagu ini closingnya juga nampar banget dengan lirik, "Love is watching someone's die. So who's gonna watch you die?" diulang-ulang udah kaya mantra, hii, serem abis. Tapi lagi-lagi, dengan pemahaman baru dari lagu "I Will Follow You into the Dark" tadi jadi make sense

Di tahun 2003, Postal Service (yang orangnya ya itu lagi itu lagi sebenernya, dia dia juga di Death Cab for Cutie) punya lagu judulnya "We Will Become Silhouettes" (susah amat nulisnya, setdah!). Awal denger tertarik karena lirik yang tercerna saat itu cuma "And we become..silhouettes when our bodies finally go.." tapi setelah dibaca lagi liriknya, kayanya tentang situasi bom atom..kayanya ya. Lucunya, topik se-grim itu dibalut sama beat yang bubbly. Kontradiksi itu aja sangat menarik perhatian. Tapi lirik bahwa "Ya, kayanya kita nanti bakal jadi siluet aja sih kalo badan kita udah ga ada", lagi-lagi sangat menginspirasi saya pada masanya.

Masih overthinking soal cinte, lagu terakhir saya sertakan "Naked As We Came" dari Iron & Wine di tahun 2005, tahun dimana saya baru-baru saja bertransisi dari anak SMA ke Mba-mba kuliahan. Masa-masa paling bodoh tapi berasa paling invincible dan bullet-proof ðŸ¤£. Ya mungkin karena bodoh dan gatau apa-apa sih, makanya berasa udah si paling sedunia, wkwk. Kalo lagu ini ga cuma liriknya, tapi video klipnya asli bagus banget 🥲, sangat poetic. Liriknya begini nih, 

She says, "Wake up, it's no use pretending"
I'll keep stealing, breathing her
Birds are leaving over autumn's ending
One of us will die inside these arms
Eyes wide open, naked as we came
One will spread our ashes around the yard

She says, "If I leave before you, darling
Don't you waste me in the ground"
I lay smiling like our sleeping children
One of us will die inside these arms
Eyes wide open, naked as we came
One will spread our ashes around the yard

Lalu videoklip-nya panning kamera aja menangkap gambar-gambar makanan yang udah abis dimakan, atau sisa-sisanya yang disemutin, sampe di ujung ada 2 anak, laki-laki dan perempuan, terus si anak laki-lakinya mencuri cium pipi dari si anak perempuan, lalu mereka lari kejar-kejaran. Setelah itu kamera panning lagi berbalik arah ke meja panjang tadi yang ajaibnya makanan-makanan yang tadi udah sisa dan buyatak jadi makanan segar lagi. Udah gitu aja. Sederhana tapi cocok banget ngegambarin lirik lagunya. Manis dan sederhana tapi bermakna banget. kalo kata Pram kan ya, "Hidup itu sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirnya."

Menutup tulisan saya kali ini, adalah kutipan dari salah satu chapter komik "Vinland Saga" di chapter 37 yang judulnya "Meaning of Love". Saya pribadi belum baca komik ini, tapi diceritain isinya dan chapter-chapter yang bagusnya sama Saska. Waktu Saska menceritakan chapter ini, saya tersentuh banget, karena beresonansi dengan makna cinta yang saya petik dari lagu-lagu yang saya dengarkan bertahun-tahun sebelumnya. Mengutip dari komik Vinlan Saga,

"He is dead, and therefore more beautiful than anyone alive. You might say he is love itself. For you see... he will not hate, nor kill, nor steal. Don't you find that wonderful? His body will be abandoned here... and his flesh will feed the beasts and insects. He will be blown about by the wind... and pelted by the rain... and he will not raise a single word in complaint. It is death that completes a man.— Willibald






Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...