Tuesday, November 3, 2009
a quote -teknologi
Monday, November 2, 2009
Bandung Lautan Api
sudah berusaha ditulis singkat dan tetap runut. tapi ternyata masih saja panjang, khaha.
"saya terbakar!"
selamat membaca :]
1918
Dari mulai tahun 1918, pemerintah Hindia Belanda sudah berencana untuk memindahkan Ibu Kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung dengan berbagai kondisi yang dianggap lebih menguntungkan. Maka, sejak saat itulah berbagai infrastruktur kota dan komplek instansi pemerintahan dibangun di Bandung.
1930
Namun pembangunan komplek instansi pemerintahan ini terhenti pada tahun 1930 karena resesi ekonomi yang melanda Hindia Belanda.
1942
Pada 1942, Bandung yang sudah menjadi tempat pengungsian para petinggi Hindia Belanda dari Batavia di bom berkali-kali oleh tentara Jepang. Dan karena keadaan mendesak, akhirnya Belanda menyerah dalam perundingan di Kalijati, Subang, kepada Jepang.
1946
Empat tahun kemudian, Bandung kembali diperebutkan. Kali ini Inggris datang bersama dengan NICA. Meskipun kekuatan Jepang sudah melemah semenjak diproklamasikannya kemerdekaan, tetapi mereka masih tetap bertahan. Saat itu Jepang masih melarang penyebaran proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke seluruh dunia. Dengan perjuangan, akhirnya kantor berita di Jakarta bisa direbut oleh para pejuang kemerdekaan, kemudian mereka menyiasati keadaan dengan mengirimkan kawat ke Kantor Berita Domei di Bandung. Dengan kawat tersebut, berita proklamasi pun tersebar, dan kejadian ini semakin menyulut semangat para pemuda untuk mengambil alih berbagai instalasi penting yang masih dikuasai Jepang dan merebut senjata.
Dalam masa ini pulalah masyarakat Cina di Bandung membentuk AMT, Angkatan Muda Tionghoa, dan bekerjasama dengan para pemuda Bandung lainnya.
Pada awalnya tentara Inggris terlihat ingin membantu para pemuda, sampai akhirnya para pemuda menemukan bahwa Inggris juga datang bersama para petinggi Belanda.
Para pemuda tidak terima.
Mereka tidak rela Belanda kembali menduduki kota mereka, maka perlawanan pun kembali dicicil oleh para pemuda. Mereka terus mengganggu tentara Inggris, sampai akhirnya tentara Inggris mengeluarkan ultimatumnya yang pertama, disusul dengan ultimatum kedua, mengancam para pemuda, untuk segera meninggalkan Kota Bandung.
Dan datanglah laporan pertama yang diterima oleh Nasution menanggapi keadaan Bandung saat itu,
“Sesampainya di pos komando (markas komando, pen), kepala staf melaporkan bahwa ada kawat dari Yogya tanpa alamat si pengirim. Isi kawat tersebut adalah ‘Pertahankan setiap jengkal itu. Setiap jengkal daerah Republik sampai titik darah penghabisan.’” (A. H. Nasution, wawancara 1 Mei 1997)
-Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan rakyat Bandung untuk kedaulatan, 2000
Tentunya, pesan singkat yang “membakar” ini membuat Tentara Republik Indonesia terbagi menjadi dua kelompok.
Menuruti perintah atasan untuk mengosongkan Bandung karena keadaan tidak memadai untuk para pemuda disana tetap berjuang, atau tetap berjuang mempertahankan Kota Bandung.
Dan terjadilah ketegangan internal mengingat opsi kedua berarti melanggar aturan seorang tentara. Bagaimanapun seorang tentara harus menuruti perintah atasan. Beberapa anggota pasukan yang emosional pun meluapkan rasa gregetnya.
“Asal mulanya, cabut kita (sambil memperagakan pencabutan tanda pangkat di bahu, pen). Bertempurlah sebagai pemuda!” (Daeng Kosasih, wawancara 27 September 1997)
-Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan rakyat Bandung untuk kedaulatan, 2000
Setelah perdebatan sengit akhirnya dari berbagai opsi dipilihlah satu:
Bandung akan dibumihanguskan.
Bumi hangus Bandung direncanakan dimulai jam 24:00. Sejak jam 15:00, arus pengungsi mulai tampak.
Rencana peledakan pertama adalah jam 24:00 di gedung Indische Restaurant di sudut selatan alun-alun Bandung (gedung BRI). Namun peledakkan itu tidak berjalan sesuai rencana. Jam 20:00 akhirnya suara ledakan terdengar, diikuti gerakan-gerakan pembakaran massal. Ledakan susulan pun sahut menyahut. Sepanjang Pangeran Sumedangweg (Jalan Oto Iskandardinata) dan Jalan Raya Barat (Jalan Jenderal Sudirman) berhasil dibumihanguskan.
26 Maret 1946
Seorang wartawan muda harian “Suara Merdeka”, Atje Bastaman menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dan Bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Dayeuh Kolot. Pemandangan yang juga dilihat oleh Nasution bersama Rukana, kepala polisi tentara, dari arah Ciparay.
“Jadi dengan ledakan itu, saya dengan Rukana naik ke atas, di tempat listrik. Melihat betul-betul dari Cimahi sampai Ujungberung sudah api semua itu.” (A. H. Nasution, wawancara 1 Mei 1997)
-Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan rakyat Bandung untuk kedaulatan, 2000
Sumber: Bandung Society for Heritage Conservation
Tuesday, October 13, 2009
temans, saya datang! :D
dompet mengurus.
pengalaman menggendut.
rasa senang berlipat.
lelah merayap.
senyum dan tawa terkulum.
oleh-oleh cerita dan foto terekam.
saatnya pulang.
ia berumur, tampak bijaksana, ramah tapi berwibawa, dan bersorjan
begitupun yang banyak dijumpai dalam mitologi jawa tradisional: segala sesuatu memiliki "ruh", punya "jiwa". seperti keris, pahatan, patung, atau rumah bahkan. katakanlah keris. dalam membuat keris yang sakti seorang empu harus berpuasa dulu, membuat kerisnya dengan konsentrasi tingkat tinggi dan penuh penghayatan. mengabdikan sekian waktu dalam hidupnya. seperti hampir menransfer sekian kehidupan pada sebuah benda tersebut. memberikan "jiwa".
sama dalam kepercayaan indian, seperti yang diceritakan film pocahontas nya walt disney, alam itu sendiri memiliki "jiwa" dan berinteraksi, berkomunikasi, "berbicara" dengan caranya sendiri.
dan saya membayangkan pun setiap kota menjelma menjadi sebuah sosok.
Monday, October 12, 2009
The Thoughtful Yogyakarta
3. di sepanjang trotoar malioboro ada tegel (lantai) yg khusus untuk tuna netra. itu lho,yg ada tonjolan motif horisontal dan polkadot,jadi bisa terasa di kaki atau di tongkat. polkadot artinya jalan terus, horisontal artinya berhenti, waspada, akan ada penyebrangan.
4. ini yang paling keren menurut saya! ada jalur alternatif untuk para pesepeda. ada plang-plang nya gitu, khusus untuk para pesepeda diberitau jalur alternatif yg lebih bersahabat. keren :D
yogyakarta, di mata saya, kota yang sangat ramah dan supportive. bravo! :]
Sunday, October 11, 2009
mendaki gunung lewati lembah
rute pertama adalah Purwokerto, Jawa tengah. naik travel dengan membayar 90ribu rupiah, sore itu saya dan seorang teman lagi sampai di purwokerto untuk bertemu satu orang teman lagi, dan menunggu satu teman lagi. total, perjalanan ini akan dilakoni 4 orang.
esoknya, kami lanjut ke yogyakarta, check point pertama sebelum mulai naik gunung Nglanggeran di daerah kota kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
Rabu, 7 oktober 2009.
perjalanan naik gunung Nglanggeran dimulai sore. ini akan menjadi pengalaman pertama saya mendaki gunung, lengkap dengan bawaan a la anak gunung, carrier, panci, tenda, matras, air mineral botol besar, wah, agak mirip lah, sama film into the wild, khehe. gunung Nglanggeran adalah daerah pegunungan karst, jadi daerahnya kering dan berbatu. gunung Nglanggeran termasuk gunung yang tidak terlalu berbahaya, dan sangat "beginner" sebetulnya, but still, buat saya ini sulit. dan capek, jelas. kita harus mendaki sebuah batu yang besaaaar sekali dengan kemiringan kurang lebih 45 derajat, dengan beban carrier yang semakin lama semakin terasa berat dan mulai menyakiti pundak dan tulang pinggul, dan setelah mendaki batu itu, kita harus melewati celah antara 2 batu besar. agak takut juga awalnya. kalo kepleset, wah..langsung, bubar brah! terpelanting sana sini karena dibawah juga banyak batu batu besar dan tajam rasanya. tapi saya ga boleh nyerah sama pemikiran "kalo ini kalo itu" yang blum terjadi. "Berani, mita!" teriak saya dalam hati. dan alhamdulillah, walau dengan kaki gemetar dan lantunan doa yang terus terpanjat dalam hati, terlewati juga.
pelajaran pertama:
jangan takut dengan pikiran negatif. kalo niat saya baik dan saya percaya saya bisa, maka saya bisa.
jalan terus menanjak. medan kadang sulit kadang mudah. kadang dilewati sambil tertawa kadang dengan perasaan "pulang aja apa iniiih!" tapi teman saya yang sudah lebih berpengalaman terus berucap, "sabar..sabarr..sebentar lagi sampai.." dan ya, itu yang saya lakukan. sabar dan terus berjalan tapi bukan tanpa tujuan. saya tau kemana saya akan berlabuh dan mendirikan tenda.
dan akhirnya saya sampai ke puncak! yeay! subhanallah. bagus banget. angin kenceng banget, tapi pemandangannya..hmm..priceless lah! langsung membayar lelah pendakian. agak takut si waktu berdiri di puncak itu, takut terbang kebawa angin, khaha, tapi ga mungkin lah ya, kan saya berat ;p kecuali saya kepleset. but nah,jangan berpikiran negatif, dinikmati saja yang ada di depan mata.
pelajaran kedua:
sabar dan sabar.
kita ga tau apa yang menanti kita di depan. sabar dan terus jalan selama kita punya tujuan. kalo kata temen saya, "sabar membawa berkah". khahahahahaha. tapi itu benar adanya ternyata.
baiklah begitu, sekian dulu. sekarang saya sudah kembali ke yogyakarta, teman teman saya sudah menanti untuk trip selanjutnya hari ini. nanti saya cerita lagi pengalaman saya turun gunung dan susur pantai selatan :D
s e r u
:]
adios amigos!
salam!
Thursday, September 10, 2009
Panda Bambu
Sunday, August 23, 2009
Tari Pendet 'Diklaim Malaysia'?
jangan panas dulu, kawan. kita mahasiswa, insan terpelajar, bukan preman, ingat? lihat dari berbagai sisi dulu sebelum menilai dan bertindak. "Bangun Pemuda Pemuuudi, Iiindonesiaaa..." kalau kamu segitu pedulinya dengan kebudayaan tanah air kita bersama ini, berikan aksi, bukan caci maki!
Saturday, August 22, 2009
Thursday, August 20, 2009
mahapati, kamu jahat sekali

Alkisah dalam sejarah majapahit pada saat Raden Wijaya berhasil mendirikan kerajaan dan menjadi Raja Majapahit, segera dibentuklah sebuah kabinet.
Adalah Arya Wiraraja yang sangat berjasa kepada Raden Wijaya. Saking besar jasanya, ia bahkan dijanjikan daerah sendiri pada saat Raden Wijaya telah berhasil menjadi raja Majapahit, semacam pembagian wilayah kerajaan.
Maka setelah Kerajaan Majapahit terbentuk, ditunjuklah Arya Wiraraja beserta anaknya, Arya Adikara sebagai rakryan menteri. Sedang yang menduduki jabatan patih amangkubumi adalah Empu Nambi.
Arya Adikara sebenarnya mengincar posisi jabatan “patih amangkubumi”, dan ia sangat kecewa pada keputusan Raden Wijaya yang tidak memberikannya jabatan tersebut, karena ia merasa memiliki andil yang cukup besar pula pada keberhasilan Raden Wijaya menjadi raja Majapahit, apalagi, ia adalah anak Arya Wiraraja yang jasanya juga sangat besar terhadap Raden Wijaya.
Arya Adikara memiliki nama hadiah dari raden wijaya, ialah Rangga Lawe. Rangga Lawe pun memberontak, meminta Empu Nambi dicopot dari jabatannya sebagai patih amangkubumi. Peristiwa ini dikenal dengan pemberontakan Rangga Lawe.
Saat peberontakan Rangga Lawe ini terjadi, adalah Lembu Sora yang menjabat sebagai rakryan patih Daha, ia adalah paman dari Rangga Lawe, meskipun demikian, ia tetap memihak rajanya, Raden Wijaya, saat Rangga Lawe kemenakannya memberontak.
Long story short, Rangga Lawe berhasil tertangkap, dan ia pun dibunuh secara kejam oleh Mahisa Anabrang. Melihat Rangga Lawe dianiaya oleh Mahisa Anabrang di tepi Sungai Tambak Beras, Lembu Sora pun tidak tega dan menusuk Mahisa Anabrang dari belakang sampai mati, bagaimanapun, Rangga Lawe adalah anak dari saudaranya. Menurut undang-undang Majapahit, sebetulnya Lembu Sora bisa saja dihukum mati, tetapi ia belum juga mendapat hukuman dari Raden Wijaya karena jasa-jasanya masih menjadi pertimbangan.
Kita tinggalkan sejenak Lembu Sora yang menghadapi kekalutan hatinya. Sementara itu kita mundur sedikit, kembali pada waktu dimana Rangga Lawe masih menjalankan usaha berontaknya. Di waktu yang paralel, adalah Mahapati, seorang pembesar yang juga berambisi menduduki jabatan patih amangkubumi, sama seperti Rangga Lawe.
Ia pun bersiasat licik untuk menjatuhkan Empu Nambi, tapi, kalaupun ia berhasil memfitnah dan menjatuhkan Empu Nambi saat itu, bisa saja yang akan ditunjuk menjadi patih Amangkubumi adalah Lembu Sora yang sangat setia kepada Raden Wijaya. Mahapati pun memutar otaknya yang cerdas sesungguhnya, sayang liciknya bukan kepalang. Jelaslah, ia harus menjatuhkan Lembu Sora terlebih dahulu sebelum menjatuhkan Empu Nambi. Dan peluang itu muncul bagai anugerah dewata padanya: pembunuhan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora.
Kembali maju pada alur Lembu Sora yang sedang kalut. Pada waktu yang sama Raden Wijaya pun sedang gundah hatinya, ia merasakah konflik yang terjadi di tengah-tengah kabinetnya, ia merasa ada sesuatu diantara para menterinya.
Disinilah Mahapati masuk...
Mengaranglah ia pada Raden Wijaya, bahwa para menteri sebenarnya menaruh keberatan karena ia belum juga menjatuhkan ganjaran sesuai hukum yang berlaku kepada Lembu Sora, tidak hanya itu, bahkan Lembu Sora sendiri merasa curiga terhadap kebaikan Raden Wijaya tersebut. Marahlah Raden WIjaya dan berjanji akan langsung mencopot jabatan Lembu Sora, Mahapati pun mengambil hati Raden Wijaya dengan menasihatinya agar jangan gegabah, seolah membela Lembu Sora dengan bijaksananya.
Pergilah kemudian ia pada Mahisa Taruna, anak dari Mahisa Anabrang, memanas-manasi hatinya.
Kemudian beringsut kembali Mahapati pada Lembu Sora dan berkata bahwa Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang hendak menuntut balas dengan meminta bala bantuan dari Empu Nambi, dan ia nyatakan keberpihakannya pada Lembu Sora, mengambil hati dan kepercayaan Lembu Sora.
Ketika bertemu Empu Nambi, ia ceritakan bahwa Raden Wijaya hendak mencopot jabatan Lembu Sora dan menggantinya dengan Mahisa Taruna, ditambahkan, Mahisa Taruna juga sudah siap menuntut balas. Tapi keadaan yang ceritanya kacau balau itu berhasil Mahapati kendalikan dengan campurtangan personalnya. Empu Nambi pun terpikat dengan “kecekatan” Mahapati dan urun bantuan untuk mengurai simpul ini dengan menghadap Raden Wijaya dan meminta Raden Wijaya segera menghukum Lembu Sora agar tidak terjadi lagi ketegangan intern kabinet.
Lembu Sora sangat sedih mendengar desas-desus tersebut, ia pun bersama kawan-kawan setianya, Juru Demang dan Gajah Biru lebih memilih mati daripada dicurigai oleh raja yang pernah ia bela mati-matian. Mahapati masuk lagi, ia menghibur Lembu Sora dan mengatakan bahwa ia sudah berusaha sebisanya untuk mencegah Empu Nambi membujuk Raden Wijaya menjatuhkan hukuman padanya.
Sementara itu Raden Wijaya sudah memutuskan, mengingat jasa-jasa Lembu Sora yang tidak sedikit, ia tidak akan menghukum mati Lembu Sora, tetapi akan mencopot jabatan dan membuangnya. Lembu Sora dikatakan menolak keputusan tersebut. Raden Wijaya menjadi susah hati melihat hubungan karibnya dengan Lembu Sora, harus bersengketa. Mahapati di depan Raden Wijaya kembali membela Lembu Sora dan memberikan usul bagaimana kalau Raden Wijaya memberikan perintah tertulis saja dan ia akan memercayakan dirinya menjadi kurir. Raden Wijaya pun setuju dan surat diantar Mahapati pada Lembu Sora.
Surat dibaca Lembu Sora, ia pun memberikan jawabannya secara tertulis pada Raden Wijaya, isi suratnya berkata bahwa ia masih menaruh cinta bakti dan bersedia menyerahkan jiwa raga di hadapan Sang Prabu (Raden Wijaya). Ia tidak akan membantah meski akan diserahkan pada Mahisa Taruna sekalipun. Segera ia dan kawan-kawannya akan menghadap istana.
Surat tersebut diberikan pada Mahapati.
Dan Mahapati yang tidak puas pada reaksi Lembu Sora menyampaikan pada Raden Wijaya bahwa Lembu Sora dan kawan-kawannya sudah sepakat untuk khianat.
Maka saat Lembu Sora dan kawan-kawannya sampai di istana untuk menghadap Raden Wijaya, pengalasan mengatakan Baginda tidak bersedia menerima mereka, dan ketika Lembu Sora memaksa untuk masuk istana, alih-alih diterima oleh Raden Wijaya, Sora diserang oleh tentara Majapahit yang telalh dipersiapkan Empu Nambi.
Dalam perkelahian itu Lembu Sora, Juru Demang, dan Gajah Biru gugur.
Siasat Mahapati berhasil dengan baik.
Long story short, pada akhirnya Empu Nambi juga dijatuhkan oleh Mahapati dengan cara yang tidak kalah jahatnya.
DAN Mahapati pun pada akhirnya berhasil menjadi seorang Patih Amangkubumi
there u go. sebenernya cerita waktu dia menjatuhkan Empu Nambi kemudian itu SAMA jahat dan liciknya! gila banget lah orang ini. jahat pisan san san.
saya jadi inget kata-kata temen saya: "ada dua macem orang yang selalu dapet kemudahan dalam mewujudkan keinginannya mit! kalo ngga di bener-bener baik, dia BENER BENER JAHAT."
ya, dalam kasus ini, terbukti! karena si Mahapati ini tampak selalu dapat kemudahan dan jalan, padahal dia jahat bukan main. suka jadi kesel sendiri, kan kasian Lembu Sora.
Friday, July 31, 2009
tips
1. dosen juga manusia,
maka dari ituuuu, kemungkinan bahkan dia tidak tau apa yang kamu pelajari secara mendetail semalam kemarin. TAPI mereka tidak boleh tidak tau, makadari itu satu-satunya cara ya menyalahkan saja tho? jadi..
2. tenangkan dirimu
ketawa-tawa aja di dalam ruang sidang, tapi...
3. jangan lupa napas ya
ini sering terjadi terbukti waktu dosen melemparkan pertanyaan, walau kamu sudah bisa menjawab pertanyaan itu dalam sepersekian detik dalam otakmu tapi yang keluar dari mulutmu hanyalah "ee.. eee.. cepacebucp pacebubuac cepabukapcek pakc ekepake.."
4. banyak-banyak lah tersenyum dan JANGAN nyolot
5. kalau kamu sudah selesai dan teman seperjuangan mu merasa sangat down,
SIMPAN semua cerita kesuksesanmu. bercerita betapa pintarnya kamu di ruang sidang bukan cara berempati yang paling
bagus tampaknya, kalau sehabis itu kamu tidak dikejar-kejar dengan garpu terhunus karena mukamu seperti batagor dengan belepotan bumbu kacang coklat.
sekian sementara. amin.
Totto-chan: Sebuah Ulasan
Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...
-
too much to say leave a silence. what will tomorrow fells like without u, i wonder,, what will a small tiny caterpillar feels without it...
-
Cicing = anjing kasar (khahahahaha di bandung kan artinya diem, saya jadi kebayang, “Cicing siah!” berarti bisa berarti “Diem kamu!” atau “a...