Tuesday, March 17, 2009

saya susu full cream :]

tanggal 14 maret, 3 hari yang lalu, saya ke pecatu.
diajak Tina, teman saya yang sering menari di ULU WATU untuk turis disana.
ULU WATU itu salah satu tujuan wisata juga yang terkenal karena disana, di Pura Ulu Watu itu, monyet nya banyak sekali dan dipelihara.
ini semacam sanctuary mereka.
terus, di tebing gitu.
lautnya ada di bawah.
berdebur-debur.
menjelang sunset, diadakan dramatari Ramayana singkat.

ini kali kedua saya ke ulu watu dan menonton sendratari Ramayana singkat nya.
ingatan saya jadi kembali lagi semua dalam 1 detik,
pertama kali dulu kemari dan menonton sendratari ini taun 2005,
pun perasaan saya sepulang menonton sendratari disini 4 taun yang lalu itu.

waktu itu saya bersama keluarga rame-rame: sepupu-sepupu, oom, tante, ibu juga, road trip. menyetir dari jakarta, menyusuri jawa. sempet berenti di Dieng, melihat sunrise di Bromo, sampai menyeberang ke Bali, dan berwisata di mari. salah satu destination kita waktu itu Pura Ulu Watu ini.
sesi hari itu berakhir dengan selesainya sendratari ramayana yang meninggalkan perasaan campur-campur di hati saya.
saya kagum.
kagum sekali menyaksikan tari kecaknya yang kompak, magis, menghipnotis.
hanoman nya yang atraktif.
melihat pemangku yang seringkali muncul di tengah-tengah pertunjukkan untuk "membersihkan" arena pertunjukkan dari bad spirit.
melihat sunset yang cuma beberapa menit itu prosesnya di balik siluet pura Ulu Watu.
melihat para penari itu dengan luwesnya melenggang.
melihat permainan karakter mereka yang terwujud dari gestur tarian mereka.
sesaat setelah menonton sendratari itu saya cuma diam.
berpikir, "hebat sekali ya penari-penari itu, hebat sekali orang-orang yang dengan segenap jiwa mencintai kebudayaan mereka, bisa ga ya, kenal sama penari-penari ini, melihat wajah di balik topeng Hanoman yang atraktif lucu sekali itu?"
saya menyesal tidak menuruti perintah ibu dan melanjutkan pelajaran tari bali saya sewaktu kecil.
saya tergugah karena merasa, "kebudayaan Indonesia itu indah sekali ya.."
saya tergerak.
terus saya cuma bisa melihat Arum, salah seorang sepupu saya sambil berkata, "bagus banget ya? keren banget ya? coba ya dulu kita ga berenti latian nari..."
semua campur aduk.
ya kagum.
ya senang.
ya merinding.
ya menyesal.
ya sedih.
ya, ingiiin sekali bisa berlaga seperti itu.
ya merasa kecil, speechles.

lalu saya membatin, dengan hati menggelegak dan semangat "ah, saya mawu belajar nari lagi! suatu saat nanti, saya mawu kesini lagi. sendiri."

taun demi taun lewat.
saya suka ini, saya suka itu, saya mawu ini, saya mawu itu, saya ngerjain ini, saya ngerjain itu.
saya lupa.
tapi ga seratus persen lupa ternyata,
karena walau fokus saya teralihkan dan "mampir-mampir", ternyata deep down inside saya benar-benar jatuh cinta sama ini, jalan saya pun masih mengarah ke sana walau belok-belok.
dan tiga hari yang lalu,
persis seperti 4 taun yang lalu itu,
saya ada di Pura Ulu Watu,
dan menonton sendratari Ramayana.
tapi kali ini,
saya sendiri :]
dan sudah punya perspektif baru waktu menonton sendratari ini :]
dan saya bisa berbincang banyak dengan para penari kecak maupun hanoman maupun tokoh sendratarinya :]
ya walaupun saya blum bisa menari disana.
entah bisa atau tidak, tapi ini cukup, rasanya saat ini. :D

saya jadi merasa sangat positif.
sangat bersyukur.
sisa malam itu saya senyum terus. tulus dari hati.
saya sayang semuanya.

saya, susu full cream* :D

*menyambung dari salah satu tulisan saya tentang "menjadi Low Fat Milk"

1 comment:

  1. motivasi yang tumbuhnya dari daLam emang Lebih kuat, apaLagi kaLau didadapat dari pengaLaman Langsung. ayo semangat meneruskan tari baLinya..

    ReplyDelete

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...