Wednesday, April 13, 2011
Monday, April 11, 2011
selalu berbicara ini pada diri sendiri, semoga tidak lupa
satu hal penting yang saya tangkap selama sesi pelatihan hari ini:
belajar, tidak hanya berlaku untuk adik-adik, tapi bahkan kakak-kakak relawan pun masih harus terus belajar. manusia selama hidupnya harus terus belajar! supaya apa? supaya..kita menjadi manusia yang hidup, bukan mesin yang hidup dalam tubuh manusia! :]
belajarlah sampai tua!
dibalik "atas nama"
atas nama
Sunday, April 10, 2011
pada saat hobi dan kesukaan dijalankan tidak sebagai hobi maka itu akan menjadi beban
Friday, March 18, 2011
Si Togog Memasak
Okai, ini adalah kedua kalinya saya mencoba membuat tumis jamur. Tapi kali ini dengan jamur yang berbeda. Pertama kali saya membuat tumis jamur, karena keterbatasan persediaan di pasar terdekat, saya memasak tumis jamur dengan jamur champignon, padahal seharusnya saya menggunakan jamur putih.
Tapi, kali pertama, dengan jenis jamur yang “saya ngarang”, bisa dibilang cukup sukses, karena bumbu nya terasa, dan tidak terlalu asin.
Kali ini yang kedua nya. Dan kali ini saya menemukan jamur yang tepat untuk ditumis (setidaknya dari yang pernah saya cicipi dulu, jamur macam ini yang ditumis).
Untuk bumbu saya sedikit ngarang memang, ha ha! Mengandalkan sense lidah saya waktu mencicip tumis jamur terdahulu yang berusaha saya replika saat ini (attention, snob alert!!), jadi saya menggunakan bumbu yang sama kali ini pun.
Cabe merah keriting, bawang putih, ketumbar, daun jeruk, daun salam, sereh, garem gula pastinya untuk msg alami, merica.
Dan..hasilnya..hmmhh..i can’t tell it’s a success one this time :|
In term to tell u WHY this time isn’t the success one, I want to share my contemplation-while-cooking-time opinion
Dalam memasak, kamu harus sabar. Dan telaten.
Ini ni, yang saya sering lupa untuk mengaplikasikannya pada setiap aspek dalam keseharian dan perilaku saya. Dari main di papermoon dulu, kerja sambil duduk, sampai hal memasak, saya selalu kurang bisa sabar kalau tidak ada yang menenangkan. Kenapa harus sabar, apa hubungannya masak dengan sabar?
Iya, masakan saya jadi keasinan.
Begini story nya:
pertama saya memasukan bumbu-bumbu ke dalam penggorengan berminyak panas. Seharusnya saya menumisnya agak lama, tapi segera setelah aroma bawang putih menghablur mengudara, segera saya masukan SEMUA jamur yang TERNYATA..tampaknya jamur nya terlalu banyak untuk takaran bumbu yang sudah saya siapkan. Yang kemudian saya baru mendapatkan kesimpulan, “Jelas beda karena jamur yang saya masak pertama dulu kan lebih kecil, ya IYALAH jadi ga seimbang proporsi materi masakan dengan bumbu, karena sekarang yang saya masak adalah jamur yang ukurannya lebih besar.”
SEHARUSNYA saya memasukan perlahan si jamur.
Segera setelah saya berkata,
“Ah, dodol! Harusnya dikit-dikit masukin jamur nya!!”
Saya panik dan SEGERA mencampuradukkan tumisan bumbu dengan suwiran-suwiran jamur.
PADAHAL harusnya saya bisa tetap tenang dan perlahan memisahkan dan mengambil kembali kelebihan suwiran jamur.
Oke, saya panik dan terus mencampur aduk, mencampur aduk, mencampur aduk. Saya panik, ambil sendok dan memberikan garam pada tumisan saya.
Aduk lagi, aduk lagi, aduk lagi.
Segera saya ambil sendok dan mencicipi kuah yang dihasilkan dari air sayuran yang ditumis.
“Emh, ga berasa apa-apa!”
Segera saya tambahkan garam...
Segera saya tambahkan garam...
Ahh, betapa panik itu membutakan mata dan sensivitas saya. Karena tidak lama kemudian barulah saya lihat, ternyata tumisan jamur itu baru mengeluarkan air, bercampur dengan keseluruhan bumbu..
Saya cicip...
Saya sesap dan kecap..
“ahh..gila..”
Saya termenung tercenung.
Dia bergolak dan asap membumbung.
“orang bisa langsung darah tinggi, makan ini..dan..bumbunya berasa kok...”
TERNYATA saat memasak, kadang diperlukan waktu sesaat untuk mendiamkan si materi masakan dan bumbu. Karena persenyawaan itu dilakukan perlahan..kecuali kamu memakai bumbu instan yang tidak sehat dan artifisial itu.
“Haahhh..”
Saya hanya bisa mengehela nafas.
Lalu bagaimana ini, sudah kepalang, tanggung bak ilalang, terlanjur seperti siang, elang yang terbang, di balik awan ia hilang, tak bisa dikejar apalagi di halang..lang..lang..lang..lang...
Sudahlah.
Kembali saya masukkan bumbu-bumbu yang belum masuk. Diselesaikan saja. Semua yang dimulai harus diselesaikan, ambil semua resiko nya. Saya harus bertanggung jawab. Sambil terus maju memasak saya memutar otak, ngarang..
Bagaimanakah pertolongan pertama pada masakan yang keasinan? Saya langsung terpikir air. Segera setelah terlihat matang saya siram dan campur tumisan jamur dengan setengah gelas air..
Dan sepertinya sebenanrnya ia sudah matang dan siap dimakan.
Saya cicip..
Saya sesap dan kecap..
“bumbu nya kurang..rasanya kurang menggigit lidah!”
Yang saya tau untuk pertolongan pertama ini adalah BAWANG PUTIH!
Ini pelajaran dan evaluasi serta bahan berguru saya selanjutnya, BAGAIMANA berhenti mengandalkan bawang ptih sebagai “attention getter” dalam memasak.
Karena saya selalu mengandalkan rasa bawang putih pada SETIAP masakan saya untuk attention getter. Padahal, untuk menjadi pemasak yang mumpuni, saya HARUS TAU attention getter yang lain, selain bawang putih.
Tidak semua orang suka bawang putih, walaupun saya tergila-gila pada bawang putih.
PR saya selanjutnya juga: MENCARI-TAU efek bawang putih pada tubuh..apa baiknya, dan kalau ada, efek samping nya juga pada tubuh jika berlebihan. Ha ha!
Hmm..not bad..ternyata rada tertolong.
Terutama saya suka sensasi bawang putih yang kemudian ditambahkan dan menjadi setengah matang.
“enak juga..”
“Tapi daun jeruk nya kurang..yah, udah terlanjur mati kompornya..”
Yasudahlah..SETIDAKNYA saya jadi tau, untuk jamur sebanyak itu saya akan perlu bumbu sebanyak apa.
There goes my lesson.
Oya, tambahan hasil kontemplasi memasak:
Saya jadi berpikir,
Masakan yang enak itu adalah masakan yang tetap terasa enak walaupun ia sudah dingin dan tidak berasap lagi.
Karena..
Karena..
Sekarang setelah saya baru saja selesai menulis ini, saya mencicipi tumis jamur yang sudah dingin ini..rasanya..emhh...
...
Monday, February 28, 2011
ambil!
Dan pagi ini saya sudah kembali berada di Bandung, menumpang pada sebuah kapal kapten bajak laut yang sedang mencari navigatornya, katanya..
Dan pagi ini saya sudah kembali sarapan di depan SD Priangan.
Dan pagi ini saya dan Kandie memutuskan untuk MEMASAK makan siang!
:D
Ok, this is the most simple yet delicious menu:
Tempe goreng sigar bumbu
Sambel ulek
Nasi panas
Dan siang ini kami sibuk berbelanja,
Memasak,
Meminjam alat-alat masak.
Dan jadilah makan siang kami dalam sekejap!
Tanpa kami perhitungkan kami blum lama menghabiskan sarapan kami.
Hmm..jadilah si masakan lezat itu kami endapkan dulu,
Sayang ya, padahal kalau dimakan panas pasti uenak sekali!
Ingin rasanya mengundang satu atau dua orang lapar masuk untuk menikmati hidangan dan melihat ekspresi mereka melahap makanan yg sudah dimasak ini..
Sambil menatap makan siang dan menunggu lapar saya jadi berpikir,
For the sake of sopan santun,
Saat bermain ke rumah salah seorang teman dan dimasakkan sesuatu,
Kadang sewaktu diajak,
"Ayo makan dulu, sudah jadi.."
Saya suka pause dulu beberapa saat sambil senyum,
"oh, iya tante.."
Dan tidak langsung menikmati hidangan itu selagi segar dari panggangan.
Dan ternyata..begini tho rasanya..
Saya jadi berpikir,
Lain kali, kalau main ke rumah teman lagi dan disuguhi saya akan sigap tangkas mencukupkan kadar sungkan sekedarnya saja dan mencicip hidangan.
Dan dengan mata berbinar dan senyum mengembang, saya akan mengajak alvi, spirit usus saya, mencecap rasa itu dan berterimakasih pada sang koki.
Apresiasi.
Pasti nanti si koki akan senang! :]
Begini ya, ternyata rasanya.
Penting sekali menjaga agar selalu punya kadar spontanitas dan ekspresif.
Yang paling bagus itu memang menindaklanjuti segala sesuatu yg sudah siap tanpa membuatnya menunggu terlalu lama.
Wednesday, February 23, 2011
vena dan gravitasi
Monday, February 21, 2011
doki doki
Totto-chan: Sebuah Ulasan
Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...
-
too much to say leave a silence. what will tomorrow fells like without u, i wonder,, what will a small tiny caterpillar feels without it...
-
Cicing = anjing kasar (khahahahaha di bandung kan artinya diem, saya jadi kebayang, “Cicing siah!” berarti bisa berarti “Diem kamu!” atau “a...
