Sunday, February 22, 2009

meet Rangda

photograph by Darmastyo Wicaktomo S.

foto ini diambil teman saya Icak waktu pentas nari di Unpar tanggal 21 malam kemarin.
even though the show didn't go quiet well, but i feel happy anyway :D

belok dikit, saya jadi keinget, pernah denger dari Agni dan Kandi teman saya, ttg "String Theory" atau teori dawai.
asumsinya teori itu, mimpi kita bisa terwujud dan jadi beneran, selama kita percaya kalo KITA BISA dan fokus sama keinginan kita. mungkin intinya, seberapa kuat kita percaya sama mimpi kita.
semakin kita percaya sama mimpi kita dan melakukan usaha buat ngewujutinnya, itu ibarat nya kita menggetarkan satu dawai. dan satu dawai kita yang bergetar itu akan ikut menggetarkan dawai-dawai lain yang ada di sekitarnya sampe semua dawai ikut bergetar.
gituuuuuu, ceunah mah.

kembali, walaupun bukan saya yang di dalem kostum ini, tapi saya suka foto ini.
dia adalah Rangda.
dibaca Rangde sama lidah orang Bali.
pertama liat tokoh ini di acara televisi "Sink or Swim" di Travel & Living (uuu i love this show! Jamie Aditya's in it!) di Episode itu Jamie dapet tantangan untuk mementaskan Rangda, dia harus belajar menarikan dan memerankan Rangda. saya lupa nama lakon sendratari nya tapi ini tarian yang selalu ditarikan waktu taun baru Hindu di Bali.
lucu deh, jadi ceritanya ya, si Rangda ini, yang notabene jadi antagonis, suka menculik bayi-bayi, (tau dari icak juga Rangda itu artinya Janda diambil dari bahasa Jawa, Randa). dan nantinya dia akan berperang dengan Barong yang ceritanya jadi protagonis nya. TAPI, in the end of the show, mereka akan baikan, dilambangkan dengan adegan saling menempelkan wajah as if they kissed.
JADI, as Jamie's narrating,
there's no such thing as "real" good or bad in Balinese. they all have both sides. baik dan buruk itu saling melengkapi dan selalu akan ada, ga akan ada yang menang. kebaikan ga akan ada tanpa keburukan. pun sebaliknya.

tapi yang di pentas semalem tokoh Rangda nya diperankan sama Pandu. keren deh, waktu menarikan Rangda ini ya, gestur dan cara nari nya itu..hmm..gmana ya mendeskripsikannya, hmm pokoknya keren deh. gagah berwibawa keliatannya, karena waktu menarikan bahunya bener-bener dibuat tegak dan naik,plus plus sama mimik mukanya itu, melotot nya, sama tatapan tiba-tiba yang patah (eh, gmana ya maksutnya, ya gitu deh) terus serem juga, soalnya jalannya stakato dan patah-patah, kebayang kaya hantu-hantu jepang model Sadako. terus cara jalannya, cara gestur ketawanya, atau pas dia berputar. Wah, bagus banget deh. dapet banget feel Raksasa Jahat nya, villain nya.
sayang semalem ga terlalu sukses, ga terlalu keliatan, mungkin karena kami kurang latihan, dan ga bisa gladi resik juga. dan suara nyanyian kecak yang jadi clue buat kami ga kedengeran, alhasil jadi ga kompak narinya. oia, dan fakta bahwa topeng Rangda yang blum pernah dicoba sama sekali kecuali sebelum pentas keluar panggung ini kegedean, jadi riweuh yang nari nya. menurut reportase, Pandu kesulitan melihat waktu pake topeng. dia ga bisa liat apa apa. sayang sungguh sayang. padahal bagus lho kalo bener. hix. next time better. harus :D

souvenir?

butuh kasih souvenir buat para narasumbers.
apa ya?
kata Biang Bulan sesuatu yang "bandung banget" akan lebih baik.
hmm..

saran dari Asso dan Duto:
belanjaan FO aja. bandung banget. *khahahaha, segitu melekatnya ya, bandung sama FO?
Brownies Kukus AMANDA aja *ya ya ya, the rest gonna be.. "AMANDA mita, bandung banget dan lo banget tuh.." makasih lho, nama saya uda identik sama brownies.

but i'm thinking,
sesuatu yang dari Bandung,
Bandung banget,
hmm,

peyeum haseum

khahahahahahhaha.

aaaaaaarrrrrrggggghhhhhh h-3!

Saturday, February 21, 2009

progress report

1. mencari rental sepeda atau beatrix
sudah dapet pinjemaaaaaan, yeay! :D kharateeess! sepedah lipet dari Mas Bondi

2. menyelesaikan BAB 3
"du du du du duuuu..la laaaa..doooo re mi, do mi, do mi, reee mi fa fa, mi fa sooooll, doo mi sol, mi sol, mi sol.."

3. menghubungi para narasumber
yang satu di telp ga diangkat-angkat, yang satu di telp dan kata orang rumahnya lagi ke luar negeri. oh LORD. BAGAYMANA INI BAGAYMANA

4. mencari souvenir untuk para narasumber
mmhh..kmaren ujan..gedeeeeeee banget.
hmmm..

MITA! kamu bisa dikutuk jadi adonan kalau tidak berguna begini!

tips bersepeda dari Asso

karena saya blum mahir mengendarai motor supaya baik jalannya di jalan raya,
ditambah saya tidak punya SIM C,
dan kekhawatiran banyak manusia kalau saya langsung praktek turun jalan bawa motor dan berbekal bekingan dewi fortuna karena ga punya SIM,
akhirnya diputuskan:
saya akan bersepedah saja selama di Bali.

dan berikut beberapa tips dari Asso teman saya, gegedug bersepedah:
1. sangat disarankan membeli sarung tangan
"di FO sebrang BIP aja, 60rban. klo pengen yang kaya gw 200rb (sombong benerrr!). belinya yang ngetat yah, soalnya bakal melar. beli ukuran S ajah.

2. jangan lupa pake bedak
"oh, trs jgn lupa pake bedak antiseptik ke ketek dada pungung pantat. serius gw. klo gw mah ga pernah bau klo pake bedak"

Friday, February 20, 2009

the journal

jurnal ini, untuk membagi keseharian dan cerita-cerita saya selama penelitian karya tulis saya nanti :]
i'll be away for 3 weeks
away to bali
sendiri
semoga bertemu banyak pengalaman menarik :D
let's count down
saya berangkat tanggal 25 februari 2009, sekarang tanggal 20 februari
dan BAB 3 saya blum jadi!
what a TOMATO! sitt.

yang belum saya lakukan dan seharusnya sudah sampai detik ini:
1. mencari rental sepeda atau betrix
2. menyelesaikan bab 3
3. menghubungi para narasumber
4. mencari souvenir untuk narasumber (i'm thinking mahanagari ciwalk..)

oh, ternyata ga sebanyak yang saya pikir di otak saya.
sip, masih ke kejar ini mah!

Tuesday, February 10, 2009

-

lari ke pintu itu!
lari!
lari lari lari!
terbaaang.
terbang.
jatuh di laut.
tengah laut.
laut tanpa tepi.
tenggelam.
tenggelam sampai kedalaman kedap sinar.
tenggelam sampai setiap detik terasa malam.
lari!
lari!
tenggelam.
bertemu ikan besar besar berwajah buruk.
bertemu ikan dengan mata sembilan yang bisa bersinar.
bertemu ikan besar besar.
lari ke pintu itu, lari!
"dimana pintunya?"
lari!
"dimana pintunya? gelap disini"
lari.
lari.
lari.

Monday, February 2, 2009

pura

the word for temple in Bali is pura, which is sanskrit word literally meaning 'a space surrounded by wall'
like a traditional balinese home, a temple is waled in, so the shrines you see in rice fields or at magical spots such as by old trees are not real temples. you'll find simple shrines or throne at all sorts of unusual places. they often overlook crossroads, intersections, or even dangerous curves in the road. they either protect passers-by, or give the gods a ringside view of the accidents!

(7th edition Lonely Planet, february 1999)

bekerja berkarya bekerja

sedang membaca pembahasan tentang "Hermeneutika Psikososial", dimana Habermas dan Freud menjadi acuannya, dan saya menemukan sepotong bahasan tentang makna "Bekerja" yang menarik dan semakin mendukung postingan terdahulu ttg bekerja menurut Pramoedya. menarik :]

Marx menjawab bahwa kondisi eksistensi manusia menunjukkan kepada kita: 

“[Manusia] dalam menghadapi substansi alam itu sendiri tampak sebagai suatu kekuatan alam. Ia menggerakkan kekuatan-kekuatan alam termasuk wujud jasmaninya, yakni lengan dan kaki, kepala, dan tangannya, guna mengapropriasi alam dalam bentuk yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupannya sendiri” (Habermas, Knowledge and Human Interest: 27-28).

Nama untuk apropriasi ini adalah kerja, yang merupakan suatu jenis kepentingan, “bebas dari semua bentuk masyarakat, suatu keharusan kekal dalam alam untuk menjadi perantara pertukaran materi antara menusia dengan alam. Dengan kata lain, ‘suatu kehidupan manusia’ (dikutip dalam Knowledge and Human Interest: 27). Sejauh ini, kepentingan tersebut seperti kepentingan setiap binatang, manusia atau bukan. Akan tetapi manusia mulai ‘membedakan diri dari binatang begitu mereka mulai memproduksi arti kehidupan’ (Habermas, Knowledge and Human Interest: 41). Ada berbagai kepentingan dalam produksi ini, dan bukan kepentingan konstruksi ideal pada sistem simbolik, dimana manusia mengunakan nalarnya.

“Itulah sebabnya,” Tulis Habermas,”kerja atau pekerjaan, bukan hanya sebuah kategori eksistensi manusia yang mendasar, melainkan juga sebuah kategori epistemologi.” (Habermas, Knowledge and Human Interest: 28)


bekerja adalah berkarya.

termasuk karya tulis, khehe

Saturday, January 17, 2009

menjadi low fat milk

Susu itu khasiatnya justru terletak pada lemaknya.
Nutrisinya ada pada lemaknya.
Tanpa isi dan nutrisi yang terkandung dalam lemak, susu hanya akan menjadi cairan berwarna putih yang punya rasa, khasiatnya menjadi tidak lengkap.
Tunggu, tunggu, bahkan susu tanpa lemak rasanya tidak segurih susu dengan lemak normal.
susu tanpa lemak.
jadi kosong.
just like a milk loose it’s fat.
milk loose it's faith and it's positivity.
It’s substance less.

Sunday, January 11, 2009

Balada angkot ungu dan ibu-ibu yang mencari tau*

*mencari tau apakah kamu seonggok makhluk hidup dungu yang mudah tertipu


Modus operandi:

1. Seorang ibu-ibu bersama satu atau dua orang anaknya, turun bersamaan dengan kita, lalu perlahan memanggilmu dan memasang wajah sangat bingung.

2. Setelah itu ia akan banyak istigfar dan bercerita bagaimana ia tertimpa kemalangan, seperti:

a. Dompetnya terbawa kakaknya yang pulang ke daerah tasik atau sukabumi.

b. Ia dan kedua anak nya yang masih kecil tidak bisa menemukan alamat kerabat dekatnya di daerah itu.

c. Mencari alamat suaminya yang tinggal bersama istri mudanya, tapi ga ketemu.

d. Ingin memberitaukan berita duka, tetapi alamatnya tidak jelas maka ia tersesat.

3. Setelah itu ia akan berkata betapa malu nya ia bercerita ini sama kamu

4. Tujuan ibu-ibu ini jelas, pada akhirnya: ingin pulang ke daerah nun jauh disana itu.

5. Masih dengan wajah memelas dan banyak mengucap istighfar ia akan meminta bantuan pada kita yang, ya, mungkin kamu sudah bisa menebak kemana arah curhat colongan yang panjang ini.

6. OIA! Terkadang ibu ini akan berkata bahwa ia tidak bisa berbahasa Indonesia agar semakin meyakinkan kalau dia berasal dari daerah nun jauh disana itu.


Reaksi yang mungkin kamu berikan:

1. Menaruh simpati.

2. Sebelum sampai pada akhir cerita si ibu-ibu itu, kita dengan sukarela akan menawarkan bantuan materi.

3. Dengan iba memberikan semua uang yang ada pada kita sambil ikut menangis karena terharu mendengar kisah sedih si ibu.

4. Lari tunggang langgang atau terbirit-birit.


Owkay, untuk kasus pada reaksi NORMAL nomor 1, 2, dan 3, well, mungkin kamu sudah tertipu. Tapi sebelum kamu pada akhirnya memberikan semua uang yang kamu punya (ibu-ibu ini bisa mengarang apapun sampai kamu dari sukarela sampe merasa agak berat akhirnya menyerahkan semua uang yang kamu miliki) dan saat 10 menit kemudian kejadian ini kamu renungi dan kamu resapi per adegannya, dan datanglah kesimpulan berdampingan dengan kedongkolan, mengucap, 

“Kubis! Saya ditipu!”

Nah, sebelum umpatan ini datang, dan amal kamu berkurang pahalanya karena kamu ga ikhlas, berikut beberapa tips, dari saya featuring seorang Cowboy Amerika, teman dari Winnetou si indian:

1. DIAM dan DENGARKAN semua kisah si ibu dengan rinci, dan ingat-ingat apa yang si ibu bilang. Per kata-kata, per kalimat.

2. Setelah itu pelajari si ibu ini. Liat matanya waktu bicara. Kadang, suaranya akan bergetar seperti menahan tangis, tahan rasa iba mu, kedepankan logika dulu.

3. Perhatikan keadaan si anak yang ia bawa juga. Apakah si anak dari segi penampilan, mimik wajah, dan bahasa nonverbal lainnya mendukung alibi si ibu dengan ceritanya yang sangat memelas?

4. Setelah memperhatikan sambil mendengarkan dengan seksama, dan si ibu selesai curhat, baru kita bicara. TANYA lagi seputaran cerita yang tadi dia kisahkan seolah kamu belum begitu paham duduk permasalahannya. Kalo tadi si ibu bilang, 

“anak saya yang kedua meninggal..la la la la la..” setelah ia selesai cerita kamu tanya, 

“ini anak ibu yang besar?” *sambil melihat ke si anak yang ia bawa* 

biasanya si ibu suka melakukan banyak “kesalahan” disini. Seperti lalu dia bilang, 

“bukan, ini anak kedua saya, yang besar sudah 18 tahun.” 

“lhoooo tadi ibu bilang anak ibu yang kedua meninggal?”

Nah biasanya ia lalu akan mengarang kenyataan lain. Dengarkan saja. Yang jelas kamu sadar, kamu sedang proses ditipu. TAPI kalo si ibu dengan brilian tidak melakukan kesalahan, dan kamu masih limapuluh-limapuluh merasa ditipu dan tidak, TAWARKAN BANTUAN NON MATERI. Seperti apa? Coba kita tanya teman saya, si cowboy,

“Seperti apa, Cowboy?”

SEPERTI:

“wah bu, mari, saya antar ibu ke kantor polisi terdekat. Kebetulan di dekat sini kan ada kantor pulisi, pasti pak pulisi bisa bantu ibu. Pak pulisi bisa mengantar ibu ke terminal dengan mobilnya yang suka nganggur lalu bicara sama pak sopir bus, kalau ibu habis tertimpa musibah. Kalau ibu takut sama pak pulisi, biar saya yang bicara sama pak pulisi. Bagaimana bu, oke oke?”

Atau

“wah bu, saya ada teman yang punya mobil biar ibu diantar sama teman saya yang punya mobil itu bu, gimana bu? Saya antar sampai leuwipanjang?”

Atau

“saya ada teman supir angkot dan supir ojek, mari kita telusuri alamat yang ibu cari, gimana bu?”

Memang butuh usaha lebih si, kamu akan korban waktu dan tenaga lebih, tapi setidaknya kamu membalas penipuannya dengan niat baik.


Owkay, itu 4 hal yang bisa kamu lakukan rite away, tapi bagaimanapun, mari kita menyelami keadaan si ibu ini.

Mungkin dia memang sedang sangat butuh uang, tapi lahan pekerjaan sangat sempit, tidak punya keahlian, dan terlalu malas untuk usaha lebih, dan MUNGKIN memang ibu ini sedang dalam keadaan sangat GENTING butuh uang. Siapa tau.

SEKARANG, kita mahasiswa (biasanya mereka mencari korban yang penampilannya mahasiswa-mahasiswa baru gitu), yang punya kesempatan lebih, dan bisa berpikir lebih juga, kita punya PILIHAN. Kita bisa ngasih, kalo emang lagi ada uang lebih, ATAU kalo memang kamu sudah hilang respect sama penipu dan memutuskan tidak ingin memberi, biasanya dia akan pergi dan menolak bantuan kita begitu kita menyebut kata “Pak Pulisi”. Yang penting sekarang, kalau kamu mawu ngasih, kamu sudah tau dalam keadaan macam apa kamu berada, jadi, seandainya si ibu mengarang cerita lebih untuk menguras SEMUA isi dompet kamu, kamu bisa dengan tegas menolak, tanpa rasa ga enak, sungkan, atau bahkan merasa bersalah, karena kamu SADAR kalau kamu sedang dalam proses DITIPU. Jadi jumlah yang kamu kasih pun masih dalam batas ikhlas, mudah-mudahan jadi pahala dan setiap kamu butuh bantuan nantinya, bantuan itu suka datang tidak terduga :]


Sekian, selamat berpetualang di kota, teman-teman!

Terimakasih saya ucapkan untuk teman saya, si Cowboy yang sudah membantu memberikan solusi dan menyarankan tips ini disebar supaya yang lain lebih siaga dan waspada :]

Thursday, January 8, 2009

The Curious Case of Benjamin Button

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Other
directed by David Fincher, starring Brad Pitt, Cate Blanchett

"Life isn't measured in minutes, but in moments"
itu tagline nya. bagus.

bercerita tentang seorang anak laki-laki yang lahir dalam kondisi fisik seseorang berumur 86 tahun, lengkap dengan katarak dan penyakit tua lainnya. dan seiring berjalannya waktu, bukan semakin tua, dia semakin sehat, dan semakin muda. namanya Benjamin.
"a man who is born in his eighties and ages backwards: a man, like any of us, who is unable to stop time"

menurut saya film ini bagus karena,
satu,
yes, i agree, life isn't measured in minutes but in moments. Benjamin yang siklus hidupnya terbalik dan dari kecil tinggal di rumah jompo banyak melihat proses kematian dan kehilangan. sekali dia berteman dengan seorang perempuan jompo yang mengajarkan dia main piano. begini sebuah pecakapan mereka:

Benjamin: What if i told u that i wasn't getting older. i was getting younger than anybody else.
the woman: well, i feel sorry for u. u have to see everybody u loved die before u do. u hold such a responsibility.

Benjamin kaget, dan berpikir,

"i never thought about life or death that way before"

melihat reaksi kaget Benjamin yang kaget atas respon nya, lalu perempuan ini bilang lagi,

"Benjamin, we meant to lose people we love. how else we know they important to us?"

dan line itu membuat saya berpikir, death itself was part of the life. seperti menjelaskan salah satu tema di film ghibli yang pernah saya tonton, "Tales of Eartsea", hidup itu justru jadi punya arti, dan berarti, karena ada kematian. atau kongklusi omongan cak nun ttg demokrasi dan kebebasan berpendapat yang pernah saya dengar di radio, "justru batasan itu yang kita butuhkan dalam kebebasan. karena tanpa batasan, maka kebebasan itu tidak akan ada artinya"
there is no such thing immortal, freedom. there is never really "no domination", there will always be. it sucks but in the same time it makes everything meaningful. semua yang ada di dunia jadi berarti dan punya arti karena semua punya batas, punya kapasitas.

dua,
Benjamin yang melihat banyak kematian akhirnya jadi berpikir untuk tidak menyia-nyiakan hidupnya. setelah perempuan yang mengajarkan dia main piano itu meninggal, dia berkemas dan pergi. it was 1936. dia pergi dengan alasan "I want to see"

tiga,
Queenie (Benjamin's mother): i know from the moment i saw u, u are special. remember what i told u?
Benjamin: u never know what's coming for u?
Queenie: that's right!

empat,
film ini bayak ngasih semangat untuk melakukan sesuatu dengan hidup lo. living the life. living ur life with live. menjalani hidupmu, dan hiduplah. good positive emotion to influence.
dan menjelang film habis, semakin Benjamin semakin tua umurnya tetapi semakin muda dan sehat fisiknya, dia memutuskan untuk meninggalkan keluarga kecil nya (untuk sebuah alasan yang kalo saya kasih tau akan jadi spoiler, sedih lah pokoknya, it's about father-daughter thingy) dan pergi berkeliling. he's traveling.

Benjamin, di suratnya untuk putrinya, semacam petuah buat anaknya (dan waktu surat ini dibacain, David Fincher menggambarkan perjalanan old-young Benjamin di India dengan warna film yang beda. cantik sekali :]. adegan dia di atas bukit menggosok gigi, anak-anak India di pinggir sungai atau danau, bengkel motor dengan montir-montir, berkendara motor dengan latar belakang jalanan yang paaanjang. cantik) :
"for what it's worth, it's never too late or in my case too early, to be whoever u wanna be. there's no time limit, stop whenever you want.
you can change or stay the same. there's no rule to this thing.
we can make the best for the worst time. i hope u make the best, darling. (and i weep already by this scene)
i hope u, see things as stall, yes.
i hope u, felt the things u never felt before.
i hope u need people with a different point of view.
i hope u live the life u proud of.
if u find that u not...i hope u have the strength to start all over again."

lima,
ditutup dengan kesimpulan. summary. dengan potongan-potongan adegan orang-orang yang penting di hidup Benjamin, disertai dengan deskripsi pendek tapi mengena. nice ending, nice summary, for the whole movie.
"some people were born to sit by a river. some get struck by lightning. some have ear for music. some are artist. some swim. some made buttons. some of shakespear. some a mothers. and some people...dance.

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...