Thursday, February 26, 2009

Pak Suartha, Misto, dan Pak Hans Ibu Netty

1/2 hari pertama.
pagi-pagi sekali mulai jam 6 Bali hujan.
hmm, Legian lebih tepatnya.
Legian hujan.
sepupu saya maupun temannya yang berjanji bersama akan mengantar saya, tidak satu pun bangun.
mungkin masih terlalu pagi, mari tidur lagi.
...
tidak tidak, ayo bangun. fokus. fokus.
fokus. dingin. ngantuk. fokus!
ok, saya bangun.
membangunkan yang lain.
percuma.
mari buka peta saja. seberapa jauh ISI denpasar dari Legian?
lumayan.
hmm..
membangunkan orang-orang.
sia-sia.
baiklah saya telfon 108.
"selamat pagi mas, boleh minta nomer telfon taxi Bluebird? 701 111, ok, terimakasih, selamat pagi"
membangunkan, berpamitan, dan saya meluncur, diantar Pak Gede Suartha yang mewakili burung biru yang saya pesan.
pertama bertemu saya minta tolong ia untuk mengangkat sepeda dan koper saya, karena tubuhnya pun besar, saya tidak sungkan minta tolong, tapi wajahnya agak galak.
saya pasang senyum aja deh, lebar-lebar.
he...
saya jadi serba salah. "maaf pak, saya ga kuat, maaf ya" saya membatin. sambil tetep senyum pastinya.
saat taksi meluncur dia mulai bertanya ini itu, dan saya pun kemudian bercerita ini itu.
ternyata pak Suartha cukup ramah dan guide yang baik :] banyak informasi saya dapat dari dia.
saya pun sampai di kosan tempat ibu Dayu.
tempatnya persis di belakang (atau samping, ya? aduh saya blind direction) ISI.
cek baby cek.
adalah Misto yang menjaga kosan tersebut.
laki-laki berkulit sawo matang usia paruh baya.
masih cukup muda. dan asalnya dari jawa (daa, namanya Misto gitu) (iyeee, sapa tauuuu..nama lengkapnya misto li, misto d -dibaca mistah di-, atau misto siahaan).
keadaan kamar kosan..hmm....
hmm..
"maaf mba, ini lampu nya mati, nanti siang saya kesini lagi bawa bola."
bawa bola?
"ayo mas kita main basket! atau main futsal! mas tau aja saya uda lama ga main basket!"
no, really, saya ngerti yang dia maksut lampu.
1 - 10..nilainya 4..hm, masih bisa survive kok, mari kita periksa kamar mandi.
ok. kerannya airnya keluar kecil sekali, banyak sarang laba-laba, lampu kuning, dan ada air mengalir dari arah kloset. nilainya 2.
"mas, keran nya emang sebesar ini keluar airnya?"
"iya, emang udah ga bisa lebih kencang lagi keluarnya. kadang malah mati mba. soalnya pipa nya suka mampet. kecil pipanya, bersihin nya susah."
nilainya..ah..saya nangis aja deh.
mas Misto keluar meninggalkan saya dengan janjinya untuk kembali bersama bola dan bayangan saya yang kelabu.
saya pun memutuskan untuk keluar dan keliling.
dan saat itulah saya bertemu Hans (kemudian saya panggil Pak Hans), yang halaman samping (atau belakang?) nya menempel dengan pelataran kos kosan.
Pak Hans orang Belanda yang sudah 11 tahun di Bali dan menikah dengan ibu Netty.
kami pun berbincang.
dari mulai tujuan saya di sini, harga-harga naik, krisis ekonomi, anjing gila dan fakta bahwa kira-kira sudah 5 orang di Denpasar sini meninggal kena gigit anjing rabies, serta rencana nya untuk berburu dan membunuh anjing-anjing gila yang dia temukan berkeliaran (lalu dia mengajak saya turut serta berburu dengan wajah super ceria. hiiiii -saya balas undangannya dengan gelengan dan senyum kecut, soalnya saya blum juga mandi selain karena saya juga ngeri). itu cerita dia.
sampai kamar kotor, bau, dan kamar mandi yang....(maaf saya kehabisan kata-kata, saya cuma memberikan mimik wajah). ini keluhan saya.
dan Pak Hans bilang memang begitu keadaan kosan yang itu.
"lebih baik kamu ke ibu.. (aduh saya lupa namanya) yang rumahnyadi depan situ, tembok putih. dia akan kasih kamu lihat sendiri kamar yang dia punya. lebih bersih."
mendapat secercah harapan, saya pun melesat ke rumah ibu...
saya disambut dan akhirnya saya melihat tempat penyewaan kamarnya.
pas.
ada kosong satu.
jodoh.
lebih mahal sedikit, tapi berbanding lurus. worth it bahasa masa kini nya.
dan saya pun berkenalan dengan penghuni kosan tersebut yang mayoritas anak tari ISI angkatan 2007. muda sekali, cih. *khahahahahha*
meet my new friends, they're warm and welcoming me well :]
rima, eni, yuli, astina, ade, kadek (masih akan menyusul karena ini baru sebagian).

1 comment:

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...