Tuesday, August 23, 2016

Cinta

motherhood itu..apa ya..semacam embuh..
berkali-kali saya mengeluh tapi tidak membuat saya ingin untuk berhenti berada didalamnya.
malah seringkali saya jadi takut mati karena tidak siap meninggalkan dunia motherhood, merasa belum siap berhenti jadi ibu, merasa belum siap karena sepertinya tugas saya masih JAUH dari selesai dan baik, jangankan bicara soal sempurna.



berkali-kali, tiap lenguhan keluh itu mendesak ingin dikeleuarkan, selesai mengejawantah saya mempertanyakan diri sendiri,

if motherhood is THAT horrible, then why’re you still there? why are you kept doing it, being a mother that is. and why you want more than one kid? WHAT ARE YOU DOING?



satu-satu sambil selesainya berbagai hutang kerjaan, lalu membanjur diri dengan air dingin, pelan-pelan runutan logika itu datang.

motherhood itu sebongkah pengejawantahan cinta.

dan cinta itu..apa ya?
sebuah bentuk embuh juga sih.
pernah juga berusaha membongkar apa itu cinta disini.
cinta itu harusnya logis, tapi tidak
sederhana, tapi rumit.

simpulannya, cinta itu sederhana, cinta itu logis, tetapi cinta adalah sebentuk usaha yang perlu terus dipertahankan, untuk tujuan yang lebih besar.

motherhood itu cinta.
cinta terhadap hidup dan kehidupan.
cinta terhadap keseharian.
cinta terhadap proses belajar.
cinta terhadap proses yang tiada pernah berakhir.
cinta terhadap cita-cita menjadi manusia yang berguna dan lebih baik lagi.

motherhood itu,
logis tapi tidak.
sederhana tapi rumit.

dan entah seberapakalipun saya mengluh dan ingin berhenti kelelahan,
anehnya saya tidak berhenti.
TIDAK MAU berhenti bahkan.
dan tiap keluhan malah terasa manis di akhir tiap-tiap saya berhasil mengatasi keluhan diri saya sendiri.

cinta itu aneh.

dan manusia yang sanggup mencintai itu lebih aneh lagi.

karena hobinya cari repot.

i want to crack my head wide open

diantara sembelit,
perut yang kian membuncit,
tumpukan cucian piring yang membukit,
jemuran baju dibawah sinar mentari yang sengit,

ku ingin membuka kepalaku dan membiarkan isinya memburai mengerjakan sendiri tiap-tiap tugas yang terpaut tenggat waktu yang tak mau tau.

diantara anak kecil yang menangis,
menuntut ditemani main boneka manis,
atau dibacakan buku yang ceritanya magis,
kok ya rasanya seperti mendengar kalimat itu-itu saja yang berulang seperti kondektur bis,

ku ingin membuka lebar kepalaku, membiarkan isinya berurai mandiri meraih papan kunci huruf-huruf dan membiarkannya menyelesaikan sekian tugas dengan tenggat waktu yang tak mau tau.

diantara rasa kecewa pada tiap ekspektasi yang tak terpenuhi,
teman hidup yang luar biasa sibuk menafkahi,
rasa iri karena lagi-lagi si teman hidup yang produktif, lupa menengok ke sebelah, orang setengah waras yg ada di sisi,
hey, itulah aku si setengah waras yang hampir menangisi diri sendiri,

ku ingin membuka lebar kepalaku.
membiarkan isinya bekerja mandiri.
membiarkan sukmaku melesap melintasi ruang dan waktu.
menyambangi orang-orang nun jauh disana sambil berdiskusi, biar tak perlu lagi kujawab email mereka yang bikin risih.
ruang dan waktu...ah..aku jadi ingat serial cosmos yang belum selesai kutonton, kutumpuk bersama tugas lain karena aku berjibaku.
tapi serial itu relevan kalau memang betul bumi ini bulat, tidak datar dan bukan konspirasi.
biarlah, aku tetap takjub pada cosmos dan alam semesta dan percaya bumi ini apa adanya, terserah apapun wujudmu.
dan menulis ini saja sudah setengah jam sendiri.
alih-alih mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan yang menunggu.

sampah.

s a m p a h !

*lari ke belakang dekat jemuran baju lalu teriak-teriak, "Abang baksoooo, kadieeeu! urang lapfar can dahar, ga sempet masak!" sambil mengeluarkan jilat-jilat lidah api dari mulut dan mata.
*naga mode on
*brb titipin anak ke suami


Friday, December 18, 2015

sisterhood in motherhood

i'm pretty sure, there's always sisterhood in motherhood.

baru saja, di dalam angkot, saya berjumpa dan berbagi kilometer sejenak dengan sebuah keluarga. Ada sang suami, yang duduk di depan, lalu ada sang istri yang menggendong bayinya yang berusia 8 bulan, duduk disamping saya. ada lagi sang nenek menggandeng putri yang tampaknya anak kedua sang istri suami. lalu duduk disebelahnya seorang anak lelaki dan remaja putri.

yup, they are one big family.

Melihat mereka hati saya hangat. Entah karena sinetron "Keluarga Cemara" atau saya memang sensitif dengan segala topik berbau keluarga, begitu melihat keluarga ini saya sungguh bersimpati.

saya ajak bicara ibu sang bayi, sambil menatap dan mengajak si bayi bercanda yang dibalas dengan senyum dan tatap jenaka ramah. hanya dalam hitungan jenak, saya langsung bersimpati pada si ibu, si istri, si nenek. ingin bayi itu sehat, ingin anaknya yang perempuan, yang katanya anak keduanya, juga sehat. ingin sekeluarga kecil itu sehat-sehat selalu. dan semoga proses menyusuinya lancar ya, sampai si bayi lepas asi eksklusif 2 tahun. mudah-mudahan tidak ada intervensi berarti sampai anak-anaknya tumbuh menjadi balita sehat, kuat, dan ceria.

semoga.

amin.

Wednesday, July 29, 2015

belajar hidup sederhana

Hidup sederhana bukan berarti hidup susah.
Berarti, hidup disiplin.

Disiplin dalam membuat perencanaan dan benar-benar menjalaninya.

Disiplin tidur cepat, dan bangun pagi.

jadi sempat: ngobrol pagi dengan kalbu, mencuci baju, siapin sarapan dan makan siang sebelum siang.

jadi bisa kerja sesuai jadwal di sore hari. Bebas dari kejaran deadline.

jadi bisa bahagia.

karena kalau ga bahagia, harganya mahal.
gagal deh bisa hidup sederhana.

jadi, silakan bahagia*

*mengutip surayah pidibaiq yang novelnya "Dilan" sedang kutamatkan.

Wednesday, April 15, 2015

kembali menjejak bumi

Ground Control to Major Tom
Ground Control to Major Tom
Take your protein pills and put your helmet on

David Bowie - Major Tom 


Beberapa hari belakangan ini, sedikit demi sedikit saya mulai merasa kembali punya kendali atas hidup saya sendiri.

being a mother, a lover, a wife, a worker, sure is overwhelming. at least for me.

dari masa kehamilan yang mulai terlimitasi, hibernasi total di setengah tahun pertama Laut lahir, mulai juggling coba-coba test the water untuk kembali bekerja, sampai sekarang, satu setengah tahun kemudian, bekerja kembali sungguhan, walau part-time.

being a worker (a responsible one), a wife, a lover, a friend (both to ur daughter and ur husband), sure is overwhelming. at least for me.

beberapa hari belakangan ini, dibantu Saska, saya kembali mulai bisa menjalani keseharian saya secara efektif. Laut tidak berkurang nagging-nya, tapi saya mulai bisa mengatur ekspektasi saya, dan mindset saya, bahwa saya bekerja, tapi prioritas saya adalah kecukupan Laut.

yes, managing expectation.
that's what it takes.

not as simple as it sounds, though.
one need to exercise it, get through it, over and over.
failing one, and try another.
i'm sure there will be another failure in the near future, but i just need to adapt and try another round.

kembali bergosip dan tertawa lepas bersama Tia dan Maknyes di sesi dapur trial Bakingwithkids, sambil Laut minta digendong-menyusu-diajak main keluar, tentunya. teman baik yang seperjuangan, is truuuully a blessings!

kembali berdiskusi dengan koordinator program dan pelan-pelan menyusun rencana bersama komunitas untuk merencanakan berbagai perbaikan bersama program CreativeNet.

kembali berdiskusi dengan teman, dan mendapat banyak tambahan pengetahuan baru.

kembali secara rutin membuka laptop, walau kadang, di hari-hari tertentu, i can't even type or read a thing *sambil gendong anak perempuan yang bergelayutan di kaki minta kue manis

kembali ngemil kue-kue yang oh-my-no enaknya dan ga mahal karena bikin sendiri *thanks-to-bakingwithkids-support-group (((support grouuuuup)))-kind-of

kembali punya waktu untuk membahas puzzle super rumit yang diributin di facebook atau di group whatsapp (komen destruktif ga penting doang, bukan bantuin mikir :p)

kembali bisa beraktifitas selama beberapa jam menitip Laut ke bapaknya :D

...

karena,
ibu yang sehat (fisik maupun jiwa) berarti anak yang bisa jadi lebih sehat lagi.
ibu yang bisa berpikir sederhana dan cukup bahagia karenanya, berarti anak yang juga akan mudah dibuat bahagia.
ibu yang punya banyak stock sabar karena tidak terkejar beban (pekerjaan atau pikiran), berarti anak yang boleh dan bisa belajar dari kerepotan yang dihasilkan dari self trial and error-nya.

a mother who finds a contentment in her daily activities means a better family living.

Inshaa Allah.
semoga bertahan lama ya, kesadaran ini

*note to myself


Wednesday, April 8, 2015

dikala itu melanda

baru saja membaca wikipedia Yoann Lemoine akibat sangat terpesona dengan lagu dan video klip Iron.

kok keren banget ya doi? makan apa ya kira-kira? saya..saya juga mau seproduktif dan sekeren itu.. *mata nanar, hampir nangis, kepengen..

semenjak saya membaca sebuah artikel Pramoedya Ananta Toer di salah satu majalah, dahulu kala, jauh sebelum saya menikah, saya sungguh terinspirasi.

artikelnya panjang, intinya sih, Pak Pram bilang kalau di masa kecilnya, dulu ibu-ibu desa itu, walau ibu-ibu yang bekerjanya di rumah mengurus urusan domestik, tapi berkarya juga, membuat sabun, untuk dipakai maupun di jual, menyisir daun pohon kelapa untuk berbagai keperluan, dari membungkus makanan sampai membuat sapu lidi, dan lain lain dan sebagainya.

saya sungguh ter-awe membacanya *kembali mata berbinar-binar

maka tertanamlah sebuah gagasan dan ide supernatural di kepala saya (apa sih, supernatural?),
"Jikalau..nanti..saya juga sudah punya anak, saya tidak akan berhenti berkarya. Saya akan berkarya untuk anak saya. Menggambar, membuat mainan, apapun..dan..terus..menelurkan karya. Saya mau anak-anak saya mengidolakan saya."

ide yang sungguh bombastis.

karena kawan, menjalankannya adalah..sungguh..aksi yang jauh lebih bertenaga ketimbang memimpikannya. hehe. benul.

jadilah saya masih merepotkan diri dengan ini dan itu, begini dan begitu.
sempat beberapa kali meltdown karena rasanya..rasanya..nano nano. sering saya merasa bersalah sama Laut (putri saya) karena banyak hal yang mungkin sebenernya biasa aja (merasa Laut kurang ngemil, kurang makan, kurang istirahat, kurang main), tapi ya..namanya juga kadang waras kadang engga. atau merasa super lelah, mempertanyakan ke diri sendiri sambil sedikit marah, "NANAONAN SIH MANEH BEUL?"

tapi ada beberapa simpulan yang bisa saya ambil dari pekerjaan saya yang sekarang:

1.
semua butuh kerja keras.
kalau saya berani punya mimpi, cita-cita, saya harus berani kerja keras.
berani.

2.
dibalik setiap kesuksesan gemerlap gemilang, ada sebuah cerita pahit yang belum tentu mau kamu jalani.

3.
(i tell this to myself) "Hey you spoiled brat! hidupmu jaaaauh lebih beruntung dari sebagian banyak orang yang bahkan tinggal tidak jauh dari lingkunganmu. you have no rights to complain anything, really."

yah, begitulah, 
jam 2 dini hari.
yang begini ini memang melandanya jam jam segini.
amin dan sekian.


Saturday, October 25, 2014

motherhood in reality; comment (or questions) and answer

imaginary interviews with mothers these day 

comment:
how wonderful! how can u still do a creative work and create things while raising ur daughter?

answer:
i can not..

it's not always rainbows and unicorns..well, there ARE, sometimes..but it takes lot of time management exercise which involve a lot of tears, thousands whys and a bit drama.
so yeah, in reality, i can not do a creative work. i'm a pragmatist now. creative work u say? *laughing* it's mere a lipstick, really just on a surface, u should see far beneath it.

comment:
how can u involve ur daughter (such a little girl) in ur workplace?

answer:
i must.

it's not a matter of can or can not. i must bring her to my workplace, sometimes. it's not what i ALWAYS want, but something that i must do, in order to fulfill my deadlines. finish my workload so it doesn't split my focus while i'm nurturing my daughter. so i can think clearly what i'm gonna cook for her, doesn't yell at once when she made a normal-kid-mess, doesn't break down and cry straight away when she won't sleep and ask for another round of playtime. in short, to help me keep my sanity.

comment:
how lovely! ur daughter is so calm and sweet..u must have taking care of her veeery good..

answer:
... 
*no words, just smile. "wave and smile boys, waaave and smile," said the penguins.

well..u doesn't get to see me at home OFTEN, d'ya? raising and taking care of her very good..let's see..
it, sometimes, in hard days, involve looots of tears, excessive needs to be understood by ur partner VERY MUCH, envying all of ur fellow mother/friend on ur social media circle (because they can still socialized while u don't even have the chance to take a short bath), dreaming and missing the old days..in short, insanity. yes, sometimes my daughter raised by insane women.

insane.
sometimes.
really, just sometimes.

am i a bad mother?

no, i'm a normal 21st century mothers.

how's that sound?
normal enough for u?