Showing posts with label #MotherhoodInReality. Show all posts
Showing posts with label #MotherhoodInReality. Show all posts

Saturday, February 25, 2023

Mencoba Melambat 1


Di usia yang ke-36 ini, saya baru menyadari beberapa hal.

Dulu saya pikir saya menikmati pertemanan yang super banyak, punya aspirasi jadi anak gaul yang menikmati suasana di tengah hiruk pikuk. Banyak teman nelpon ke rumah hanya untuk minta saran atau curhat. Dan saya ga ngeluh. Saya merasa menemukan arti diri saya dengan pertemanan dan berada di hiruk pikuk. Sekarang, berhadapan dengan (apalagi ada di tengah) hiruk pikuk sungguh menghabiskan daya energi, dan saya menemukan diri saya cukup kikuk ada di hingar bingar suasana. 

Sebenarnya kalau dipikir keras, peralihan ini mulai terasa perlahan sejak menikah, kemudian hamil dan menjadi ibu pertama kalinya. Waktu itu, 10 tahun yang lalu, tapi tidak pernah saya ambil pikir dengan baik. Setelah melahirkan anak pertama, total 6 bulan saya masuk camp pendidikan pertama menjadi Ibu yang sedikit banyak otodidak. Saya menemukan banyak teori lama tidak relevan, dan teori baru sungguh membebaskan dan menggoda. Walau setelah itu sedikit banyak juga melahirkan konflik-konflik biasa dalam keluarga besar. Waktu itu rasanya tidak biasa, sekarang, kalau melihat ke belakang, rasanya ya biasa, karena pasti perubahan dalam lingkungan lama, memiliki tendensi melahirkan konflik. Kalau dulu pasti ada dramanya, sekarang rasanya ya, tinggal dihadapi aja. Mau sepelik atau sekompleks apa, tidak ada yang bisa dilakukan selain menghadapi. Ini pelajaran pertama motherhood saya. Hadapi. Apapun itu.

Jadi dalam 6 bulan pertama rasanya saya benar-benar tidak keluar rumah, setiap hari rasanya saya harus belajar hal baru, eh, ralat, setiap hari rasanya saya harus menghadapi hal baru. Baik itu perihal, pelajaran, drama, atau ketidaktahuan dan keputusasaan. Belum lagi rasa lelah dan sakit badan (secara general maupun sektoral, terutama di bekas luka jahitan dan payudara yang baru pertama kalinya memproduksi susu). Pertama kali saya "keluar" ke sebuah pertemuan pasca event yang saya dan rekan-rekan kerja inisiasi, untuk pertama kalinya saya kembali bertemua orang banyak. Di saat itu saya baru menyadari bahwa saya banyak kehilangan kata-kata, literally. Jadi ada saatnya saya mau bicara di depan banyak orang terus otak saya kaya nge-blank gitu, saya tidak bisa menemukan kata-kata dalam sebuah struktur kalimat bahasa, yang saya cari untuk mengungkapkan sesuatu. Saya pikir saya jadi bego. Untungnya kemudian saya bisa menemukan banyak pembenaran kenapa kapasitas otak saya terasa menurun 🤪

Dan lewat tulisan ini saya jadi berpikir kalau di saat itulah sebenarnya saya baru saja memasuki fase baru dalam hidup saya. Fast forward, 2 anak kemudian, saya tidak benar-benar menyadari dan menghayati transformasi non-fisik dalam diri saya. 

Satu minggu yang lalu saya berbincang dengan Kakak Wali Kelas Laut, anak pertama saya. Awalnya perbincangan masih di sekitar Laut; bagaimana dia di kelas, perihal dan pengalaman apa saja yang dialami Laut di dalam keluarga di rumah, dan sebagainya. Sampai kami pada sebuah titik perbincangan, "Kenapa ya, Laut suka buru-buru?" Karena ke-buru-buru-an-nya ini sering membuat Ia tidak teliti, kurang bisa menikmati proses dan percayalah, kadang bersamanya di saat-saat seperti itu sungguh annoying, dan ternyata bagi siapapun, bukan hanya bagi saya ibunya. Sampai pada suatu titik, salah seorang Kakak Wali Kelas melontarkan sebuah pertanyaan, "Tapi pertanyaan Bu, kalau di rumah, pacunya memang selalu cepat dan buru-buru gitu ya?" Saya hendak langsung menjawab tapi tertegun, "Eh...bener juga sih ya..di rumah tuh pacunya memang selalu cepat. Saya memang selalu memburu-buru semua untuk lebih cepat, dan lebih cepat lagi." pertanyaannya, "kenapa ya?"



Ternyata, akar "buru-buru" itu tertanam-nya di saya..welahdalaah..yang kurang bisa slowing down dan menikmati proses itu saya. Dan saya ternyata "proyektor" di rumah.

Penyadaran ini datang satu minggu yang lalu. Dan sebelum saya bisa proses pertanyaan "kenapa" dalam diri saya, ternyata banyak yang harus dibongkar dulu. Salah satunya mungkin lewat cara ini, menyadari transformasi atau perubahan-perubahan non-fisik yang saya alami. Gejala yang teridentifikasi adalah, 
  • Saya tidak lagi menikmati affiliated-but-unidentified-crowd. Kalau total stranger saya malah baik-baik saja.
  • Pun sudah teridentifikasi, saya tidak bisa dengan mudah bisa masuk ke dalam crowd tersebut, karena
  • Saya merasa kikuk menghadapi crowd
  • Saya menikmati kesendirian. Dengan buku, dengan pad menggambar, dengan media menulis
  • Tapi kadang di titik ekstrim sampai saya merasa terganggu ada noise "wajar" dari keluarga terdekat.
  • Mungkin salah satu efek baiknya (mungkin ya), saya jadi super fokus dengan tujuan saya. Saking fokusnya saya bisa marah-marah dan mengesampingkan semua yang stand in my way, hahaha. termasuk marah-marah sama orang-orang yang nyetir-nya-ya-ampun-deh di jalan. I DON'T CARE WITH OTHER PEOPLE. errr..setelah dituliskan ini kaya yang bukan efek baik dah 🫠
yang kemudian perlu saya dalami dan caritau mungkin penyebabnya. Salah satu cara yang mungkin saya bisa lakukan adalah dengan menulis ini. Mencoba memetakan dan mendokumentasikan isi kepala saya. Bercermin.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin menuliskan salah satu refleksi-refleksi awal yang saya petik. 

Kalau memang pointer-pointer tadi membuat saya cemas karena saya tidak lagi merasa valuable dengan cara lama, cara satu dekade yang lalu, mungkin saya harus mencari cara baru untuk merasa berarti. Tentunya tidak dengan menggantungkan value diri pada anak ya, karena mereka punya hidupnya masing-masing. Kami sekarang ada di jalan yang sama, bersama, tapi soon mereka akan menemukan bahwa ada jalan lain yang bisa mereka ambil untuk mewujudkan tujuan hidup mereka. Pada saatnya tiba, saya harus bisa legowo, salah satunya dengan menemukan juga tujuan hidup diri ini apa sih, dan living life, menapaki jalan untuk mencoba mewujudkannya. Bukankah hidup ini adalah perjalanan dan proses yang tak putus? Saya berkaca dari para orangtua murid di sekolah anak saya yang aktif di group whatsapp karena menulis, karena membangun koperasi, karena saling lempar tangkap guyonan. Semua sah-sah saja, saya harus bisa seperti mereka, to unlearn and relearn myself.

Tuesday, March 28, 2017

guilt-free parenting, parents talk by Pustakalana and Bright Beginning


Pengantar diskusi ini adalah, di era sekarang, dimana informasi itu dengan mudahnya bisa terakses, sengaja maupun tidak, belum lagi algoritma ngeri search engine dan media sosial, membuat kita terpapar dengan banyak sekali informasi, termasuk informasi parenting. Belum termasuk share dari berbagai group chat. sedemikian mudahnya membagi berita sampai kadang jadi simpang siur mana yang benar teruji bisa diterapkan mana yang konsep mengawang-awang-manunggaling-kawulo-gusti.

Pencitraan sempurna di media sosial juga seringnya membuat berbagai ibu yang gegap gempita dengan arus informasi, depresi karena merasa kurang sempurna menjadi seorang Ibu.

Berkaca pada pengalaman pribadi, saya sendiri pun seringkali merasa bersalah. Contohnya, jikalau di siang hari anak pertama "bertingkah" dan stock sabar saya sungguh sedang tipis karena ada palu imajiner berulang memukul kepala saya sampai berdengung,  "deadline, deadline, deadline". Kemudian disaat yang bersamaan, naga dalam perut saya demo akibat belum diberi sesajen dari pagi sementara saya belum sempat masak sama sekali, karena seharian belum juga duduk, disibukkan dengan olahraga cuci baju-cuci piring-jemur baju-menyusui-lipat baju dari jemuran-gendong si adik. Dan naga lapar yang terpelihara dalam perut saya di fase menyusui ini buasnya minta ampun. Jadilah saya ambil jalan pintas untuk bertengkar dengan si sulung. Kalau sudah habis drama satu musim pertikaian, untungnya kami terbiasa saling meminta maaf, memeluk, dan mencium dan saling menyatakan rasa sayang masing-masing, tapi...bukan berarti semasa bertikai tadi tidak terjadi apa-apa. Terbukti dengan, di lain waktu, jika saya mendengus sedikit saja, atau si sulung melakukan kesalahan sedikit saja (yang mana sangat wajar, namanya juga anak-anak) dengan refleks ia akan langsung menatap saya dengan mata bundar besarnya, pupilnya melebar, ia khawatir, lalu berujar cepat, "Ibu ga marah?" beberapa kali. Pilu rasanya hati saya. Segitu buasnya saya ya? Sama dengan ibu-ibu normal lainnya, saat si sulung tertidur saya seringkali menatapnya, hati saya tergerus, tenggorokkan saya tercekat, dada saya sesak akan rasa penyesalan. Dan sama juga dengan ibu-ibu normal lainnya, siklus diatas akan berulang kok di kemudian hari, begitu terus, entah sampai kapan, saya harap sih tidak usah terulang lagi ya, tapi prakteknya cyin.. *kehilangan kata-kata *cuma bisa lempar bantal ke penonton *sambil senyum malu malu buas *lari ke backstage *cari kueh manis *laper *anaknya gampang banget laperan sih *bukan baperan, catat, tapi laperan

"Rasa Bersalah" ini sesungguhnya wajar. Sangat wajar. Karena itu tandanya saya masih ingin menjadi lebih baik lagi. Sampailah pada beberapa minggu kebelakang, saya berdiskusi dengan teman saya Arie dan Chica. Ardhana Riswarie, seorang art therapist yang menjadi pembicara di Parents Talk ini dan Chica, founder dari Pustakalana, perpustakaan anak yang punya program-program anak dan orangtua, yang menampung acara Parents Talk.




Dalam diskusi itu tersebutlah sebuah keyword, "Guilt-free Parenting". Jadi sesungguhnyalah rasa bersalah itu wajar, yang tidak wajar adalah jika kita, saya, sebagai ibu, terus-terusan bergumul dengan rasa bersalah itu. Maka sepakatlah kami untuk membuka ruang diskusi bagi para orangtua bertemakan "guilt-free parenting" karena saya rasa banyak sekali diluar sana rekan seperjuangan yang relate dengan siklus rasa bersalah tadi. Arie juga menawarkan solusi bagi para ibu yang punya "hantu" rasa bersalah. 

Acara dibagi menjadi dua sesi; sesi diskusi tanya jawab dan mini workshop. Dalam sesi diskusi Arie dan Melva (psikolog dan play therapist) menjelaskan perkembangan dan milestone anak usia pra-sekolah. Setelah itu ditutup dengan mini workshop membuat mandala, dipandu Arie, serta proses reflektif dari mandala masing-masing peserta.

Ada beberapa poin penting yang saya catat untuk saya bawa pulang, pengetahuan baru dan bahan bakar untuk stock sabar saya yang tipis dan usang.



  1. Tahapan perkembangan emosi anak menurut Erikson. Disini yang dibahas 3 tahapan pertama, sampai usia prasekolah (pojok kiri bawah di catatan)
    • Tahapan trust vs mistrust (usia 0-1,5 tahun): Pada tahapan ini anak belajar mengenali orang-orang disekitar mereka, anak akan belajar apakah ia bisa mempercayai orangtuanya, orang-orang sekitarnya. Pupuk kepercayaan anak pada diri kita sebagai orangtua di tahapan ini. Targetnya, selesai tahapan ini anak merasa aman berada dalam lingkungannya.
    • Tahapan autonomy vs shame and doubt (1,5 - 2 atau 3 tahun): Nah ini, anak pertama saya sedang berada di tahapan ini, menuju tahapan selanjutnya. pada tahapan ini, anak sedang senang-senangya mengeksplorasi batas kemampuan mereka sendiri. Mau pilih baju sendiri, punya pendapat sendiri yang bertolak belakang dengan aturan orangtua (kemudian menuntut pendapatnya yang diikuti semua khalayak rumah), mau ikut masak, mau ikut cuci piring, mau ikut jemur, merasa bisa makan sendiri (kemudian berantakan), dan lain sebagainya. Di tahap ini, seringkali orangtua kurang sabar meladeni anaknya (iya, saya maksudnya *tunjuk tangan), dan besar godaan untuk menyabotase proses belajar anak di tahap ini. Jebakannya (saya sih merasa ini jebakan, haha) karena ini tahapan autonomy vs shame & doubt, jika saya memarahi anak atas proses eksplorasinya (yang seringnya merepotkan alih-alih membantu, ya namanya juga proses eksplorasi ya..) maka ia akan merasa dihakimi, dan bisa jadi defensif. Terjadilah episode demi episode pertikaian. Melva memberi contoh saat anak di usia ini sedang belajar pipis di kamar mandi kemudian ngompol. Di contoh ibunya tidak marah alih-alih mengajak si anak mencuci sendiri celananya dan berkata, "oh, ini waktunya ganti celana dan mencucinya", lalu saya membayangkan ibu-ibu dengan cahaya dan sinar lembut dari belakang menerangi rambut halusnya yang panjang dan rapih, baju putihnya yang bersih membalut sempurna di badannya. Sementara di kasus keseharian saya, saya akan refleks menyatukan kedua alis saya di tengah, mendengus kesal, sedikit melotot, rambut acak-acakan (karena emang dari bangun tidur gakan sempet nge-blow ke salon, sampe kapanpun sih kayanya gakan sempet), baju bau asi dan ada noda disana-sini, akibat belum ganti baju karena belum sempat mandi dari kemarin, apalagi keramas. Apalagi kalau dia ngompolnya diatas sofa. yuk mariii *lambai-lambai silk scarf manja. tumbuh tanduk mungkin sejenak. Pada tahap ini, anak akan belajar, akankah ia menjadi mandiri, atau akan terus tergantung pada ibu atau orangtuanya?
    • Tahapan initiative vs guilt (antara 2 atau 3 tahun sampai 6 tahun): Pada tahapan ini, pola prilaku dan sosialisasi yang sudah anak dapat di rumah, akan menjadi caranya melihat lingkungan sosial yang lebih besar. Disinilah terjadi proses eksplorasi dan penemuan hubungan-hubungan sosial. Dimana ia berada dalam lingkungan masyarakat, dalam pertemanannya di keseharian. Bagaimana ia mengidentifikasikan jati dirinya, kesukaannya. Di tahap ini pula mulai berkembang keterampilan leadership dan decision making. Melva memberi contoh, seorang anak perempuan bernama Tini, usia 5 tahun, yang ingin menjadi pemain sepakbola kemudian dilarang ibunya. Ibunya berkata bahwa sepakbola itu untuk laki-laki. Di hari ulangtahun Tini, alih-alih mendapatkan bola seperti yang ia minta, ia mendapatkan boneka barbi. Tini pun marah dan membanting barbi-nya didepan banyak tamu. Pada tahapan ini sebaiknya orangtua tidak dengan mudah dan cepat menghakimi identitas yang sedang dicari anak, karena inilah tahapan mereka mulai punya inisiatif atas diri, mengidentifikasi hobi/kesukaan mereka dengan "ke-aku-annya". Karena segala penghakiman di tahapan ini akan membuat mereka bertanya reflektif, "am i good or bad?"
  2. Fungsi-fungsi otak; dari belahan secara vertikal dan horizontal dan hubungannya dengan kebutuhan anak dan apa yang harus kita penuhi berdasarkan fungsi otak tadi (gambar otak di kiri atas dan dibawahnya)
    • Jika dibelah secara horizontal, otak manusia terdiri dari 3 bagian: (dari bawah ke atas) Reptil, Mammal, dan Rational. Ibarat sebuah rumah, Reptil adalah fondasinya, Mammal adalah badan rumahnya, Rational adalah atapnya. Bagian Reptil bertanggungjawab mengendalikan rasa takut dan kemampuan bertahan (survival). Jika anak sudah merasa aman (terkait dengan tahap pertama tahapan Erikson), maka ia bisa belajar untuk mulai mengolah emosinya, yang dikelola oleh bagian otak Mammal, ditengah. Jika ia bisa mengenali dan mengolah emosinya, maka ia akan bisa meraba logika dan mengasah kemampuan berpikirnya, dikendalikan oleh bagian otak diatas, Rational.
    • Seperti kita semua pahami, bahwasannya otak kiri bertanggungjawab pada segala logika berpikir serta eksakta, dan otak kanan bertanggungjawab pada olah rasa emosi dan seni. Meskipun demikian, mereka tidak bisa dilihat secara terpisah, adalah diantara mereka corpus callosum; the great mediator. Lewat corpus calosum ini kita bisa membantu bagian otak yang kurang dominan ikut berkembang. Contohnya, untuk membantu anak kesulitan belajar (otak kiri), digunakanlah terapi dengan pendekatan seni, agar dengan terapi olah rasa tadi, lewat corpus callosum terbuka jalan menuju otak bagian kiri.
  3. Kontrol perilaku X kontrol psikologis
    • Kembali ke tiga tahapan pertama anak menurut Erikson serta fungsi otak, dalam memaksimalkan perkembangan anak, sebaiknya kita tidak mengendalikan anak lewat tekanan secara psikologis, alih-alih kendalikan perilakunya. Contoh, jika anak berulah, ganti reaksi atau pertanyaan, "Kamu sayang ibu ga sih? Kamu ga sayang ibu ya?" atau "Kamu tuh, selalu bikin ibu kesel, ga nurut!" kedua reaksi tadi "menyerang" emosi dan konsep diri sang anak, bisa menyebabkan kebingungan dan ia adopsi sebagai jati dirinya. Jika kita mengendalikan perilaku anak, kita harus spesifik dengan perilaku mana yang kita anggap salah dan tidak menekan perasaan atau sisi psikologisnya. Saya rasa secara bahasa mungkin ga banyak berubah, tapi di titik ini kita harus bisa mengendalikan emosi diri kita sendiri sehingga bisa bertanya dengan ti'is style (gaya bertanya non-emosi/emosi netral). Contoh, "Kenapa kamu ngompol?" tidak dilanjutkan dengan embel-embel drama, "kamu tau ga sih, kerjaan Ibu tuh banyak. Kamu selalu deh ngompol (bener gitu selalu?). Kamu ga sayang Ibu ya (mulai..mulai..)?" atau, "Kenapa kamu nangis teriak-teriak?" tidak dilanjut dengan, "Berenti nangis, jangan nangis, kamu malu-maluin!". Dijawab atau tidak, selama si anak memiliki pendengaran yang normal sebetulnya ia mendengar, percayalah, tapi ia belum selesai mengolah emosi yang sedang dirasakannya. Beri ia waktu, jika sudah kembali tenang, coba ajak bicara lagi, bernegosiasilah dengan sabar seperti menghadapi kabel merah dan biru pada bom di film-film action yang dibintangi Sylvester Stallone.
  4. Beri batasan (gambar lingkaran di kanan tengah)
    • Dalam rangka mengontrol perilaku, untuk membantu, kita bisa menciptakan "dinding batasan", bernegosiasilah di awal dan konsistenlah dengan perkataan dan konsekuensi di awal. contoh (a) kasus paparan gadget: diawal bernegosiasi "30 menit ya.." si anak pasti tidak pikir panjang langsung setuju, yang penting dapet. Pasang timer, menjelang 30 menit, ingatkan anak, "sebentar lagi selesai ya.." satu kali, dua kali, sampai timer betul berbunyi. Minta gadget baik-baik, dan beri pengertian akan kesepakatan di awal, untuk menghormati kesepakatan dan menepati janji. (b) kasus anak susah mandi: beri batasan yang jelas dan definitif, misalnya, pokoknya dalam 1 hari anak harus mandi. Batasan ini harus juga sudah mendapat kesepakatan anak ya. Jika pagi anak tidak mau mandi, coba beberapa jam kemudian, terus sampai sore. Ingatkan kembali perjanjian di awal, jika tidak mau juga sampai waktu mandi lewat beritau konsekuensi nyata dan logis yang bisa ia dapat kalau ia tidak mandi, seperti bau, gatal, atau rasa tidak nyaman karena keringat. Dengan penyampaian apa adanya dan tidak berusaha menakut-nakuti tentunya yaa :)
    • Tentu saja batasan-batasan ini harus sesuai dengan gaya hidup orangtua atau pengasuh. be realistic. Kalau ingin anak mandi, tentunya ia harus melihat orang-orang di sekitarnya selalu mandi. Kalau ingin anak tidak terpatri pada layar gadget, tentunya orang-orang di sekitarnya juga harus punya hidup diluar layar gadget, dan seterusnya.
  5. How to deal with guilt and keypoints takeaway
    • huff! akhirnya, poin terakhir! OKEH, ini yang paling penting. "Gimana ya, saya sudah terlanjur sering "menyerang" psikologis anak, lihat, dia dikit-dikit nanya, Ibu ga marah, saya udah salah banget ini, salah terus? Jadi saya salah? Saya bukan ibu yang baik?" *nangis sambil lari-lari keluar bangunan nyari air ujan. Kalo kata Arie kemarin, ya nggak gitu juga. coba diterima rasa bersalah tadi, akui kita sebagai orangtua, sebagai Ibu melakukan kesalahan. Setelah diterima dan diakui, coba cari waktu yang tepat untuk dibicarakan dengan anak. Contoh, saat anak bertanya, "Ibu, Ibu ga marah?" waktu ia menumpahkan setitik air susu di lantai, setelah menjawab, "Enggak.." coba tanya balik, "Kenapa kamu pikir Ibu marah?" kalau ia bisa menjawab coba respon jawabannya dan beri pengertian bahwa kita marah saat itu karena, misalnya, saat ia menumpahkan susu tempo hari, kita sedang banyak pekerjaan, sehinggahal kecil membuat kita marah. Mintalah maaf dan berikan konfirmasi bahwa itu bukan kesalahan si anak, tapi situasi kadang tidak ideal dan membuat kita, sang Ibu, menjadi marah.
    • Segala hal yang membuat kita merasa bersalah pada anak, coba diluruskan lewat percakapan-percakapan. Bisa dibuka dengan cerita dongeng yang mirip atau menganalogikan, bisa dibuka dengan cerita sambil menggambar, atau menunggu waktu anak bertanya. Meminjam istilah Arie, "Ya tinggal diluruskan aja, sama anak.."
    • Tidak usah merasa bersalah jika kita tidak bisa 24 jam selalu in-tune dengan anak, karena memang wajarnya kita punya jeda agar pribadi masing-masing masih punya ruang untuk berkembang. Walau anak lahir dari rahim kita, tapi kita dan mereka adalah dua individu. Dan dua individu selalu perlu jeda dan ruang gerak. Kita selalu bisa "kembali" ke frekuensi anak saat ia membutuhkan kita atau "pergi" dari frekuensi anak saat kita perlu waktu untuk mencerna hal lain.
    • Kreatiflah dalam bernegosiasi saat menyepakati batasan. Gunakan contoh kasus pada buku cerita favoritnya, gunakan pretend-play, gunakan tokoh imaginary, gunakan apapun. sekali batasan sudah disepakati kita memiliki jangkar untuk mengendalikan perilaku anak alih-alih menyerang sisi emosi dan psikologisnya.
    • kembali mengutip Arie, "Parenting itu 10% knowledge, 90% intuisi" semua teori yang pernah kita lahap, pada akhirnya harus menyesuaikan kebutuhan anak yang sangat berbeda-beda. Asah intuisi kita sebagai orangtua, sebagai Ibu, karena at the end of the day, that is the most powerful tools that we have, beyond any theories :)
Sekian buibu, pakbapak! huf udah kaya nulis sripsi! mudah-mudahan tulisan panjang lebar ini bermanfaat yess! 

Please stay sane whenever, wherever you are. Karena hanya jika kita bisa mengakses pintu-pintu emosi kita sendiri, baru kita bisa mengolahnya, untuk kemudian bisa menghadapi anak dengan ti'is style tadi. Terimalah, akuilah bahwa kita tidak akan terus bisa waras, tapi bukan berarti kita selalu tidak waras (pindah alamat dong ke Sumber Waras Tidak kalo gitu), kita selalu punya pilihan untuk mengambil pelajaran, menerima rasa bersalah, kemudian move on dan mengurai simpul masalah satu persatu.

semangaaat!

tertanda,
penghuni sumber waras tidak

:p

Saturday, November 12, 2016

thoughtful gift #1

beberapa pekan yang lalu salah seorang teman saya bertanya, 

"Mit, ada ide ga, kalo ngadoin orang yang baru melahirkan, beliin apa ya?"

Kala itu cuma kepikiran, 

"Kasih baju menyusui buat Ibunya, soalnya kebanyakan orang kan pasti kasih kado buat Sang Bayi.."

Padahal sudah pernah mengalami proses lahiran bayi, tapi cuma 1 itu yang kepikiran. Nah, 13 hari yang lalu saya melahirkan lagi, menilik kehidupan baru 13 hari ini, saya jadi keidean sejumlah insight kado yang bermanfaat dan mungkin sering terlewatkan, a note for myself too. Eh, ini bukan iklan atau endorse-an ya, this is my honest opinion & thoughts based on my experience :)

monggo..

1. baju menyusui untuk sang Ibu.
Saya rasa sebagian besar Ibu di era ini mulai kembali menyusui para bayinya, tidak seperti sebagian besar working mom di era 90an. Sehingga, memberikan baju menyusui yang bagus bisa jadi pilihan alternatif karena kebanyakan orang memberi kado untuk si bayi. Baju menyusui macam apa, ya yang layak dipakai bekerja/jalan-jalan. Pilih yang berbahan ringan, menyerap keringat, atau terasa dingin di kulit. Ada beberapa brand pilihan di instagram seperti @emeno_nursing, @nyonya_nursingwear, @mamibelle_nursingwear. Atau bisa juga 1 set tank-top atau manset menyusui. Jadi si Ibu bisa tetap pakai baju favoritnya, dan ga ribet nyusuin karena bisa pakai tank-top menyusui di dalam baju.

2. (untuk Ibu yang melahirkan anak kedua, ketiga, dst) hadiah untuk sang Kakak.
kelahiran pertama, semua serba baru, membuncah, rasa cinta dan kasih sayang SEMUA tercurah buat sang bayi baru. Bagaimana dengan lahiran anak kedua (dan seterusnya saya rasa)? Pengalaman saya, Sang Ibu pasti punya kekhawatiran apakah ia sudah cukup membagi cinta dan perhatiannya untuk anak-anaknya, sang firstborn dan baby-second-born? tebakan saya, di beberapa hari awal kelahiran semua sedang beradaptasi, ya Ibu, ya Bapak, ya Kakak, ya bayi. Membuat semuanya terasa melelahkan, dan overwhelming. Nah, kehadiran tamu yang kemudian memberikan kado buat Sang Kakak bisa membantu Si Ibu secara mental merasa terbantu, untuk memberikan perhatian pada firstborn, dan membuat Sang Kakak less jealous dengan kondisi baru tersebut, hence, less challenging. Soalnya kelakuan firstborn yang mulai merasa tersisih itu...
y a   a m p l o p   c h a l l e n g i n g - n y a !

3. Essential oil
lagi-lagi, terutama untuk kelahiran kedua dan seterusnya. Kadang, ada keadaan dimana sang firstborn gemas sekali sama adiknya.

gmz mz!

jadi..ada kalanya flu atau batuk, ya virus penyakit yang sering hinggap sehari-hari itu, menghinggapi Sang Kakak. Dengan tidak kuasanya kita senantiasa melarang firstborn mengungkapkan rasa sayangnya ke Sang Adik (yes, i'm talking bout that thousand rains of kisses, hugs, pinching, holding),  atau ke-gmz-annya tadi, besar resiko bayi tertular. Mau langsung kasih obat? yakin? ini bayi usianya baru beberapa hari lho! dan mungkin sedikit virus bagus untuk melatih daya tahan tubuhnya. SEHINGGA, essential oil saya rasa jadi pilihan jitu. Untuk kado kelahiran pertama, juga masih relevan. i'm talking bout essential oil untuk cold & flu bagi newborn dan toddler, immune baby guard essential oil untuk newborn, dan lain sebagainya. Saya sendiri kemarin mendera skenario pertama, dan bersyukur menjatuhkan pilihan untuk memesan essential oil cold & flu dan immune guard dari @botanina_id. Mereka juga punya sederet thoughtful products buat newborn & toddler, juga sederet products buat Sang Ibu, biar tetap hits, qaqa!

4. produk kecantikan / kesehatan untuk Sang Ibu
Satu lagi thoughtful gift buat Sang Ibu. Merasa senang sekali kemarin dapet breastpad disposable, haha. Kepake banget! i also thinking, natural organic deodorant, since breastfeed mothers have limits on their chemical intake. natural organic deodorant could save the day :D

5. #WishlistIbuMelahirkan
yang ini juara sih. pengalaman saya, yang ini diinisiasi oleh kawan saya, Oping :)
seringkali kado-kado melimpah untuk ibu melahirkan itu double, atau lebih sayang lagi, kadonya bagus tapi ga kepake. NAH, untuk menghindari kejadian macam itu, biasanya teman 1 geng patungan, lalu bertanya pada sang Ibu, "lagi butuh apa? sok,* mahal juga gapapa, kita patungan bersepuluh.." kalau begini, hadiah yang diterima bisa jauh lebih bermanfaat karena pasti terpakai :) kado pun bisa jadi 1 barang yang mahal tapi memang essential, seperti newborn carseat, 1 set alat mandi, lampu tidur, baby crib, playpen, dan lain sebagainya yang mahal lah, kalau dibeli sama seorang :)

sekian qaqa, silakan yang mau ngado, eh, maksudnya silakan yang mau ngasih kado ke ibu-ibu melahirkan :)

*sok = silakan dalam bahasa Sunda seharihari

Tuesday, August 23, 2016

Cinta

motherhood itu..apa ya..semacam embuh..
berkali-kali saya mengeluh tapi tidak membuat saya ingin untuk berhenti berada didalamnya.
malah seringkali saya jadi takut mati karena tidak siap meninggalkan dunia motherhood, merasa belum siap berhenti jadi ibu, merasa belum siap karena sepertinya tugas saya masih JAUH dari selesai dan baik, jangankan bicara soal sempurna.



berkali-kali, tiap lenguhan keluh itu mendesak ingin dikeleuarkan, selesai mengejawantah saya mempertanyakan diri sendiri,

if motherhood is THAT horrible, then why’re you still there? why are you kept doing it, being a mother that is. and why you want more than one kid? WHAT ARE YOU DOING?



satu-satu sambil selesainya berbagai hutang kerjaan, lalu membanjur diri dengan air dingin, pelan-pelan runutan logika itu datang.

motherhood itu sebongkah pengejawantahan cinta.

dan cinta itu..apa ya?
sebuah bentuk embuh juga sih.
pernah juga berusaha membongkar apa itu cinta disini.
cinta itu harusnya logis, tapi tidak
sederhana, tapi rumit.

simpulannya, cinta itu sederhana, cinta itu logis, tetapi cinta adalah sebentuk usaha yang perlu terus dipertahankan, untuk tujuan yang lebih besar.

motherhood itu cinta.
cinta terhadap hidup dan kehidupan.
cinta terhadap keseharian.
cinta terhadap proses belajar.
cinta terhadap proses yang tiada pernah berakhir.
cinta terhadap cita-cita menjadi manusia yang berguna dan lebih baik lagi.

motherhood itu,
logis tapi tidak.
sederhana tapi rumit.

dan entah seberapakalipun saya mengluh dan ingin berhenti kelelahan,
anehnya saya tidak berhenti.
TIDAK MAU berhenti bahkan.
dan tiap keluhan malah terasa manis di akhir tiap-tiap saya berhasil mengatasi keluhan diri saya sendiri.

cinta itu aneh.

dan manusia yang sanggup mencintai itu lebih aneh lagi.

karena hobinya cari repot.

i want to crack my head wide open

diantara sembelit,
perut yang kian membuncit,
tumpukan cucian piring yang membukit,
jemuran baju dibawah sinar mentari yang sengit,

ku ingin membuka kepalaku dan membiarkan isinya memburai mengerjakan sendiri tiap-tiap tugas yang terpaut tenggat waktu yang tak mau tau.

diantara anak kecil yang menangis,
menuntut ditemani main boneka manis,
atau dibacakan buku yang ceritanya magis,
kok ya rasanya seperti mendengar kalimat itu-itu saja yang berulang seperti kondektur bis,

ku ingin membuka lebar kepalaku, membiarkan isinya berurai mandiri meraih papan kunci huruf-huruf dan membiarkannya menyelesaikan sekian tugas dengan tenggat waktu yang tak mau tau.

diantara rasa kecewa pada tiap ekspektasi yang tak terpenuhi,
teman hidup yang luar biasa sibuk menafkahi,
rasa iri karena lagi-lagi si teman hidup yang produktif, lupa menengok ke sebelah, orang setengah waras yg ada di sisi,
hey, itulah aku si setengah waras yang hampir menangisi diri sendiri,

ku ingin membuka lebar kepalaku.
membiarkan isinya bekerja mandiri.
membiarkan sukmaku melesap melintasi ruang dan waktu.
menyambangi orang-orang nun jauh disana sambil berdiskusi, biar tak perlu lagi kujawab email mereka yang bikin risih.
ruang dan waktu...ah..aku jadi ingat serial cosmos yang belum selesai kutonton, kutumpuk bersama tugas lain karena aku berjibaku.
tapi serial itu relevan kalau memang betul bumi ini bulat, tidak datar dan bukan konspirasi.
biarlah, aku tetap takjub pada cosmos dan alam semesta dan percaya bumi ini apa adanya, terserah apapun wujudmu.
dan menulis ini saja sudah setengah jam sendiri.
alih-alih mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan yang menunggu.

sampah.

s a m p a h !

*lari ke belakang dekat jemuran baju lalu teriak-teriak, "Abang baksoooo, kadieeeu! urang lapfar can dahar, ga sempet masak!" sambil mengeluarkan jilat-jilat lidah api dari mulut dan mata.
*naga mode on
*brb titipin anak ke suami


Saturday, October 25, 2014

motherhood in reality; comment (or questions) and answer

imaginary interviews with mothers these day 

comment:
how wonderful! how can u still do a creative work and create things while raising ur daughter?

answer:
i can not..

it's not always rainbows and unicorns..well, there ARE, sometimes..but it takes lot of time management exercise which involve a lot of tears, thousands whys and a bit drama.
so yeah, in reality, i can not do a creative work. i'm a pragmatist now. creative work u say? *laughing* it's mere a lipstick, really just on a surface, u should see far beneath it.

comment:
how can u involve ur daughter (such a little girl) in ur workplace?

answer:
i must.

it's not a matter of can or can not. i must bring her to my workplace, sometimes. it's not what i ALWAYS want, but something that i must do, in order to fulfill my deadlines. finish my workload so it doesn't split my focus while i'm nurturing my daughter. so i can think clearly what i'm gonna cook for her, doesn't yell at once when she made a normal-kid-mess, doesn't break down and cry straight away when she won't sleep and ask for another round of playtime. in short, to help me keep my sanity.

comment:
how lovely! ur daughter is so calm and sweet..u must have taking care of her veeery good..

answer:
... 
*no words, just smile. "wave and smile boys, waaave and smile," said the penguins.

well..u doesn't get to see me at home OFTEN, d'ya? raising and taking care of her very good..let's see..
it, sometimes, in hard days, involve looots of tears, excessive needs to be understood by ur partner VERY MUCH, envying all of ur fellow mother/friend on ur social media circle (because they can still socialized while u don't even have the chance to take a short bath), dreaming and missing the old days..in short, insanity. yes, sometimes my daughter raised by insane women.

insane.
sometimes.
really, just sometimes.

am i a bad mother?

no, i'm a normal 21st century mothers.

how's that sound?
normal enough for u?

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...