Showing posts with label saya jadi berpikir. Show all posts
Showing posts with label saya jadi berpikir. Show all posts

Tuesday, August 23, 2016

Cinta

motherhood itu..apa ya..semacam embuh..
berkali-kali saya mengeluh tapi tidak membuat saya ingin untuk berhenti berada didalamnya.
malah seringkali saya jadi takut mati karena tidak siap meninggalkan dunia motherhood, merasa belum siap berhenti jadi ibu, merasa belum siap karena sepertinya tugas saya masih JAUH dari selesai dan baik, jangankan bicara soal sempurna.



berkali-kali, tiap lenguhan keluh itu mendesak ingin dikeleuarkan, selesai mengejawantah saya mempertanyakan diri sendiri,

if motherhood is THAT horrible, then why’re you still there? why are you kept doing it, being a mother that is. and why you want more than one kid? WHAT ARE YOU DOING?



satu-satu sambil selesainya berbagai hutang kerjaan, lalu membanjur diri dengan air dingin, pelan-pelan runutan logika itu datang.

motherhood itu sebongkah pengejawantahan cinta.

dan cinta itu..apa ya?
sebuah bentuk embuh juga sih.
pernah juga berusaha membongkar apa itu cinta disini.
cinta itu harusnya logis, tapi tidak
sederhana, tapi rumit.

simpulannya, cinta itu sederhana, cinta itu logis, tetapi cinta adalah sebentuk usaha yang perlu terus dipertahankan, untuk tujuan yang lebih besar.

motherhood itu cinta.
cinta terhadap hidup dan kehidupan.
cinta terhadap keseharian.
cinta terhadap proses belajar.
cinta terhadap proses yang tiada pernah berakhir.
cinta terhadap cita-cita menjadi manusia yang berguna dan lebih baik lagi.

motherhood itu,
logis tapi tidak.
sederhana tapi rumit.

dan entah seberapakalipun saya mengluh dan ingin berhenti kelelahan,
anehnya saya tidak berhenti.
TIDAK MAU berhenti bahkan.
dan tiap keluhan malah terasa manis di akhir tiap-tiap saya berhasil mengatasi keluhan diri saya sendiri.

cinta itu aneh.

dan manusia yang sanggup mencintai itu lebih aneh lagi.

karena hobinya cari repot.

Tuesday, November 20, 2012

Ibadah

"Bagaimana caranya menyatukan dua logika dari dua makhluk yang berbeda?"
Rasanya sulit..

Bukan berarti tidak mungkin, tapi tidak mudah.

Ada unsur mengalah di dalamnya, ada ego yang yang harus di taklukkan, ada amarah yang harus di redam, ada keikhlasan yang harus hadir.

Ada legowo yang senantiasa harus dimiliki.

Bukan berarti tidak mungkin, tapi sangat tidak mudah.

Karenanya lah, maka bersatu, dalam hal apapun; berteman, berkomunitas, berkehimpunan, bernegara, beragama, menikah; adalah sebuah bentuk pengabdian dalam ibadah.



iba·dah
 n perbuatan untuk menyatakan bakti kpd Tuhan, yg didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; ibadat;
-KBBI

Thursday, January 19, 2012

tidak cuma cuma

alkisah seorang dalang berujar,
"tidak akan ada yang gratis di dunia ini..selalu ada harga untuk apapun..apapun yang ada di dunia ini."


di suatu sore sang dalang hendak menggelar pertunjukan wayangnya. 
layar dijembar, kelir menyala.
tiba-tiba mendung membendung.
sang dalang mengangkat tangannya, menghadap ia pada awan kelabu yang mengendap, katanya, "kalau pertunjukkan ini buruk adanya bagi siapapun yang menonton, maka turunkanlah hujan sederas-derasnya, sebaliknya, jika pertunjukan wayang ini bermanfaat bagi siapa yang akan menontonnya, maka pergilah jauh awan jenuh! jangan kau turunkan hujan disini!"
sejurus kemudian, mengerti bagaikan kawan, sang awan menjauh ke tepian.


sakti memang sang dalang, begitu pikir orang-orang yang memandang.
pertunjukan berjalan lancar, hujan pun urung turun gencar.


yang tidak mereka tau, setelah pertunjukan tutup kelambu, penonton pulang satu-satu, sang dalang menyeberang sungai naik perahu.
setengah jalan, mendung menyusul perlahan.
tidak tanggung-tanggung, awan menghantarkan kelabu yang paling mendung.
sang dalang dipanggil, oleh awan mendung yang menggigil.
sang dalang menjawab, keluar geladak yang lembab.
diguyur hujan deras dadanya telanjang, berkata ia mewejang,


"tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini..selalu ada harga untuk apapun. bahkan di alam semesta ini..terlebih hukum alam. tidak ada yang cuma-cuma..semua ada harga..."


sang dalang berperahu pulang, diantar hujan deras dan panjang.


"tidak ada yang cuma-cuma..semua ada harga.."


mewejang mulutnya, berkawan ia pada hukum alam semesta.

Wednesday, November 16, 2011

Gie

tugas tugas pertama kami di papermoon, dalam rangka pemanasan, adalah riset.
dan kemarin, kami menonton 2 film, salah satunya adalah film Soe Hok Gie (Riri Riza,  Miles production, 2005)

di tahun 2005 itu, saat film Gie baru keluar saya juga langsung menontonnya di bioskop..tapi..rasanya beda waktu kemarin saya menonton film itu lagi.
waktu tahun 2005 itu, setelah arus masif publikasi film Gie, langsung trendi semua yang berhubungan dengan Soe Hok Gie dan pola tingkah laku nya, jika dikira-kira.
saya ingat sepulang saya ke bandung (taun segitu saya masih sering pulang Jakarta), saya jadi semakin skeptis kalau lihat mahasiswa demo. langsung gak respect seketika. berlebihan si memang, soalnya saya juga ga nanya latar belakang sekumpulan mahasiswa itu melakukan demo, tapi saat itu, setelah menonton film Gie, lalu melihat mahasiswa demo, rasanya jadi seperti melihat sekelompok poser.
overrated.
apa yang mereka lawan? siapa? kenapa? lalu apakah mereka yang memprotes datang dengan solusi? tidak kan? mereka hanya berteriak. bergunakah itu? didengarkah mereka?
saya bahkan sempat menulis, 
"maha-siswa. paling siswa diantara semua siswa. ya harusnya berjuangnya ga teriak-teriak di pelataran dong. udah ga musim kalee..kaya didenger aja. yang di protes juga mungkin sudah kebas diteriaki. berjuang paling benar adalah dengan mengenal diri sendiri, jadilah sehebat yang kamu bisa, maju dan protes mereka dengan sebuah solusi lengkap dengan paket kesediaan untuk mewujudkan ajuan solusi!"
entah kenapa, panas sekali melihat mahasiswa-mahasiswa yang bukannya rajin menuntut ilmu dan mencoba mengenal diri sendiri, malah teriak-teriak demi (mereka pikir) perubahan.

tapi menonton film Gie semalam, membuat saya banyak berpikir lain.
lebih berpikir tentang Gie pada masanya.

Gie, begitu idealis. sedari kecil ia terkontaminasi oleh paparan pemikir-pemikir hebat. dan prakteknya, keadaan pada masa itu memang banyak yang bisa diprotes.
saya jadi berpikir, wajar jika Gie cepat langsung melesat menjadi tokoh yang dikenal cerdas dan tajam, karena ia memiliki berbagai kombinasi yang tepat.
wawasan idealis yang didapatnya dari membaca,
keadaan yang memang membutuhkan banyak protes,
keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
basically, dia tau seharusnya pemerintahan itu berjalan seperti apa, idealnya.

melihat, menonton film Soe Hok Gie dari perspektif saya sekarang, dengan pengalaman-pengalaman keseharian saya sampai sekarang, timbul rasa yang berbeda dengan waktu 2005 dulu.

Gie, begitu idealis. and bless him, he got the chance and spec to be idealist. 
dia hidup di zaman yang tepat, dengan kombinasi kepribadian yang tepat; gemar membaca, berani, dan cerdas.

dan ia menjadi berarti karena keadaan membutuhkan pemuda seperti dirinya, saat itu. mereka memiliki musuh bersama yang jelas terlihat. kebodohan masih mayoritas, kemiskinan terasa betul kehadirannya dimanamana, kaum tua dan papa terpajang jelas didepan mata.
musuh bersama, is another keyword.
musuh bersama mempermudah sebuah perjuangan.

lalu saya merefleksikan dengan keadaan hari ini, sekarang.
ya banyak yang salah memang, saya tau. seperti ribuan pemuda lainnya di sekitar saya tau ada yang salah dengan sesuatu.
keluhan, punya tentunya.
tapi..kami saat ini tidak punya musuh bersama.
apa yang kami lawan? kebodohan? kemiskinan? korupsi? kelaparan?
semua itu ada, nyata masih terjadi di Indonesia. 
tapi dimana?
menyempil diantara himpitan-himpitan urbanisasi dan pertumbuhan kota-kota yang menyemir permukaan sehingga terlihat mengkilat.
kemiskinan? coba main ke mall-mall di jakarta; apa iya rakyat Indonesia miskin? coba googling gaji orang-orang pemerintahan, apa iya, Indonesia miskin?

di akhir-akhir film Gie terlihat resah, gundah.
ia limbung..apakah yang ia perjuangkan selama ini benar? melihat setelah adanya secercah perubahan, toh ternyata tidak juga membawa perbaikan, alih alih, ia membaca kemerosotan yang akan semakin bertambah. instingnya, gabungan pembacaan situasi sekaligus anilisis yang sangat cepat, berkata bahwa ini tidak akan kemanamana. kebobrokan itu masih mengintai dan belum pergi.
ia tau bagaimana seharusnya sebuah pemerintahan berjalan, bagaimana masyarakat seharusnya bersikap. ia tidak memihak siapapun, jika saat itu yang dilihat hanya keberpihakan semata.

ia tidak memihak siapapun.

karena tidak satu pihak pun datang satu paket.
tidak satupun datang sebagai wakil kebenaran dan idealisme.

ia memihak pada sistem yang seharusnya.

kemudian, di akhir film ia berkata,
"dilahirkan ke dunia adalah sebuah kesialan. berumur panjang lebih sial lagi. berbahagialah mereka yang mati muda.."
"hidup adalah ketiadaan, dan ketiadaan adalah hidup itu sendiri..semua kembali kepada ketiadaan..apalah arti hidup itu sendiri.."

dan tanpa merasakan hidup lebih lama lagi Gie mati muda.

dan idealisnya terhenti, otomatis.
maka ia selamanya muda, selamanya idealis.

tapi apakah itu lebih hebat dari menjalani hidup, menjadi tua, dan berjuang untuk selalu benar sampai tua?
berjuang hidup.

saya rasa tidak.

saya malah jadi berpikir, 
Soe Hok Gie urik!

*urik: main curang; bahasa jawa

Friday, August 19, 2011

kenapa?

"dan tidak ada satu pun abadi di dunia ini, tidak juga berlian"

"if you feel depressed, just remember that everything shall pass anyhow. nothing is forever, babe. not even diamond. berlian (carbon) akan dengan mudahnya berubah menjadi gas CO2 kalo bereaksi dengan O2 cair di suhu -184 derajat celcius =)"
-Kartini Ngga Sampe Eropa, a novel by Sammaria Simanjuntak

tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya hanya sementara. i want to live life to the fullest. i want to see. i want to feel. i want to explore every positive possibility i could have.

"dan perasaan itu bentuknya cair, perasaan itu fluida yang mudah mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, mengikuti wadahnya, dan mudah merembes kemanamana"

dan perasaan adalah anugrah Yang Maha kepada makhluknya.
dan ia memenuhi setiap rongga dalam rasamu.
dan memperkaya sudut pandangmu.
membantumu melihat yang ada diantara: tidak dengan mudah terlihat diantara yang terlihat.

Monday, June 20, 2011

berjumpa lagi berjumpalitan sampai pagi,
berkisah cerita beberkan cakrawala tanah beta.

bertualang,
mengarungi, melanglang.

Monday, April 11, 2011

atas nama

manusia memberi nama,
pada segala,
untuk mengenal semesta.

tapi saat semesta itu datang membuka dirinya,
maka nama,
menjadi tidak penting ada.

seperti bahasa,
yang diciptakan untuk menggambarkan rasa,
berusaha mengungkap setiap rasa.

tetapi rasa yang sebenar-benarnya,
saat ia datang dan terasa
maka bahasa menjadi terbatas untuk kemudian bisa menggambarkannya.

***

lucu ya,
untuk berusaha mengerti sesuatu yang besar dan maha,
manusia menyederhanakan segala sesuatu dengan susah payah,
karena mereka pikir semesta ini rumit.
namun saat semua penyederhanaan yang rumit itu disepakati setelah sekian lama,
dan saat semesta terungkap,
manusia tetap tidak bisa menggambarkannya, walau bisa dirasakannya.

tidak untuk diteorikan,
tapi untuk dirasakan.

tidak untuk diperdebatkan,
tapi untuk dipahami.

semesta itu sebongkah rasa.

Sunday, April 10, 2011

pada saat hobi dan kesukaan dijalankan tidak sebagai hobi maka itu akan menjadi beban

menulis, kalau disuruh dan dikerjakan dibawah tekanan dan paksaan,
menjadi tidak menyenangkan,
dan jiwanya hilang,
lang,
lang,
lang,
lang.

Monday, February 28, 2011

ambil!

I'm done with diarhea! Hooray! :D
Dan pagi ini saya sudah kembali berada di Bandung, menumpang pada sebuah kapal kapten bajak laut yang sedang mencari navigatornya, katanya..

Dan pagi ini saya sudah kembali sarapan di depan SD Priangan.

Dan pagi ini saya dan Kandie memutuskan untuk MEMASAK makan siang!

:D

Ok, this is the most simple yet delicious menu:
Tempe goreng sigar bumbu
Sambel ulek
Nasi panas

Dan siang ini kami sibuk berbelanja,
Memasak,
Meminjam alat-alat masak.

Dan jadilah makan siang kami dalam sekejap!
Tanpa kami perhitungkan kami blum lama menghabiskan sarapan kami.
Hmm..jadilah si masakan lezat itu kami endapkan dulu,
Sayang ya, padahal kalau dimakan panas pasti uenak sekali!
Ingin rasanya mengundang satu atau dua orang lapar masuk untuk menikmati hidangan dan melihat ekspresi mereka melahap makanan yg sudah dimasak ini..

Sambil menatap makan siang dan menunggu lapar saya jadi berpikir,

For the sake of sopan santun,
Saat bermain ke rumah salah seorang teman dan dimasakkan sesuatu,
Kadang sewaktu diajak,
"Ayo makan dulu, sudah jadi.."
Saya suka pause dulu beberapa saat sambil senyum,
"oh, iya tante.."
Dan tidak langsung menikmati hidangan itu selagi segar dari panggangan.

Dan ternyata..begini tho rasanya..

Saya jadi berpikir,
Lain kali, kalau main ke rumah teman lagi dan disuguhi saya akan sigap tangkas mencukupkan kadar sungkan sekedarnya saja dan mencicip hidangan.
Dan dengan mata berbinar dan senyum mengembang, saya akan mengajak alvi, spirit usus saya, mencecap rasa itu dan berterimakasih pada sang koki.
Apresiasi.
Pasti nanti si koki akan senang! :]

Begini ya, ternyata rasanya.
Penting sekali menjaga agar selalu punya kadar spontanitas dan ekspresif.

Yang paling bagus itu memang menindaklanjuti segala sesuatu yg sudah siap tanpa membuatnya menunggu terlalu lama.

Monday, February 21, 2011

doki doki

saya teringat sebuah penggalan percakapan saya dan mba Ria beberapa bulan lalu di Jogja sesaat akan naik panggung

"Mba Ria, kenapa ya..kita kan udah beberapa kali pentas, ceritanya juga udah apal..tapi kok aku masih deg-deg an aja ya?"

saat itu memang jantung saya berdetak kencang sekali membuat saya tidak bisa diam.
adrenalin rush.

"Kata Mas Ogleng, dulu dia pernah bilang, kalo masih deg-deg an itu bagus. Soalnya, kalo masih deg-deg an, itu, tandanya masih cinta.." Sambil tersenyum dan manggut manggut kepala Mba Ria berkata dan menatap saya yang loncat-loncat kecil tidak bisa diam..tapi sesaat setelah ucapan nya saya terdiam..

kalimat itu sweet sekali :]

tapi saya jadi berpikir,
kalau saya takut, saya deg-deg an
kalau saya marah, saya deg-deg an
kalau saya berharap, saya deg-deg an
kalau saya merasa sangat senang, saya deg-deg an
kalau saya grogi, saya deg-deg an
kalau saya malu..apalagi..

berarti takut, marah, berharap, sangat senang, grogi, malu itu semua karena cinta ya?

manusia diberikan akal budi.
maka itu yang membedakan manusia dari makhluk-Nya yang lain.
manusia diberi perasaan.
manusia diberi rasa cinta.

perasaan.
emosi.

aneh ya? saya rasa..
hal ini (perasaan atau emosi tadi) yang mementahkan teori apapun, a p a p u n,
yang berusaha menggambarkan dan memprediksikan perilaku manusia.
tidak ada satu teori pun bisa memprediksi manusia..karena faktor itu..

dan karena itulah,
menurut saya, teori paling efektif untuk memprediksi manusia adalah..
dengan merasakan..
karena perasaan itu yang membuat sebuah keteraturan (teori) menjadi chaos,
maka bacalah ke chaos an itu juga dengan perasaan.

rasakan semua hal yang bergerak, mengambang, berputar, disekitar.
dan gunakan akal-budi.

Monday, January 10, 2011

simbiosis mutualisme = romantis me

"tumbuhan lumut" adalah salah satu contoh Simbiosis Mutualisme yang bertahan ratusan jutaan tahun.
lumut, sebenarnya terdiri dari dua tumbuhan.
jamur dan alga hijau.
sekian lamanya mereka bersatu padu menjadi sebentuk lumut.
sehingga yang satu tidak akan bisa ada jika yang satu nya tiada.

dan bersama, mereka kemudian ada.

bersama, mereka kemudian bernama lumut.
dan lumut,
adalah tumbuhan perintis.
yang artinya, benda mati apapun yang tidak bisa ditumbuhi,
akan bisa menghidupi tumbuhan saat lumut sudah bermukim.

dan bersama mereka menciptakan kehidupan.

maka kesimpulannya:
saya adalah lumut.
bapak ibu saya adalah alga hijau dan jamur.

Saturday, November 6, 2010

perempuangimbal coklat melaporkan (tentang bantuan)

DAN setelah perjalanan kami mendistribusikan bantuan ke dua daerah (salam, Muntilan dan Maguwoharjo), saya jadi membatin perihal "sistem tanggap bencana" yang harus dibuat jika ada musibah melanda Indonesia.

kenapa?

karena..saat kami di Salam, bantuan makanan disana sudah cukup, yang lebih mereka butuhkan adalah kebutuhan perempuan seperti pembalut, BH, dan celana dalam. lalu kebutuhan MCK seperti sabun, odol, tali jemuran, dan ember cuci. dan kebutuhan anak-anak dan balita seperti diapers, susu, makanan bayi, dan baju bayi.
tapi bantuan makanan masih saja datang.
sedangkan mereka sudah mendirikan dapur-dapur umum.
jadi mungkin bahan baku makanan lah yang lebih bermanfaat.

nah,
saat kami di daerah Maguwoharjo (yang dipantengin TV one dan Metro TV serta media televisi lainnya), kami mendatangi Rumah Susun kampus Sanata Dharma yang dijadikan kamp pengungsi juga, bukan ke stadion Maguwoharjo nya.
sama seperti diatas, yang mereka butuhkan lebih ke kebutuhan perempuan, MCK, dan bayi, juga kebutuhan manula, karena para manula ditampungnya di Rumah Susun tersebut.
mereka masih membutuhkan satu kursi roda.

lalu kami berbincang dengan salah satu relawan di Rumah Susun itu yang adalah mahasiswa Sanata Dharma.

"Mba, tadi pagi makanan berlimpah di Stadion Maguwoharjo. enam ribu nasi bungkus terpaksa dibuang karena basi, menganggur, overload.."

oalaah..dengernya hatiku "mak closss", kalo pake logat jawa.

"kok bisa??" tanyaku prihatin dan sedikit sebel dengernya.
"ya gmana mba, kita kan juga ga bisa nolak bantuan, tho?"

nah nah nah,
ini nih..ini..
dan ini juga sekaligus pelajaran berharga untuk saya..

"kita harus berani berkata TIDAK"

ya memang rasanya tidak sopan menolak bantuan, lha wong bantuan, je!
tapi kalo ya sudah cukup, kan lebih baik bilang tidak sama si pemberi bantuan..bukan maksudnya tidak tau berterimakasih, tapi kan mereka yang memberikan bantuan (yang notabene pasti mereka mengantarkan dengan kendaraan dan waktu yang available) lebih punya waktu dan akses untuk mengantarkan bantuan itu ke tempat lain daripada bantuan itu ditampung dengan anggapan "ah nanti kalau berlebih kita kirim beberapa relawan untuk mendistribusikan kelebihan ini". Karena pada praktek nya semua pasti akan sibuk dan akhirnya terabaikan si bantuan berlebih ini..kan jadinya sayang..

ya ampun..dengernya sedih banget..
itu makanan semua lho..
apalagi, diketahui kemudian, di Klaten kekurangan nasi bungkus kira-kira enam ribu buah.
ugh..
harusnya kejadian ini bisa buat pembelajaran.
kalau memang sudah tidak butuh, harus bilang TIDAK. harus tega dan tegas. ya memang terlihat bagai antagonis.

tapi antagonis itu ternyata diperlukan.
kalau tidak begitu tidak akan ada protagonis nantinya.
dalam hal ini "protagonis" nya adalah para pemberi bantuan yang nantinya akan memberikan bantuan tepat sasaran pada orang-orang yang lebih membutuhkan.

kembali pada prinsip yang sangat sering saya bahas.
selalu ada dua sisi.
Rwa Bhinewdha, kata bahasa Bali.
betapa ya, kearifan lokal memang terbukti lebih "bunyi" daripada paham apapun yang bisa diaplikasikan pada bangsa dan negeri ini.
karena bangsa ini bangsa unik.
negara kepulauan terbesar di dunia.
bukan sistem adaptasi negara luar yang kita butuhkan.
bukan hukum keagamaan tertentu yang diaplikasikan negara lain juga yang kita butuhkan.
bukan BELAJAR ETIKA KE YUNANI yang kita butuhkan, hei kalian, wahai DEWAN PERWAKILAN RAKYAT! DEMI TUHAN!
*maaf saya selalu emosi kalau bahas ini..

yak, kembali ngomongin soal bantuan dan pendistribusian nya:
satu hal lagi yang tadi saya dan kawan kawan ViaVia diskusikan (ada Mba Siska, Mba Uji, dan Dita)
para pengungsi ini memang wajib kita tolong, tapi jangan sampai dimanjakan.
para relawan harus dibekali dengan kesadaran ini.
karena, hanya dengan cara ini, kita bisa tetap berdiri netral dan sebisa mungkin menjadi adil.
ini juga terkait pada pendidikan mental.

dibantu harus, dimanjakan jangan.

jika memang memberikan bantuan, biarkan mereka ikut merasakan prosesnya,
sebagai contoh:

+membantu mendirikan dapur umum dan mensuplai bahan mentah serta mengajak dan mengoordinasi para pengungsi untuk ikut memasak dan mendistribusikannya kepada sesama pengungsi di kamp tersebut.

+memberikan bahan mentah dan mengajak mereka ikut menciptakan sistem pendistribusian.

we're not superhero after all, that's why we're social creature. so, act like one we should. that way, we can keep the balancing.
we could be superhuman, with realizing that we have limits and we're not superhero.
there is a big difference between superhero and superhuman.
superhuman came with certain wiseness, creating balancing: the weak will learn to be strong.
superhero came with super power along with super ego which creating laziness in other side: the weak will be dependent and still weak.

perempuangimbal coklat melaporkan

siang ini saya dan beberapa kolega ViaVia berangkat menyalurkan bantuan untuk pengungsi merapi.
Tujuan kami adalah Salam (muntilan) dan maguwoharjo.
Sebelum kami berangkat ke camp pengungsi, saya dan Dita kebagian tugas belanja ke pasar "bawa-harjo" beringharjo. Kami membeli pakaian dalam, diapers, dan pembalut.
Di pasar itu ternyata ramai sekali orang-orang yang juga berbelanja barang bantuan.
Langsung berputar film di kepala saya, suasana sibuk belakang layar kelompok-kelompok relawan yg mau menyalurkan bantuan,


"daerah A butuh ini, kirim bantuan ini ke daerah A", teriak ketua koordinator sebuah kelompok relawan.
"Kirim bantuaaaaaannn..", sambung kepala tim relawan

terus sambung menyambung sehingga barang-barang "ini" terdistribusi ke daerah A.

NAH,
sore ini sepanjang jalan kami mendistribusikan bantuan,
hujan mengguyur daerah-daerah abu-abu yang kami lewati.
sehingga seolah "membersihkan" daun-daun, dan mobil-mobil yang coklat keabuan.
tampaklah sedikit hijau yang meringankan hati yang meringis.

saya jadi berpikir, dan berputar film di kepala saya,
suasana sibuk belakang layar kelompok-kelompok awan yang mau menyalurkan bantuan,

"daerah A butuh air hujaaaaann, kirim hujan ke daerah A", teriak ketua koordinator sebuah kelompok relawan awan.
"kirim awan penyedot uap air ke kota Jogja, serap air, dan kirim huja ke daerah A!" sambung awan kepala tim relawan.

terus sambung menyambung sehingga hujan terkirim ke daerah A, membersihkan abu yang menyesakan itu.

"Oooh, gara-gara ini toh, Jogja kalau siang hari akhir-akhir ini panas sekali.." batin saya.

Thursday, June 17, 2010

oh may oh may dimana ada somay

"i woke up in the morning, u are the first thing on my mind. i don't know where it's came from.."
-can i walk with you, by India Arie

heeu..tidak persis seperti itu, tapi memang kurang lebih seperti itu rasanya hari ini.
entah kenapa tiba-tiba kepikiran somay.
mungkin si somay lagi ngomongin saya makanya saya jadi keinget somay.
eniwai hawai, karena keinginan impulsif mendadak (udah impulsif, mendadak lagi) tadi, jadilah saya berencana untuk menggunakan jam makan siang saya untuk kembali..
J E L A J A H K U L I N E R
khaha!
jam 12 teng!
lebih 30 menit!
*berarti ga jam 12 teng ya?
saya pun bertanya pada Mas Sugeng yang kebetulan ada di kantor, "makan somay di jogja yang enak dan rada deket dmana ya?"
"oh! deket itu..Bentara Budaya itu, selatan-nya. somay telkom. terkenal kok itu."

bentara budaya? SIP! saya sudah tau jalan kesana, jadi, tinggal meraba saja kalau sudah dekat dari sana. hippiie!

berangkatlah saya dengan si tanduk merah :D


di jalan saya menemukan rumah yang menurut saya unik ini. seperti rumah-rumah lama di Bandung karena ada tulisan nya di bagian atas pintu masuk bangunan. seperti "judul" atau "nama" tapi tulisan nya panjang, dan dalam huruf jawa kuno, jadi saya tidak tau pasti. but, i still charmed by that house, so i stop my bike and take a deep look at it for a while.

tidak jauh dari rumah itu, sampailah saya di Bentara Budaya Yogyakarta dan melaju terus sepeda saya utnuk meraba jalan, mencari tempat makan somay yang katanya enak itu.

seperti apa somay Jogja?

dan sampailah saya!
cukup ramai, di jam makan siang begini, untungnya masih ada bangku dan space meja kosong walau harus bergabung dengan orang lain.


somay telkom namanya. dan sistem nya seperti bakso malang mandeep di istiqomah di Bandung, ngambil sendiri. pada dasarnya mereka menyediakan yang rebus nya, tapi kalo ada yang mau digoreng mereka akan dengan seanang hati menggorengnya dulu dan memotong-motong nya untuk kemudia disajikan ke pelanggan.

DAN
warung trotoar somay telkom ini unik dan lucu.
saya juga sempet ketawa-tawa geli sendiri waktu melihat ini.
liat deh!


kha ha ha. alcohol free!
dan..
berdiri sejak 15.30! :))

tidak lama pesanan saya datang.
saya mengabil 2 somay rebus, memesan 2 somay di goreng, dan 1 tahu.


akan saya bedah rasanya!
caplokan pertama.
enak. rasanya cukup "somay", bukan aci.
dan, tidak amis.
yang agak membuat saya kaget adalah rasa bumbu kacang nya.
karena bumbu kacang nya terasa PERSIS seperti rasa bumbu kacang satay, sodara-sodara!
unik!
saya suka.

lanjut ke caplokan selanjut-lanjut nya.
dan ternyata 5 butir itu sudah sangat cukup mengenyangkan.
dan setelah somay ke 4 rasanya sudah tidak se enak itu.
sepertinya penilaian saya sudah mulai objektif di tahap ini.
yang caplokan awal awal tadi tampaknya efek lappar :9 he he!

hmm..somay terenak, bagi saya, masih tetap somay di Imam Bonjol, Bandung.
somay terakhir yang saya makan bersama neng upritt.
sepulang kegiatan Edukasi Kreatif bersama Komunitas Sahabat Kota tempo lalu.
hu hu.
tapi lumayan lah, bisa mengobati kangen somay.

next time saya kemari dan memesan, saya akan memesan 2 somay goreng saja cukup, tampaknya :]

dan
ada cerita seru dari saya dan Si Tanduk Merah di jalan kami pulang.

saat sedang di jalan raya, saya mengambil jalan paling kanan.
karena,
tidak jauh saya harus belok kanan, menyeberang lalu lintas dari arah sebaliknya.
jalanan tidak padat.
agak lengang, bahkan.
sampai,
tiba tiba di jalan yang cukup lengang itu saya mendengar bunyi klakson, dari jarak yang agak jauh tampaknya.
dan dari bunyi klakson nya saya bisa mengenali bahwa itu adalah sebuah mobil.
saya diam tak hirau.
menanti si mobil mendekat dan mendahului laju kami, saya dan Si Tanduk Merah.
b e n a r sodara sodara, M O B I L
saya heran karena sudah lama tidak menemukan perilaku begitu di jogja sini yang terbilang sangat ramah pada pesepeda.
t e r n y a t a
y u n o w w a t ?
mobil nya adalah
j a g u a r
dan yu now wat lagi?
plat nya B aja.
euuugghhh! m a u m a r a h b a n g e t d e h r a s a n y a !
euuuuuggggggggghhhhhhhhhhh, k e s a l
bukan bukan, bukan saya membenci plat B, tapi perilaku plat B di kota lain, hampir bisa di generalisasi begitu. saya heran. ini bukan masalah orang Jakarta atau apa.

bagi saya ini masalah pola pikir mereka yang selalu merasa kehabisan waktu dan tidak ada orang yang lebih penting dari diri mereka sendiri.

dan biasanya ini sindrom nya orang yang naik mobil mahal dan bagus. bersamaan dengan hobi mereka membuang sampah dimana-mana di luar kaca jendela mobilnya.

heran, kerja apa si mereka di Jakarta?
di cuci otak pake sabun apa si di kantor mereka sama bos-bos nya?

tidak, saya tidak menunjuk pada semua warga Jakarta.

saya lahir di Jakarta.
Jakarta adalah tanah kelahiran saya.
dan tanah Jakarta yang menemani saya belajar jalan, lari, sekolah, jatuh kebeset aspal.
bus bus kota dan bajaj Jakarta adalah kawan akrab saya.
s e d i h d e h
lihat kelakuan sebagian orang plat B begini dan membuat orang yang tidak punya ikatan batin apapun dengan Jakarta, dengan seenaknya menuding.
:[

eniwei, sore ini saat saya menulis, rasa kesal nya sudah berkurang kok.

semoga saja dia selamat sampai tempat.
amin.

dan postingan ini akan saya tutup dengan hal yang menyenangkan.
review harga :]

setiap butir nya, somay ataupun tahu, berharga 1100 rupiah saja sodara sodara.
walau harus di goreng dulu, tetap 1100 :]

sekian,
salam kuliner!

saya harus semangat, supaya bisa memberi pengertian banyak orang di kota lain, tidak semua orang jakarta punya kelakuan homo sapiens begitu!
dan makan banyak tentunya, karena pasti membutuhkan banyak energi! :D my fave part. makan.

oia, bagi yang penasaran seperti apa rupa saya saat ini karena tampaknya kegiatan saya di jogja hanya makan dan bergaul dengan matahari, berikut foto terkini saya kemarin malam saat bercengkerama dengan teman teman dan staff senior yang baik-hati-tapi-miring di cafe LIP

voila! kata mereka ini S U P E R!

Tuesday, June 15, 2010

saya (mungkin) cinta dia



saya adalah penggemar tip ex.
bukan, bukan, sayangnya bukan tip ex band ska yang itu, tapi tip ex correction pen.
saya masih ingat betapa dulu sebuah tip ex yang berbentuk pena kurus dan mungil (bukan yang bentuknya seperti di foto), selalu ada di kotak pensil saya.
bahkan sampai kuliah sekalipun, di saat teman-teman saya ke kampus hanya membawa satu bolpen, yang kadang juga bukan miliknya, saya selalu membawa kotak pensil yang isinya pasti ada tip ex.
selalu.
saya cenderung panik, dan kemudian membeli yang baru kalau tip ex saya raib berpindah tangan.
masih ingat juga bagaimana benda mungil itu selalu berputar keliling kelas bagai pengawas ujian saat UTS atau UAS di kelas saya.
dan salah satu cara mendeteksi benda itu ada dimana saat saya membutuhkannya adalah dengan mencari bunyi "klotek klotek" saat akan digunakan.
sampai..
seingat saya sampai tingkat akhir saya kuliah.
saya tidak ingat kronologis kejadian saat ia menghilang, yang saya ingat adalah saat dimana saya tidak menemukannya lagi di dalam kotak pensil saya.
saya sempat mencarinya ke penjuru tas, bahkan sampai penjuru tas-tas yang lain.
tetap tidak ketemu.
dan menimbang bahwa saya sudah tidak ada kelas di tahun itu, tinggal mengerjakan karya tulis, maka saya tidak lagi membelinya.
dan saya berusaha bisa hidup tanpanya.
pertama-tama agak sulit. Saya masih sering mencarinya, dan kesal kalau ada coretan-coretan di catatan, berharap ia masih ada menemani dengan setia.
tapi ya itu, saya harus menjalani proses untuk membiasakan diri tanpanya.

dan entah sejak kapan saya pun mulai terbiasa hidup menulis tanpanya.
menerima coretan tanpa berandai-andai ia masih menghuni kotak pensil saya.
saya telah melalui proses penerimaan.

sampai hari ini,
beberapa jam yang lalu,
selesai saya masuk kelas bahasa, saya menyalin ulang catatan saya.
dan saya salah halaman.
menjengkelkan, karena catatan yang sudah saya usahakan sedemikian rapih, loncat halaman karena kertasnya menempel.
saya kembali terkenang pada si tip ex kurus mungil terakhir yang saya punya.
dan kembali berandai-andai ia ada di kotak pensil saya.

sambil ambil jarak sejenak dari catatan karena kesal,
saya lalu bermain-main ke meja sebelah, meja mba eno.

dan saya menemukannya!
sebuah tip ex!
ya Tuhan, walau bentuknya tidak sama dengan tip ex favorit saya yang dulu, tapi rasanya senang!
saya meminjamnya dan memperbaiki catatan saya.
ho ho!

ternyata saya masih seorang penggemar tip ex.

walau sudah melalui proses tidak terima atas kehilangan,
proses penerimaan,
sampai bisa hidup tanpanya,
ternyata kadang saya masih mencari, dan senang rasanya saat menemukan sebuah, tepat disaat saya membutuhkannya.

seperti saat ini.
:]

saya jadi berpikir,
kalau cinta adalah sebuah proses,
mungkin saya mencintai tip ex.

hmm..
hanya sebuah pemikiran yang menganggur dan melantur.

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...