Showing posts with label JurnalPenelitian Skripsi. Show all posts
Showing posts with label JurnalPenelitian Skripsi. Show all posts
Tuesday, March 31, 2009
Monday, March 23, 2009
hm..
officially back.
lazy monday.
messy room.
adapt and reset.
searching signal.
low bat.
low fat milk.
cranky, cranky, cranky.
say the magic spell, missy:
"googly googly googly, go away!"
Tuesday, March 17, 2009
Neon*
menjelang kepulangan tanggal 19 maret.
14 maret, Pecatu, Selatan Bali
bersama Tina ke pantai dreamland, Ulu Watu, dan padang-padang di malam hari. bermalam di rumah Tina.
15 maret, Singaraja, Utara Bali
diantar pulang ke kosan sama Tina paginya.
Rima sudah menanti.
saya akan ikut Rima pulang ke rumahnya di pedesaan balik bukit di Munduk, Singaraja. pedesaan balik bukit, hmmm, can u imagine that :D
perjalanan dengan motor yang kami lalui tidak mudah,

cuaca panas menyengat di Denpasar, lanjut terus sampai daerah perbukitan yang naik turun, angin, udara mulai sejuk, dan belokan-belokan tajam, naik maupun turun. tapi sebanding, karena pemandangan yang kami lalui bagus sekaliii. melewati gunung Batukau dan dua danau. sempat berenti beli stroberi dan berenti lagi di danau tamblingan. makan stroberi.
berangkat dari Denpasar jam 1 lewat, sampai rumah Rima jam 4 sore kurang.
16 maret, Singaraja, seharian menjelajah kesana dan kemari :D
ada banyak foto tapi agak lama di upload disini, menyusul saja ya :]
berikut sedikit teaser, citra yang sempat saya tangkap tanggal 16 sore :]
kembali bermalam terakhir di Munduk, Singaraja.
keesokannya, pagi sekali saya akan kembali meluncur ke Denpasar naik travel, sendiri, karena Rima akan menghabiskan liburan 2 minggu nya disana bersama keluarganya.
17 maret, Singapadu
jam setengah 5 pagi saya bangun dan diantar ke meeting point dengan travel yang akan meluncurkan saya ke Denpasar.
sedih sekali, berpisah dengan Rima. juga dengan bapak dan ibunya, Koming keponakannya, dan pekak dan dadong (kakek dan nenek).
Rima adalah teman terbaik saya selama di Denpasar sini, hix.
sore ini,
saya menungu Ni Luh De, untuk menjemput saya di kos lalu menginap di rumahnya di Singapadu. besok saya diajak melihat upacara Galungan di Pura di daerahnya :]
selamat Galungan, teman-teman yang merayakan.
*Neon, a song by John Mayer, Room for Square album.
14 maret, Pecatu, Selatan Bali
bersama Tina ke pantai dreamland, Ulu Watu, dan padang-padang di malam hari. bermalam di rumah Tina.
15 maret, Singaraja, Utara Bali
diantar pulang ke kosan sama Tina paginya.
Rima sudah menanti.
saya akan ikut Rima pulang ke rumahnya di pedesaan balik bukit di Munduk, Singaraja. pedesaan balik bukit, hmmm, can u imagine that :D
perjalanan dengan motor yang kami lalui tidak mudah,
cuaca panas menyengat di Denpasar, lanjut terus sampai daerah perbukitan yang naik turun, angin, udara mulai sejuk, dan belokan-belokan tajam, naik maupun turun. tapi sebanding, karena pemandangan yang kami lalui bagus sekaliii. melewati gunung Batukau dan dua danau. sempat berenti beli stroberi dan berenti lagi di danau tamblingan. makan stroberi.
berangkat dari Denpasar jam 1 lewat, sampai rumah Rima jam 4 sore kurang.
16 maret, Singaraja, seharian menjelajah kesana dan kemari :D
ada banyak foto tapi agak lama di upload disini, menyusul saja ya :]
berikut sedikit teaser, citra yang sempat saya tangkap tanggal 16 sore :]
kembali bermalam terakhir di Munduk, Singaraja.
keesokannya, pagi sekali saya akan kembali meluncur ke Denpasar naik travel, sendiri, karena Rima akan menghabiskan liburan 2 minggu nya disana bersama keluarganya.
17 maret, Singapadu
jam setengah 5 pagi saya bangun dan diantar ke meeting point dengan travel yang akan meluncurkan saya ke Denpasar.
sedih sekali, berpisah dengan Rima. juga dengan bapak dan ibunya, Koming keponakannya, dan pekak dan dadong (kakek dan nenek).
Rima adalah teman terbaik saya selama di Denpasar sini, hix.
sore ini,
saya menungu Ni Luh De, untuk menjemput saya di kos lalu menginap di rumahnya di Singapadu. besok saya diajak melihat upacara Galungan di Pura di daerahnya :]
selamat Galungan, teman-teman yang merayakan.
*Neon, a song by John Mayer, Room for Square album.
saya susu full cream :]
tanggal 14 maret, 3 hari yang lalu, saya ke pecatu.
diajak Tina, teman saya yang sering menari di ULU WATU untuk turis disana.
ULU WATU itu salah satu tujuan wisata juga yang terkenal karena disana, di Pura Ulu Watu itu, monyet nya banyak sekali dan dipelihara.
ini semacam sanctuary mereka.
terus, di tebing gitu.
lautnya ada di bawah.
berdebur-debur.
menjelang sunset, diadakan dramatari Ramayana singkat.
ini kali kedua saya ke ulu watu dan menonton sendratari Ramayana singkat nya.
ingatan saya jadi kembali lagi semua dalam 1 detik,
pertama kali dulu kemari dan menonton sendratari ini taun 2005,
pun perasaan saya sepulang menonton sendratari disini 4 taun yang lalu itu.
waktu itu saya bersama keluarga rame-rame: sepupu-sepupu, oom, tante, ibu juga, road trip. menyetir dari jakarta, menyusuri jawa. sempet berenti di Dieng, melihat sunrise di Bromo, sampai menyeberang ke Bali, dan berwisata di mari. salah satu destination kita waktu itu Pura Ulu Watu ini.
sesi hari itu berakhir dengan selesainya sendratari ramayana yang meninggalkan perasaan campur-campur di hati saya.
saya kagum.
kagum sekali menyaksikan tari kecaknya yang kompak, magis, menghipnotis.
hanoman nya yang atraktif.
melihat pemangku yang seringkali muncul di tengah-tengah pertunjukkan untuk "membersihkan" arena pertunjukkan dari bad spirit.
melihat sunset yang cuma beberapa menit itu prosesnya di balik siluet pura Ulu Watu.
melihat para penari itu dengan luwesnya melenggang.
melihat permainan karakter mereka yang terwujud dari gestur tarian mereka.
sesaat setelah menonton sendratari itu saya cuma diam.
berpikir, "hebat sekali ya penari-penari itu, hebat sekali orang-orang yang dengan segenap jiwa mencintai kebudayaan mereka, bisa ga ya, kenal sama penari-penari ini, melihat wajah di balik topeng Hanoman yang atraktif lucu sekali itu?"
saya menyesal tidak menuruti perintah ibu dan melanjutkan pelajaran tari bali saya sewaktu kecil.
saya tergugah karena merasa, "kebudayaan Indonesia itu indah sekali ya.."
saya tergerak.
terus saya cuma bisa melihat Arum, salah seorang sepupu saya sambil berkata, "bagus banget ya? keren banget ya? coba ya dulu kita ga berenti latian nari..."
semua campur aduk.
ya kagum.
ya senang.
ya merinding.
ya menyesal.
ya sedih.
ya, ingiiin sekali bisa berlaga seperti itu.
ya merasa kecil, speechles.
lalu saya membatin, dengan hati menggelegak dan semangat "ah, saya mawu belajar nari lagi! suatu saat nanti, saya mawu kesini lagi. sendiri."
taun demi taun lewat.
saya suka ini, saya suka itu, saya mawu ini, saya mawu itu, saya ngerjain ini, saya ngerjain itu.
saya lupa.
tapi ga seratus persen lupa ternyata,
karena walau fokus saya teralihkan dan "mampir-mampir", ternyata deep down inside saya benar-benar jatuh cinta sama ini, jalan saya pun masih mengarah ke sana walau belok-belok.
dan tiga hari yang lalu,
persis seperti 4 taun yang lalu itu,
saya ada di Pura Ulu Watu,
dan menonton sendratari Ramayana.
tapi kali ini,
saya sendiri :]
dan sudah punya perspektif baru waktu menonton sendratari ini :]
dan saya bisa berbincang banyak dengan para penari kecak maupun hanoman maupun tokoh sendratarinya :]
ya walaupun saya blum bisa menari disana.
entah bisa atau tidak, tapi ini cukup, rasanya saat ini. :D
saya jadi merasa sangat positif.
sangat bersyukur.
sisa malam itu saya senyum terus. tulus dari hati.
saya sayang semuanya.
saya, susu full cream* :D
*menyambung dari salah satu tulisan saya tentang "menjadi Low Fat Milk"
diajak Tina, teman saya yang sering menari di ULU WATU untuk turis disana.
ULU WATU itu salah satu tujuan wisata juga yang terkenal karena disana, di Pura Ulu Watu itu, monyet nya banyak sekali dan dipelihara.
ini semacam sanctuary mereka.
terus, di tebing gitu.
lautnya ada di bawah.
berdebur-debur.
menjelang sunset, diadakan dramatari Ramayana singkat.
ini kali kedua saya ke ulu watu dan menonton sendratari Ramayana singkat nya.
ingatan saya jadi kembali lagi semua dalam 1 detik,
pertama kali dulu kemari dan menonton sendratari ini taun 2005,
pun perasaan saya sepulang menonton sendratari disini 4 taun yang lalu itu.
waktu itu saya bersama keluarga rame-rame: sepupu-sepupu, oom, tante, ibu juga, road trip. menyetir dari jakarta, menyusuri jawa. sempet berenti di Dieng, melihat sunrise di Bromo, sampai menyeberang ke Bali, dan berwisata di mari. salah satu destination kita waktu itu Pura Ulu Watu ini.
sesi hari itu berakhir dengan selesainya sendratari ramayana yang meninggalkan perasaan campur-campur di hati saya.
saya kagum.
kagum sekali menyaksikan tari kecaknya yang kompak, magis, menghipnotis.
hanoman nya yang atraktif.
melihat pemangku yang seringkali muncul di tengah-tengah pertunjukkan untuk "membersihkan" arena pertunjukkan dari bad spirit.
melihat sunset yang cuma beberapa menit itu prosesnya di balik siluet pura Ulu Watu.
melihat para penari itu dengan luwesnya melenggang.
melihat permainan karakter mereka yang terwujud dari gestur tarian mereka.
sesaat setelah menonton sendratari itu saya cuma diam.
berpikir, "hebat sekali ya penari-penari itu, hebat sekali orang-orang yang dengan segenap jiwa mencintai kebudayaan mereka, bisa ga ya, kenal sama penari-penari ini, melihat wajah di balik topeng Hanoman yang atraktif lucu sekali itu?"
saya menyesal tidak menuruti perintah ibu dan melanjutkan pelajaran tari bali saya sewaktu kecil.
saya tergugah karena merasa, "kebudayaan Indonesia itu indah sekali ya.."
saya tergerak.
terus saya cuma bisa melihat Arum, salah seorang sepupu saya sambil berkata, "bagus banget ya? keren banget ya? coba ya dulu kita ga berenti latian nari..."
semua campur aduk.
ya kagum.
ya senang.
ya merinding.
ya menyesal.
ya sedih.
ya, ingiiin sekali bisa berlaga seperti itu.
ya merasa kecil, speechles.
lalu saya membatin, dengan hati menggelegak dan semangat "ah, saya mawu belajar nari lagi! suatu saat nanti, saya mawu kesini lagi. sendiri."
taun demi taun lewat.
saya suka ini, saya suka itu, saya mawu ini, saya mawu itu, saya ngerjain ini, saya ngerjain itu.
saya lupa.
tapi ga seratus persen lupa ternyata,
karena walau fokus saya teralihkan dan "mampir-mampir", ternyata deep down inside saya benar-benar jatuh cinta sama ini, jalan saya pun masih mengarah ke sana walau belok-belok.
dan tiga hari yang lalu,
persis seperti 4 taun yang lalu itu,
saya ada di Pura Ulu Watu,
dan menonton sendratari Ramayana.
tapi kali ini,
saya sendiri :]
dan sudah punya perspektif baru waktu menonton sendratari ini :]
dan saya bisa berbincang banyak dengan para penari kecak maupun hanoman maupun tokoh sendratarinya :]
ya walaupun saya blum bisa menari disana.
entah bisa atau tidak, tapi ini cukup, rasanya saat ini. :D
saya jadi merasa sangat positif.
sangat bersyukur.
sisa malam itu saya senyum terus. tulus dari hati.
saya sayang semuanya.
saya, susu full cream* :D
*menyambung dari salah satu tulisan saya tentang "menjadi Low Fat Milk"
baru, di Singaraja
BARU kali ini buat saya:
disuruh nyobain daging kebo.
KHAHAHAHAHAHAHAHHA.
daging KEBO?
mereka kan ga makan sapi ya, jadi menu sehari-hari itu babi, ayam, atau..KEBO alias kerbau.
blum pernah kepikiran sama saya makan daging kebo.
rasanya juga dari kecil blum pernah disuruh makan daging kebo deh sama ibu.
sebelum saya coba buat makan, sempet kebayang KEBO.
kebo.
kerbau.
hewan berkaki empat yang BESAR luar biasa. pernah liat kebo raksasa dulu di komplek Dago Asri, deket kosan di Bandung. GEDHE banget tu kebo sampe suka bikin saya kaget kalo kebetulan melewati doi yang lagi asik ngerumput. sekarang tempat dia merumput sudah jadi kosan, dekat tempat makan sate koboi situ tu, deket mini market GIANT.
jadi inget, kemana ya si kebo raksasa itu sekarang?
anyway,
kebo GEDE kedua yang saya liat itu di JATINANGOR.
dari depan kamar kosan temennya eji yang namanya Toni.
sama reaksi pertama saya juga kaget pas liat.
liat kebo ya, bukan liat toni.
nah, sebelum makan sempet ngebayangin dua kebo terdahulu yang sempet saya liat dan dahsyat besarnya. blum lagi kebayang kulitnya yang tebal coklat seperti kulit badak.
hmm..
bukan sesuatu yang sedap untuk dibayangkan bisa terasa enak.
tapi dimasak nya uda ga berupa daging gitu.
dibiki SATE LILIT nama masakannya.
dagingnya dicampur kelapa (lagi-lagi kelapa) parut, terus mungkin juga pake tepung roti.
dililit di tusuk sate yang pipih seperti stick es krim.
terus di goreng.
bukan di bakar.
rasanya..
hmmm..
(makan sambil berusaha mengenyahkan bayang-bayang KEBO di balon-balon pikiran saya)
ya gitulah..
enak ga ya?
gatau deh, kelapa nya cukup berasa.. *ga berenti saya membatin "kelapa..kelapa..kelapa.."
(ahh, saya akan gagal direkrut JELAJAH atau JEJAKPETUALANG atau JALANJALAN ni kalo gini mentalnya)
gimana ya..
enak si,
tapi saya gamau makan lagi, cukup satu ajah.
khahahahahahahahahha.
OIA, waktu di pecatu, sempat bertandang ke pacarnya Tina, saya disuruh makan belalang goreng.
BELALANG GORENG.
khahahahahahahahaha.
banyak lumayan ada semangkuk kecil.
secara visual si uda ga keliatan belalangnya.
terus Tina nyomot dan makan sambil bilang, "yang enak tu kepala nya, nih, mawu coba?"
saya menggenggam kepala belalang goreng yang sekarang warnanya coklat tua itu.
lalu ibu nya pacarnya Tina lewat seraya berkata, "paling kalo ga cocok kamu gatel-gatel aja sedikit, sebentar.."
GLEK
saya mengurungkan niat nyoba. T.T
*adieu, JEJAK PETUALANG. adieu, JELAJAH.
saya bukan perempuan tangguh mental, hix.
ibu saya masih lebih baja mentalnya karena beliau pernah cerita waktu kecil (sebelum dia tau itu haram) suka makan darah ayam yang diolah, dimasak, direbus kalo ga salah. DIDEH namanya.
disuruh nyobain daging kebo.
KHAHAHAHAHAHAHAHHA.
daging KEBO?
mereka kan ga makan sapi ya, jadi menu sehari-hari itu babi, ayam, atau..KEBO alias kerbau.
blum pernah kepikiran sama saya makan daging kebo.
rasanya juga dari kecil blum pernah disuruh makan daging kebo deh sama ibu.
sebelum saya coba buat makan, sempet kebayang KEBO.
kebo.
kerbau.
hewan berkaki empat yang BESAR luar biasa. pernah liat kebo raksasa dulu di komplek Dago Asri, deket kosan di Bandung. GEDHE banget tu kebo sampe suka bikin saya kaget kalo kebetulan melewati doi yang lagi asik ngerumput. sekarang tempat dia merumput sudah jadi kosan, dekat tempat makan sate koboi situ tu, deket mini market GIANT.
jadi inget, kemana ya si kebo raksasa itu sekarang?
anyway,
kebo GEDE kedua yang saya liat itu di JATINANGOR.
dari depan kamar kosan temennya eji yang namanya Toni.
sama reaksi pertama saya juga kaget pas liat.
liat kebo ya, bukan liat toni.
nah, sebelum makan sempet ngebayangin dua kebo terdahulu yang sempet saya liat dan dahsyat besarnya. blum lagi kebayang kulitnya yang tebal coklat seperti kulit badak.
hmm..
bukan sesuatu yang sedap untuk dibayangkan bisa terasa enak.
tapi dimasak nya uda ga berupa daging gitu.
dibiki SATE LILIT nama masakannya.
dagingnya dicampur kelapa (lagi-lagi kelapa) parut, terus mungkin juga pake tepung roti.
dililit di tusuk sate yang pipih seperti stick es krim.
terus di goreng.
bukan di bakar.
rasanya..
hmmm..
(makan sambil berusaha mengenyahkan bayang-bayang KEBO di balon-balon pikiran saya)
ya gitulah..
enak ga ya?
gatau deh, kelapa nya cukup berasa.. *ga berenti saya membatin "kelapa..kelapa..kelapa.."
(ahh, saya akan gagal direkrut JELAJAH atau JEJAKPETUALANG atau JALANJALAN ni kalo gini mentalnya)
gimana ya..
enak si,
tapi saya gamau makan lagi, cukup satu ajah.
khahahahahahahahahha.
OIA, waktu di pecatu, sempat bertandang ke pacarnya Tina, saya disuruh makan belalang goreng.
BELALANG GORENG.
khahahahahahahahaha.
banyak lumayan ada semangkuk kecil.
secara visual si uda ga keliatan belalangnya.
terus Tina nyomot dan makan sambil bilang, "yang enak tu kepala nya, nih, mawu coba?"
saya menggenggam kepala belalang goreng yang sekarang warnanya coklat tua itu.
lalu ibu nya pacarnya Tina lewat seraya berkata, "paling kalo ga cocok kamu gatel-gatel aja sedikit, sebentar.."
GLEK
saya mengurungkan niat nyoba. T.T
*adieu, JEJAK PETUALANG. adieu, JELAJAH.
saya bukan perempuan tangguh mental, hix.
ibu saya masih lebih baja mentalnya karena beliau pernah cerita waktu kecil (sebelum dia tau itu haram) suka makan darah ayam yang diolah, dimasak, direbus kalo ga salah. DIDEH namanya.
ternyata (part two)
1. ada deng cirle K! khehe, lumayan banyak juga ternyata walau ga menjamur. ada satu juga di jalan utama dekat kosan, cuma kmaren sepedahan jarang lewat jalur jalan yang ini.
2. masakan sayur mentah disini variasinya jauh lebih banyak! BOSEN di Jawa masakan sayur mentah atau setengah matengnya mostly pake bumbu kacang. coba ya, pecel, ketoprak, gado-gado, apa lagi ya? seinget saya kacang semua.
kalo disini bumbunya pake kelapa kebanyakan.
sesuatu yang baru buat saya :D jadi senang!
ada yang namanya
Serombotan: ada kangkung, toge, daun-daunan (bayem kali ya?) terus pake kelapa parut sama bumbu apa lagi gatau, yang pasti ga ada bawangnya. rada pedes. ENAK! apalagi makannya pake nasi anget PLUS kerupuk. yum yummm :D
Gonde: semacam serombotan tapi bumbunya (teteup pake kelapa) agak berkuah. sama, enaknya dimakan pake nasi anget PLUS kerupuk! :]
Urap : ya kalo ini di jawa juga ada. apalagi yang namanya "botok mlanding"! hmmm hmmm hmmm yummy yummy yummy. tapi kalo di Bali namanya urap aja dan lebih enak botok mlanding, still :]
3. menurut hasil ngobrol ngobrol sama ibu dan tantenya Tina, teman saya yang rumahnya di Pecatu, masakan khas Bali itu yang SEGALA BUMBU. jadi hampir semua bumbu dipake kalo di masakan bali. sempet nyobain SAYUR BELIGO juga di rumahnya Tina. sayurnya pake buah BELIGO. semacam labu atau terong atau kentang, tapi bukan ketiganya. buah Beligo namanya. terus sayurnya dimasak bening dicampur kacang panjang, dan kuahnya ada rasa rasa jahe nya. ENAK! :D segerr.
nah tapi menurut ibunya Rima di Bali Utara, di Munduk, Singaraja. masakan Bali itu khas nya pake TERASI. sempet makan rujak juga disana terus bumbunya dikasi terasi juga. dikiit. ENAK :D
4. Bali, yang paling bagus itu langitnya...
langit nya bali ga bisa boong. bagus banget. cerah, jarang berawan.
jadi kalo siang itu BIRUUU..dan kalo sore, kalo lagi beruntung bisa melihat semburat-semburat oranye :] nice!
2. masakan sayur mentah disini variasinya jauh lebih banyak! BOSEN di Jawa masakan sayur mentah atau setengah matengnya mostly pake bumbu kacang. coba ya, pecel, ketoprak, gado-gado, apa lagi ya? seinget saya kacang semua.
kalo disini bumbunya pake kelapa kebanyakan.
sesuatu yang baru buat saya :D jadi senang!
ada yang namanya
Serombotan: ada kangkung, toge, daun-daunan (bayem kali ya?) terus pake kelapa parut sama bumbu apa lagi gatau, yang pasti ga ada bawangnya. rada pedes. ENAK! apalagi makannya pake nasi anget PLUS kerupuk. yum yummm :D
Gonde: semacam serombotan tapi bumbunya (teteup pake kelapa) agak berkuah. sama, enaknya dimakan pake nasi anget PLUS kerupuk! :]
Urap : ya kalo ini di jawa juga ada. apalagi yang namanya "botok mlanding"! hmmm hmmm hmmm yummy yummy yummy. tapi kalo di Bali namanya urap aja dan lebih enak botok mlanding, still :]
3. menurut hasil ngobrol ngobrol sama ibu dan tantenya Tina, teman saya yang rumahnya di Pecatu, masakan khas Bali itu yang SEGALA BUMBU. jadi hampir semua bumbu dipake kalo di masakan bali. sempet nyobain SAYUR BELIGO juga di rumahnya Tina. sayurnya pake buah BELIGO. semacam labu atau terong atau kentang, tapi bukan ketiganya. buah Beligo namanya. terus sayurnya dimasak bening dicampur kacang panjang, dan kuahnya ada rasa rasa jahe nya. ENAK! :D segerr.
nah tapi menurut ibunya Rima di Bali Utara, di Munduk, Singaraja. masakan Bali itu khas nya pake TERASI. sempet makan rujak juga disana terus bumbunya dikasi terasi juga. dikiit. ENAK :D
4. Bali, yang paling bagus itu langitnya...
langit nya bali ga bisa boong. bagus banget. cerah, jarang berawan.
jadi kalo siang itu BIRUUU..dan kalo sore, kalo lagi beruntung bisa melihat semburat-semburat oranye :] nice!
Tuesday, March 10, 2009
BEDEBAH
semalam saya ke banjar lebah.
banjar adalah pusat tempat kegiatan sebuah desa.
desa disini maksudnya kalo di jawa rt rw gitu.
saya kagum, disini, kegiatan gotong royong dan semangat kebersamaan di rukun warga dan rukun tetangganya masih jalan banget.
karang taruna pemuda pun benar-benar jalan.
dan anak muda nya pun berpartisipasi bukan basabasi.
bukan cuma anak muda yang kurang kerjaan yang ikut.
praktis semua anak muda turut peran serta menyumbang karya secara sukarela.
ngayah namanya.
sampai jam 11 malam semuanya berjalan lancar.
prediksi saya harus pulang kosan jalan kaki ternyata salah, karena ada yang mengantar.
amin. selamat dari jalan kaki malam-malam.
sesampainya di kosan yang satu komplek isinya cuma saya seorang itu, saya langsung membuka kamar siap merebahkan diri di kasur.
sampai...
saya melihat sesuatu.
awalnya saya ga berani langsung nengok.
tapi jantung saya benar-benar berdetak kencang sesaat.
saya rasa aliran darah saya juga langsung berdesir melesat sampai tengkuk.
praktis saya bergidik.
pelan-pelan saya intip dengan sudut mata.
mulai tercium bau yang PALING saya benci tapi sudah familiar di hidung saya.
indera penciuman itu langsung memberi perintah ke otak untuk memerintahkan anggota tubuh gerak saya bergerak menjauhi titik sumber malapetaka.
sambil mundur seribu langkah saya langsung menoleh.
dia disana...
nangkring anteng dengan anggunnya.
saya ga bisa lupa.
warnanya yang mengkilap, COKELAT
SUNGUTnya yang panjang bergerak-gerak
SAYAPnya yang kadang bergerak bak paru-paru, kembang kempis
KAKI-KAKI nya yang kurus amit-amit tapi mampu bergerak super cepat dengan kecepatan cahaya,
dan BAU nya yang dahsyat.
langsung terbayang...
anatomi perutnya yang bergaris-garis,
isinya yang berwarna putih yang acapkali lumer saat ia di INJAK,
dan lagi-lagi, BAU nya.
ASTAGHFIRUAALLAHALADZIM!
lutut saya lemas!
keringat dingin saya menetas di pelipis.
kenapa harus sekarang dia mejeng? ga bisa nunggu besok waktu teman satu kosan pulang apah?
refleks saya ke kamar emban kosan, saya ketuk pintunya, saya panggil namanya dengan suara bergetar,
"mbok kolo! mbok kolo! tolong mbok! ada kecoak mbok!"
sia-sia.
saya lupa sesaat, dia bisu dan tuli.
saya putar otak!
jam digital memberi display angka 11 (kurang lebih, saya lupa detail) Waktu Indonesia Bagian Tengah.
saya telfon ibu kosan. *ibu kosan ini masih muda, jadi jangan bayangkan saya membangunkan nenek nenek seperti Ibu Warno selarut itu* *ibu Warno adalah..ahh ya itu lah, yang jelas dia bukan cat woman, perempuan pujaan saya*
sementara itu pintu dan jendela kamar saya buka lebar, dan saya menanti di luar.
percuma dia sudah tidur, telfon sempat diangkat tetapi saran terbaik dengan suara bantal dari dia adalah,
"ambil sapu ijuk tu dah, kan banyak tu disana, terus pukul aja sampe mati"
secara TEORI saya KHATAM!
percayalah praktek tidak sama dengan teori.
saya mengucap terimakasih dan maaf dengan sopan.
"berpikir mita! berpikir mita!"
saya mendorong diri saya memutar otak tanpa melepaskan fokus saya kemana MAKHLUK ITU bergerak.
saya melihatnya.
berjalan cepat ke arah pintu kamar mandi, naik perlahan sambil sesekali berhenti.
berhenti seakan sambil melirik saya.
BEDEBAH!
setelah diam sejenak kembali ia melirik saya dan naik lagi sampai jauh melibihi tinggi kepala saya.
pupus harapan memberanikan diri menggebuk dengan sapu yang sudah saya genggam!
DIA BISA TERBANG!
OH TUHAAAAAAANNN!
saya telfon seorang teman yang sering main ke kosan ini.
saya tau rumahnya di Ubud, 45 menit menyetir motor dengan kecepatan normal dari Denpasar jaraknya.
saya cuma berharap secara ajaib dia sedang berada di Denpasar.
selarut ini?
ya, siapa tau si! coba aja!
percuma.
dia sedang nonton voli di daerah rumahnya.
dia cuma bisa ketawa dan menginjeksikan logika-logika yang GA SATUPUN mempan.
saya tetap lemas.
semakin panik.
airmata saya mulai meleleh.
saya telfon teman kosan yang lain.
entah apa yang saya harapkan, rumahnya di Singaraja, lebih parah jauhnya, 3 jam perjalanan motor kecepatan normal dari Denpasar.
nada sibuk.
sering begini, mungkin dia kehilangan sinyal di Singaraja sana.
saya coba lebih dari enam kali.
beda-beda alasannya ga bisa connect,
tapi tetap sama intinya,
tidak bisa dihubungi.
saya lemas gatau harus apa.
ada teman satu lagi.
kosan nya dekat.
10-15 menit jarak mobil kecepatan normal.
tapi saya tau dia sedang mengerjakan tugas.
deadline.
tapi cuma DIA satu-satunya harapan saya.
choki namanya.
saya memutuskan untuk menelfon.
benar dia sedang mengejar deadline jam 12 malam.
solusi terbaik dari diskusi panjang yang kebanyakan adalah suara saya menenangkan diri saya sendiri dan permintaan maaf berulang-ulang adalah:
1. panggil taksi, ke kosan dia, selesai dia bertugas dia antar saya pulang.
2. menunggu di luar sampai dia selesai bertugas dan menghampiri kosan saya.
saya pilih option 2!
saya GA MAU kehilangan arah pergerakan makhluk itu.
saya GA MAU pergi dan pulang mendapati dia sudah tidak disitu tapi di tengah malam saya menyadari kehadirannya di belakang leher saya di kasur.
amit amit jabang baby!
telfon ditutup supaya dia bisa cepat menyelesaikan tugasnya.
ya, saya tau ini konyol.
saya tau saya merepotkan.
tapi saya benar-benar sendirian dan tidak tau bisa minta tolong siapa lagi.
hening sesaat di luar.
logika saya kembali perlahan.
saya beranikan diri, ambil sapu ijuk.
"JANGAN MAU KALAH! JANGAN NGEREPOTIN ORANG!" saya bertekad dalam hati.
langkah demi langkah saya ambil.
kerudungan kain saya mendekat.
kenapa kerudungan karena saya ga mau IN CASE pukulan saya meleset dia menghindar ke arah selatan, terbang ke arah timur, hinggap dan NYANGKUT di rambut saya!
hiiiii.
dan tibalah kejadian itu,
saat saya sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul...
dari bawah pintu kamar mandi,
KELUAR SATU LAGI!
MAKASSSSSSIIIHHHH ya boooooooooo.
refleks saya LARRRII ke belakang.
si nomer dua berjalan cepat dan berenti tiba-tiba menuju arah saya.
saya sudah tidakbisa membendung lebih banyak air mata.
jantung saya memompa darah luar biasa cepatnya,
saya capek,
saya lemas,
saya takut.
sial.
kembali si nomer dua beraksi dan merayap dengan cepatnya ke arah saya.
kembali dengan gaya mundur saya keluar kamar sambil menangis.
terus, terus, terus,
sampai saya menabrak pohon di belakang saya.
saya NYERAH!
si nomer dua keluar kamar saya,
sejenak memperhatikan saya,
dan merayap ke kamar sebelah yang tidak berpenghuni dan masuk lewat bawah pintunya.
saya capek dan ngantuk sebenernya.
saya telfon choki, saya bilang akan saya tunggu dia.
dan saya menunggu di luar.
malam-malam.
sendirian.
gelap.
sepi.
saya tidak takut, fokus saya ada di depan pintu kamar mandi.
sekitar jam 2 dini hari, kalo saya ga salah liat, udah ga bisa konsen, choki yang selalu mengupdate kabar terbaru saya menyatakan posisinya yang sudah meluncur ke arah kosan.
tidak lama dia datang,
melakukan observasi sejenak.
dilanjutkan dengan serah terima sapu ijuk dari saya yang ia tolak kemudian seraya berkata,
"oh, gausah, ini sih pake tangan aja.."
UDA MAU GHHHILA DIA PAKE TANGAN!
dan dengan mudah nya ia menelungkupkan tangannya di atas si nomer satu.
"hap"
diambil, dan DITERBANGKAN keluar.
keputusan yang sangat disayangkan karena seharusnya si nomer satu DI INJAK.
dia masuk kamar mandi dengan maksud mencuci tangan.
dan mendapati si nomer TIGA di lubang saluran pembuangan.
telentang.
sudah mati.
but still, there are THREE of them!
in ONE NIGHT!
one HILARIOUS night!
tidak lama setelah saya menenangkan diri, choki pamit pulang.
saya tidur jam 4.
banjar adalah pusat tempat kegiatan sebuah desa.
desa disini maksudnya kalo di jawa rt rw gitu.
saya kagum, disini, kegiatan gotong royong dan semangat kebersamaan di rukun warga dan rukun tetangganya masih jalan banget.
karang taruna pemuda pun benar-benar jalan.
dan anak muda nya pun berpartisipasi bukan basabasi.
bukan cuma anak muda yang kurang kerjaan yang ikut.
praktis semua anak muda turut peran serta menyumbang karya secara sukarela.
ngayah namanya.
sampai jam 11 malam semuanya berjalan lancar.
prediksi saya harus pulang kosan jalan kaki ternyata salah, karena ada yang mengantar.
amin. selamat dari jalan kaki malam-malam.
sesampainya di kosan yang satu komplek isinya cuma saya seorang itu, saya langsung membuka kamar siap merebahkan diri di kasur.
sampai...
saya melihat sesuatu.
awalnya saya ga berani langsung nengok.
tapi jantung saya benar-benar berdetak kencang sesaat.
saya rasa aliran darah saya juga langsung berdesir melesat sampai tengkuk.
praktis saya bergidik.
pelan-pelan saya intip dengan sudut mata.
mulai tercium bau yang PALING saya benci tapi sudah familiar di hidung saya.
indera penciuman itu langsung memberi perintah ke otak untuk memerintahkan anggota tubuh gerak saya bergerak menjauhi titik sumber malapetaka.
sambil mundur seribu langkah saya langsung menoleh.
dia disana...
nangkring anteng dengan anggunnya.
saya ga bisa lupa.
warnanya yang mengkilap, COKELAT
SUNGUTnya yang panjang bergerak-gerak
SAYAPnya yang kadang bergerak bak paru-paru, kembang kempis
KAKI-KAKI nya yang kurus amit-amit tapi mampu bergerak super cepat dengan kecepatan cahaya,
dan BAU nya yang dahsyat.
langsung terbayang...
anatomi perutnya yang bergaris-garis,
isinya yang berwarna putih yang acapkali lumer saat ia di INJAK,
dan lagi-lagi, BAU nya.
ASTAGHFIRUAALLAHALADZIM!
lutut saya lemas!
keringat dingin saya menetas di pelipis.
kenapa harus sekarang dia mejeng? ga bisa nunggu besok waktu teman satu kosan pulang apah?
refleks saya ke kamar emban kosan, saya ketuk pintunya, saya panggil namanya dengan suara bergetar,
"mbok kolo! mbok kolo! tolong mbok! ada kecoak mbok!"
sia-sia.
saya lupa sesaat, dia bisu dan tuli.
saya putar otak!
jam digital memberi display angka 11 (kurang lebih, saya lupa detail) Waktu Indonesia Bagian Tengah.
saya telfon ibu kosan. *ibu kosan ini masih muda, jadi jangan bayangkan saya membangunkan nenek nenek seperti Ibu Warno selarut itu* *ibu Warno adalah..ahh ya itu lah, yang jelas dia bukan cat woman, perempuan pujaan saya*
sementara itu pintu dan jendela kamar saya buka lebar, dan saya menanti di luar.
percuma dia sudah tidur, telfon sempat diangkat tetapi saran terbaik dengan suara bantal dari dia adalah,
"ambil sapu ijuk tu dah, kan banyak tu disana, terus pukul aja sampe mati"
secara TEORI saya KHATAM!
percayalah praktek tidak sama dengan teori.
saya mengucap terimakasih dan maaf dengan sopan.
"berpikir mita! berpikir mita!"
saya mendorong diri saya memutar otak tanpa melepaskan fokus saya kemana MAKHLUK ITU bergerak.
saya melihatnya.
berjalan cepat ke arah pintu kamar mandi, naik perlahan sambil sesekali berhenti.
berhenti seakan sambil melirik saya.
BEDEBAH!
setelah diam sejenak kembali ia melirik saya dan naik lagi sampai jauh melibihi tinggi kepala saya.
pupus harapan memberanikan diri menggebuk dengan sapu yang sudah saya genggam!
DIA BISA TERBANG!
OH TUHAAAAAAANNN!
saya telfon seorang teman yang sering main ke kosan ini.
saya tau rumahnya di Ubud, 45 menit menyetir motor dengan kecepatan normal dari Denpasar jaraknya.
saya cuma berharap secara ajaib dia sedang berada di Denpasar.
selarut ini?
ya, siapa tau si! coba aja!
percuma.
dia sedang nonton voli di daerah rumahnya.
dia cuma bisa ketawa dan menginjeksikan logika-logika yang GA SATUPUN mempan.
saya tetap lemas.
semakin panik.
airmata saya mulai meleleh.
saya telfon teman kosan yang lain.
entah apa yang saya harapkan, rumahnya di Singaraja, lebih parah jauhnya, 3 jam perjalanan motor kecepatan normal dari Denpasar.
nada sibuk.
sering begini, mungkin dia kehilangan sinyal di Singaraja sana.
saya coba lebih dari enam kali.
beda-beda alasannya ga bisa connect,
tapi tetap sama intinya,
tidak bisa dihubungi.
saya lemas gatau harus apa.
ada teman satu lagi.
kosan nya dekat.
10-15 menit jarak mobil kecepatan normal.
tapi saya tau dia sedang mengerjakan tugas.
deadline.
tapi cuma DIA satu-satunya harapan saya.
choki namanya.
saya memutuskan untuk menelfon.
benar dia sedang mengejar deadline jam 12 malam.
solusi terbaik dari diskusi panjang yang kebanyakan adalah suara saya menenangkan diri saya sendiri dan permintaan maaf berulang-ulang adalah:
1. panggil taksi, ke kosan dia, selesai dia bertugas dia antar saya pulang.
2. menunggu di luar sampai dia selesai bertugas dan menghampiri kosan saya.
saya pilih option 2!
saya GA MAU kehilangan arah pergerakan makhluk itu.
saya GA MAU pergi dan pulang mendapati dia sudah tidak disitu tapi di tengah malam saya menyadari kehadirannya di belakang leher saya di kasur.
amit amit jabang baby!
telfon ditutup supaya dia bisa cepat menyelesaikan tugasnya.
ya, saya tau ini konyol.
saya tau saya merepotkan.
tapi saya benar-benar sendirian dan tidak tau bisa minta tolong siapa lagi.
hening sesaat di luar.
logika saya kembali perlahan.
saya beranikan diri, ambil sapu ijuk.
"JANGAN MAU KALAH! JANGAN NGEREPOTIN ORANG!" saya bertekad dalam hati.
langkah demi langkah saya ambil.
kerudungan kain saya mendekat.
kenapa kerudungan karena saya ga mau IN CASE pukulan saya meleset dia menghindar ke arah selatan, terbang ke arah timur, hinggap dan NYANGKUT di rambut saya!
hiiiii.
dan tibalah kejadian itu,
saat saya sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul...
dari bawah pintu kamar mandi,
KELUAR SATU LAGI!
MAKASSSSSSIIIHHHH ya boooooooooo.
refleks saya LARRRII ke belakang.
si nomer dua berjalan cepat dan berenti tiba-tiba menuju arah saya.
saya sudah tidakbisa membendung lebih banyak air mata.
jantung saya memompa darah luar biasa cepatnya,
saya capek,
saya lemas,
saya takut.
sial.
kembali si nomer dua beraksi dan merayap dengan cepatnya ke arah saya.
kembali dengan gaya mundur saya keluar kamar sambil menangis.
terus, terus, terus,
sampai saya menabrak pohon di belakang saya.
saya NYERAH!
si nomer dua keluar kamar saya,
sejenak memperhatikan saya,
dan merayap ke kamar sebelah yang tidak berpenghuni dan masuk lewat bawah pintunya.
saya capek dan ngantuk sebenernya.
saya telfon choki, saya bilang akan saya tunggu dia.
dan saya menunggu di luar.
malam-malam.
sendirian.
gelap.
sepi.
saya tidak takut, fokus saya ada di depan pintu kamar mandi.
sekitar jam 2 dini hari, kalo saya ga salah liat, udah ga bisa konsen, choki yang selalu mengupdate kabar terbaru saya menyatakan posisinya yang sudah meluncur ke arah kosan.
tidak lama dia datang,
melakukan observasi sejenak.
dilanjutkan dengan serah terima sapu ijuk dari saya yang ia tolak kemudian seraya berkata,
"oh, gausah, ini sih pake tangan aja.."
UDA MAU GHHHILA DIA PAKE TANGAN!
dan dengan mudah nya ia menelungkupkan tangannya di atas si nomer satu.
"hap"
diambil, dan DITERBANGKAN keluar.
keputusan yang sangat disayangkan karena seharusnya si nomer satu DI INJAK.
dia masuk kamar mandi dengan maksud mencuci tangan.
dan mendapati si nomer TIGA di lubang saluran pembuangan.
telentang.
sudah mati.
but still, there are THREE of them!
in ONE NIGHT!
one HILARIOUS night!
tidak lama setelah saya menenangkan diri, choki pamit pulang.
saya tidur jam 4.
Sunday, March 8, 2009
Doea Radja Ketjil
Alkisah di sebuah kerajaan tinggallah dua orang raja kecil.
Raja pertama,
Darah biru, sebutan rakyat yang tinggal nun jauh disana.
Tubuhnya tegap tinggi, gagah dibalut busana.
geligi nya berderet, rapih tertata.
Batang hidungnya tingi, dengan derajat kemiringan sempurna.
Sayu dan teduh ia punya mata.
Berombak melengkung bibirnya.
Dibingkai rahang persegi yang kokoh, rambut ikal, dan kulit yang cerah ditimpa cahaya.
Ningrat betul tindak-tanduknya mencerminkan ningrat darahnya.
Tutur katanya halus diplomatis, ramah tapi hati-hati waspada.
Akal budinya terpelajar serta luas wawasannya.
Muda usia, tetapi sudah banyak menetas karyanya.
Piawai menari dan tidak segan menurunkan kepiawaiannya kepada generasi yang lebih muda.
Ia tinggal di dalam kepungan tembok-tembok besar dan megah.
Selalu dikawal dua orang punggawa yang serba inggih.
Semua kegiatannya dipantau sungguh.
Kebutuhannya semua serba penuh.
Keinginannya adalah perintah.
Walau kadang, kehendaknya tidak selalu terwujud patuh.
Seringkali merasa risih tidak nyaman, ia mengeluh.
Tetapi seringnya secara tanpa sadar di singgasananya ia berlabuh.
Meninggikan dirinya diantara orang lain tanpa rikuh.
Raja kedua dekat ada disini,
Darah merah, ia menyebut dirinya sendiri.
Tubuhnya gagah walau tidak tinggi.
Coklat kulitnya bagai sawo matang di pohon, yang manis.
Matanya bulat besar dan hidup, seirama dengan kata-kata jahil yang selalu meluncur dari otaknya yang cerdas.
Menarik perhatian setiap mudi yang turut bermain serta dan mengerling manis.
Senyumnya seringkali berkembang jenaka,
Apalagi jika temannya susah akibat ulah nakalnya.
Luwes bergaul dan berkelakuan semaunya,
Bagai anoman, anila, dan kawanannya, Lincah gerak tubuhnya,
Bergerak sana sini tidak pernah mau diam raganya,
Apalagi belajar, main saja setiap hari ia punya kerja.
Berbicara pun tidak pernah pikir panjang ia berkelit,
Senang sekali membanggakan diri tanpa rasa sungkan walau sedikit,
Piawai menari dia, pun menabuh kendang tanpa sedikitpun rasa sulit.
Walau merah darahnya, bagi orangtuanya ia biru ningrat.
Ia tinggal di dalam rumah sederhana yang hangat.
Bapak ibunya selalu di rumah menunggu.
Senantiasa melayani ia seorang, anak laki-laki mereka satu.
Apa pasti dituruti,
Rengekan pasti dilayani,
Semua tidak pernah ia kerjakan sendiri,
Kecuali mandi.
Bukan ningrat darah pada diri.
Tapi bagi bapak ibunya, ia lah raja sejati.
Raja pertama,
Darah biru, sebutan rakyat yang tinggal nun jauh disana.
Tubuhnya tegap tinggi, gagah dibalut busana.
geligi nya berderet, rapih tertata.
Batang hidungnya tingi, dengan derajat kemiringan sempurna.
Sayu dan teduh ia punya mata.
Berombak melengkung bibirnya.
Dibingkai rahang persegi yang kokoh, rambut ikal, dan kulit yang cerah ditimpa cahaya.
Ningrat betul tindak-tanduknya mencerminkan ningrat darahnya.
Tutur katanya halus diplomatis, ramah tapi hati-hati waspada.
Akal budinya terpelajar serta luas wawasannya.
Muda usia, tetapi sudah banyak menetas karyanya.
Piawai menari dan tidak segan menurunkan kepiawaiannya kepada generasi yang lebih muda.
Ia tinggal di dalam kepungan tembok-tembok besar dan megah.
Selalu dikawal dua orang punggawa yang serba inggih.
Semua kegiatannya dipantau sungguh.
Kebutuhannya semua serba penuh.
Keinginannya adalah perintah.
Walau kadang, kehendaknya tidak selalu terwujud patuh.
Seringkali merasa risih tidak nyaman, ia mengeluh.
Tetapi seringnya secara tanpa sadar di singgasananya ia berlabuh.
Meninggikan dirinya diantara orang lain tanpa rikuh.
Raja kedua dekat ada disini,
Darah merah, ia menyebut dirinya sendiri.
Tubuhnya gagah walau tidak tinggi.
Coklat kulitnya bagai sawo matang di pohon, yang manis.
Matanya bulat besar dan hidup, seirama dengan kata-kata jahil yang selalu meluncur dari otaknya yang cerdas.
Menarik perhatian setiap mudi yang turut bermain serta dan mengerling manis.
Senyumnya seringkali berkembang jenaka,
Apalagi jika temannya susah akibat ulah nakalnya.
Luwes bergaul dan berkelakuan semaunya,
Bagai anoman, anila, dan kawanannya, Lincah gerak tubuhnya,
Bergerak sana sini tidak pernah mau diam raganya,
Apalagi belajar, main saja setiap hari ia punya kerja.
Berbicara pun tidak pernah pikir panjang ia berkelit,
Senang sekali membanggakan diri tanpa rasa sungkan walau sedikit,
Piawai menari dia, pun menabuh kendang tanpa sedikitpun rasa sulit.
Walau merah darahnya, bagi orangtuanya ia biru ningrat.
Ia tinggal di dalam rumah sederhana yang hangat.
Bapak ibunya selalu di rumah menunggu.
Senantiasa melayani ia seorang, anak laki-laki mereka satu.
Apa pasti dituruti,
Rengekan pasti dilayani,
Semua tidak pernah ia kerjakan sendiri,
Kecuali mandi.
Bukan ningrat darah pada diri.
Tapi bagi bapak ibunya, ia lah raja sejati.
Saturday, March 7, 2009
Lagi, Bahasa Bali
Sube = sudah
sube ked = sudah sampai
timpal = teman
mebalih = nonton
matur sukseme = terima kasih
sube ked = sudah sampai
timpal = teman
mebalih = nonton
matur sukseme = terima kasih
bertemu Pak Hendra
wihihihi, baruuusan aja,
sambil online pake hotspot nya ISI (khehe, pake password tya, teman saya, sebagai sajen karena saya ditinggal sendirian untuk 2 hari ke depan),
saya di sapa oleh seorang dosen ISI yang lewat hendak pulang.
awalnya dia bertanya tentang hal ihwal perkuliahan di ISI.
dan saya mengungkap jati diri saya kalau saya bukan cat woman, bukan juga anak ISI.
(ke gap...)
untung santai, beliau malah ngajak ngobrol, karena ternyata beliau pun dari BANDUNG.
huehe.
namanya Pak Hendra.
eh, namanya Hendra, saya panggil Pak Hendra.
sempet ngobrol tentang tujuan saya ke Bali juga.
banyak dapat tambahan informasi lagi dari beliau.
TOMATO YEAH!!
dan sesaat setelah ia menghidupkan motornya dan akan meluncur, beliau sempat terdiam dulu sejenak, melihat titik jauh, seperti berpikir.
saya masih memperhatikan beliau, menunggu ia tancap gas untuk kembali berbincang sore dengan Mary.
"kamu jurusan apa? komunikasi ya?"
"yang kamu teliti tentang? apa yang mawu dikomunikasikan Tari Legong?"
"o ya ya ya ya..."
lalu tanpa melihat saya, tapi berbicara pada saya, beliau mengatakan sebuah kalimat yang menurut saya bagus sekali sehingga membuat saya tersenyum sampai detik ini.
Pak Hendra berkata,
"kalo komunikasinya sudah sampai, berarti karya seninya sudah selesai"
sambil online pake hotspot nya ISI (khehe, pake password tya, teman saya, sebagai sajen karena saya ditinggal sendirian untuk 2 hari ke depan),
saya di sapa oleh seorang dosen ISI yang lewat hendak pulang.
awalnya dia bertanya tentang hal ihwal perkuliahan di ISI.
dan saya mengungkap jati diri saya kalau saya bukan cat woman, bukan juga anak ISI.
(ke gap...)
untung santai, beliau malah ngajak ngobrol, karena ternyata beliau pun dari BANDUNG.
huehe.
namanya Pak Hendra.
eh, namanya Hendra, saya panggil Pak Hendra.
sempet ngobrol tentang tujuan saya ke Bali juga.
banyak dapat tambahan informasi lagi dari beliau.
TOMATO YEAH!!
dan sesaat setelah ia menghidupkan motornya dan akan meluncur, beliau sempat terdiam dulu sejenak, melihat titik jauh, seperti berpikir.
saya masih memperhatikan beliau, menunggu ia tancap gas untuk kembali berbincang sore dengan Mary.
"kamu jurusan apa? komunikasi ya?"
"yang kamu teliti tentang? apa yang mawu dikomunikasikan Tari Legong?"
"o ya ya ya ya..."
lalu tanpa melihat saya, tapi berbicara pada saya, beliau mengatakan sebuah kalimat yang menurut saya bagus sekali sehingga membuat saya tersenyum sampai detik ini.
Pak Hendra berkata,
"kalo komunikasinya sudah sampai, berarti karya seninya sudah selesai"
Subscribe to:
Posts (Atom)
Totto-chan: Sebuah Ulasan
Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...
-
too much to say leave a silence. what will tomorrow fells like without u, i wonder,, what will a small tiny caterpillar feels without it...
-
Cicing = anjing kasar (khahahahaha di bandung kan artinya diem, saya jadi kebayang, “Cicing siah!” berarti bisa berarti “Diem kamu!” atau “a...








