Showing posts with label gelembungmelambung. Show all posts
Showing posts with label gelembungmelambung. Show all posts

Saturday, February 25, 2023

Mencoba Melambat 1


Di usia yang ke-36 ini, saya baru menyadari beberapa hal.

Dulu saya pikir saya menikmati pertemanan yang super banyak, punya aspirasi jadi anak gaul yang menikmati suasana di tengah hiruk pikuk. Banyak teman nelpon ke rumah hanya untuk minta saran atau curhat. Dan saya ga ngeluh. Saya merasa menemukan arti diri saya dengan pertemanan dan berada di hiruk pikuk. Sekarang, berhadapan dengan (apalagi ada di tengah) hiruk pikuk sungguh menghabiskan daya energi, dan saya menemukan diri saya cukup kikuk ada di hingar bingar suasana. 

Sebenarnya kalau dipikir keras, peralihan ini mulai terasa perlahan sejak menikah, kemudian hamil dan menjadi ibu pertama kalinya. Waktu itu, 10 tahun yang lalu, tapi tidak pernah saya ambil pikir dengan baik. Setelah melahirkan anak pertama, total 6 bulan saya masuk camp pendidikan pertama menjadi Ibu yang sedikit banyak otodidak. Saya menemukan banyak teori lama tidak relevan, dan teori baru sungguh membebaskan dan menggoda. Walau setelah itu sedikit banyak juga melahirkan konflik-konflik biasa dalam keluarga besar. Waktu itu rasanya tidak biasa, sekarang, kalau melihat ke belakang, rasanya ya biasa, karena pasti perubahan dalam lingkungan lama, memiliki tendensi melahirkan konflik. Kalau dulu pasti ada dramanya, sekarang rasanya ya, tinggal dihadapi aja. Mau sepelik atau sekompleks apa, tidak ada yang bisa dilakukan selain menghadapi. Ini pelajaran pertama motherhood saya. Hadapi. Apapun itu.

Jadi dalam 6 bulan pertama rasanya saya benar-benar tidak keluar rumah, setiap hari rasanya saya harus belajar hal baru, eh, ralat, setiap hari rasanya saya harus menghadapi hal baru. Baik itu perihal, pelajaran, drama, atau ketidaktahuan dan keputusasaan. Belum lagi rasa lelah dan sakit badan (secara general maupun sektoral, terutama di bekas luka jahitan dan payudara yang baru pertama kalinya memproduksi susu). Pertama kali saya "keluar" ke sebuah pertemuan pasca event yang saya dan rekan-rekan kerja inisiasi, untuk pertama kalinya saya kembali bertemua orang banyak. Di saat itu saya baru menyadari bahwa saya banyak kehilangan kata-kata, literally. Jadi ada saatnya saya mau bicara di depan banyak orang terus otak saya kaya nge-blank gitu, saya tidak bisa menemukan kata-kata dalam sebuah struktur kalimat bahasa, yang saya cari untuk mengungkapkan sesuatu. Saya pikir saya jadi bego. Untungnya kemudian saya bisa menemukan banyak pembenaran kenapa kapasitas otak saya terasa menurun 🤪

Dan lewat tulisan ini saya jadi berpikir kalau di saat itulah sebenarnya saya baru saja memasuki fase baru dalam hidup saya. Fast forward, 2 anak kemudian, saya tidak benar-benar menyadari dan menghayati transformasi non-fisik dalam diri saya. 

Satu minggu yang lalu saya berbincang dengan Kakak Wali Kelas Laut, anak pertama saya. Awalnya perbincangan masih di sekitar Laut; bagaimana dia di kelas, perihal dan pengalaman apa saja yang dialami Laut di dalam keluarga di rumah, dan sebagainya. Sampai kami pada sebuah titik perbincangan, "Kenapa ya, Laut suka buru-buru?" Karena ke-buru-buru-an-nya ini sering membuat Ia tidak teliti, kurang bisa menikmati proses dan percayalah, kadang bersamanya di saat-saat seperti itu sungguh annoying, dan ternyata bagi siapapun, bukan hanya bagi saya ibunya. Sampai pada suatu titik, salah seorang Kakak Wali Kelas melontarkan sebuah pertanyaan, "Tapi pertanyaan Bu, kalau di rumah, pacunya memang selalu cepat dan buru-buru gitu ya?" Saya hendak langsung menjawab tapi tertegun, "Eh...bener juga sih ya..di rumah tuh pacunya memang selalu cepat. Saya memang selalu memburu-buru semua untuk lebih cepat, dan lebih cepat lagi." pertanyaannya, "kenapa ya?"



Ternyata, akar "buru-buru" itu tertanam-nya di saya..welahdalaah..yang kurang bisa slowing down dan menikmati proses itu saya. Dan saya ternyata "proyektor" di rumah.

Penyadaran ini datang satu minggu yang lalu. Dan sebelum saya bisa proses pertanyaan "kenapa" dalam diri saya, ternyata banyak yang harus dibongkar dulu. Salah satunya mungkin lewat cara ini, menyadari transformasi atau perubahan-perubahan non-fisik yang saya alami. Gejala yang teridentifikasi adalah, 
  • Saya tidak lagi menikmati affiliated-but-unidentified-crowd. Kalau total stranger saya malah baik-baik saja.
  • Pun sudah teridentifikasi, saya tidak bisa dengan mudah bisa masuk ke dalam crowd tersebut, karena
  • Saya merasa kikuk menghadapi crowd
  • Saya menikmati kesendirian. Dengan buku, dengan pad menggambar, dengan media menulis
  • Tapi kadang di titik ekstrim sampai saya merasa terganggu ada noise "wajar" dari keluarga terdekat.
  • Mungkin salah satu efek baiknya (mungkin ya), saya jadi super fokus dengan tujuan saya. Saking fokusnya saya bisa marah-marah dan mengesampingkan semua yang stand in my way, hahaha. termasuk marah-marah sama orang-orang yang nyetir-nya-ya-ampun-deh di jalan. I DON'T CARE WITH OTHER PEOPLE. errr..setelah dituliskan ini kaya yang bukan efek baik dah 🫠
yang kemudian perlu saya dalami dan caritau mungkin penyebabnya. Salah satu cara yang mungkin saya bisa lakukan adalah dengan menulis ini. Mencoba memetakan dan mendokumentasikan isi kepala saya. Bercermin.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin menuliskan salah satu refleksi-refleksi awal yang saya petik. 

Kalau memang pointer-pointer tadi membuat saya cemas karena saya tidak lagi merasa valuable dengan cara lama, cara satu dekade yang lalu, mungkin saya harus mencari cara baru untuk merasa berarti. Tentunya tidak dengan menggantungkan value diri pada anak ya, karena mereka punya hidupnya masing-masing. Kami sekarang ada di jalan yang sama, bersama, tapi soon mereka akan menemukan bahwa ada jalan lain yang bisa mereka ambil untuk mewujudkan tujuan hidup mereka. Pada saatnya tiba, saya harus bisa legowo, salah satunya dengan menemukan juga tujuan hidup diri ini apa sih, dan living life, menapaki jalan untuk mencoba mewujudkannya. Bukankah hidup ini adalah perjalanan dan proses yang tak putus? Saya berkaca dari para orangtua murid di sekolah anak saya yang aktif di group whatsapp karena menulis, karena membangun koperasi, karena saling lempar tangkap guyonan. Semua sah-sah saja, saya harus bisa seperti mereka, to unlearn and relearn myself.

Thursday, December 29, 2022

Random Post About Random People When You Want to Write About Other Thing

Dalam draft blog saya ada lebih dari dua tulisan tentang perjalanan akhir dari rentang petualangan summer school di bulan Juli-Agustus 2022 lalu. Belum tuntas tentu saja, haha, karena saat road trip sebelum akhirnya naik pesawat pulang, dalam kesehariannya lebih tidak ada rutin yang terbangun. Saya pun mencoba sebisa mungkin mengawetkan perjalanan saya dalam ingatan (dan sedikit foto) dengan mencoba menjalani dan merasakan seutuhnya di setiap waktu yang saya lalui. Lagi-lagi tidak mudah, karena road trip kemarin saya tidak sendirian, ada waktu-waktu saling bercerita, diskusi, dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang saya temui; baik itu yang spontan dan tak terencana, maupun yang sudah direncanakan.

Sempat ada cerita menarik dari orang yang saya temui secara tidak sengaja, sewaktu di Prague. Namanya Ebru, dia mahasiswi Pakistan yang sedang mengambil master di Jerman dan sedang travelling, kebetulan salah satu rutenya Prague. Ketemunya juga lucu, saya baru saja selesai mengikuti walking tour dari 100 spires di jam-jam makan siang, saat sedang scanning resto yang cukup ok (secara rasa, feasibility, otentisitas, jarak dari tempat saya selesai tour) ada seorang perempuan berhijab, menghampiri dengan wajah bingung sambil celingak-celinguk antara lihat jalan, deretan bangunan, dan layar handphone-nya. Dia mendatangi saya dan menanyakan sebuah restoran. Walau bukan akamsi alias locals, saya sempat membaca nama resto yang Ia cari saat scanning resto sambil jalan tadi, jadi saya menunjukkan bangunan yang jaraknya sekitar 150 meter dari sana. 

Resto yang di cari, saya foto sebelumnya soalnya exterior restonya mencuri hati, hehe. Di latar belakang bangunan ada tulisan "The Wall Pub", resto yang saya pilih ada tepat di sebelahnya.

ini nama restonya, saya gatau bacanya apa 😅

Perempuan tadi pun berterimakasih, sumringah, dan bergegas ke destinasi yang ia tuju. Saya, di sisi lain, memutuskan untuk masuk ke resto di sebelah saya. Saya membuat keputusan itu karena di lorong pintu masuk resto ada gambar Yellow Submarine-nya beatles HAHA. Random banget i know, but sometimes people just attracted to something familiar or dear to them.





Ini resto yang membuat saya menjatuhkan pilihan. Saya pun mencari kursi, duduk, dan bersiap mempelajari menu dan memesan makan, sampai... perempuan tadi tampak bergegas masuk ke restoran ini juga. Karena "kenal" saya pun tersenyum sumringah dan bertanya apakah dia ingin makan siang bersama. Entah mengapa, mungkin karena dia sesama perempuan, menggunakan hijab, saya instantly merasa punya kesamaan (karena yakin kami meyakini Tuhan yang sama, haha) dan merasa aman. Namanya Ebru. Rasa yang sama seperti saat saya bertemu Lifam di solat Iedul Adha di Delft sebelum summer school mulai, sebelum saya tau bahwa Lifam ternyata sesama pelajar di summer school. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab dan saling bertukar cerita, pengalaman, dan pendapat, termasuk cerita-cerita menarik yang saya dapatkan dari walking tour. Ebru tidak sempat ikut walking tour pagi ini karena memilih untuk mengunjungi tempat-tempat spesifik yang menjadi incarannya, termasuk restoran tadi. Sore itu Ia harus pindah kota bersama rombongan tour roadtrip nya. Saya sudah lupa apa penyebab Ebru memutuskan tidak makan di restoran yang tadi Ia tuju.

Setelah makan siang, kami pun berjalan sedikit, saya menceritakan kembali cerita-cerita yang menurut saya paling berkesan dan menemani Ebru membeli oleh-oleh dari Prague. Ini Ebru :)





Begitulah, buat saya, kadang yang membuat sebuah "perjalanan" berharga, justru adalah orang-orang yang saya temui secara tidak sengaja. Rasanya seperti kenalan dan merasakan takdir. Ada bahasan panjang lagi kalau membahas "takdir" hahaha, kapan-kapan nulis lagi. Tadinya saya buka blogger lagi juga karena mau nulis hal lain yang lagi jadi pikiran. Ada banyak "aha moment" di kepala saya, dan saya punya tendensi untuk menuliskannya, supaya ga berisik. Baik itu saya yang jadi berisik cerita terus kalau ketemu orang, maupun pikiran itu sendiri yang berisik di kepala saya sampai akhirnya dia hilang begitu saja. Saya suka sedih kalau Ia menghilang begitu saja karena telat saya hiraukan. Belakangan saya suka menuliskannya di buku catatan (notebook) karena biasanya kalau kepala saya lagi berisik, "menyalurkannya" lewat tangan membantu. Dan tentunya lebih praktis dan cepat. Cita-citanya tentu untuk dituangkan kembali secara digital supaya ada rekam jejaknya, siapa tau Laut atau Koral suatu saat bisa baca dan bisa relate. Atau untuk sekedar meninggalkan "ideas of thoughts" yang katanya immortal dan bulletproof, can exist long after my physical body is gone. Kalau kata Pak Pram (Pramoedya Ananta Toer), “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Saya selalu merasa tergugah bila membaca quotes dari buku-buku Pram, dan tentu saja terpecut untuk terus menuliskan buah pikiran atau rangkaian pikiran yang saya dapat. Tapi menuliskan kembali selalu butuh waktu, kesabaran, dan keteguhan. Kadang saya kehabisan salah satu atau malah kesemuanya dalam gerusan rutinitas harian.

Postingan random ini akan saya cukupkan di sini, apa yang tadinya saya niatkan untuk tulis akan saya pisahkan di post selanjutnya :) Dan ohya, postingan hasil perjalanan road trip sebelum pulang bulan Agustus lalu juga masih saya niatkan untuk tulis-publish, tentu saja. Semoga saya selalu bisa menciptakan ruang di mana waktu, kesabaran, dan keteguhan hadir dalam keseharian saya. Amin.



Tuesday, March 24, 2020

Cerita Jelgava, Latvia



“Mau ke Latvia ya Mba? Di mana tuh Mba, Latvia?”, Sapa petugas penerbangan yang menyambut saya di loket check-in.
“Di area baltic Mba, di Eropa Utara sebagian masuk timur, hehe..”
“Ooo..jarang loh, orang kita yang kesana. Emang ada apa Mba di sana?”
“Ada meeting Mba..hehehhe”
“Oooo..pantess..kalo ga ada meeting sih ga akan ke sana ya Mba? hihihihi”
“hehehehe..” (ketawa awkward)

Ga banyak orang tau di mana Negara Latvia. Thanks to SAMS Project, saya berkesempatan mengunjungi negara ini. Pengalaman saya mengunjungi Latvia, seperti pengalaman lain yang akan didapatkan saat seseorang pergi jauh merantau, somehow even more humbling us down. Saya rasa pengalaman untuk bisa berkunjung ke negara lain, menjelajah, belajar tentang bagaimana masyarakat lain di belahan bumi lain hidup, sama berharganya dengan pengalaman bekerja dalam project SAMS-nya sendiri.

Perjalanan kali ini membuat saya sadar bahwa manusia..hanyalah manusia, dengan segala karakteristiknya, di negara manapun mereka hidup. Salah satu dari sekian banyak faktor yang kemudian membedakan perilaku manusia satu dengan manusia lainnya secara general, bisa jadi faktor tempat hidup mereka. 

Pengalaman dari perjalanan ini yang mengingatkan saya untuk tidak senantiasa membusungkan dada adalah, pengalaman menyaksikan peralihan musim memasuki musim semi. 

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan dingginnya suhu -1 derajat celcius, walau belum juga berjodoh melihat salju turun. Rekan-rekan disana bilang, bukan derajat suhu yang membuat dingin bisa menusuk sampai tulang. Minus sekian derajat hanya akan membuat rasa dingin, tanpa rasa menusuk, jika tidak disertai angin dan kelembaban. Angin dan kadar kelembaban udaralah yang berperan dalam keputusan apakah dingin ini akan menusuk atau tidak. Saya mungkin belum berjodoh dengan salju turun, tapi saya dijodohkan dengan sesuatu yang tidak kalah cantik dan berharga, melihat tumbuhnya benih-benih musim semi.






Di udara yang dingin, dengan tamparan angin perairan baltic di pantai Ventspills dan semenanjung Kolka yang membuat wajah saya mati rasa (sungguh tidak enak rasanya), saya menyaksikan tunas-tunas merangkak menunjukkan denyut hidupnya pada batang-batang kurus tanaman yang meranggas semusim sebelumnya untuk bisa bertahan hidup. Saya juga menyaksikan orang yang merawat tanaman mawarnya, dengan melindungi tunas-tunas bunga mawar yang hendak mekar dengan cabang-cabang pohon birch. Saya bertanya-tanya, mengapa mereka harus melindungi tunas-tunas ini dengan dahan-dahan pohon birch? Ternyata langkah ini diambil untuk melindungi tunas-tunas baru bunga mawar dari dinginnya udara, supaya saat di titik suhu beku, alih-alih tunas-tunas baru yang membeku, serabut dedaunan dari dahan-dahan tadi yang membeku terlebih dulu, memberi kelembaban tertentu dan menjaga mereka tidak membeku. 


Memperhitungkan luas kebun mawar sebuah penginapan, saya berpikir betapa telatennya orang yang merawat kebun ini. Bayangkan dia harus memotong-motong dan mencari dahan-dahan pohon birch dengan ukuran yang kurang lebih seragam, lalu dengan hati-hati menutupi semua tunas-tunas mawar sampai terpayungi. Saya jadi teringat kisah Pangeran Kecil dan bunga mawarnya yang di certakan Antoine de Saint Exupery.

Pekerjaan yang rasanya bukan untuk saya. Saya mungkin tidak punya keteguhan hati yang cukup untuk bisa sampai telaten tingkat ini. haha.



Satu lagi pemandangan yang membuat saya takjub sebagai perempuan tropis tulen. Ketertiban dan keseragaman pohon-pohon meranggaskan dedaunannya. Kombinasi pemandangan itu, udara dingin yang menusuk sendi dan satu dua burung gagak yang beterbangan di atas membawa saya pada memori film-film Tim Burton yang pernah saya lahap. Saya bertanya pada seorang rekan, seorang Jerman, apa rasanya selalu melihat pemandangan ini dari tahun ke tahun? Karena yang saya sadari, saat itu saya merasa “sepi” tapi di saat yang sama saya merasakan sebersit ketenangan, entah apakah karena melihat semuanya seragam atau apa. Jawabnya, pemandangan ini membuatnya merasa “aman”, selalu bisa mengetahui sedang di tahap apa dalam tahun ini ia berada, segera setelah melongokkan pandangannya keluar, memberikannya kemananan, bahwa semuanya masih “in the right order”. Rasanya saya sedikit lebih paham kenapa mayoritas dari mereka mudah patuh dan lebih disiplin, mungkin ini salah satu faktor pembentuknya. Dia juga mengaku salah satu hal yang menurutnya stressful saat dia berada di Indonesia atau negara tropis lainnya adalah karena semua terjadi dengan pacunya sendiri-sendiri. Seperti "berantakan" dan "tidak beraturan". ha ha. You tell me.




Dari mendarat di kota Riga, melalui perjalanan darat kurang lebih 30 menit ke kota Jelgava ditemani kawanan hutan pohon birch di kanan kiri, dua hari beraktivitas di University of Life Science and Technology Jelgava yang bermukim di Istana Jelagava (Jelgava Pills), dilanjutkan dengan perjalanan susur pantai; Ventspills, dan Kolka melewati kota tua Kuldiga. Bermalam di kastil/istana Jounmoku Pills, lalu kembali ke kota Riga untuk terbang pulang ke Indonesia, yang menyambut saya dengan kewaspadaan penyebaran virus corona. Perjalanan saya kali ini disudahi dulu. 

Selain membawa oleh-oleh coklat, roti, manisan, madu, mainan, batu-batu dan kerang pantai, saya juga membawa secuil rasa tenang, mengetahui bahwa manusia..hanyalah manusia tidak peduli dia ada dimana. Semua dedikasi, kerja keras, dan keteguhan hati pada niatmu memberikan dampak-lah yang pada akhirnya akan mendefinisikan siapa dirimu.

---

A glimpse of Jelgava,




banyak bangunan dengan gaya peninggalan arsitektur uni soviet.



"interested in getting lost?"


Latar belakang, tempat rapat, University of Life Science and Technology Jelgava. Fakultasnya bertempat di bangunan bekas istana. Enak banget ya kuliah di sini berasa princess gitu tiap kuliah pasti. Si Laut sama Koral pasti seneng banget kalo kesini 😌✨👸🏻
Kalo latar depan fokus fotonya itu bekal selama di sana, bahan pertukaran budaya lewat palet rasa: Cumi Kecombrang Resep Ninin. Asli ngeunah, silakan langsung cek IG Resep Ninin ya sis kalo mau coba, hati-hati ketagihan. Terimakasih kepada tangan Neng Diece yang sudah melahirkan kuliner ini 😋

Selepas pertemuan di Jelgava, kami menyempatkan diri mengambil jalan memutar susur pantai dan menginap 2 malam sebelum sampai kembali di Riga untuk terbang pulang.

Pertama kami berhenti di kota tua Kuldiga.





ASLI, SEPI banget brayy!

Dari Kuldiga, kami melaju dan bermalam di Ventspills. Besok paginya kami melancong, dimulai dari pantainya, berujung di pasar becek lokal, hahahahaha.





*ku takut di takol




Entah ada apa dengan Ventspills dan Sapi. Tapi asli banyak banget patung sapi dengan berbagai varian, mutasi, dan pose. Ini salah 3 nya, ga jodoh nangkep semua sapi 😅


Bukan sapi.

Dari Ventspills kami menuju Jounmoku Pills, sebuah Kastil lama yang sekarang sudah alih fungsi menjadi penginapan. Iya, saya bermalam di istana...Laut sama Koral pasti iri bukan main 🤣✨👸🏻♥️




ini pemandangan paginya. Sing suwer asli tiris.


Ingin rasanya ku berteriak, "into the unKNOOOOWN!" *nyanyi tapi ngegas *langsung dihajar kawanan massa *polusi suara *nonton frozen II dulu



kaca mobilnya ada es serutnya~


hasil pungutan susur pantai, bukan pungutan suara.


Dengan membawa hasil pungutan susur pantai dan roti sourdough pasar lokal, 
Indonesia, saya kembali :)

Tuesday, August 23, 2016

Cinta

motherhood itu..apa ya..semacam embuh..
berkali-kali saya mengeluh tapi tidak membuat saya ingin untuk berhenti berada didalamnya.
malah seringkali saya jadi takut mati karena tidak siap meninggalkan dunia motherhood, merasa belum siap berhenti jadi ibu, merasa belum siap karena sepertinya tugas saya masih JAUH dari selesai dan baik, jangankan bicara soal sempurna.



berkali-kali, tiap lenguhan keluh itu mendesak ingin dikeleuarkan, selesai mengejawantah saya mempertanyakan diri sendiri,

if motherhood is THAT horrible, then why’re you still there? why are you kept doing it, being a mother that is. and why you want more than one kid? WHAT ARE YOU DOING?



satu-satu sambil selesainya berbagai hutang kerjaan, lalu membanjur diri dengan air dingin, pelan-pelan runutan logika itu datang.

motherhood itu sebongkah pengejawantahan cinta.

dan cinta itu..apa ya?
sebuah bentuk embuh juga sih.
pernah juga berusaha membongkar apa itu cinta disini.
cinta itu harusnya logis, tapi tidak
sederhana, tapi rumit.

simpulannya, cinta itu sederhana, cinta itu logis, tetapi cinta adalah sebentuk usaha yang perlu terus dipertahankan, untuk tujuan yang lebih besar.

motherhood itu cinta.
cinta terhadap hidup dan kehidupan.
cinta terhadap keseharian.
cinta terhadap proses belajar.
cinta terhadap proses yang tiada pernah berakhir.
cinta terhadap cita-cita menjadi manusia yang berguna dan lebih baik lagi.

motherhood itu,
logis tapi tidak.
sederhana tapi rumit.

dan entah seberapakalipun saya mengluh dan ingin berhenti kelelahan,
anehnya saya tidak berhenti.
TIDAK MAU berhenti bahkan.
dan tiap keluhan malah terasa manis di akhir tiap-tiap saya berhasil mengatasi keluhan diri saya sendiri.

cinta itu aneh.

dan manusia yang sanggup mencintai itu lebih aneh lagi.

karena hobinya cari repot.

i want to crack my head wide open

diantara sembelit,
perut yang kian membuncit,
tumpukan cucian piring yang membukit,
jemuran baju dibawah sinar mentari yang sengit,

ku ingin membuka kepalaku dan membiarkan isinya memburai mengerjakan sendiri tiap-tiap tugas yang terpaut tenggat waktu yang tak mau tau.

diantara anak kecil yang menangis,
menuntut ditemani main boneka manis,
atau dibacakan buku yang ceritanya magis,
kok ya rasanya seperti mendengar kalimat itu-itu saja yang berulang seperti kondektur bis,

ku ingin membuka lebar kepalaku, membiarkan isinya berurai mandiri meraih papan kunci huruf-huruf dan membiarkannya menyelesaikan sekian tugas dengan tenggat waktu yang tak mau tau.

diantara rasa kecewa pada tiap ekspektasi yang tak terpenuhi,
teman hidup yang luar biasa sibuk menafkahi,
rasa iri karena lagi-lagi si teman hidup yang produktif, lupa menengok ke sebelah, orang setengah waras yg ada di sisi,
hey, itulah aku si setengah waras yang hampir menangisi diri sendiri,

ku ingin membuka lebar kepalaku.
membiarkan isinya bekerja mandiri.
membiarkan sukmaku melesap melintasi ruang dan waktu.
menyambangi orang-orang nun jauh disana sambil berdiskusi, biar tak perlu lagi kujawab email mereka yang bikin risih.
ruang dan waktu...ah..aku jadi ingat serial cosmos yang belum selesai kutonton, kutumpuk bersama tugas lain karena aku berjibaku.
tapi serial itu relevan kalau memang betul bumi ini bulat, tidak datar dan bukan konspirasi.
biarlah, aku tetap takjub pada cosmos dan alam semesta dan percaya bumi ini apa adanya, terserah apapun wujudmu.
dan menulis ini saja sudah setengah jam sendiri.
alih-alih mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan yang menunggu.

sampah.

s a m p a h !

*lari ke belakang dekat jemuran baju lalu teriak-teriak, "Abang baksoooo, kadieeeu! urang lapfar can dahar, ga sempet masak!" sambil mengeluarkan jilat-jilat lidah api dari mulut dan mata.
*naga mode on
*brb titipin anak ke suami


Friday, December 18, 2015

sisterhood in motherhood

i'm pretty sure, there's always sisterhood in motherhood.

baru saja, di dalam angkot, saya berjumpa dan berbagi kilometer sejenak dengan sebuah keluarga. Ada sang suami, yang duduk di depan, lalu ada sang istri yang menggendong bayinya yang berusia 8 bulan, duduk disamping saya. ada lagi sang nenek menggandeng putri yang tampaknya anak kedua sang istri suami. lalu duduk disebelahnya seorang anak lelaki dan remaja putri.

yup, they are one big family.

Melihat mereka hati saya hangat. Entah karena sinetron "Keluarga Cemara" atau saya memang sensitif dengan segala topik berbau keluarga, begitu melihat keluarga ini saya sungguh bersimpati.

saya ajak bicara ibu sang bayi, sambil menatap dan mengajak si bayi bercanda yang dibalas dengan senyum dan tatap jenaka ramah. hanya dalam hitungan jenak, saya langsung bersimpati pada si ibu, si istri, si nenek. ingin bayi itu sehat, ingin anaknya yang perempuan, yang katanya anak keduanya, juga sehat. ingin sekeluarga kecil itu sehat-sehat selalu. dan semoga proses menyusuinya lancar ya, sampai si bayi lepas asi eksklusif 2 tahun. mudah-mudahan tidak ada intervensi berarti sampai anak-anaknya tumbuh menjadi balita sehat, kuat, dan ceria.

semoga.

amin.

Friday, June 14, 2013

Let's Talk About Dying

"You matter because you are you, and you matter to the last moment of your life"


i quote this form TEDeducation with the same title, "Let's Talk About Dying". It's interesting to think of death, as it is as natural as birth or other events in your life.

well, eventually, we are all gonna be dead.

the question is, "how would you go" because it matters how you die. kinda reminds me of "The Big Fish" by Tim Burton. my favorite movie of all time.

Sunday, February 10, 2013

Tuesday, May 5, 2009

Be re nang

“Seperti apa bunyinya?”


Hmm, coba saya pikir dulu, ini tidak mudah..yang jelas ada huruf J disitu..mmh..S, R, dan H sudah pasti akan ada..sebentar sebentar, biar saya pikir dulu..


Yang saya tau pasti..rasanya...


“Rasanya?”


Dingin menyeruak membalut dimulai dari ujung kaki terus naik merembes keatas sampai ubun-ubun kepala. Dan sensasi dingin yang membalut menyeluruh itu bisa mendinginkan kepala serta isinya yang mulai panas dan membuat pita-pita jalan pikiran di dalamnya kusut dan ruwet.


Sesaat setelah berada didalamnya, perlahan tubuhmu terangkat otomatis..serasa tidak memiliki bobot..


Pretend that I am weightless, and in this moment I am happy..happy..


Dari sensasi dinginnya, saat tubuhmu melayang keatas perlahan, meniadakan gravitasi karena masa jenis yang terkalahkan, hangat matahari mulai menyentuh.

Tutup mata.

Dalam gelap menikmati nafas yang mulai bisa diambil.

Tarik yang dalam.

Hembuskan dalam hangat yang menyentuh kepala, perlahan.

Tengadahkan kepala sedikit lebih keatas.

Buka mata.

Dan pepohonan hijau, rindang, menyambut dengan lambaian ringan ke kanan..ke kiri..baru kemudian angin sepoi-sepoi mulai terasa menyapu.


Kulit terbalut dingin menyegarkan, kepala tersentuh hangat dan angin semilir, pandangan dimanjakan pepohonan hijau, tutup sebentar telinga.


“hmmmmmm...”

Tersenyum saja, sambil kembali menutup mata dan bernafas dalam, sebagai reaksi dari sensasi.


Sesaat kemudian tubuh ini mulai bergerak dalam balutan dingin itu, menggerakkan tangan, kaki, dan membelalakan mata.

Di bawah sini semua menjadi lambat.

Lambat.

Dan melayang.

Melayang...

Kuputar tubuh, menggeliat, jungkir balik, meregangkan otot-otot, semua dalam keadaan...me la yang...

Tersenyum lagi.

Mengambil nafas sejenak untuk kubawa melayang di bawah lagi.


“Melayang di bawah?”


Ya, melayang, di bawah. Sambil tersenyum.

Ayo meluncur! Bentangi ujung satu ke ujung yang lain! Dan dalam meluncur itu perhatikan tangan yang memimpin di depan. Menyeruak. Rasakan kaki yang mendorong dan menendang di belakang. Mendorong dan menendang hampa, untuk kemudian memacu tubuh melaju ke depan.

Lagi.

Dan lagi.

Dan lagi...


“Jadi, bagaimana bunyinya?”


Yang jelas ada huruf J disitu..mmh..S, R, dan H sudah pasti akan ada..sebentar sebentar, saya mendengar beberapa lagu mengalun bernyanyi potong-potong..hmm hmm hmmm..


I..go..down..deep..



In my dreams I'm dying all the time, Then I wake its kaleidoscopic mind, In my dreams I'm jealous all the time, Then I wake I'm going out of my mind, Going out of my mind..



I'm moving, I'm coming, can you hear what I hear? Moving, coming, can you hear what I hear?



There's something that I wanna keep, inside my heart where feelings are soul deep. things could get worse day after day, I know my dreams would never fade away.



Deep waters, I'm drownin' in, deep waters, slowly drownin' in deeper



“Jadi, bunyinya?


Sebentar, ini tidak mudah..yang jelas ada huruf J disitu..mmh..S, R, dan H sudah pasti akan ada..tinggal bagaimana menyusunnya..

Hey! Siap-siap! Ada yang akan melompat...


“Jbrusssssh”


Ahh, segar sekali!


-Bandung, 4 mei 2009


kolam renang sabuga, Bandung

Incubus wish you were here

Binocular deep

Moby porcelain

All Saints pure shores

Tahiti 80 soul deep

Incognito deep water


Tuesday, April 14, 2009

oh kini ku..tauuuuuu....

pagi ini saya sikat gigi dua kali. tidak sengaja, karena saya lupa sudah menggosok gigi sebelumnya. tiba-tiba saja pikiran saya berkelana saat saya menggosok gigi untuk kedua kalinya dan tersadar, 
"Ah, sekarang saya tau maksud dari musisi-musisi lagu mendayu-dayu yang sering bilang cinta tak harus miliki!"

begini pasalnya,

saat saya sudah mencolek odol dan menyikat gigi untuk yang kedua kalinya, pagi tadi, waktu mandi, saya baru ingat, lalu saya bermonolog dalam hati,
"Lho, kok gw gosok gigi lagi sih? tadi kan udah? ahh, udah kacau ni otaknya, kan urutannya biasanya gosok gigi itu pertama kali kalo mandi ga keramas! yaudah gpp deh, gw suka kok, kegiatan menggosok gigi..."

pikiran istirahat sebentar.

lalu si otak sebelah yang tidak sedang mengkoordinasikan otot tangan dan notabene menganggur, 
bagian otak yang juga sering tidak ikut solat waktu solat sudah menjadi kegiatan rutinitas badan, dan menjadikan saya kehilangan ingatan sudah rakaat berapa saya di tengah tengah solat, 
bagian otak yang melamun dan berpikir kemanamana saat bagian yang lain mengkoordinasikan mata dan mulut untuk membaca, dan membuat saya harus membaca berulang ulang supaya mengerti,
kembali menggelembungkan ide dengan ceria,

"hihi..gw suka gosok gigi! gw juga suka mandi! mandi tu enaaaaak :D soalnya gmana ya? segeerr terus rasanya kaya jadi baru aja, jadi kaya officially memulai hari baru!"
...
"gw cinta mandi! yeah :D"
...
"eh, gw cinta mandi tapi kok ga sering mandi ya?"
"yeee, cinta mandi juga bukan berarti harus sering sering mandi sampe 3x sehari juga kalee"

TING!

oooo..ya ya ya..mungkin ini ya rasanya, yang orang orang sering bilang, cinta tak harus miliki.

eh, sama kan ya?

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...