Saturday, November 6, 2010

perempuangimbal coklat melaporkan (tentang bantuan)

DAN setelah perjalanan kami mendistribusikan bantuan ke dua daerah (salam, Muntilan dan Maguwoharjo), saya jadi membatin perihal "sistem tanggap bencana" yang harus dibuat jika ada musibah melanda Indonesia.

kenapa?

karena..saat kami di Salam, bantuan makanan disana sudah cukup, yang lebih mereka butuhkan adalah kebutuhan perempuan seperti pembalut, BH, dan celana dalam. lalu kebutuhan MCK seperti sabun, odol, tali jemuran, dan ember cuci. dan kebutuhan anak-anak dan balita seperti diapers, susu, makanan bayi, dan baju bayi.
tapi bantuan makanan masih saja datang.
sedangkan mereka sudah mendirikan dapur-dapur umum.
jadi mungkin bahan baku makanan lah yang lebih bermanfaat.

nah,
saat kami di daerah Maguwoharjo (yang dipantengin TV one dan Metro TV serta media televisi lainnya), kami mendatangi Rumah Susun kampus Sanata Dharma yang dijadikan kamp pengungsi juga, bukan ke stadion Maguwoharjo nya.
sama seperti diatas, yang mereka butuhkan lebih ke kebutuhan perempuan, MCK, dan bayi, juga kebutuhan manula, karena para manula ditampungnya di Rumah Susun tersebut.
mereka masih membutuhkan satu kursi roda.

lalu kami berbincang dengan salah satu relawan di Rumah Susun itu yang adalah mahasiswa Sanata Dharma.

"Mba, tadi pagi makanan berlimpah di Stadion Maguwoharjo. enam ribu nasi bungkus terpaksa dibuang karena basi, menganggur, overload.."

oalaah..dengernya hatiku "mak closss", kalo pake logat jawa.

"kok bisa??" tanyaku prihatin dan sedikit sebel dengernya.
"ya gmana mba, kita kan juga ga bisa nolak bantuan, tho?"

nah nah nah,
ini nih..ini..
dan ini juga sekaligus pelajaran berharga untuk saya..

"kita harus berani berkata TIDAK"

ya memang rasanya tidak sopan menolak bantuan, lha wong bantuan, je!
tapi kalo ya sudah cukup, kan lebih baik bilang tidak sama si pemberi bantuan..bukan maksudnya tidak tau berterimakasih, tapi kan mereka yang memberikan bantuan (yang notabene pasti mereka mengantarkan dengan kendaraan dan waktu yang available) lebih punya waktu dan akses untuk mengantarkan bantuan itu ke tempat lain daripada bantuan itu ditampung dengan anggapan "ah nanti kalau berlebih kita kirim beberapa relawan untuk mendistribusikan kelebihan ini". Karena pada praktek nya semua pasti akan sibuk dan akhirnya terabaikan si bantuan berlebih ini..kan jadinya sayang..

ya ampun..dengernya sedih banget..
itu makanan semua lho..
apalagi, diketahui kemudian, di Klaten kekurangan nasi bungkus kira-kira enam ribu buah.
ugh..
harusnya kejadian ini bisa buat pembelajaran.
kalau memang sudah tidak butuh, harus bilang TIDAK. harus tega dan tegas. ya memang terlihat bagai antagonis.

tapi antagonis itu ternyata diperlukan.
kalau tidak begitu tidak akan ada protagonis nantinya.
dalam hal ini "protagonis" nya adalah para pemberi bantuan yang nantinya akan memberikan bantuan tepat sasaran pada orang-orang yang lebih membutuhkan.

kembali pada prinsip yang sangat sering saya bahas.
selalu ada dua sisi.
Rwa Bhinewdha, kata bahasa Bali.
betapa ya, kearifan lokal memang terbukti lebih "bunyi" daripada paham apapun yang bisa diaplikasikan pada bangsa dan negeri ini.
karena bangsa ini bangsa unik.
negara kepulauan terbesar di dunia.
bukan sistem adaptasi negara luar yang kita butuhkan.
bukan hukum keagamaan tertentu yang diaplikasikan negara lain juga yang kita butuhkan.
bukan BELAJAR ETIKA KE YUNANI yang kita butuhkan, hei kalian, wahai DEWAN PERWAKILAN RAKYAT! DEMI TUHAN!
*maaf saya selalu emosi kalau bahas ini..

yak, kembali ngomongin soal bantuan dan pendistribusian nya:
satu hal lagi yang tadi saya dan kawan kawan ViaVia diskusikan (ada Mba Siska, Mba Uji, dan Dita)
para pengungsi ini memang wajib kita tolong, tapi jangan sampai dimanjakan.
para relawan harus dibekali dengan kesadaran ini.
karena, hanya dengan cara ini, kita bisa tetap berdiri netral dan sebisa mungkin menjadi adil.
ini juga terkait pada pendidikan mental.

dibantu harus, dimanjakan jangan.

jika memang memberikan bantuan, biarkan mereka ikut merasakan prosesnya,
sebagai contoh:

+membantu mendirikan dapur umum dan mensuplai bahan mentah serta mengajak dan mengoordinasi para pengungsi untuk ikut memasak dan mendistribusikannya kepada sesama pengungsi di kamp tersebut.

+memberikan bahan mentah dan mengajak mereka ikut menciptakan sistem pendistribusian.

we're not superhero after all, that's why we're social creature. so, act like one we should. that way, we can keep the balancing.
we could be superhuman, with realizing that we have limits and we're not superhero.
there is a big difference between superhero and superhuman.
superhuman came with certain wiseness, creating balancing: the weak will learn to be strong.
superhero came with super power along with super ego which creating laziness in other side: the weak will be dependent and still weak.

4 comments:

  1. Makasih infonya perempuan gimbal coklat! Bakal berguna banget nih buat temen-temen relawan yang berangkat ke sana....
    Btw Mit namanya lucu deh "perempuan gimbal coklat" :D keren!

    -Kandie-

    ReplyDelete
  2. ehe ehe ehe ehe ehe..kandie ahh kandie ahh, ngga koookk, biasa ajaaaa *sambil kebit kebit senyum senyum goyang goyang -chopper style*

    iyah kandie, mencoklat, disini tambah puanass dan aku tidak berhenti dive in the sunlight :}

    ReplyDelete
  3. wah iya mbak mita!aku kmrn jg baru denger ceritanya ceu yuni pangasuh bumi kalo dsana udah berlimpah bgt bantuannya. dan yg disiarin di media itu kesannya baik2 aja dan infonya g valid! di mentawai jg jauh lebih parah lho katanya.sampe yg jagoan2 dari wandari juga mulai frustasi karena untuk menjangkaunya aja sulit katanya. untuk ngirim bantuan susah bgt

    -rani

    ReplyDelete
  4. dek Raniiiiiiiiii :D kamu udah sembuh? udah balik ke bandung dan beraktivitas-yang-segudang lagi kah?

    iya ya, yg di mentawai dan wasior susah terjangkaunya..

    ReplyDelete