Wednesday, November 16, 2011

Gie

tugas tugas pertama kami di papermoon, dalam rangka pemanasan, adalah riset.
dan kemarin, kami menonton 2 film, salah satunya adalah film Soe Hok Gie (Riri Riza,  Miles production, 2005)

di tahun 2005 itu, saat film Gie baru keluar saya juga langsung menontonnya di bioskop..tapi..rasanya beda waktu kemarin saya menonton film itu lagi.
waktu tahun 2005 itu, setelah arus masif publikasi film Gie, langsung trendi semua yang berhubungan dengan Soe Hok Gie dan pola tingkah laku nya, jika dikira-kira.
saya ingat sepulang saya ke bandung (taun segitu saya masih sering pulang Jakarta), saya jadi semakin skeptis kalau lihat mahasiswa demo. langsung gak respect seketika. berlebihan si memang, soalnya saya juga ga nanya latar belakang sekumpulan mahasiswa itu melakukan demo, tapi saat itu, setelah menonton film Gie, lalu melihat mahasiswa demo, rasanya jadi seperti melihat sekelompok poser.
overrated.
apa yang mereka lawan? siapa? kenapa? lalu apakah mereka yang memprotes datang dengan solusi? tidak kan? mereka hanya berteriak. bergunakah itu? didengarkah mereka?
saya bahkan sempat menulis, 
"maha-siswa. paling siswa diantara semua siswa. ya harusnya berjuangnya ga teriak-teriak di pelataran dong. udah ga musim kalee..kaya didenger aja. yang di protes juga mungkin sudah kebas diteriaki. berjuang paling benar adalah dengan mengenal diri sendiri, jadilah sehebat yang kamu bisa, maju dan protes mereka dengan sebuah solusi lengkap dengan paket kesediaan untuk mewujudkan ajuan solusi!"
entah kenapa, panas sekali melihat mahasiswa-mahasiswa yang bukannya rajin menuntut ilmu dan mencoba mengenal diri sendiri, malah teriak-teriak demi (mereka pikir) perubahan.

tapi menonton film Gie semalam, membuat saya banyak berpikir lain.
lebih berpikir tentang Gie pada masanya.

Gie, begitu idealis. sedari kecil ia terkontaminasi oleh paparan pemikir-pemikir hebat. dan prakteknya, keadaan pada masa itu memang banyak yang bisa diprotes.
saya jadi berpikir, wajar jika Gie cepat langsung melesat menjadi tokoh yang dikenal cerdas dan tajam, karena ia memiliki berbagai kombinasi yang tepat.
wawasan idealis yang didapatnya dari membaca,
keadaan yang memang membutuhkan banyak protes,
keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
basically, dia tau seharusnya pemerintahan itu berjalan seperti apa, idealnya.

melihat, menonton film Soe Hok Gie dari perspektif saya sekarang, dengan pengalaman-pengalaman keseharian saya sampai sekarang, timbul rasa yang berbeda dengan waktu 2005 dulu.

Gie, begitu idealis. and bless him, he got the chance and spec to be idealist. 
dia hidup di zaman yang tepat, dengan kombinasi kepribadian yang tepat; gemar membaca, berani, dan cerdas.

dan ia menjadi berarti karena keadaan membutuhkan pemuda seperti dirinya, saat itu. mereka memiliki musuh bersama yang jelas terlihat. kebodohan masih mayoritas, kemiskinan terasa betul kehadirannya dimanamana, kaum tua dan papa terpajang jelas didepan mata.
musuh bersama, is another keyword.
musuh bersama mempermudah sebuah perjuangan.

lalu saya merefleksikan dengan keadaan hari ini, sekarang.
ya banyak yang salah memang, saya tau. seperti ribuan pemuda lainnya di sekitar saya tau ada yang salah dengan sesuatu.
keluhan, punya tentunya.
tapi..kami saat ini tidak punya musuh bersama.
apa yang kami lawan? kebodohan? kemiskinan? korupsi? kelaparan?
semua itu ada, nyata masih terjadi di Indonesia. 
tapi dimana?
menyempil diantara himpitan-himpitan urbanisasi dan pertumbuhan kota-kota yang menyemir permukaan sehingga terlihat mengkilat.
kemiskinan? coba main ke mall-mall di jakarta; apa iya rakyat Indonesia miskin? coba googling gaji orang-orang pemerintahan, apa iya, Indonesia miskin?

di akhir-akhir film Gie terlihat resah, gundah.
ia limbung..apakah yang ia perjuangkan selama ini benar? melihat setelah adanya secercah perubahan, toh ternyata tidak juga membawa perbaikan, alih alih, ia membaca kemerosotan yang akan semakin bertambah. instingnya, gabungan pembacaan situasi sekaligus anilisis yang sangat cepat, berkata bahwa ini tidak akan kemanamana. kebobrokan itu masih mengintai dan belum pergi.
ia tau bagaimana seharusnya sebuah pemerintahan berjalan, bagaimana masyarakat seharusnya bersikap. ia tidak memihak siapapun, jika saat itu yang dilihat hanya keberpihakan semata.

ia tidak memihak siapapun.

karena tidak satu pihak pun datang satu paket.
tidak satupun datang sebagai wakil kebenaran dan idealisme.

ia memihak pada sistem yang seharusnya.

kemudian, di akhir film ia berkata,
"dilahirkan ke dunia adalah sebuah kesialan. berumur panjang lebih sial lagi. berbahagialah mereka yang mati muda.."
"hidup adalah ketiadaan, dan ketiadaan adalah hidup itu sendiri..semua kembali kepada ketiadaan..apalah arti hidup itu sendiri.."

dan tanpa merasakan hidup lebih lama lagi Gie mati muda.

dan idealisnya terhenti, otomatis.
maka ia selamanya muda, selamanya idealis.

tapi apakah itu lebih hebat dari menjalani hidup, menjadi tua, dan berjuang untuk selalu benar sampai tua?
berjuang hidup.

saya rasa tidak.

saya malah jadi berpikir, 
Soe Hok Gie urik!

*urik: main curang; bahasa jawa

No comments:

Post a Comment