Wednesday, March 23, 2011

It is almost impossible to ask a living human to less expecting

Friday, March 18, 2011

Si Togog Memasak

Okai, ini adalah kedua kalinya saya mencoba membuat tumis jamur. Tapi kali ini dengan jamur yang berbeda. Pertama kali saya membuat tumis jamur, karena keterbatasan persediaan di pasar terdekat, saya memasak tumis jamur dengan jamur champignon, padahal seharusnya saya menggunakan jamur putih.

Tapi, kali pertama, dengan jenis jamur yang “saya ngarang”, bisa dibilang cukup sukses, karena bumbu nya terasa, dan tidak terlalu asin.

Kali ini yang kedua nya. Dan kali ini saya menemukan jamur yang tepat untuk ditumis (setidaknya dari yang pernah saya cicipi dulu, jamur macam ini yang ditumis).

Untuk bumbu saya sedikit ngarang memang, ha ha! Mengandalkan sense lidah saya waktu mencicip tumis jamur terdahulu yang berusaha saya replika saat ini (attention, snob alert!!), jadi saya menggunakan bumbu yang sama kali ini pun.


Cabe merah keriting, bawang putih, ketumbar, daun jeruk, daun salam, sereh, garem gula pastinya untuk msg alami, merica.


Dan..hasilnya..hmmhh..i can’t tell it’s a success one this time :|

In term to tell u WHY this time isn’t the success one, I want to share my contemplation-while-cooking-time opinion


Dalam memasak, kamu harus sabar. Dan telaten.

Ini ni, yang saya sering lupa untuk mengaplikasikannya pada setiap aspek dalam keseharian dan perilaku saya. Dari main di papermoon dulu, kerja sambil duduk, sampai hal memasak, saya selalu kurang bisa sabar kalau tidak ada yang menenangkan. Kenapa harus sabar, apa hubungannya masak dengan sabar?


Iya, masakan saya jadi keasinan.


Begini story nya:

pertama saya memasukan bumbu-bumbu ke dalam penggorengan berminyak panas. Seharusnya saya menumisnya agak lama, tapi segera setelah aroma bawang putih menghablur mengudara, segera saya masukan SEMUA jamur yang TERNYATA..tampaknya jamur nya terlalu banyak untuk takaran bumbu yang sudah saya siapkan. Yang kemudian saya baru mendapatkan kesimpulan, “Jelas beda karena jamur yang saya masak pertama dulu kan lebih kecil, ya IYALAH jadi ga seimbang proporsi materi masakan dengan bumbu, karena sekarang yang saya masak adalah jamur yang ukurannya lebih besar.”


SEHARUSNYA saya memasukan perlahan si jamur.


Segera setelah saya berkata,

“Ah, dodol! Harusnya dikit-dikit masukin jamur nya!!”

Saya panik dan SEGERA mencampuradukkan tumisan bumbu dengan suwiran-suwiran jamur.


PADAHAL harusnya saya bisa tetap tenang dan perlahan memisahkan dan mengambil kembali kelebihan suwiran jamur.


Oke, saya panik dan terus mencampur aduk, mencampur aduk, mencampur aduk. Saya panik, ambil sendok dan memberikan garam pada tumisan saya.

Aduk lagi, aduk lagi, aduk lagi.

Segera saya ambil sendok dan mencicipi kuah yang dihasilkan dari air sayuran yang ditumis.


“Emh, ga berasa apa-apa!”


Segera saya tambahkan garam...

Segera saya tambahkan garam...


Ahh, betapa panik itu membutakan mata dan sensivitas saya. Karena tidak lama kemudian barulah saya lihat, ternyata tumisan jamur itu baru mengeluarkan air, bercampur dengan keseluruhan bumbu..


Saya cicip...

Saya sesap dan kecap..


“ahh..gila..”


Saya termenung tercenung.

Dia bergolak dan asap membumbung.


“orang bisa langsung darah tinggi, makan ini..dan..bumbunya berasa kok...”


TERNYATA saat memasak, kadang diperlukan waktu sesaat untuk mendiamkan si materi masakan dan bumbu. Karena persenyawaan itu dilakukan perlahan..kecuali kamu memakai bumbu instan yang tidak sehat dan artifisial itu.


“Haahhh..”


Saya hanya bisa mengehela nafas.

Lalu bagaimana ini, sudah kepalang, tanggung bak ilalang, terlanjur seperti siang, elang yang terbang, di balik awan ia hilang, tak bisa dikejar apalagi di halang..lang..lang..lang..lang...


Sudahlah.

Kembali saya masukkan bumbu-bumbu yang belum masuk. Diselesaikan saja. Semua yang dimulai harus diselesaikan, ambil semua resiko nya. Saya harus bertanggung jawab. Sambil terus maju memasak saya memutar otak, ngarang..


Bagaimanakah pertolongan pertama pada masakan yang keasinan? Saya langsung terpikir air. Segera setelah terlihat matang saya siram dan campur tumisan jamur dengan setengah gelas air..


Dan sepertinya sebenanrnya ia sudah matang dan siap dimakan.


Saya cicip..

Saya sesap dan kecap..


“bumbu nya kurang..rasanya kurang menggigit lidah!”


Yang saya tau untuk pertolongan pertama ini adalah BAWANG PUTIH!

Ini pelajaran dan evaluasi serta bahan berguru saya selanjutnya, BAGAIMANA berhenti mengandalkan bawang ptih sebagai “attention getter” dalam memasak.

Karena saya selalu mengandalkan rasa bawang putih pada SETIAP masakan saya untuk attention getter. Padahal, untuk menjadi pemasak yang mumpuni, saya HARUS TAU attention getter yang lain, selain bawang putih.


Tidak semua orang suka bawang putih, walaupun saya tergila-gila pada bawang putih.


PR saya selanjutnya juga: MENCARI-TAU efek bawang putih pada tubuh..apa baiknya, dan kalau ada, efek samping nya juga pada tubuh jika berlebihan. Ha ha!


Hmm..not bad..ternyata rada tertolong.

Terutama saya suka sensasi bawang putih yang kemudian ditambahkan dan menjadi setengah matang.


“enak juga..”


“Tapi daun jeruk nya kurang..yah, udah terlanjur mati kompornya..”


Yasudahlah..SETIDAKNYA saya jadi tau, untuk jamur sebanyak itu saya akan perlu bumbu sebanyak apa.


There goes my lesson.


Oya, tambahan hasil kontemplasi memasak:

Saya jadi berpikir,


Masakan yang enak itu adalah masakan yang tetap terasa enak walaupun ia sudah dingin dan tidak berasap lagi.


Karena..

Karena..

Sekarang setelah saya baru saja selesai menulis ini, saya mencicipi tumis jamur yang sudah dingin ini..rasanya..emhh...


...