Wednesday, April 13, 2011

Monday, April 11, 2011

selalu berbicara ini pada diri sendiri, semoga tidak lupa

satu hal penting yang saya tangkap selama sesi pelatihan hari ini:
belajar, tidak hanya berlaku untuk adik-adik, tapi bahkan kakak-kakak relawan pun masih harus terus belajar. manusia selama hidupnya harus terus belajar! supaya apa? supaya..kita menjadi manusia yang hidup, bukan mesin yang hidup dalam tubuh manusia! :]

belajarlah sampai tua!

dibalik "atas nama"

kembali terpikir hal-hal yang saya tulis di postingan sebelum ini,
gara-gara nya,
saya sedang menulis untuk blog Sahabat Kota, menceritakan hasil kegiatan pelatihan relawan hari ini. setelah saya baca lagi hasil cerita saya tentang pelatihan hari ini, saya menemukan sebuah kejanggalan yang saya pertanyakan pada diri sendiri.

"kok saya jarang menyebutkan nama fasilitator yang berdarah-darah menyiapkan pelatihan ini ya?"

padahal, H-1 pelatihan ini, tidak tidak, dari H-7 pelatihan ini,
"NAMA" menjadi aspek yang penting. sangat penting. terlampau penting.

"Jadi siapa yang akan membawakan materi ini?"
"Siapa yang akan mem-back up materi yang ini?"

"oke, jadi Siapa yang akan menyiapkan logistik, meminjamkan laptop, meminjamkan projektor, menyiapkan tempat?"
"euh..dia aja.."
"dia siapa?"
"diaa.."
"iya siapaaaaa? nama, nama.."

NAMA menjadi sebegitu pentingnya.
untuk menyampaikan sebuah ilmu yang mau kami bagi,
kami membutuhkan nama-nama.
namun saat ilmu itu sudah terkirim,
nama menjadi hal yang tidak penting lagi.

siapa menyiapkan apa
siapa meminjamkan apa
siapa membawakan materi apa

yang penting ilmu dibagikan,
ide ditularkan,
pengetahuan didistribusikan.

dan kemudian nama menjadi tidak penting

kalau begitu,
mengapa memberikan nama?

manusia itu romantis ya..
mau menjelaskan yang sederhana itu susah
maka diciptakan kerumitan
yang sebenarnya,
kerumitan itu ada untuk menyampaikan yang sederhana.

haha.
*tertawa tawa malam-malam yang kalo ditanya kenapa terlalu rumit unyuk dijelaskan. dirasakan saja ya..

atas nama

manusia memberi nama,
pada segala,
untuk mengenal semesta.

tapi saat semesta itu datang membuka dirinya,
maka nama,
menjadi tidak penting ada.

seperti bahasa,
yang diciptakan untuk menggambarkan rasa,
berusaha mengungkap setiap rasa.

tetapi rasa yang sebenar-benarnya,
saat ia datang dan terasa
maka bahasa menjadi terbatas untuk kemudian bisa menggambarkannya.

***

lucu ya,
untuk berusaha mengerti sesuatu yang besar dan maha,
manusia menyederhanakan segala sesuatu dengan susah payah,
karena mereka pikir semesta ini rumit.
namun saat semua penyederhanaan yang rumit itu disepakati setelah sekian lama,
dan saat semesta terungkap,
manusia tetap tidak bisa menggambarkannya, walau bisa dirasakannya.

tidak untuk diteorikan,
tapi untuk dirasakan.

tidak untuk diperdebatkan,
tapi untuk dipahami.

semesta itu sebongkah rasa.

Sunday, April 10, 2011

pada saat hobi dan kesukaan dijalankan tidak sebagai hobi maka itu akan menjadi beban

menulis, kalau disuruh dan dikerjakan dibawah tekanan dan paksaan,
menjadi tidak menyenangkan,
dan jiwanya hilang,
lang,
lang,
lang,
lang.

Monday, April 4, 2011

we found each other imperfectly perfect.