Friday, July 29, 2011

lama tak sua

sudah lama semenjak saya rutin bercerita lewat blog.
banyak hal terjadi dan lewat, khaha.
tidak bisa bilang semuanya seru dan menyenangkan, beberapa sungguh membuat saya numb beberapa hari karena overload beban pikiran, tapi tentu saja semua itu pilihan yang dengan sadar saya ambil: untuk pusing mikir, untuk repot :p

diantara nya:
acara liburan
Komunitas Sahabat Kota; "Legenda Hutan Kareumbi" yang walau persiapannya tidak mudah diselipkan diantara jadwal padat dan lebih dari 1 deadline kerja, hasilnya cukup menyenangkan walau belum cukup memuaskan, dilihat dari sudut pandang internal saya sebagai panitia penyelenggara :p
tapi senang rasanya melihat adik-adik partisipan senang, terkesan, dan bersemangat.
tulisan dari Mas Andy sangat membuat semua lelah persiapan menjadi tidak ada apa-apa nya :']

kemudian perkejaan saya sebagai Project Officer di kegiatan TRANSIT Selasar Sunaryo Art Space juga berhasil saya selesaikan :D
selama tiga bulan saya berproses bersama 3 seniman yang masing-masing berasal dari Malang, Jogja, dan Bandung yang residen di Selasar Sunaryo, juga 3 teman diskusi kekaryaan mereka; *angkat topi dan senyum kagum dan hormat* mas Gatot Pudjiarto, Made Wiguna Valasara, Rudayat, pak Sunaryo, pak Hendro Wiyanto, dan mas Agung Hujatnikajenong. tidak lupa mba Conny Rosmawati, mba Diah Handayani, Maksi, Chabib Duta Hapsoro, ibu Yanni, siapa lagi ya..euh, berasa lembar thanks to di album musik..well, intinya, saya senang dan alhamdulillah sekali. selama 3 bulan itu tidak hanya para seniman, saya pun bertambah ilmu banyak :}

disela-sela itu juga load kerja Riset Indie semakin merongrong. kalau Riset Indie adalah manusia, dia adalah manusia yang posesif :P ha ha ha. but still, i'm enjoying the hectic-ness it caused :] karena Riset Indie lah saya berangkat je Jogja selama dua hari satu malam. senang karena bisa bertemu dan berbincang banyak hal dengan kru Kelas Pagi Yogyakarta (aduh, mendadak inget kerjaan-tertunda-tunda Riset Indie..heuh..ha ha) juga mba Nuning dari Kunci Cultural Studies. dan tentu sajaaaa..TEMAN TEMAN TERSAYANG! ada mba Ria, mas Iwan, mas Octo, mas Grewo, mas Mamad, Pingkan, mas Vindra, Benny, Wulang (Wulang lagi pameran lhoooooo :D), Budi, Aul, Mira+Dito (Dito juga pameran lhooooo :D), dan tentu saja PASAR BERINGHARJO sodara sodaraaaa :D
dan tentu saja di sela-sela sibuk itu saya masih diberi banyak anugrah luar biasa :} ikhihihihi.
highlight nya akan saya share di postingan terpisah.

tapi salah satu ter-tidak-update-nya saya menulis adalah karena saya kehilangan sahabat keseharian saya, kodi. kodi adalah kamera kodak LS-Share pocket yang selalu menemani saya dari 2004 sampai 2009akhir/2010awal :[
sungguh rasanya timpang sekali..baru berasa waktu dia sudah tidak menghuni tas sehari-hari saya lagi :'[

kesimpulan:
i'm desperately need a camera :[ a good one please (khehehehehehe)

di pasar beringharjo saya menemukan 2 buah kebaya yang cihuyy-sekali-too-bad-to-be-missed :D

salah satu kebaya yang saya dapet di pasar beringharjo,
di pameran foto nya Dito di Lir Shop :]

Saturday, July 9, 2011

matahari

Matahari senja, menuju terbenam ia berkilau
Begitu jingga menyala, hingga luntur
Begitu cantik anggun, namun silau
Seorang diri, didalamnya ia terpekur

Bagaikan kuning telur
Di dadar hancur
Di pecah lebur
Di makan gembur


Tol cipularang bandung-jakarta
Sabtu, 9 Juli 2011
5.30 senja

Monday, June 20, 2011

berjumpa lagi berjumpalitan sampai pagi,
berkisah cerita beberkan cakrawala tanah beta.

bertualang,
mengarungi, melanglang.

Saturday, June 11, 2011

Friday, June 3, 2011

surat cinta yang belum sampai

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
tidak akan ada ibu lain yang bisa menggantikan ibu.

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
kalau bisa aku ingin terus ada dibawah dagumu, berada di dalam pelukanmu.

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
belum cukup rasanya aku ada di sebelahmu, merawatmu ketika ragamu payah.

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
rasanya aku ingin tinggal disebelahmu..enggan beranjak kemanapun..bisakah, ibu?

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
apakah sudah layak ibu, aku pergi mengarungi hidupku sendiri?

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
apakah benar jalanku ibu? benarkah, bu?

ibu,
sungguh aku sayang ibu.
aku..

aku..
aku ingin berbakti padamu ibu.

ibu...
sungguh..mita sayang ibu..

mita sayang ibu.

Monday, April 11, 2011

selalu berbicara ini pada diri sendiri, semoga tidak lupa

satu hal penting yang saya tangkap selama sesi pelatihan hari ini:
belajar, tidak hanya berlaku untuk adik-adik, tapi bahkan kakak-kakak relawan pun masih harus terus belajar. manusia selama hidupnya harus terus belajar! supaya apa? supaya..kita menjadi manusia yang hidup, bukan mesin yang hidup dalam tubuh manusia! :]

belajarlah sampai tua!

dibalik "atas nama"

kembali terpikir hal-hal yang saya tulis di postingan sebelum ini,
gara-gara nya,
saya sedang menulis untuk blog Sahabat Kota, menceritakan hasil kegiatan pelatihan relawan hari ini. setelah saya baca lagi hasil cerita saya tentang pelatihan hari ini, saya menemukan sebuah kejanggalan yang saya pertanyakan pada diri sendiri.

"kok saya jarang menyebutkan nama fasilitator yang berdarah-darah menyiapkan pelatihan ini ya?"

padahal, H-1 pelatihan ini, tidak tidak, dari H-7 pelatihan ini,
"NAMA" menjadi aspek yang penting. sangat penting. terlampau penting.

"Jadi siapa yang akan membawakan materi ini?"
"Siapa yang akan mem-back up materi yang ini?"

"oke, jadi Siapa yang akan menyiapkan logistik, meminjamkan laptop, meminjamkan projektor, menyiapkan tempat?"
"euh..dia aja.."
"dia siapa?"
"diaa.."
"iya siapaaaaa? nama, nama.."

NAMA menjadi sebegitu pentingnya.
untuk menyampaikan sebuah ilmu yang mau kami bagi,
kami membutuhkan nama-nama.
namun saat ilmu itu sudah terkirim,
nama menjadi hal yang tidak penting lagi.

siapa menyiapkan apa
siapa meminjamkan apa
siapa membawakan materi apa

yang penting ilmu dibagikan,
ide ditularkan,
pengetahuan didistribusikan.

dan kemudian nama menjadi tidak penting

kalau begitu,
mengapa memberikan nama?

manusia itu romantis ya..
mau menjelaskan yang sederhana itu susah
maka diciptakan kerumitan
yang sebenarnya,
kerumitan itu ada untuk menyampaikan yang sederhana.

haha.
*tertawa tawa malam-malam yang kalo ditanya kenapa terlalu rumit unyuk dijelaskan. dirasakan saja ya..

atas nama

manusia memberi nama,
pada segala,
untuk mengenal semesta.

tapi saat semesta itu datang membuka dirinya,
maka nama,
menjadi tidak penting ada.

seperti bahasa,
yang diciptakan untuk menggambarkan rasa,
berusaha mengungkap setiap rasa.

tetapi rasa yang sebenar-benarnya,
saat ia datang dan terasa
maka bahasa menjadi terbatas untuk kemudian bisa menggambarkannya.

***

lucu ya,
untuk berusaha mengerti sesuatu yang besar dan maha,
manusia menyederhanakan segala sesuatu dengan susah payah,
karena mereka pikir semesta ini rumit.
namun saat semua penyederhanaan yang rumit itu disepakati setelah sekian lama,
dan saat semesta terungkap,
manusia tetap tidak bisa menggambarkannya, walau bisa dirasakannya.

tidak untuk diteorikan,
tapi untuk dirasakan.

tidak untuk diperdebatkan,
tapi untuk dipahami.

semesta itu sebongkah rasa.

Sunday, April 10, 2011

pada saat hobi dan kesukaan dijalankan tidak sebagai hobi maka itu akan menjadi beban

menulis, kalau disuruh dan dikerjakan dibawah tekanan dan paksaan,
menjadi tidak menyenangkan,
dan jiwanya hilang,
lang,
lang,
lang,
lang.

Monday, April 4, 2011

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...