Saturday, February 23, 2013

ViaVia Jogjakarta

ViaVia Jogjakarta akan memperingati kehadiran mereka yang sudah puluhan tahun ikut meramaikan keriaan kota Jogjakarta. Dalam selebrasinya itu, mereka akan menerbitkan buku kumpulan dokumentasi, foto, juga cerita dari setiap orang yang pernah terlibat di dalamnya. Tidak terkecuali saya yang pernah bekerja disana, walau singkat. memenuhi permintaan mereka untuk membeberkan cerita-cerita saat saya disana mau tidak mau membawa saya kembali pada masa-masa itu. ada beberapa cerita yang berkesan buat saya, namun tidak pernah saya tuliskan sebelumnya. Saat menuliskannya dalam email, membuat saya teringat banyak hal, banyak peristiwa, banyak rasa..masa-masa itu, haha. saya pun ingin berbagi cerita-cerita berarti itu disini, cerita yang membawa beberapa pengalaman baru dalam hidup saya.

1.
Pertama kali kerja di ViaVia langsung ada masalah karena ternyata ada pameran bentrok di luar kuasa aku, hehehe. Jadi ceritanya waktu itu lagi pamerannya Yuni Bening, lalu ganti jadi aku yang mengurus pameran, dari jadwal dan amanah yang kurator terdahulu berikan, harusnya yang pameran Dodi Taring Padi. Di masa peralihan itu aku yang baru pertama kalinya bekerja di ViaVia ga tau harus menunggu Yuni Bening selesai atau bisa langsung pameran Dodi, side by side. Karena melihat kuantitas karya dari Yuni yang juga tidak terlalu banyak, aku mulai berpikir taktis, bahwa ViaVia bisa diperlakukan layaknya galeri yang mempunyai ruang-ruang yang bisa digunakan lebih dari satu seniman; seniman ini di ruang A, seniman itu di ruang B. Sementara itu, pihak Dodi yang sudah dijanjikan tanggal oleh kurator sebelum aku mulai bertanya terus mengenai kejelasan pamerannya. Kurangnya pengalamanku membuat aku menjanjikan Dodi tetap mendapat tanggal yang dijanjikan kurator terdahulu, dan aku berjanji akan negosiasi ke Yuni Bening untuk menyatukan karyanya di ruangan yang lebih kecil. Sayangnya tidak semulus itu semua berjalan. Pihak Yuni sebenarnya ingin karyanya menyebar dan "invisible" adalah bagian dari salah satu konsepnya...yang mana tidak pernah dikomunikasikan ke saya, dari pihaknya maupun dari pihak kurator terdahulu. Akhirnya Mie, owner dari ViaVia ikut negosiasi, dan semua seniman setuju "ikut aturan main" Via Via. Dari situ aku belajar pentingnya kontrak yang menjelaskan klausul hak dan kewajiban dari seniman dan pihak ViaVia; apa yang diharapkan dan akan didapat kedua pihak. Sehingga setiap masa peralihan pergantian kurator, saya harap, tidak akan terjadi lagi kejadian membingungkan serupa, hehe.

2.
Ada juga cerita tentang pameran yang paling berkesan buat aku selama jadi kurator di ViaVia! Pameran itu adalah pameran temanku dari bandung, sepasang Widyastuti dan Indrawan Prabaharyaka. Judul pamerannya "The Marginalized" dari 27 November - 19 Desember 2010. Buat aku, pameran ini istimewa luar biasa. Selama aku menyelenggarakan pameran di ViaVia, pameran ini adalah pameran yang karyanya paling bisa aku nikmati, hehe. Pameran ini merupakan pameran foto hasil perjalanan berbulan-bulan travelling back packer keliling Asia Tenggara mereka. Selama perjalanan itu mereka tinggal di hostel-hostel murah, bermain dengan anak-anak warga sekitar, blend in dan menghidupi setiap daerah yang mereka kunjungi, dan semua mereka tangkap dengan jeli menggunakan kamera dan gambar tangan mereka. judulnya pun "The Marginalized", karena yang banyak mereka temui dan selami kesehariannya adalah kaum-kaum terpinggirkan, kaum marjinal, mereka yang hidup sebagai penduduk kota, tetapi juga terhimpit oleh pergerakan kota itu sendiri. Karya foto yang banyak ini memenuhi seluruh dinding ruang utama restoran ViaVia. Pengunjung restoran mau tidak mau tersuguhi potret-potret indah dari area kumuh kota-kota di Asia Tenggara. Pameran ini berbeda dari pameran yang lain selama aku di ViaVia, juga karyanya paling bisa menyentuhku dengan cerita dan visualisasinya.

3.
ada lagi pameran dari Octo Cornelius. Pamerannya di ViaVia adalah pameran tunggal perdananya. Melihat pameran itu seperti melihat ia bercerita dengan akrab masa-masa hidupnya sedari ia kecil sampai perjalanannya membawa ia ke Jogjakarta. Masa-masa bertualangnya saat remaja di Rembang dan di Jogja, sampai masa dewasanya yang sudah lebih bijak di Jogja. Ia mengekspresikan pengalaman dan ceritanya, lewat benda-benda yang terbengkalai selama masa hidupnya berjalan lalu ia kombinasikan dengan craftmanship-nya yang terampil mengolah kayu. Senang rasanya melihat Octo pada pembukaan pamerannya, ia membagi secuil kisah hidupnya pada para pengunjung di malam itu; tentang knalpot dari motor custom kebanggaannya dulu yang kini menjadi bangkai kemudian ia oleh menjadi karya, tentang pengalamannya menjadi mahasiswa fotografi di ISI Jogjakarta (dan hantu juga tokek yang menghuni studionya), tentang Rembang kota kelahirannya di pinggir pantai yang jauh dari matanya, tapi selalu dekat di hati dan kulit gelapnya.

No comments:

Post a Comment