Tuesday, March 14, 2023

Melindungi dan Melayani. Siapa?

Tolong, ada yang bisa membantu saya memahami logika cara kerja negara ini melindungi warga negaranya?

Saya punya pertanyaan terkait kasus-kasus penangkapan warga negara nih. Kita ambil contoh kasus obat-obatan terlarang aja ya. Baru-baru ini dikasih soal cerita yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. 

Saya paparkan alur logika yang saya pahami dan asumsikan dulu ya. Dalam UUD 1945 Pasal 30 ayat (4), di jelaskan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum. 

Sekarang kita menggunakan sudut pandang perihal obat-obatan terlarang ya. Kalau objektifnya adalah (pertama) melindungi, lalu mengayomi, serta melayani masyarakat, saya berasumsi, bahwa tindakan yang seharusnya digalakkan adalah mencegah. Saya punya asumsi demikian karena tugas yang diberikan negara pada role-circle polisi ini adalah terlebih dulu melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Menegakkan hukum dicantumkan paling akhir, dan kata-katanya menegakkan hukum, saya berasumsi ada implikasi peran analisis disana. Hukum apa yang tidak tegak, mengapa, dan bagaimana duduk perkaranya. Semua warga Indonesia yang pernah menyimak pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan pasti tahu kalau menggunakan dan atau mengedarkan obat-obatan terlarang melanggar hukum. Kalau logika dan nalarnya jalan, ya kan? 

Logika:
Kalau tidak ada yang mengedarkan sedari awal, maka tidak akan ada yang menggunakan. Hukum Ekonomi bilang, jika tidak ada demand tidak akan ada supply. Akur? Ok. Jadi logika saya supply demand ini yang perlu dikaji dan diatur. Kalau bisa STOP TUNTAS supply, UNTUK MENCEGAH ada demand. Karena fokus utamanya melindungi warga negara. Kalau sampai terpantau ada demand, usut supply-nya, cabut akarnya.

Pertanyaan:

  1. Kalau polisi menjalankan tugas yang diberikan negara, fokusnya pada melindungi warga negaranya, bukankan seharusnya ia melindungi warganya dari pengedar?
  2. Kalau polisi menjalankan tugas yang diberikan negara, punya mental-model (mindset) mengayomi masyarakat, saat mendapati ada seorang pengguna, bukankah sebaiknya pendekatan yang dipakai berfokus pada rehabilitasi pengguna, mencari metode yang paling mutakhir dan efektif, melakukan studi-studi user-centered bekerjasama dengan universitas kedokteran atau lembaga terkait lainnya, alih-alih mengancam hukuman penjara? *Lain soal kalau pengguna ini ikut mengedarkan ya.
  3. Fokus pada objektif pertama, melindungi, bukankah lebih baik menemukan akar borok penjual dan pengedar dan menjatuhkan hukuman sesuai ketentuan kepada para pengedar dan penjual, alih-alih menghukum pengguna?
  4. Kalau polisi menjalankan tugas yang diberikan negara, melayani masyarakat, apakah kerabat pengguna tidak termasuk masyarakat yang juga harus dilayani? Jika kerabatnya ditangkap karena menggunakan obat-obatan terlarang, bukankah harusnya dilayani bagaimana kerabat yang mungkin merasa dibohongi ini bisa menemukan solusi terbaik untuk mencegah anak atau kerabatnya menggunakan lagi, alih-alih meminta kerabat membayar?
  5. Kalau polisi menjalankan tugas yang diberikan negara, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, apakah cocok dengan modus operandi memantau pengguna, memancing pengguna, dan menangkap pengguna untuk dihukum? Bagaimana dengan pengedarnya?
  6. Kalau polisi bisa memantau pembeli, membeli obat-obatan terlarang, menarget si pengguna untuk diamankan setelah sekian lama, tidakkah terpantau juga si pengedar? Apakah si pengedar juga diamankan?
  7. Kalau aturan yang sudah sekian lama dibuat ternyata tidak efektif, dan kejadian berulang terjadi lagi, apakah tidak sebaiknya ada pengkajian dan analisis ulang? Mungkinkah ada structure yang enable proses pemberantasan terkendala?
Pertanyaan terakhir:
Apakah mental-model penegak hukum di negara ini, yang utama adalah menghukum masyarakat sebelum melindungi, mengayomi, dan melayani?

Ah, mungkin terlalu berat membahas obat-obatan terlarang. Kalau kita bergeser kacamata, melihat dari sudut pandang penertiban lalu lintas, misalnya. Kembali lagi, kalau tugasnya adalah melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, saya rasa bijaknya fokus tindakan yang digalakkan adalah menyediakan rambu dan marka yang sangat jelas bagi pengguna jalan. Yang seragam dan minim ambiguitas. 

Apakah kalau di perempatan, belkibolang hanya berlaku jika ada rambu, kenapa kalau dilarang belkibolang juga tidak diberikan rambunya? Kenapa masih ada saja yang melanggar batas maksimal kecepatan di jalan raya (apakah rambu dibuat sebagai dekorasi jalanan saja)? Adakah kajian di dalam kepolisian mengenai mental-model masyarakat dalam memahami aturan lalu lintas? Mengapa mental-model demikian tercipta? 

Melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Mayoritas masyarakat yang waras dan tegak logikanya, jika merasa dilindungi, diayomi, dan dilayani, saya jamin akan ikhlas mematuhi aturan hukum. Maka tugas Anda untuk menegakkan hukum akan lebih efektif efisien berfokus pada oknum yang melakukan pelanggaran. Dan saya percaya, mayoritas masyarakat Indonesia, kaya maupun miskin, adalah warga negara yang baik, warga negara yang humanis. Warga negara yang waras dan tegak logikanya. Tapi jika kami terus diberikan harapan yang semu, jika kami merasa negara tidak berpihak pada kami, merasa bahwa tugas kami sebagai warga negara adalah melindungi, mengayomi, dan melayani penguasa, bagaimana kami bisa memelihara kewarasan dan tegak logika kami?

Saturday, February 25, 2023

Mencoba Melambat 1


Di usia yang ke-36 ini, saya baru menyadari beberapa hal.

Dulu saya pikir saya menikmati pertemanan yang super banyak, punya aspirasi jadi anak gaul yang menikmati suasana di tengah hiruk pikuk. Banyak teman nelpon ke rumah hanya untuk minta saran atau curhat. Dan saya ga ngeluh. Saya merasa menemukan arti diri saya dengan pertemanan dan berada di hiruk pikuk. Sekarang, berhadapan dengan (apalagi ada di tengah) hiruk pikuk sungguh menghabiskan daya energi, dan saya menemukan diri saya cukup kikuk ada di hingar bingar suasana. 

Sebenarnya kalau dipikir keras, peralihan ini mulai terasa perlahan sejak menikah, kemudian hamil dan menjadi ibu pertama kalinya. Waktu itu, 10 tahun yang lalu, tapi tidak pernah saya ambil pikir dengan baik. Setelah melahirkan anak pertama, total 6 bulan saya masuk camp pendidikan pertama menjadi Ibu yang sedikit banyak otodidak. Saya menemukan banyak teori lama tidak relevan, dan teori baru sungguh membebaskan dan menggoda. Walau setelah itu sedikit banyak juga melahirkan konflik-konflik biasa dalam keluarga besar. Waktu itu rasanya tidak biasa, sekarang, kalau melihat ke belakang, rasanya ya biasa, karena pasti perubahan dalam lingkungan lama, memiliki tendensi melahirkan konflik. Kalau dulu pasti ada dramanya, sekarang rasanya ya, tinggal dihadapi aja. Mau sepelik atau sekompleks apa, tidak ada yang bisa dilakukan selain menghadapi. Ini pelajaran pertama motherhood saya. Hadapi. Apapun itu.

Jadi dalam 6 bulan pertama rasanya saya benar-benar tidak keluar rumah, setiap hari rasanya saya harus belajar hal baru, eh, ralat, setiap hari rasanya saya harus menghadapi hal baru. Baik itu perihal, pelajaran, drama, atau ketidaktahuan dan keputusasaan. Belum lagi rasa lelah dan sakit badan (secara general maupun sektoral, terutama di bekas luka jahitan dan payudara yang baru pertama kalinya memproduksi susu). Pertama kali saya "keluar" ke sebuah pertemuan pasca event yang saya dan rekan-rekan kerja inisiasi, untuk pertama kalinya saya kembali bertemua orang banyak. Di saat itu saya baru menyadari bahwa saya banyak kehilangan kata-kata, literally. Jadi ada saatnya saya mau bicara di depan banyak orang terus otak saya kaya nge-blank gitu, saya tidak bisa menemukan kata-kata dalam sebuah struktur kalimat bahasa, yang saya cari untuk mengungkapkan sesuatu. Saya pikir saya jadi bego. Untungnya kemudian saya bisa menemukan banyak pembenaran kenapa kapasitas otak saya terasa menurun 🤪

Dan lewat tulisan ini saya jadi berpikir kalau di saat itulah sebenarnya saya baru saja memasuki fase baru dalam hidup saya. Fast forward, 2 anak kemudian, saya tidak benar-benar menyadari dan menghayati transformasi non-fisik dalam diri saya. 

Satu minggu yang lalu saya berbincang dengan Kakak Wali Kelas Laut, anak pertama saya. Awalnya perbincangan masih di sekitar Laut; bagaimana dia di kelas, perihal dan pengalaman apa saja yang dialami Laut di dalam keluarga di rumah, dan sebagainya. Sampai kami pada sebuah titik perbincangan, "Kenapa ya, Laut suka buru-buru?" Karena ke-buru-buru-an-nya ini sering membuat Ia tidak teliti, kurang bisa menikmati proses dan percayalah, kadang bersamanya di saat-saat seperti itu sungguh annoying, dan ternyata bagi siapapun, bukan hanya bagi saya ibunya. Sampai pada suatu titik, salah seorang Kakak Wali Kelas melontarkan sebuah pertanyaan, "Tapi pertanyaan Bu, kalau di rumah, pacunya memang selalu cepat dan buru-buru gitu ya?" Saya hendak langsung menjawab tapi tertegun, "Eh...bener juga sih ya..di rumah tuh pacunya memang selalu cepat. Saya memang selalu memburu-buru semua untuk lebih cepat, dan lebih cepat lagi." pertanyaannya, "kenapa ya?"



Ternyata, akar "buru-buru" itu tertanam-nya di saya..welahdalaah..yang kurang bisa slowing down dan menikmati proses itu saya. Dan saya ternyata "proyektor" di rumah.

Penyadaran ini datang satu minggu yang lalu. Dan sebelum saya bisa proses pertanyaan "kenapa" dalam diri saya, ternyata banyak yang harus dibongkar dulu. Salah satunya mungkin lewat cara ini, menyadari transformasi atau perubahan-perubahan non-fisik yang saya alami. Gejala yang teridentifikasi adalah, 
  • Saya tidak lagi menikmati affiliated-but-unidentified-crowd. Kalau total stranger saya malah baik-baik saja.
  • Pun sudah teridentifikasi, saya tidak bisa dengan mudah bisa masuk ke dalam crowd tersebut, karena
  • Saya merasa kikuk menghadapi crowd
  • Saya menikmati kesendirian. Dengan buku, dengan pad menggambar, dengan media menulis
  • Tapi kadang di titik ekstrim sampai saya merasa terganggu ada noise "wajar" dari keluarga terdekat.
  • Mungkin salah satu efek baiknya (mungkin ya), saya jadi super fokus dengan tujuan saya. Saking fokusnya saya bisa marah-marah dan mengesampingkan semua yang stand in my way, hahaha. termasuk marah-marah sama orang-orang yang nyetir-nya-ya-ampun-deh di jalan. I DON'T CARE WITH OTHER PEOPLE. errr..setelah dituliskan ini kaya yang bukan efek baik dah 🫠
yang kemudian perlu saya dalami dan caritau mungkin penyebabnya. Salah satu cara yang mungkin saya bisa lakukan adalah dengan menulis ini. Mencoba memetakan dan mendokumentasikan isi kepala saya. Bercermin.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin menuliskan salah satu refleksi-refleksi awal yang saya petik. 

Kalau memang pointer-pointer tadi membuat saya cemas karena saya tidak lagi merasa valuable dengan cara lama, cara satu dekade yang lalu, mungkin saya harus mencari cara baru untuk merasa berarti. Tentunya tidak dengan menggantungkan value diri pada anak ya, karena mereka punya hidupnya masing-masing. Kami sekarang ada di jalan yang sama, bersama, tapi soon mereka akan menemukan bahwa ada jalan lain yang bisa mereka ambil untuk mewujudkan tujuan hidup mereka. Pada saatnya tiba, saya harus bisa legowo, salah satunya dengan menemukan juga tujuan hidup diri ini apa sih, dan living life, menapaki jalan untuk mencoba mewujudkannya. Bukankah hidup ini adalah perjalanan dan proses yang tak putus? Saya berkaca dari para orangtua murid di sekolah anak saya yang aktif di group whatsapp karena menulis, karena membangun koperasi, karena saling lempar tangkap guyonan. Semua sah-sah saja, saya harus bisa seperti mereka, to unlearn and relearn myself.

Monday, January 2, 2023

Galau Versi 2000an

Train of thoughts dari meninggalkan jejak, mikirin perihal meninggal, jadi inget lagu I Will Follow You into the Dark, terus jadi inget lagu-lagu Death Cab for Cutie (DCfC) dan Postal Service yang jadi favorit. Selain terngiang-ngiang, terbayang-bayang juga visual video klip lagu "I Will Follow You into the Dark" yang ikonik dengan sketchbook berisi gambar-gambar kelinci. 

Bicara soal video klip I Will Follow You into the Dark ini, saya jadi sadar betapa video klip dan topik lagu ini nempel di pola pikir dan alam bawah sadar saya, karena gambar buku cerita yang saya buat untuk buku Kinci Baya saya dan Laut ternyata mirip banget sama gamabr-gambar kelinci di sini. Padahal referensi gambarnya dulu total dari pinterest, beneran lupa sama video klip ini. Pada masanya, di zamannya, di mana Youtube belum ada (atau kalaupun sudah ada, belum lazim digunakan secara massal, apalagi di Indonesia) penyebaran video klip (dan lagu-lagu, album, dari band-band Independent, band-band yang albumnya ga di release sama major label yang jangkauannya kurang global) itu lewat flashdrive atau flashdisk. Colok, copy, dan paste dari satu komputer ke komputer lainnya. Ga jarang dia jadi kena, bawa, dan menularkan virus. 




Iya, pernah ada lho, jaman-jaman itu. Layaknya dulu pernah ada sebuah zaman di mana kalau mau telfon teman, harus telfon ke telfon rumahnya, dan bersiap berkata-kata sopan di depan karena bisa saja yang mengangkat itu Ibu, Bapak, atau malah Nenek Kakeknya teman. Satu telfon buat sekeluarga.

ENIWEIII, kenapa jadi kemana-mana..

dari I Will Follow You Into the Dark, beralih ke video klip "What Sarah Said" yang sangat menghantui, bikin overthinking. Cerita sedikit tentang video klip dan lagu What Sarah Said ini, jaman lagu ini masih jadi topik hangat percakapan, saya tinggal di sebuah kosan di Bandung. Lagu ini (beserta video klipnya) sering kami bahas di sore hari saat kami berkumpul di meja makan. Ada yang baru pulang kampus, pulang kerja, atau baru keluar dari kamar, baru bangun, haha. Sambil ada yang makan, ada yang ngerokok, ada yang ikut duduk buat ikut gosip aja. Mostly berdebat hal-hal trivial yang kurang penting, seperti makna lagu dan video klip "What Sarah Said" ini. 

"Itu tuh cewenya hantu, nyet.." (jaman ini ngomong nyet untuk menyapa teman kaya musim banget)
"Masa sih, itu kayanya imajinasi deh, atau flashback.."
"Iya liriknya aja 'Love is watching someone's die..' Gila sih emang lagu nih.."
Lalu anggota lain partisipan diskusi ikut nyamber dan menimpali,
"Hah, kok love is watching someone's die sih? gw ga ngerti.."
"Iya ego (bahasa slenge'an "bego", lagi-lagi jaman ini juga kata ego(k) itu sering dijadikan panggilan), Cinta tuh ngeliat orang mati. Kaya semacam test gitu lho, lo bisa ga? Cinta tuh let go..", si paling filosofis langsung menimpali dan melanjutkan di saat semua sedang sunyi mencerna kebingungannya masing-masing, "Pertanyaannya kan, 'So who's gonna watch you die..' gila gila gila.."

Ya gitu deh kira-kira, abis ini pembahasan bisa lari-lari kemana-mana banget, terus ngobrol sampe dini hari. ENIWEIII, poin dari postingan ini sebenernya mau bahas Galau Versi 2000an sih. Diambil dari sampel lagu-lagu Death Cab for Cutie, Postal Service, dan Iron & Wine. Kalau diingat-ingat, pemaknaan lagu-lagu mereka terhadap "cinta" (galau kan biasanya karena cinta ya..apalagi usia-usia waktu itu sih, fix galau karena urusan cinta hahahahaha), at least yang di sampel di sini menurut saya dalem banget sih, dan sepertinya tanpa sadar saya adopsi.

Dimulai dari lagu I Will Follow You into the Dark (DCfC, 2005) yang dibuka dengan lirik, 
"Love of mine, someday you will die, but I'll be close behind, I'll follow you into the dark"
WOY, orang mah yang-yangan tuh, "aduh, aku cinta kamu, kamu sempurna banget, dunia miliki kita, yang lain ngontrak." ini, "Yow cintaku, suatu saat kamu akan mati.." hahahahaha. Keren banget tapi menurut saya sih, dan pembuka lagu ini kaya "BLAKKK!" langsung nempel banget di otak saat itu, membuat saya punya pemahaman dan perspektif lain kalau bahas "cinta". Lagu ini ditutup dengan chorus "And if Heaven and Hell decide that they both are satisfied. Illuminate the no's on their vacancy signs. If there's no one beside you when your soul embarks. Then I'll follow you into the dark."

Ngomong-ngomong kalau ada yang penasaran, ini di youtube saya bikinin playlistnya, tinggal di play aja. Niat banget emang, padahal banyak kerjaan 🥲 oh my..


Lanjut ke lagu "What Sarah Said" (DCfC, 2005), tadi udah dibahas ya, lagu ini closingnya juga nampar banget dengan lirik, "Love is watching someone's die. So who's gonna watch you die?" diulang-ulang udah kaya mantra, hii, serem abis. Tapi lagi-lagi, dengan pemahaman baru dari lagu "I Will Follow You into the Dark" tadi jadi make sense

Di tahun 2003, Postal Service (yang orangnya ya itu lagi itu lagi sebenernya, dia dia juga di Death Cab for Cutie) punya lagu judulnya "We Will Become Silhouettes" (susah amat nulisnya, setdah!). Awal denger tertarik karena lirik yang tercerna saat itu cuma "And we become..silhouettes when our bodies finally go.." tapi setelah dibaca lagi liriknya, kayanya tentang situasi bom atom..kayanya ya. Lucunya, topik se-grim itu dibalut sama beat yang bubbly. Kontradiksi itu aja sangat menarik perhatian. Tapi lirik bahwa "Ya, kayanya kita nanti bakal jadi siluet aja sih kalo badan kita udah ga ada", lagi-lagi sangat menginspirasi saya pada masanya.

Masih overthinking soal cinte, lagu terakhir saya sertakan "Naked As We Came" dari Iron & Wine di tahun 2005, tahun dimana saya baru-baru saja bertransisi dari anak SMA ke Mba-mba kuliahan. Masa-masa paling bodoh tapi berasa paling invincible dan bullet-proof 🤣. Ya mungkin karena bodoh dan gatau apa-apa sih, makanya berasa udah si paling sedunia, wkwk. Kalo lagu ini ga cuma liriknya, tapi video klipnya asli bagus banget 🥲, sangat poetic. Liriknya begini nih, 

She says, "Wake up, it's no use pretending"
I'll keep stealing, breathing her
Birds are leaving over autumn's ending
One of us will die inside these arms
Eyes wide open, naked as we came
One will spread our ashes around the yard

She says, "If I leave before you, darling
Don't you waste me in the ground"
I lay smiling like our sleeping children
One of us will die inside these arms
Eyes wide open, naked as we came
One will spread our ashes around the yard

Lalu videoklip-nya panning kamera aja menangkap gambar-gambar makanan yang udah abis dimakan, atau sisa-sisanya yang disemutin, sampe di ujung ada 2 anak, laki-laki dan perempuan, terus si anak laki-lakinya mencuri cium pipi dari si anak perempuan, lalu mereka lari kejar-kejaran. Setelah itu kamera panning lagi berbalik arah ke meja panjang tadi yang ajaibnya makanan-makanan yang tadi udah sisa dan buyatak jadi makanan segar lagi. Udah gitu aja. Sederhana tapi cocok banget ngegambarin lirik lagunya. Manis dan sederhana tapi bermakna banget. kalo kata Pram kan ya, "Hidup itu sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirnya."

Menutup tulisan saya kali ini, adalah kutipan dari salah satu chapter komik "Vinland Saga" di chapter 37 yang judulnya "Meaning of Love". Saya pribadi belum baca komik ini, tapi diceritain isinya dan chapter-chapter yang bagusnya sama Saska. Waktu Saska menceritakan chapter ini, saya tersentuh banget, karena beresonansi dengan makna cinta yang saya petik dari lagu-lagu yang saya dengarkan bertahun-tahun sebelumnya. Mengutip dari komik Vinlan Saga,

"He is dead, and therefore more beautiful than anyone alive. You might say he is love itself. For you see... he will not hate, nor kill, nor steal. Don't you find that wonderful? His body will be abandoned here... and his flesh will feed the beasts and insects. He will be blown about by the wind... and pelted by the rain... and he will not raise a single word in complaint. It is death that completes a man.— Willibald






Thursday, December 29, 2022

Random Post About Random People When You Want to Write About Other Thing

Dalam draft blog saya ada lebih dari dua tulisan tentang perjalanan akhir dari rentang petualangan summer school di bulan Juli-Agustus 2022 lalu. Belum tuntas tentu saja, haha, karena saat road trip sebelum akhirnya naik pesawat pulang, dalam kesehariannya lebih tidak ada rutin yang terbangun. Saya pun mencoba sebisa mungkin mengawetkan perjalanan saya dalam ingatan (dan sedikit foto) dengan mencoba menjalani dan merasakan seutuhnya di setiap waktu yang saya lalui. Lagi-lagi tidak mudah, karena road trip kemarin saya tidak sendirian, ada waktu-waktu saling bercerita, diskusi, dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang saya temui; baik itu yang spontan dan tak terencana, maupun yang sudah direncanakan.

Sempat ada cerita menarik dari orang yang saya temui secara tidak sengaja, sewaktu di Prague. Namanya Ebru, dia mahasiswi Pakistan yang sedang mengambil master di Jerman dan sedang travelling, kebetulan salah satu rutenya Prague. Ketemunya juga lucu, saya baru saja selesai mengikuti walking tour dari 100 spires di jam-jam makan siang, saat sedang scanning resto yang cukup ok (secara rasa, feasibility, otentisitas, jarak dari tempat saya selesai tour) ada seorang perempuan berhijab, menghampiri dengan wajah bingung sambil celingak-celinguk antara lihat jalan, deretan bangunan, dan layar handphone-nya. Dia mendatangi saya dan menanyakan sebuah restoran. Walau bukan akamsi alias locals, saya sempat membaca nama resto yang Ia cari saat scanning resto sambil jalan tadi, jadi saya menunjukkan bangunan yang jaraknya sekitar 150 meter dari sana. 

Resto yang di cari, saya foto sebelumnya soalnya exterior restonya mencuri hati, hehe. Di latar belakang bangunan ada tulisan "The Wall Pub", resto yang saya pilih ada tepat di sebelahnya.

ini nama restonya, saya gatau bacanya apa 😅

Perempuan tadi pun berterimakasih, sumringah, dan bergegas ke destinasi yang ia tuju. Saya, di sisi lain, memutuskan untuk masuk ke resto di sebelah saya. Saya membuat keputusan itu karena di lorong pintu masuk resto ada gambar Yellow Submarine-nya beatles HAHA. Random banget i know, but sometimes people just attracted to something familiar or dear to them.





Ini resto yang membuat saya menjatuhkan pilihan. Saya pun mencari kursi, duduk, dan bersiap mempelajari menu dan memesan makan, sampai... perempuan tadi tampak bergegas masuk ke restoran ini juga. Karena "kenal" saya pun tersenyum sumringah dan bertanya apakah dia ingin makan siang bersama. Entah mengapa, mungkin karena dia sesama perempuan, menggunakan hijab, saya instantly merasa punya kesamaan (karena yakin kami meyakini Tuhan yang sama, haha) dan merasa aman. Namanya Ebru. Rasa yang sama seperti saat saya bertemu Lifam di solat Iedul Adha di Delft sebelum summer school mulai, sebelum saya tau bahwa Lifam ternyata sesama pelajar di summer school. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab dan saling bertukar cerita, pengalaman, dan pendapat, termasuk cerita-cerita menarik yang saya dapatkan dari walking tour. Ebru tidak sempat ikut walking tour pagi ini karena memilih untuk mengunjungi tempat-tempat spesifik yang menjadi incarannya, termasuk restoran tadi. Sore itu Ia harus pindah kota bersama rombongan tour roadtrip nya. Saya sudah lupa apa penyebab Ebru memutuskan tidak makan di restoran yang tadi Ia tuju.

Setelah makan siang, kami pun berjalan sedikit, saya menceritakan kembali cerita-cerita yang menurut saya paling berkesan dan menemani Ebru membeli oleh-oleh dari Prague. Ini Ebru :)





Begitulah, buat saya, kadang yang membuat sebuah "perjalanan" berharga, justru adalah orang-orang yang saya temui secara tidak sengaja. Rasanya seperti kenalan dan merasakan takdir. Ada bahasan panjang lagi kalau membahas "takdir" hahaha, kapan-kapan nulis lagi. Tadinya saya buka blogger lagi juga karena mau nulis hal lain yang lagi jadi pikiran. Ada banyak "aha moment" di kepala saya, dan saya punya tendensi untuk menuliskannya, supaya ga berisik. Baik itu saya yang jadi berisik cerita terus kalau ketemu orang, maupun pikiran itu sendiri yang berisik di kepala saya sampai akhirnya dia hilang begitu saja. Saya suka sedih kalau Ia menghilang begitu saja karena telat saya hiraukan. Belakangan saya suka menuliskannya di buku catatan (notebook) karena biasanya kalau kepala saya lagi berisik, "menyalurkannya" lewat tangan membantu. Dan tentunya lebih praktis dan cepat. Cita-citanya tentu untuk dituangkan kembali secara digital supaya ada rekam jejaknya, siapa tau Laut atau Koral suatu saat bisa baca dan bisa relate. Atau untuk sekedar meninggalkan "ideas of thoughts" yang katanya immortal dan bulletproof, can exist long after my physical body is gone. Kalau kata Pak Pram (Pramoedya Ananta Toer), “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Saya selalu merasa tergugah bila membaca quotes dari buku-buku Pram, dan tentu saja terpecut untuk terus menuliskan buah pikiran atau rangkaian pikiran yang saya dapat. Tapi menuliskan kembali selalu butuh waktu, kesabaran, dan keteguhan. Kadang saya kehabisan salah satu atau malah kesemuanya dalam gerusan rutinitas harian.

Postingan random ini akan saya cukupkan di sini, apa yang tadinya saya niatkan untuk tulis akan saya pisahkan di post selanjutnya :) Dan ohya, postingan hasil perjalanan road trip sebelum pulang bulan Agustus lalu juga masih saya niatkan untuk tulis-publish, tentu saja. Semoga saya selalu bisa menciptakan ruang di mana waktu, kesabaran, dan keteguhan hadir dalam keseharian saya. Amin.



Monday, July 25, 2022

18/28 Sebuah Presentasi Akhir (Part 2: Them o Crazy)

Lanjut ya..

I have to change to stay the same.
 
  
This photo taken by @nashalalalainthemorning before i edit it for the presentation.


Jadi sejak kunjungan pertama di tengah minggu kami site visit untuk uji coba metode pengumpulan data, pelajaran dilanjutkan dengan sesi-sesi kelas dengan materi pembelajaran lain seputar project-project thesis mahasiswa yang topiknya menarik-menarik banget. Juga cara mereka mempresentasikannya. Saya mencatat beberapa struktur riset dan presentasi yang mungkin bisa diduplikasi di Labtek Indie. Salah satunya adalah emphasizing pada clear structure on:

1. Problem
2. Research Questions
3. Evidence-based data
4. Evidence-based proposed solutions

Tentunya “evidence-based” means ide-ide proposed solution harus “membumi” melihat kenyataan di lapangan, dan kalau bisa melibatkan stakeholder di lapangan untuk ikut merancang atau sekedar sumbang ide. Pretty much the idea of the User-centered Design approach. Tentunya kalau di project-project riset di Labtek, kami sebagai researcher sebisa mungkin ga propose “solusi” di fase riset. Karena solusi di-generate dengan modul lain bersama product owner, supaya beban tanggung jawab dan ownership “solusi” tidak lekat di pundak researcher, alih-alih pada penaggung jawab pengembangan product; product owner. Tapi jadi ngeh banget pentingnya researcher ngasih hint yang TEPAT ke pihak product owner. Hint yang evidence-based.

Saya suka semua materi yang ada di Summer School! Tapi materi yang paling saya suka mostly terkait “Just Governance” atau tata kelola organisasi yang lebih adil/merata. Ada beberapa keyword yang saya catat untuk saya caritau lebih lanjut nanti, seperti polycentric governance dan urban resilience in justice.

There are two kind of justice, procedural justice and distributive justice. Dalam distributive justice, sustainability tidak hanya dilihat dari aspek bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan layak hidup bagi semua di masa depan (Intergenerational justice), tapi juga mempertimbangkan intragenerational justice. Masuk akal sih, karena selama ini kalau saya mendengar sustainability, rasanya banyak yang bicara soal masa depan. Selalu tentang masa depan, kehidupan dan lingkungan bagi anak cucu kita (kita? Lu kali..). Tapi sering dilupakan, bagaimana kita bisa menciptakan sustainability bagi generasi mendatang jika generasi kita sendiri tidak hidup sustainably. Bagi saya pribadi, pemikiran ini memantik refleksi soal bagaimana isu sustainability berkembang di lingkaran saya. Seringnya orang bicara tentang sustainability di lingkaran yang memang sudah aware dengan isu ini. Yang berkumpul dia lagi, dia lagi. I must do things differently. It’s just a matter of how.

Topik Just Governance dan Just Transition kemudian sangat lekat dengan proses participatory user dalam pengambilan keputusan, which lead us to..democracy. Karena model tata kelola (governance) yang paling melibatkan semua atau partisipatif, distributive, maka asumsinya tidak akan ada yang “ditinggal” dalam sebuah kebijakan, adalah demokrasi. 

Menilik dari praktek demokrasi dan politik di Indonesia, hati saya kecut rasanya. Saya tidak punya kepercayaan pada praktek demokrasi di Indonesia. Apalagi pada praktek politiknya yang sama keruhnya dengan kali-kali Jakarta. Isinya pun sama dengan kali-kalinya.

Tapi ke-skeptis-an saya ini sesungguhnya memantik sesuatu. Sebetulnya, jika kita kesampingkan praktek politik yang sudah berjalan “memang seperti itu adanya”, dan menilik pada tata kelola adat istiadat di Indonesia, sebetulnya ada yang works kan. Hanya memang Indonesia sepertinya unique case, karena latar belakang budaya kita sangat beragam. Hampir ga mungkin rasanya mengeneralisir satu cara untuk semua. Saya jadi teringat buku “Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa”-nya Nurhady Sirimorok. Ahh, buku ini harusnya jadi buku bacaan wajib semua politisi di Indonesia. Dan juga semua mahasiswa penerima beasiswa yang belajar di luar negeri dan berencana kembali ke Indonesia untuk membangun negara.

Eniwei, pembahasan tentang demokrasi ini sesungguhnya cukup mengambil banyak tempat di kepala saya. Ide-ide bermunculan, tentunya beberapa memicu ide untuk bisa di-riset dan mungkin di uji coba di Labtek Indie. 

Minggu pertama Summer School-pun ditutup dengan site visit untuk pengambilan data lebih banyak. Berikut sedikit dari banyak gambar-gambar anak yang ada di galeri foto saya:

    

Beres mengambil data, kami keliling lagi berjalan ke arah halte bus untuk ke stasiun kereta. Kami memutuskan untuk pulang naik kereta supaya cepat sampai karena capek.


Chocolate cupcake delivery service.

Private boats 

Me, Nasha, Fernanda, Aaron.

Taken by Fernanda ♥️ 


Hari itu hari sabtu, sesampainya di Delft kami berdiskusi singkat, brainstorm tentang bagaimana kami ingin merancang presentasi kami nanti. Tepat pukul 21:00 saya pun pulang melajukan sepeda ke kosan, mumpung matahari masih ada sinarnya walau sudah meredup.

Besoknya adalah waktu bebas, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Eindhoven, kota yang saya, Saska, dan Laut kunjungi di 2014. Saya bertemu Anti (Gwen, Garett, dan Giani, juga Mamad) dan sowan ke rumah Tante Nine. Kebetulan Natasjh, anak bungsu Tante Nine baru saja lulus kuliah, jadi ada acara surprise kecil dan makan-makan tentu saja :)

Plaza di centrum Eindhoven. Waas.
Primark, setelah 8 tahun.

Perbaikan Gizi.


Tante Nine dan keluarga dan teman-temannya :)

Hari senin, summer school dimulai dengan another field trip 🥾 dan diramalkan heatwave lebih panas dari minggu lalu 😅 mateng sih.

Kali ini kami mengunjungi Rotterdam, dan lagi-lagi kami keliling kota jalan kaki beberapa puluh kilo 😅 Kaki saya semakin mbelgedes. Di Rotterdam kami mengunjungi taman nasional kicir angin yang dilindungi Unesco dan bendungan yang di-engineer untuk melindungi kota-kota di Belanda dari kemungkinan banjir, yang sejak pembuatannya, belum pernah diuji/test dengan real-case event 😅 mudah-mudahan sih jangan sampe ya, serem. Tapi kalo pun kejadian mereka siap banget karena selalu di- maintain berkala. 

rumah, rumah apa yang ga basah?
 
Foto a la turis depan kicir, merem, check!
Ini diaaaaa, yang bikin Belanda dinamain negara kicir angin.

Ada salah satu kicir yang bisa kita masuki, dan di dalamnya ada museum barang-barang apa saja yang biasa orang gunakan dan simpan, dan bagaimana mereka jaman dulu hidup sekeluarga dalam kicir angin :) ini salah satu foto dokumentasi penghuni kicir dan pekerjaannya; memancing. Ikan tapi, bukan keributan.
  
Setelah itu kami mengunjungi Cubic House

Ini rumah beneran lhoh, orang-orang tinggal di dalamnya!

 

Foto grup, soalnya nanti mesti ada foto grup di presentasi kelompok.
Fernanda (Brazil), Aaron (Germany), Me, Nasha (Thailand).

Pulang pulang kaki saya makin belang 😅
 
Dan semakin sakit dipakai jalan dengan sepatu satu-satunya. Kalo ga pake sepatu ga sakit. Seharian sehari setelah field trip, hari selasa, saya nyeker di kelas. Wan, Nasha dan Fernanda menyarankan saya untuk “ganti sepatu”. Yhia kan bawa banget tuh ya sepatu. Tapi karena asli sakit banget kalo dipake jalan pake sepatu, akhirnya di suatu break di hari Selasa saya sepedaan dulu ke sebuah supermarket/mall kecil berharap ketemu sepatu nyaman yang affordable.

Maunya beli Allbirds, tapi dompetku almostdone, wkwk. Jadi yaudah beli yang paling nyaman, paling affordable dan YANG ADA AJA

Hari-hari terakhir summer school diisi dengan kegiatan-kegiatan workshop dan menuntaskan isi presentasi kelompok. 

Ini hasil gambar-gambar yang kami kumpulkan dan kami “simpulkan”

Detil gambar-gambar anak

Gajah mekanik.

Pekan berlalu cepat sekali rasanya, Jumat tiba, dan ini adalah hari dimana kami harus mempresentasikan hasil kerja kelompok, pembagian sertifikat, dan penutupan summer school.

Total ada 18 kelompok, kelompok kami adalah kelompok 13 🐈‍⬛ dan presentasi dimulai dari kelompok 18 menurun. Ini video presentasi kami, direkamin sama Wan (Thank you Wan! ♥️)


Dengan berakhirnya presentasi dan pembagian sertifikat, selesailah secara resmi Summer School. Pembagian dan penutupan summer school diakhiri dengan haru biru, huhu. Dan tentunya foto-foto 🥲♥️

Malaysia, Indonesia, Thailand, Cambodia, South Korea, Japan, dan sebagainya

Awalnya cuma mau foto southeast asia 😅

Malah tadinya mau foto Indonesia Malaysia aja..Tapi jadinya semuanya ikut 😅

 


🇮🇩 Fitri dan saya.

Fitri, Lidya (Malaysia), Me
Fitri, Lidya, Me, featuring Wan & Nasha behind us wkwk
 

 


Me, Lifam, Fitri





Sampai jumpa kelompok 13, seru sekali 2 minggu bersama 🥲
Sampai jumpa summer school, terima kasih untuk ilmu-ilmu dan pengalaman barunya. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Semoga ilmu yang kita dapatkan bisa kita terapkan. Semoga.

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...