Thursday, August 20, 2009

mahapati, kamu jahat sekali

Saya sedang membaca sebuah buku dan menemukan kisah yang sangat menarik untuk saya bagi. warning, cerita ini mungkin panjang ya, padahal sudah saya coba singkat sebisa saya. anyway, walau panjang, tapi sekali lagi, cerita ini menarik. tentang seorang bernama Mahapati dari zaman Majapahit yang jahat sekali menurut saya.
here we go, merujuk pada buku Tafsir Sejarah Nagara Kretagama yang ditulis oleh Prof. Dr. Slamet Muljana (terbitan september 2008, LKiS Yogyakarta)


Alkisah dalam sejarah majapahit pada saat Raden Wijaya berhasil mendirikan kerajaan dan menjadi Raja Majapahit, segera dibentuklah sebuah kabinet.

Adalah Arya Wiraraja yang sangat berjasa kepada Raden Wijaya. Saking besar jasanya, ia bahkan dijanjikan daerah sendiri pada saat Raden Wijaya telah berhasil menjadi raja Majapahit, semacam pembagian wilayah kerajaan.

Maka setelah Kerajaan Majapahit terbentuk, ditunjuklah Arya Wiraraja beserta anaknya, Arya Adikara sebagai rakryan menteri. Sedang yang menduduki jabatan patih amangkubumi adalah Empu Nambi.


Arya Adikara sebenarnya mengincar posisi jabatan “patih amangkubumi”, dan ia sangat kecewa pada keputusan Raden Wijaya yang tidak memberikannya jabatan tersebut, karena ia merasa memiliki andil yang cukup besar pula pada keberhasilan Raden Wijaya menjadi raja Majapahit, apalagi, ia adalah anak Arya Wiraraja yang jasanya juga sangat besar terhadap Raden Wijaya.

Arya Adikara memiliki nama hadiah dari raden wijaya, ialah Rangga Lawe. Rangga Lawe pun memberontak, meminta Empu Nambi dicopot dari jabatannya sebagai patih amangkubumi. Peristiwa ini dikenal dengan pemberontakan Rangga Lawe.

Saat peberontakan Rangga Lawe ini terjadi, adalah Lembu Sora yang menjabat sebagai rakryan patih Daha, ia adalah paman dari Rangga Lawe, meskipun demikian, ia tetap memihak rajanya, Raden Wijaya, saat Rangga Lawe kemenakannya memberontak.


Long story short, Rangga Lawe berhasil tertangkap, dan ia pun dibunuh secara kejam oleh Mahisa Anabrang. Melihat Rangga Lawe dianiaya oleh Mahisa Anabrang di tepi Sungai Tambak Beras, Lembu Sora pun tidak tega dan menusuk Mahisa Anabrang dari belakang sampai mati, bagaimanapun, Rangga Lawe adalah anak dari saudaranya. Menurut undang-undang Majapahit, sebetulnya Lembu Sora bisa saja dihukum mati, tetapi ia belum juga mendapat hukuman dari Raden Wijaya karena jasa-jasanya masih menjadi pertimbangan.


Kita tinggalkan sejenak Lembu Sora yang menghadapi kekalutan hatinya. Sementara itu kita mundur sedikit, kembali pada waktu dimana Rangga Lawe masih menjalankan usaha berontaknya. Di waktu yang paralel, adalah Mahapati, seorang pembesar yang juga berambisi menduduki jabatan patih amangkubumi, sama seperti Rangga Lawe.

Ia pun bersiasat licik untuk menjatuhkan Empu Nambi, tapi, kalaupun ia berhasil memfitnah dan menjatuhkan Empu Nambi saat itu, bisa saja yang akan ditunjuk menjadi patih Amangkubumi adalah Lembu Sora yang sangat setia kepada Raden Wijaya. Mahapati pun memutar otaknya yang cerdas sesungguhnya, sayang liciknya bukan kepalang. Jelaslah, ia harus menjatuhkan Lembu Sora terlebih dahulu sebelum menjatuhkan Empu Nambi. Dan peluang itu muncul bagai anugerah dewata padanya: pembunuhan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora.


Kembali maju pada alur Lembu Sora yang sedang kalut. Pada waktu yang sama Raden Wijaya pun sedang gundah hatinya, ia merasakah konflik yang terjadi di tengah-tengah kabinetnya, ia merasa ada sesuatu diantara para menterinya.


Disinilah Mahapati masuk...


Mengaranglah ia pada Raden Wijaya, bahwa para menteri sebenarnya menaruh keberatan karena ia belum juga menjatuhkan ganjaran sesuai hukum yang berlaku kepada Lembu Sora, tidak hanya itu, bahkan Lembu Sora sendiri merasa curiga terhadap kebaikan Raden Wijaya tersebut. Marahlah Raden WIjaya dan berjanji akan langsung mencopot jabatan Lembu Sora, Mahapati pun mengambil hati Raden Wijaya dengan menasihatinya agar jangan gegabah, seolah membela Lembu Sora dengan bijaksananya.


Pergilah kemudian ia pada Mahisa Taruna, anak dari Mahisa Anabrang, memanas-manasi hatinya.


Kemudian beringsut kembali Mahapati pada Lembu Sora dan berkata bahwa Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang hendak menuntut balas dengan meminta bala bantuan dari Empu Nambi, dan ia nyatakan keberpihakannya pada Lembu Sora, mengambil hati dan kepercayaan Lembu Sora.


Ketika bertemu Empu Nambi, ia ceritakan bahwa Raden Wijaya hendak mencopot jabatan Lembu Sora dan menggantinya dengan Mahisa Taruna, ditambahkan, Mahisa Taruna juga sudah siap menuntut balas. Tapi keadaan yang ceritanya kacau balau itu berhasil Mahapati kendalikan dengan campurtangan personalnya. Empu Nambi pun terpikat dengan “kecekatan” Mahapati dan urun bantuan untuk mengurai simpul ini dengan menghadap Raden Wijaya dan meminta Raden Wijaya segera menghukum Lembu Sora agar tidak terjadi lagi ketegangan intern kabinet.


Lembu Sora sangat sedih mendengar desas-desus tersebut, ia pun bersama kawan-kawan setianya, Juru Demang dan Gajah Biru lebih memilih mati daripada dicurigai oleh raja yang pernah ia bela mati-matian. Mahapati masuk lagi, ia menghibur Lembu Sora dan mengatakan bahwa ia sudah berusaha sebisanya untuk mencegah Empu Nambi membujuk Raden Wijaya menjatuhkan hukuman padanya.


Sementara itu Raden Wijaya sudah memutuskan, mengingat jasa-jasa Lembu Sora yang tidak sedikit, ia tidak akan menghukum mati Lembu Sora, tetapi akan mencopot jabatan dan membuangnya. Lembu Sora dikatakan menolak keputusan tersebut. Raden Wijaya menjadi susah hati melihat hubungan karibnya dengan Lembu Sora, harus bersengketa. Mahapati di depan Raden Wijaya kembali membela Lembu Sora dan memberikan usul bagaimana kalau Raden Wijaya memberikan perintah tertulis saja dan ia akan memercayakan dirinya menjadi kurir. Raden Wijaya pun setuju dan surat diantar Mahapati pada Lembu Sora.


Surat dibaca Lembu Sora, ia pun memberikan jawabannya secara tertulis pada Raden Wijaya, isi suratnya berkata bahwa ia masih menaruh cinta bakti dan bersedia menyerahkan jiwa raga di hadapan Sang Prabu (Raden Wijaya). Ia tidak akan membantah meski akan diserahkan pada Mahisa Taruna sekalipun. Segera ia dan kawan-kawannya akan menghadap istana.

Surat tersebut diberikan pada Mahapati.

Dan Mahapati yang tidak puas pada reaksi Lembu Sora menyampaikan pada Raden Wijaya bahwa Lembu Sora dan kawan-kawannya sudah sepakat untuk khianat.


Maka saat Lembu Sora dan kawan-kawannya sampai di istana untuk menghadap Raden Wijaya, pengalasan mengatakan Baginda tidak bersedia menerima mereka, dan ketika Lembu Sora memaksa untuk masuk istana, alih-alih diterima oleh Raden Wijaya, Sora diserang oleh tentara Majapahit yang telalh dipersiapkan Empu Nambi.


Dalam perkelahian itu Lembu Sora, Juru Demang, dan Gajah Biru gugur.

Siasat Mahapati berhasil dengan baik.


Long story short, pada akhirnya Empu Nambi juga dijatuhkan oleh Mahapati dengan cara yang tidak kalah jahatnya.


DAN Mahapati pun pada akhirnya berhasil menjadi seorang Patih Amangkubumi


there u go. sebenernya cerita waktu dia menjatuhkan Empu Nambi kemudian itu SAMA jahat dan liciknya! gila banget lah orang ini. jahat pisan san san.

saya jadi inget kata-kata temen saya: "ada dua macem orang yang selalu dapet kemudahan dalam mewujudkan keinginannya mit! kalo ngga di bener-bener baik, dia BENER BENER JAHAT."

ya, dalam kasus ini, terbukti! karena si Mahapati ini tampak selalu dapat kemudahan dan jalan, padahal dia jahat bukan main. suka jadi kesel sendiri, kan kasian Lembu Sora.

No comments:

Post a Comment