Thursday, June 24, 2010

let in the unexpected

"manusia memang seharusnya hidup berdasarkan rencana, atau tidak?"
hmm, tidak ada "yang seharusnya" dalam hidup, setidaknya menurut pendapat pribadi saya.
karena, dengan ada kata "seharusnya" berarti ada yang "benar" dan ada yang "salah"
sedangkan dalam pengertian saya, dalam hidup ini tidak ada yang mutlak "benar" atau "salah", karena kadang "kesalahan" bisa dimulai dengan sebuah "kebenaran", pun sebaliknya.
J A D I
tidak ada manual book untuk hidup ini, tidak ada yang seharusnya untuk hidup ini,
setidaknya, lagi menurut pendapat pribadi saya.

cara paling enak menjalani hidup ini adalah dengan selalu sadar, sober kalo bahasa inggrisnya, eling kalo bahasa daerahnya.
jadi kalo saya sadar sepanjang waktu, saya bisa fleksibel sepanjang waktu.
dari proses berpikir seperti itu maka saya memilih untuk TIDAK hidup by plan, supaya tidak kaku, supaya jadi manusia yang bukan sekedar homo sapiens.

nah, T A P I
ternyata ungkapan "ngomong sih gampang" adalah benar adanya, hoho.
karena, saya mudah sekali tergoda untuk hidup by plan.
seperti pernah saya pikir, manusia itu cenderung mudah lupa.
dengan rencana, akan timbul ekspektasi yang berdampingan dengan rasa kecewa.
saya jadi ingat sebuah quotes yang saya dapat dari anas (alm), teman saya:
god laughing, "plan? how can u plan life?"
kalau tidak salah dari sebuah film yang sempat ia tonton.
well, cara berpikir ini pun terlalu ekstrim saya pikir.
too much of something is bad enough, kan, kata spice girl..

jadi..
saya hanya sedang bermonolog dengan diri sendiri.
membangun dialog antara amanda mita dengan barbara.
rencana itu perlu, supaya kita punya tujuan, punya fokus, punya arti.
punya hal-hal yang bisa kita minta sama Yang Punya Hidup.
supaya seruuuu hidupnya :D
kita pun sebagai manusia diminta untuk berpikir dan menggunakan sebaik-baiknya akal kita, bukan?
tapi, selalu eling juga harus.
dan sabar tentunya.
lima huruf yang terangkai jadi satu kata sederhana yang, percayalah, tidak sederhana untuk bisa menjalaninya, khaha.

selama kita tau apa yang kita mau,
meminta apa yang mau kita wujudkan,
berusaha untuk mencapainya.
sisanya,
let in the unexpected.
mungkin itu adalah cara seru untuk dikabulkannya permintaan kita.
god works with god's own way, dan kita manusia terlalu kecil untuk bisa tau semua.
tidak perlu tau, cukup paham.
tidak perlu dipikir, dirasakan saja.

bonne journée à tous!

Thursday, June 17, 2010

oh may oh may dimana ada somay

"i woke up in the morning, u are the first thing on my mind. i don't know where it's came from.."
-can i walk with you, by India Arie

heeu..tidak persis seperti itu, tapi memang kurang lebih seperti itu rasanya hari ini.
entah kenapa tiba-tiba kepikiran somay.
mungkin si somay lagi ngomongin saya makanya saya jadi keinget somay.
eniwai hawai, karena keinginan impulsif mendadak (udah impulsif, mendadak lagi) tadi, jadilah saya berencana untuk menggunakan jam makan siang saya untuk kembali..
J E L A J A H K U L I N E R
khaha!
jam 12 teng!
lebih 30 menit!
*berarti ga jam 12 teng ya?
saya pun bertanya pada Mas Sugeng yang kebetulan ada di kantor, "makan somay di jogja yang enak dan rada deket dmana ya?"
"oh! deket itu..Bentara Budaya itu, selatan-nya. somay telkom. terkenal kok itu."

bentara budaya? SIP! saya sudah tau jalan kesana, jadi, tinggal meraba saja kalau sudah dekat dari sana. hippiie!

berangkatlah saya dengan si tanduk merah :D


di jalan saya menemukan rumah yang menurut saya unik ini. seperti rumah-rumah lama di Bandung karena ada tulisan nya di bagian atas pintu masuk bangunan. seperti "judul" atau "nama" tapi tulisan nya panjang, dan dalam huruf jawa kuno, jadi saya tidak tau pasti. but, i still charmed by that house, so i stop my bike and take a deep look at it for a while.

tidak jauh dari rumah itu, sampailah saya di Bentara Budaya Yogyakarta dan melaju terus sepeda saya utnuk meraba jalan, mencari tempat makan somay yang katanya enak itu.

seperti apa somay Jogja?

dan sampailah saya!
cukup ramai, di jam makan siang begini, untungnya masih ada bangku dan space meja kosong walau harus bergabung dengan orang lain.


somay telkom namanya. dan sistem nya seperti bakso malang mandeep di istiqomah di Bandung, ngambil sendiri. pada dasarnya mereka menyediakan yang rebus nya, tapi kalo ada yang mau digoreng mereka akan dengan seanang hati menggorengnya dulu dan memotong-motong nya untuk kemudia disajikan ke pelanggan.

DAN
warung trotoar somay telkom ini unik dan lucu.
saya juga sempet ketawa-tawa geli sendiri waktu melihat ini.
liat deh!


kha ha ha. alcohol free!
dan..
berdiri sejak 15.30! :))

tidak lama pesanan saya datang.
saya mengabil 2 somay rebus, memesan 2 somay di goreng, dan 1 tahu.


akan saya bedah rasanya!
caplokan pertama.
enak. rasanya cukup "somay", bukan aci.
dan, tidak amis.
yang agak membuat saya kaget adalah rasa bumbu kacang nya.
karena bumbu kacang nya terasa PERSIS seperti rasa bumbu kacang satay, sodara-sodara!
unik!
saya suka.

lanjut ke caplokan selanjut-lanjut nya.
dan ternyata 5 butir itu sudah sangat cukup mengenyangkan.
dan setelah somay ke 4 rasanya sudah tidak se enak itu.
sepertinya penilaian saya sudah mulai objektif di tahap ini.
yang caplokan awal awal tadi tampaknya efek lappar :9 he he!

hmm..somay terenak, bagi saya, masih tetap somay di Imam Bonjol, Bandung.
somay terakhir yang saya makan bersama neng upritt.
sepulang kegiatan Edukasi Kreatif bersama Komunitas Sahabat Kota tempo lalu.
hu hu.
tapi lumayan lah, bisa mengobati kangen somay.

next time saya kemari dan memesan, saya akan memesan 2 somay goreng saja cukup, tampaknya :]

dan
ada cerita seru dari saya dan Si Tanduk Merah di jalan kami pulang.

saat sedang di jalan raya, saya mengambil jalan paling kanan.
karena,
tidak jauh saya harus belok kanan, menyeberang lalu lintas dari arah sebaliknya.
jalanan tidak padat.
agak lengang, bahkan.
sampai,
tiba tiba di jalan yang cukup lengang itu saya mendengar bunyi klakson, dari jarak yang agak jauh tampaknya.
dan dari bunyi klakson nya saya bisa mengenali bahwa itu adalah sebuah mobil.
saya diam tak hirau.
menanti si mobil mendekat dan mendahului laju kami, saya dan Si Tanduk Merah.
b e n a r sodara sodara, M O B I L
saya heran karena sudah lama tidak menemukan perilaku begitu di jogja sini yang terbilang sangat ramah pada pesepeda.
t e r n y a t a
y u n o w w a t ?
mobil nya adalah
j a g u a r
dan yu now wat lagi?
plat nya B aja.
euuugghhh! m a u m a r a h b a n g e t d e h r a s a n y a !
euuuuuggggggggghhhhhhhhhhh, k e s a l
bukan bukan, bukan saya membenci plat B, tapi perilaku plat B di kota lain, hampir bisa di generalisasi begitu. saya heran. ini bukan masalah orang Jakarta atau apa.

bagi saya ini masalah pola pikir mereka yang selalu merasa kehabisan waktu dan tidak ada orang yang lebih penting dari diri mereka sendiri.

dan biasanya ini sindrom nya orang yang naik mobil mahal dan bagus. bersamaan dengan hobi mereka membuang sampah dimana-mana di luar kaca jendela mobilnya.

heran, kerja apa si mereka di Jakarta?
di cuci otak pake sabun apa si di kantor mereka sama bos-bos nya?

tidak, saya tidak menunjuk pada semua warga Jakarta.

saya lahir di Jakarta.
Jakarta adalah tanah kelahiran saya.
dan tanah Jakarta yang menemani saya belajar jalan, lari, sekolah, jatuh kebeset aspal.
bus bus kota dan bajaj Jakarta adalah kawan akrab saya.
s e d i h d e h
lihat kelakuan sebagian orang plat B begini dan membuat orang yang tidak punya ikatan batin apapun dengan Jakarta, dengan seenaknya menuding.
:[

eniwei, sore ini saat saya menulis, rasa kesal nya sudah berkurang kok.

semoga saja dia selamat sampai tempat.
amin.

dan postingan ini akan saya tutup dengan hal yang menyenangkan.
review harga :]

setiap butir nya, somay ataupun tahu, berharga 1100 rupiah saja sodara sodara.
walau harus di goreng dulu, tetap 1100 :]

sekian,
salam kuliner!

saya harus semangat, supaya bisa memberi pengertian banyak orang di kota lain, tidak semua orang jakarta punya kelakuan homo sapiens begitu!
dan makan banyak tentunya, karena pasti membutuhkan banyak energi! :D my fave part. makan.

oia, bagi yang penasaran seperti apa rupa saya saat ini karena tampaknya kegiatan saya di jogja hanya makan dan bergaul dengan matahari, berikut foto terkini saya kemarin malam saat bercengkerama dengan teman teman dan staff senior yang baik-hati-tapi-miring di cafe LIP

voila! kata mereka ini S U P E R!

Tuesday, June 15, 2010

saya (mungkin) cinta dia



saya adalah penggemar tip ex.
bukan, bukan, sayangnya bukan tip ex band ska yang itu, tapi tip ex correction pen.
saya masih ingat betapa dulu sebuah tip ex yang berbentuk pena kurus dan mungil (bukan yang bentuknya seperti di foto), selalu ada di kotak pensil saya.
bahkan sampai kuliah sekalipun, di saat teman-teman saya ke kampus hanya membawa satu bolpen, yang kadang juga bukan miliknya, saya selalu membawa kotak pensil yang isinya pasti ada tip ex.
selalu.
saya cenderung panik, dan kemudian membeli yang baru kalau tip ex saya raib berpindah tangan.
masih ingat juga bagaimana benda mungil itu selalu berputar keliling kelas bagai pengawas ujian saat UTS atau UAS di kelas saya.
dan salah satu cara mendeteksi benda itu ada dimana saat saya membutuhkannya adalah dengan mencari bunyi "klotek klotek" saat akan digunakan.
sampai..
seingat saya sampai tingkat akhir saya kuliah.
saya tidak ingat kronologis kejadian saat ia menghilang, yang saya ingat adalah saat dimana saya tidak menemukannya lagi di dalam kotak pensil saya.
saya sempat mencarinya ke penjuru tas, bahkan sampai penjuru tas-tas yang lain.
tetap tidak ketemu.
dan menimbang bahwa saya sudah tidak ada kelas di tahun itu, tinggal mengerjakan karya tulis, maka saya tidak lagi membelinya.
dan saya berusaha bisa hidup tanpanya.
pertama-tama agak sulit. Saya masih sering mencarinya, dan kesal kalau ada coretan-coretan di catatan, berharap ia masih ada menemani dengan setia.
tapi ya itu, saya harus menjalani proses untuk membiasakan diri tanpanya.

dan entah sejak kapan saya pun mulai terbiasa hidup menulis tanpanya.
menerima coretan tanpa berandai-andai ia masih menghuni kotak pensil saya.
saya telah melalui proses penerimaan.

sampai hari ini,
beberapa jam yang lalu,
selesai saya masuk kelas bahasa, saya menyalin ulang catatan saya.
dan saya salah halaman.
menjengkelkan, karena catatan yang sudah saya usahakan sedemikian rapih, loncat halaman karena kertasnya menempel.
saya kembali terkenang pada si tip ex kurus mungil terakhir yang saya punya.
dan kembali berandai-andai ia ada di kotak pensil saya.

sambil ambil jarak sejenak dari catatan karena kesal,
saya lalu bermain-main ke meja sebelah, meja mba eno.

dan saya menemukannya!
sebuah tip ex!
ya Tuhan, walau bentuknya tidak sama dengan tip ex favorit saya yang dulu, tapi rasanya senang!
saya meminjamnya dan memperbaiki catatan saya.
ho ho!

ternyata saya masih seorang penggemar tip ex.

walau sudah melalui proses tidak terima atas kehilangan,
proses penerimaan,
sampai bisa hidup tanpanya,
ternyata kadang saya masih mencari, dan senang rasanya saat menemukan sebuah, tepat disaat saya membutuhkannya.

seperti saat ini.
:]

saya jadi berpikir,
kalau cinta adalah sebuah proses,
mungkin saya mencintai tip ex.

hmm..
hanya sebuah pemikiran yang menganggur dan melantur.

Saturday, June 12, 2010

kulit gosong matahari betis besar sepeda rambut keriting

:D

Friday, June 11, 2010

3x4

ruang yang kita punya,
sebatas 3x4.

bertukar cerita,
bertutur jenaka,
bersapa kelana,
berharap bersua.

*dipersembahkan untuk semua sahabat di penjuru sudut,
Daft & Lengel yang menciptakan sebuah teori komunikasi bernama "Media Richness Theory" di tahun 1984,
John Mayer yang menciptakan dan membawakan lagu 3x5

Thursday, June 10, 2010

Teater Gandrik: PAN-DOL

Dalam program magang nusantara ini saya mendapatkan dana untuk membeli buku ataupun menonton pertunjukan atau melihat pameran. Maka, tampaknya sudah menjadi part of the jobdesk untuk juga explore melahap semua pertunjukan atau buku pendukung yang ada.
Jobdesk yang membahagiakan hati.
Dari Pecha dan info simpangmaya saya mendapatkan info akan adanya pementasan Teater Gandrik di TBY, Taman Budaya Yogyakarta.

“Belum ke Jogja kamu kalo blum nonton Teater Gandrik”,
begitu celetuk Mas Johan Didik, stage manager yang terlibat dalam pementasan WANTED POSSE tempo lalu saat kami sedang rapat persiapan WANTED POSSE di TBY.
“di magang kelola dapet budget untuk nonton pertunjukan, tho?” lanjutnya.

Bener juga! Atas dasar komporan itu saya pun langsung ikut mengantre di ticket box yang baru dibuka dekat dengan tempat kami rapat. dengan maksud membeli tiket.
Antrean tidak terlalu panjang saya lihat. Tetapi cukup padat berjejal dan sesak.
Kebayang ga?
Tidak panjang, tetapi padat, agak melebar.
Alhasil saat antrean saya masih jauh dari meja ticketing, tiket dinyatakan HABIS, sodara sodara!
“waduh, beneran jagoan teater sini ni kayanya, kunchen!” batin saya.
Saya kembali ke lingkaran rapat dengan lesu, karena niat membeli tiket harus urung.
Untungnya Mas Johan kenal beberapa orang, jadiii, saya kembali ceria bersemangat karena Ia bisa mendapatkan tiket! Yippie! :D alhamdulillah!
berkat itu di keesokan harinya saya sukses menonton teater gandrik dengan lakon Pan-Dol.

Sabtu, 5 Juni 2010,
jam tujuh malam saya memboseh Si Tanduk Merah untuk membawa saya ke Taman Budaya Yogyakarta.
tidak lama setelah saya sampai di Taman Budaya, gerimis turun diam-diam, ikut penasaran rupanya dia. hari itu kami menyaksikan pertunjukan Teater Gandrik dengan lakon Pan-Dol yang dialognya lucu dan menghibur.

Apa itu Pan-Dol?
bukan, bukan obat flu, atau obat pusing yang dijual bebas di pasaran. Pan-Dol adalah Panti Idola, tempat rehabilitasi para korban korupsi yang kelakuannya seperti orang-orang gila. Pan-Dol didirikan oleh Bupati dan mendapat sokongan dana luar biasa besar dari beberapa departemen, yang ternyata, dana itupun DIKORUPSI oleh bupati dan direktur Pan-Dol. Korupsi di lembaga anti korupsi. Ironis. Tapi pembawaan ceritanya lucu, sepanjang nonton saya ketawa teruss..tapi turis asing mungkin agak gigit jari, karena kekuatan dialog dan guyon nya lokal.


WANTED POSSE: sunday to tuesday

it was a shiny sunday,
ride a buss too big for three,
dip in a crowd of daylight people,
we were heading to a place where trains gather and moan.

and there they were.
ten.
each with their uniqueness.
eight will dance,
but one got injured,
seven will do, then.
two will guide.

so the night of sunday rise,
they got in an early touch with the city,
dive in the people and see.
some came down to the dance floor already,
some get personalized the stage,
some eat,
some get rest and relax,
and some get involved in a chatter and walk.

and monday following quickly.
dance, they must.
dance, they did.
fascinated everybody with excitement,
enchanted them with passionate idea,
and possessed their mind.

call of the day,
monday's over as soon as it's begun
night sipping in the city slowly
let everyone enjoyed their last night
to woke up in the morning and departed.

and so tuesday morning watched this goodbye.
they leave, but memory and friendship will stay.
10 will remain in every audience's memories.

*dedicated to Hagbé Njagui, Ma'sellu Kim, Abdouramane Diarra, Guy Weladji, Patrick Clitus, Sy Ousmane, Lumengo Hugues, Njoya Ibrahim, Junior Bosila, and Arthur Grandjean.

transe by WANTED POSSE

minggu selanjutnya setelah pementasan IMAGO,
papermoon membagikan oleh-oleh untuk teman-teman jogja di auditorium LIP,
dengan presentasi dan sharing pengalaman selama mereka residensi di Ney York.
dikemas manis.
dibuka dengan mini performance oleh Mba Ria,
ditutup dengan diskusi, dan tanya jawab dengan suasana yang akrab.

selepas malam itu, hari-hari kami kemudian disibukkan oleh persiapan pertunjukan tari Hip Hop dari Prancis oleh kelompok WANTED POSSE.
persiapan seksi repot lebih ke urusan teknis panggung dan lampu oleh Mas Johan Didik dan Mas Sugeng.
ms. Marie ikut repot dengan urusan kantor imigrasi.
saya? kembali jadi tim happy happy joy joy yang berlari-lari :P
melengkapi persiapan detil. semacam keperluan cemilan, makanan kecil untuk penari-penari, LO stand by, koordinasi penempatan penonton, dan hal-hal kecil lainnya yang membutuhkan stamina untuk lari-lari *teteup :P

sampai tibalah,
Minggu, 5 Juni 2010
saya, Ms. Marie, dan Mba Eno, menggunakan bus *yeap, a buss* ke stasiun kereta Tugu, menjemput mereka yang malam minggu nya manggung di Bandung.
kereta datang tepat waktu, dan kami bertiga berpencar mencari gerbong mana yang memuat mereka, kalau-kalau mereka tidak sadar sudah sampai jogja.
eh, bener aja, kereta sudah berhenti, orang-orang hiruk pikuk saling sikut keluar pintu kereta yang sempit, dan mereka masih duduk anteng di dalam gerbong ajhaa.
Mba Eno yang menemukan mereka menyuruh mereka untuk keluar. untung mereka bisa dengan mudah dikenali.
mereka tinggi, hitam, dan kekar.
hampir semua beitu.
tapi 2 berbeda.
yang satu kaukasia,
satu berwajah lebih menyerupai melanesia.

dan ternyata tidak semua dari mereka bisa berbahasa Inggris.
sebagian hanya bisa mengerti orang berbicara,
sebagian sama sekali tidak bisa,
beberapa mengerti, berbicara sedikit, tapi tetap berusaha berkomunikasi dengan saya *baiknya kaliaaaann..*
satu yang cukup fasih dan bisa berkomunikasi lumayan lancar dengan saya, Kim.
alhasil, setiap makan atau berkumpul, setidaknya ada 3 orang yang sedikit repot ria men-translate topik pembicaraan ke saya. khaha.
ada Ms. Marie, Kim, dan Njagui.

Njagui ini lucu, sikapnya manis sekali seperti seorang kakak. senyum nya mengingatkan saya pada Mas Anom, sepupu saya.
pada waktu makan malam usai pentas, saya duduk diantara Kim dan Njagui.
saat semua orang tertawa-tawa mengobrol dengan bahasa Prancis, selain Kim yang meng-update topik pembicaraan, Njagui, yang tidak fasih berbahasa Inggris pun berusaha memberikan translasi.
"my english is very bad, but i try to explain..you know.." dan komunikasi pun berlanjut campuran bahasa Prancis, bahasa Inggris, dan bahasa isyarat, khaha! kalau sudah menyerah, Kim akan turun tangan membantu menjelaskan. Ms. Marie pun tidak luput memberikan perhatian dengan translasi-translasi.
malam itu Njagui mencoba makan manggis.
Kim mencoba salak.
buah-buah an khas Indonesia yang dibawa Maefa, seorang guru native speaker di LIP yang bahasa Indonesia nya bagus sekali.

tapi saya pun sebisa mungkin mengerti dan membalas dengan bahasa Prancis. seperti sapaan-sapaan lazim, dan ungkapan-ungkapan yang sering dipelajari orang banyak.
dan menurut mereka saya akan bisa dengan mudah menerima dan mempelajari bahasa Prancis. hihuyy!
"tapi cara kamu ngomong bahasa Prancis udah bagus! tinggal belajar aja struktur bahasa nya.." kata Maefa. khehe, terimakasih untuk Pimsleur.

di lain sisi, Patrick, penata lampu dan teknis mereka, selalu saya ajak bicara dengan bahasa Inggris, walaupun dari awal dia sudah bilang,"i can't speak english" tapi toh pada akhirnya kami berkomunikasi. khaha, ia pun berusaha sedikit-sedikit menggunakan bahasa Inggris.

lucu,
karena pada akhirnya, di hari selasa saat saya mengantar mereka ke Bandara, Patrick bilang,
"ahh, so my english is improve and so ur france, ha? Nicee!" sambil tersenyum mengangguk-angguk. khahaha.

sambil mengantri untuk check in di bandara pun Njagui tidak lupa berkata, "Next time we meet, u speak french, ok?"

dan Kim juga berkata, "keep contact, i can help u be a tutor"



above: Hagbé Njagui, Njoya Ibrahim, Ma'sellu Kim, Sy Ousmane, Abdouramane Diarra, Patrick Clitus,Lumengo Hugues, Arthur Grandjean
below: me, ms.Marie, Guy Weladji, Junior Bosila.

sejoli berkarya

tanggal 26 dan 27 mei, tepat 2 minggu yang lalu, ada pementasan IMAGO.
sebuah pementasan boneka kontemporer oleh grup Désacordé dari prancis.
Désacordé kali itu berkolaborasi dengan seniman boneka aseli Yogyakarta yang baru pulang residensi dari New York, Papermoon.

IMAGO bercerita tentang "memaknai" hidup melalui sebuah proses. atau setidaknya, itu yang saya tangkap.

selain menggunakan boneka dan aktor, IMAGO dimainkan dengan cantik, menggunakan perpaduan bayangan, permainan lampu, gambar, dan musik.

dua hari pementasan resmi, dengan cerita yang sama.
yang pertama, penonton sebagian besar orang dewasa, dan hari kedua dikuasai anak-anak! yeah, anak-anak, hoho, seru deh! mereka ekpresif dan reaksi nya lucu, polos.

Désacordé terdiri dari 2 orang, sepasang. Remi dan Sandrine.
begitupun dengan Papermoon, sepasang. Mba Ria dan Mas Iwan.

seiring dengan intensitas bertemu semasa latihan-latihan, gladi resik, dan pementasan, saya semakin tertarik dengan para sejoli berkarya ini.

sejoli berkarya, sinergis.
saling melengkapi,
saling mendukung,
saling mengisi,
dan berjalan beriringan,
tanpa membelenggu yang satunya.

dan di satu malam pulang naik sepeda sendirian, usai mereka Gladi Resik,
saya berkesempatan menyampaikan rasa kagum saya pada sejoli berkarya ini:
malam itu untuk pertama kalinya saya pulang malam dan naik sepeda, biasanya kalo pulang malam saya naik motor. di tengah jalan penuh waspada saya, tiba-tiba,
"Amanda! kamu bawa sepedha dari bandung tho?"
lho lho lho lho, ternyata Mas Iwan! ternyata doi juga bersepeda boo! senang rasanya hati ini karena berkesempatan ditemani dan bisa sekaligus menyampaikan kagum saya yang masih tertahan.

di tengah celotehan kagum saya, dia hanya tertawa-tawa,
"ya, memang asik," dia bilang, "tapi ya harus diperjuangkan!" lalu ia tertawa lepas.
"iya ya? whuaaaaa..aku mauuu, suatu saat bisa punya partner seperti itu, sejoli berkarya!", saya tidak bisa lagi menahan binar ketertarikan saya.
"Hahahahahaha! ndaaa, nda..nanti selesai magang, kalo kamu presentasi ke kelola, ditanya, 'Dapet apa kamu selama magang?' jawabnya apa, pengen punya partner sejoli berkarya?"
"iyaaaaaaaa!"
kami pun tertawa lepas, di tengah jalan, untuk kemudian berpisah di simpang jalan, menuju rumah masing-masing, dengan suasana hati masing-masing, bonus senyum terkulum buat saya.