Friday, August 17, 2012

Merdeka

"Ka, kita ga pasang bendera?" adalah pertanyaan yang keluar dari mulut saya untuk Saska seraya melewati beberapa rumah dan kompleks yang gegap gempita dengan bendera. Dan akibat dari pertanyaan itu adalah sebuah diskusi panjang mengenai "tujuhbelasan".

"gw sedikit galau dengan pemaknaan gw terhadap 17an dan hari kemerdekaan..." adalah potongan pertama jawaban yang keluar dari privasi pikirannya ke arena diskusi.

Saya jadi berpikir dan merenung dalam pikiran saya sendiri, "tujubelasan ya...hmm.."

Bagaimana biasanya saya merayakan 17an? Sedari saya es de ya gitu-gitu aja.
Bangun pagi bendera sudah berkibar di halaman depan rumah, bahkan dari beberapa hari sebelumnya, tidak sadar siapa yang memasang;
Upacara;
Aneka lomba: makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, balap karung, sepak bola daster (yang terakhir saya ingat betul, dulu marak sekali di es de dan es em pe saya. Karena lucu sekali melihat anak-anak laki berebut main bola di bawah terik matahari dengan peluh yang begitu macho-nya...dan daster yang begitu..ppfffttttt..yang saya ingat hanya tawa terpingkal-pingkal bersama beberapa sahabat..apalagi kalau ada kecengan bersama disana *mata hati hati bunga bunga, hal selanjutnya yang saya tau adalah saya tertawa-tawa tanpa sebab. Cari perhatian. Histeris, penyakit perempuan) ;
Pulang cepat (yak, di es de saya dulu kalau 17an pasti pulcep karena ada lomba. Kalau ga ikut lomba boleh bawa dan baca komik di kelas)

Dari tahun ke tahun begitu adanya 17an saya. Upacara, lomba, pulang cepat. Semasa kuliah saya tidak terlalu menggubris momen 17an juga, bahkan pada masa saya sedang gencar-gencarnya terobsesi pada "budaya Indonesia"..sampai malam itu, 16 agustus, saat melihat bendera terpancang dimana-mana.

"bagaimana kamu memaknai 17 agustus? Hari kemerdekaanmu?", saya bertanya pada diri saya sendiri melalui Saska.

Saska: 17an adalah momen dimana kita, anak bangsa Indonesia, diingatkan lagi pada janji kemerdekaan, yang selalu dibacakan pada pembukaan dasar UUD , yang belum juga terwujud, dan itu adalah hutang kita, generasi yang lahir dalam era "kemerdekaan" yang belum sempurna.

Saya: 17an adalah momen saat lo bertanya pada diri lo sendiri, sejauh apa lo kenal bangsa ini, sepelosok apa lo tau susahnya orang-orang Indonesia; di tepi-tepi perbatasan, di desa-desa yang luput dari perhatian, dari mata masyarakat metropolitan.

Merayakan 17an, hari kemerdekaan, BUKAN dengan mengenang perjuangan masa lalu para pejuang, tapi dengan lebih jeli dan teliti memetakan permasalahan yang ada sekarang. Kemudian berusaha sebisa kita, dengan kapasitas dan passion yang kita miliki, untuk mencari solusi.
Walaupun belum bisa mewujudkan solusi, saya percaya pada waktu, asalkan kita bisa tetap memupuk mimpi itu dan berusaha berjalan kesana.

Saya dan Saska pernah mendiskusikan tentang betapa kaya nya negeri Indonesia ini. Kamu lempar apapun bisa tumbuh. Etos kerja di iklim sedemikian mudahnya juga menjadi santai dan tidak ngoyo. 
Sewaktu kami mengunjungi sebuah daerah pegunungan di Bali, masyarakat lokal disana bercerita,

"disini kami ndak susah cari makan, buat makan. Semua hasil kebun bisa kami makan. Tapi kalo dapat uang kami susah. Makan kami tidak susah, tapi kalau sakit, harus ke dokter..tu dah..susah kami. Uang dari manaaa.."

"hasil panen kebun ga bisa dijual dengan harga layak, bu?"

"kecil. Kami petani susah hidup. Cuma jaman ganti presiden Habibie itu aja kami petani agak mending harga-harga. Semua bagus. Ndak tau itu bagaimana bisa. Sayang cuma sebentar.."

Miris sekali mendengarnya. Padahal area kebun mereka luas dan panen cukup banyak, tapi mereka tetap susah dapat uang. Pdahal mereka adalah garda depan pertahanan pangan negeri ini.

"Indonesia mit, negri yang berkali-kali di rampok, tapi ga miskin-miskin..", dengan kesungguhan tertentu mengucapkan, kata kata ini benar bisa merenyuh isi dada saya sampai sesak dan meleleh di pelupuk mata.

No comments:

Post a Comment