Sunday, November 8, 2009

jakarta

dan malam itu, dari perbincangan tentang cinta, masih di sesi bersama wonder woman keturunan serambi mekah, obrolan merembet kepada pertanyaan,
"So, how's life? what next?"

dan cita-cita saya yang menjawab pertanyaan ini adalah,
"ga di Jakarta yang jelas, insyaallah."

disambut,
"Hah? kenapa dah?"

"karena.."
saya jadi ingat pengalaman satu hari sebelumnya, terjebak macet parah di sebuah jalan tikus, di salah satu wilayah hectic di Jakarta Selatan.
mobil-mobil berjubel.
penuh sekali.
dua kali atau bahkan tiga kali kalau bisa.
p e n u h.
saya dalam keadaan lelah dan bosan.
panik mengejar waktu sudah menguap, berganti pasrah.
dan di kanan kiri, pengemudi-pengemudi diperhatikan semua berwajah sama mimik.
datar.
dengan guratan kaku pada rahang.
"termesinisasi"
ter-mesin-isasi.
lamunan saya tersadar.
"karena.." saya berusaha kembali meneruskan jawaban

"iya si emang, gw akuin..disini, kalo lo ga lari ikut sama yang lain, lo akan ketendang-tendang. pilihan lo cuma dua, lo ikut lari sama yang lain, apa lo ditendang-tendang. apalagi untuk kelas pekerja macam kita kita gini"

saya kembali terdiam, tidak menyelesaikan kalimat saya.
dari rumah untuk sampai ke tempat kerja, rata-rata orang Jakarta yang kantornya di daerah perkantoran prestise itu butuh waktu 2 jam, jarak yang bisa ditempuh Bandung Jakarta.
saling berjubel adalah cemilan sehari-hari.
tidak semua pekerja bisa memilih kendaraan pribadi ber-AC untuk sampai kantor.
mungkin ini memang hanya penilaian dari satu sudut pandang dalam melihat fenomena kelas pekerja di Jakarta. Tapi sudut pandang ini yang paling mendekati realitas untuk saya bayangkan saat ini.
semua orang berlari, mengejar dan mengejar. tidak ada kata cukup.
entahlah, i'm just being cynical.

"saya cuma merasa jakarta bisa mengubah saya menjadi seseorang yang lain. sejauh yang saya lihat, Jakarta terlalu menggoda untuk membuat orang selalu merasa kurang."

"lo beruntung masih bisa milih, punya pilihan..walaupun sekarang lo milih kere ga punya duit, khahaha"

"khahahahahahaha! so much choice for ur life, eh?"

malam itu kami tertawa saja, menertawakan pilihan masing-masing dengan resiko yang akan kami tanggung sendiri-sendiri juga.
dia butuh saya untuk menertawakan betapa hectic hidupnya, saya butuh dia untuk membuat saya tetap bisa melihat realitas, tidak mengawang.
hey, tidak semuanya buruk, segala sesuatu memiliki dua sisi.

walaupun membuat pilihan bukan sesuatu yang mudah, tetapi masih bisa punya pilihan adalah sesuatu yang patut disyukuri.
tidak semua orang punya pilihan.
be thoughtful.


1 comment:

  1. membuat pilihan emang ga mudah mit, tapi kalo menurut gw semua orang sebenernya punya pilihan. rasa pesimis yang bikin seseorang merasa dia ga punya pilihan.

    cuma ya abis memilih sesuatu kita harus siap sama konsekuensinya dan harus bener" bergerak supaya apa yang kita pilih bisa berbuah manis nantinya, bahkan untuk pilihan yang kita pikir ga realistis.

    jalanin aja pilihan lo, selama lo fokus insyaAllah buahnya manis.

    ReplyDelete