Wednesday, March 17, 2010

speaking of which

kata-kata itu sering sekali saya dengar, dulu.
tiba-tiba teringat.
tapi bukan itu yang sebenarnya mau saya bahas sekarang.
mungkin seharusnya judulnya:

speaking of "The Hurt Locker"

iya, saya baru lihat.
sebenarnya saya tidak suka film perang. film perang selalu meninggalkan rasa tidak enak pada benak saya setelah selesai ditonton.
selalu.
bukan perasaan positif tentunya, maka dari itu saya tidak suka.
tapi penasaran sama film yang menang Oscar ini, ngalahin film yang budgetnya aduhay.
setelah nonton, saya menimbang-nimbang, berspekulasi kenapa film ini bisa menang, dan beropini.

film yang menceritakan keseharian pasukan penjinak bom tentara Amerika ini terasa sangat personal.
mungkin karena sutradaranya perempuan.
menurut saya perempuan lebih punya kepekaan untuk merasakan dan memerhatikan detail.
banyak scene detail yang di expose dan membuat film ini terasa mempunyai sentuhan personal dengan penontonnya (saya, contohnya), sehingga rasa tegang yang dibangun oleh film ini sukses membuat saya menahan napas.
begitu sadar, yang saya rasa adalah, "capek..."

teknik pengambilan gambarnya pun terasa natural seperti film dokumenter.

film ini membuat saya merasa ada disana.

bagian yang paaaling saya suka adalah perhatian sang sutradara terhadap details tadi.

saya jadi berpikir,
dalam membuat sebuah film, mungkin untuk mendapatkan sentuhan personal dan membangun suasana dengan penonton, scene details akan sangat membantu dan berpengaruh.
mempertontonkan details yang memperkuat karakter adegan yang ingin ditonjolkan.
contohnya, detail yang ada saat adegan baku tembak jarak jauh di padang pasir, dimana ditonjolkan detail antara lain seperti pasir, lalat, bibir kering, dan uap panas udara yang terlihat melalui distorsi jarak pandang. dari adegan detail ini juga bisa diulik sisi humanisme-nya. memanusiawikan sebuah film.


No comments:

Post a Comment