Tuesday, March 30, 2010

berdampingan tidak menempel


berbeda tapi melengkapi memberi variasi
satu cukup untuk satu lainnya mengisi
berdampingan tetapi menyisakan ruang untuk interaksi
meluangkan jeda untuk meneduhi

satu cukup, sudah melengkapi
tidak perlu bertaut erat sampai melukai
cukup berdampingan dan menghidupi
dan semua hari akan dibagi berharap cita-cita terpenuhi

waktu sepedahan subuh

20 Maret 2010
pagi itu, saya dan teman teman yang lain, resmi diundang Bandung Cycle Chic yang diprakarsai oleh Gadis, untuk ikutan sepedah subuh. seru deh, ini baru pertama kalinya saya sepedahan subuh subuh! khaha, ga kebayang! Bandung pula! dingin boo, tapi segerr dan seruuu. rutenya solat di salman, ke pasupati, turun ke cihampelas, wastukencana, statsion (stasiun), viaduct, balkot, jalan belitung, jalan aceh, banda, cilamaya, DAN our last destination, Roti Gempol di jalan Gempol. it's a home made brad factory! lovely, sodara sodara! just lovely! :]
kodi kamera saya sedang rusak, jadilah kemarin saya sudah bersiap menggigit jari tidak bisa jeprat jepret, tapi untung ada Aldy yang berbaik hati membiarkan kamera nya saya bajak. khaha!
jadilah ini beberapa foto saja yang saya upload :D
sebenernya fotonya ada banyak, ini saya pilih pilih, saya bagi yang menurut saya menarik saja.

percayalah,
sepedahan itu seru! :]
know ur city, love ur city

terbalik
(belakang stasiun)

berdampingan

atraksi beraksi

puzzle di langit biru

Roti Gempol di pagi hari: one wonderfully magical place


jemur
(ada adik bayi umur 9 hari yang lagi dijemur di depan Roti Gempol. dia wangiiiiii sekali :D tidak kalah wangi dengan wangi roti yang dipanggang!)

roti telor keju mayonnaise
(photo by Aranti Adriarani)

perempuangembil
(photo by: Ronaldiaz Hartantyo)

nikmat disantap setelah sepedahan
(photo by: Ronaldiaz Hartantyo)

Wednesday, March 17, 2010

dia mati

dia mati.

ya, kamu pasti sedih.

rasa itu sampai, membuat kerongkonganku tercekat.


dia mati.

ya, aku bisa merasakan rasa sesal mu.


aku yang membawanya kesini..

ya, kamu yang membawanya, memang.


dan sekarang ia mati.

tapi kamu mengambilnya dari rumah tidak berpenghuni.


aku yang mengambilnya sebagai makhluk hidup, tapi kadang aku melupakannya.

kamu memberinya nama, ingat?


...

...


...

dia mati. ya.

aku pun tidak bisa berkata-kata lagi, tidak tau cara meringankan rasa sesalmu.

semoga kamu tidak lagi mengabaikan makhluk hidup lain yang sudah terhubung denganmu ya.

karena nanti kalau mati rasanya akan begini lagi.

le petit prince pernah dinasehati,

"kamu harus bertanggung jawab terhadap semua hal yang sudah kamu jinakkan"


jangan sedih, ya.

kalau pun masih sedih, dibagi ya, biar ada teman "tercekat kerongkongan"



speaking of which

kata-kata itu sering sekali saya dengar, dulu.
tiba-tiba teringat.
tapi bukan itu yang sebenarnya mau saya bahas sekarang.
mungkin seharusnya judulnya:

speaking of "The Hurt Locker"

iya, saya baru lihat.
sebenarnya saya tidak suka film perang. film perang selalu meninggalkan rasa tidak enak pada benak saya setelah selesai ditonton.
selalu.
bukan perasaan positif tentunya, maka dari itu saya tidak suka.
tapi penasaran sama film yang menang Oscar ini, ngalahin film yang budgetnya aduhay.
setelah nonton, saya menimbang-nimbang, berspekulasi kenapa film ini bisa menang, dan beropini.

film yang menceritakan keseharian pasukan penjinak bom tentara Amerika ini terasa sangat personal.
mungkin karena sutradaranya perempuan.
menurut saya perempuan lebih punya kepekaan untuk merasakan dan memerhatikan detail.
banyak scene detail yang di expose dan membuat film ini terasa mempunyai sentuhan personal dengan penontonnya (saya, contohnya), sehingga rasa tegang yang dibangun oleh film ini sukses membuat saya menahan napas.
begitu sadar, yang saya rasa adalah, "capek..."

teknik pengambilan gambarnya pun terasa natural seperti film dokumenter.

film ini membuat saya merasa ada disana.

bagian yang paaaling saya suka adalah perhatian sang sutradara terhadap details tadi.

saya jadi berpikir,
dalam membuat sebuah film, mungkin untuk mendapatkan sentuhan personal dan membangun suasana dengan penonton, scene details akan sangat membantu dan berpengaruh.
mempertontonkan details yang memperkuat karakter adegan yang ingin ditonjolkan.
contohnya, detail yang ada saat adegan baku tembak jarak jauh di padang pasir, dimana ditonjolkan detail antara lain seperti pasir, lalat, bibir kering, dan uap panas udara yang terlihat melalui distorsi jarak pandang. dari adegan detail ini juga bisa diulik sisi humanisme-nya. memanusiawikan sebuah film.


Wednesday, March 10, 2010

manusia adalah makhluk sosial

manusia itu makhluk pelupa.
mungkin karena itu fitrahnya manusia menjadi makhluk sosial.
karena manusia perlu di ingatkan.
ups..
saling mengingatkan.

perlu satu sama lain untuk menyimpan cerita dan pemikiran.
supaya suatu saat bisa di recall,
sambil berdialog,
bercerita,
saling mentransfer energi positif.

Tuesday, March 9, 2010

serial ikan asin: romantisme ikan asin

ikan asin itu sekilas tampak remeh.
secara visul juga bukan yang berminyak menggoda atau merekah menggugah.
tapi kalau sudah digoreng...
harumnya sering mencolek cacing perut hampir siapa saja,
kecuali yang alergi ikan atau jijik dengan amis ikan,
tidak pandang bulu.
tua muda, kaya miskin, gaul kuper, DPR atau rakyat, pengikut pansus atau infoteinment, kurus gendut, de el el.

ikan asin,
nikmat menjadi komplimenter setiap makanan.
nasi hangat, sambel ulek, tahu...ikan asin.
nasi hangat, sambel ulek, urap...ikan asin.
nasi hangat, sambel ulek, telur ceplok...ikan asin.
nasi hangat, sambel ulek, sayur asem...ikan asin.
nasi hangat, sambel ulek, urap, tempe, tahu, telur ceplok...ikan asin,
bahkan,
nasi hangat, sambel ulek, kerupuk...DAN ikan asin juga sudah bisa menggugah selera.

tapi, ikan asin,
kalau dimakan begitu saja tidak terlalu sedap.

ia melengkapi berbagai masakan.
masakan sederhana sampai rumit,
masakan murah sampai mahal,
masakan rumahan sampai restoran.
ia cocok dipadankan nyaris dengan masakan apapun.

tapi, ikan asin,
kalau dimakan begitu saja tidak terlalu sedap.

ia salah satu faktor pelengkap,
hampir bisa melengkapi apapun,
tapi ia butuh partner setianya.

ia butuh partner setianya,

Sambel Ulek

:D

tanpa sambel ulek ikan asin akan terasa "kurang" dan "sedikit hambar"

khaha.

Monday, March 8, 2010

menjadi ikan asin itu sepertinya banyak pahalanya, ya!

saya berpikir,
sepertinya menjadi seekor ikan asin banyak pahalanya deh!
kenapa?

siang ini saya makan siang dengan menu: Urap!
ya. urap.
Urap buatan Mba Jeni, yang masakannya sering membuat "pendemo-pendemo" di perut saya meronta berhasrat mengunyah.

ya. urap.
isinya rebusan daun kenikir, rebusan daun singkong, rebusan toge, rebusan kacang panjang, dan kelapa parut yang sedikit pedas sudah dibumbui -yang enaknya pol!
belum lagi sambal buatan Mba Jeni.
subhanallah.
satu lagi, rebusan tahu.

langsung saya ambil nasi, mengambil dan meracik urap secukupnya, tidak ketinggalan tahu rebus plus kuah opor sedikitt.

nyam nyam nyam nyam nyam.
hmmm..
komat kamit mulut saya mengunyah.
enak sekali deh.
percaya kata saya,
e n a k s e k a l i d e h

tapi..
ada yang kurang..
saya mengintai, masih terdapat beberapa potong kecil ikan asin di toples, di salah satu sisi meja makan.
saya comot satu dua.
Emhh..

emhhh!

ya ampun.
tidak terdeskripsikan dengan kata-kata.
cuma keluar satu kata,
Alhamdulillah!

ikan asin, final touch yang..
yang..
hmm, bagaimana ya membahasakannya?
yang..
e n a k s e k a l i d e h

bless u, ikan asin.