Monday, November 28, 2011

tentang pementasan

dan disinilah, teman-teman bisa menyimak perkembangan pementasan teater boneka Papermoon yang berjudul, "Secangkir Kopi dari Playa"


:D

Sunday, November 20, 2011

like water for chocolate

kemarin sore sampai malam, saya menamani mba Ria untuk berputar-putar.
ke ibu Anna di Anna Modiste untuk menjahit blouse,
ke awul awul untuk mencari kostum,
ke toko bahan kain untuk membeli kain untuk dijahit,
membeli sepatu untuk pentas..

tapi di tengah jalan kami teralihkan,
"eh, Homerian buka!" kata mba ria tiba-tiba di tengah perjalanan menuju Jalan Solo, setelah mengisi bensin.
"apa itu Homerian?"
"kamu blum pernah kesana, po? wah itu lucuk banget Nda..kaya perpustakaan kecil tapi suka jual buku yang aneh aneh gitu bukunya.."
"wah..ayo liat aja, mampir, mumpung lewat.."
setelah tidak lama berpikir Mba Ria pun memutar motornya dan tidak lama kami sudah di dalam Homerian.

tempatnya kecil..tapi saya suka sekali rasanya.
banyak buku. dan yang dijual ada lebih dari 7 buku langsung menyita pandangan mata saya tak bisa lepas.
damn.
it means...SHOPPING!

saya berusaha sekuat tenaga mengekang hawa nafsu saya, my lust for books, but i can't help it.
akhirnya setelah memegang 3-4 buku, saya menjatuhkan pilihan saya pada buku ini,

"Like Water for Chocolate"
karya Laura Esquivel


kenapa saya tertarik?
berikut tulisan-tulisan yang ada di buku nya:

"A Novel in Monthly Installments with Recipes, Romances, and Home Remedies"
"A mystical Mexican love story that will charm the palate and the heart." -USA today
"A tall tale, fairy tale, soap-opera romance, Mexican cookbook, and home-remedy handbook all rolled into one." -San Francisco Chronicle
"A wondrous romantic tale. Esquivel has given us a banquet." -Los Angeles Times
"Like Water for Chocolate is deceptively simple and simply wonderful...and the sweep of Mexican history that belongs to women." -Boston Globe

okai, so i got the keywords: Love Story, Women, Romance, Recipe-Cookbook, dan satu fakta lagi, pengarang buku ini yang mengarang How to Make an Merican Quilt..saya pernah menonton film nya sepotong di HBO, and i just simply love it, though i never watch the entire film.
dan ini pengarang yang SAMA! i kinda expecting much :p
jadi, tidak pikir panjang lagi saya beli buku ini :]

dan hari ini Jogja hujan dari siang..enak sih, jadi sedikit lebih dingin Jogja yang biasanya luar biasa gerah..jam 2 rasanya seperti jam 4..haha..dan sampai dua jam kemudian, sekarang, hujan masih juga belum berhenti.

so i quickly grab the book, make some coffee and mix it with milk, and sank into the book afterwards.


dan ditengah saya membaca dan larut dalam ceritanya, ada kata-kata ini, lucu *jadi lucu kalau dibaca dari awal sebenernya, kalau hanya baca penggalan ini mungkin tidak lucu :p tapi tetap saya mau share ini..he he.

jadi ceritanya ada anak perempuan umur 15 tahun, dia sedang ada di tengah acara pesta keluarga dimana keluarga nya mengundang banyak teman dan kerabat. Tita namanya. disanalah ia bertemu Pedro, yang tatapan matanya serasa membakar dirinya. lalu, di acara itu juga, Pedro menghampiri Tita sewaktu ibunya menyuruh Tita mengambil makanan lagi di dapur..

That was when Pedro confessed his love.

"Senorita Tita, i would like take advantage of this opportunity to be alone with you to tell you that i am deeply in love with you. i know this declaration is presumptuous, and that it's quite sudden, but it's so hard to get near you that i decided to tell you tonight. all i ask is that you tell me whether i can hope to win your love."

"I don't know what to say . . . give me time to think."

"No, no, I can't! I need an answer now: you don't have to think about love; you either feel it or you don't. I am a man of few words, but my word is my pledge. I swear that my love for you will last forever. What about you? Do you feel the same way about me?"

"Yes!"

begitu kira kira potongannya.. :]
yang membuat saya mau share ini adalah kata kata ini: no, I can't! I need an answer now: you don't have to think about love; you either feel it or you don't. I am a man of few words, but my word is my pledge.
ha ha! membayangkan ada seorang remaja laki-laki berkata ini pada seorang remaja perempuan entah kenapa membuat saya tersenyum-senyum sumpil. ihihihi.

:D

Wednesday, November 16, 2011

another shots

shot selanjutnya:

"Elea"
light meter full darken, jam 2 siang hari, indoor, no flash.

tadinya saya berniat mencari formula supaya garis-garis dalam foto bisa lebih jelas, jadi saya pikir kalau cahaya nya medium dan saya full darken bisa lebih tegas. ternyata hasilnya memang lebih gelap, tapi tidak merubah apapun pada kontrasnya. jadi sedikit under exposure.

mungkin..ini karakter film nya memang tidak bisa dibikin seperti itu.
saya harus ikhlas menerima karakter film px600 silver shade uv+ ini.
sepertinya kalau saya ingin menciptakan gambar seperti apa yang ada di imajinasi saya, bukan pake film ini, dan kamera nya kayanya lebih cihuy kalo pake sx70.

oia, Elea adalah seorang gadis kecil berusia hampir 2 tahun yang tinggal di rumah tempat saya tinggal sekarang :] gadis cilik ini manis dan lucu sekali :]

"Payung Teduh"
light meter middle, jam 2 outdoor terik sekali, no flash.

seharian kemarin saya mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh sambil mengerjakan PR saya untuk mempelajari Indonesia masa-masa pasca 65.
sambil saya menelusuri salah satu lirik lagu nya yang bagus sekali berjudul "Kita Adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan"
lirik lagu itu entah kenapa terasa pas sekali dengan apa yang berusaha saya coba pahami.

jadi saya mengambil payung, lalu memotret di bawah terik matahari yang hampir sore.

Gie

tugas tugas pertama kami di papermoon, dalam rangka pemanasan, adalah riset.
dan kemarin, kami menonton 2 film, salah satunya adalah film Soe Hok Gie (Riri Riza,  Miles production, 2005)

di tahun 2005 itu, saat film Gie baru keluar saya juga langsung menontonnya di bioskop..tapi..rasanya beda waktu kemarin saya menonton film itu lagi.
waktu tahun 2005 itu, setelah arus masif publikasi film Gie, langsung trendi semua yang berhubungan dengan Soe Hok Gie dan pola tingkah laku nya, jika dikira-kira.
saya ingat sepulang saya ke bandung (taun segitu saya masih sering pulang Jakarta), saya jadi semakin skeptis kalau lihat mahasiswa demo. langsung gak respect seketika. berlebihan si memang, soalnya saya juga ga nanya latar belakang sekumpulan mahasiswa itu melakukan demo, tapi saat itu, setelah menonton film Gie, lalu melihat mahasiswa demo, rasanya jadi seperti melihat sekelompok poser.
overrated.
apa yang mereka lawan? siapa? kenapa? lalu apakah mereka yang memprotes datang dengan solusi? tidak kan? mereka hanya berteriak. bergunakah itu? didengarkah mereka?
saya bahkan sempat menulis, 
"maha-siswa. paling siswa diantara semua siswa. ya harusnya berjuangnya ga teriak-teriak di pelataran dong. udah ga musim kalee..kaya didenger aja. yang di protes juga mungkin sudah kebas diteriaki. berjuang paling benar adalah dengan mengenal diri sendiri, jadilah sehebat yang kamu bisa, maju dan protes mereka dengan sebuah solusi lengkap dengan paket kesediaan untuk mewujudkan ajuan solusi!"
entah kenapa, panas sekali melihat mahasiswa-mahasiswa yang bukannya rajin menuntut ilmu dan mencoba mengenal diri sendiri, malah teriak-teriak demi (mereka pikir) perubahan.

tapi menonton film Gie semalam, membuat saya banyak berpikir lain.
lebih berpikir tentang Gie pada masanya.

Gie, begitu idealis. sedari kecil ia terkontaminasi oleh paparan pemikir-pemikir hebat. dan prakteknya, keadaan pada masa itu memang banyak yang bisa diprotes.
saya jadi berpikir, wajar jika Gie cepat langsung melesat menjadi tokoh yang dikenal cerdas dan tajam, karena ia memiliki berbagai kombinasi yang tepat.
wawasan idealis yang didapatnya dari membaca,
keadaan yang memang membutuhkan banyak protes,
keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
basically, dia tau seharusnya pemerintahan itu berjalan seperti apa, idealnya.

melihat, menonton film Soe Hok Gie dari perspektif saya sekarang, dengan pengalaman-pengalaman keseharian saya sampai sekarang, timbul rasa yang berbeda dengan waktu 2005 dulu.

Gie, begitu idealis. and bless him, he got the chance and spec to be idealist. 
dia hidup di zaman yang tepat, dengan kombinasi kepribadian yang tepat; gemar membaca, berani, dan cerdas.

dan ia menjadi berarti karena keadaan membutuhkan pemuda seperti dirinya, saat itu. mereka memiliki musuh bersama yang jelas terlihat. kebodohan masih mayoritas, kemiskinan terasa betul kehadirannya dimanamana, kaum tua dan papa terpajang jelas didepan mata.
musuh bersama, is another keyword.
musuh bersama mempermudah sebuah perjuangan.

lalu saya merefleksikan dengan keadaan hari ini, sekarang.
ya banyak yang salah memang, saya tau. seperti ribuan pemuda lainnya di sekitar saya tau ada yang salah dengan sesuatu.
keluhan, punya tentunya.
tapi..kami saat ini tidak punya musuh bersama.
apa yang kami lawan? kebodohan? kemiskinan? korupsi? kelaparan?
semua itu ada, nyata masih terjadi di Indonesia. 
tapi dimana?
menyempil diantara himpitan-himpitan urbanisasi dan pertumbuhan kota-kota yang menyemir permukaan sehingga terlihat mengkilat.
kemiskinan? coba main ke mall-mall di jakarta; apa iya rakyat Indonesia miskin? coba googling gaji orang-orang pemerintahan, apa iya, Indonesia miskin?

di akhir-akhir film Gie terlihat resah, gundah.
ia limbung..apakah yang ia perjuangkan selama ini benar? melihat setelah adanya secercah perubahan, toh ternyata tidak juga membawa perbaikan, alih alih, ia membaca kemerosotan yang akan semakin bertambah. instingnya, gabungan pembacaan situasi sekaligus anilisis yang sangat cepat, berkata bahwa ini tidak akan kemanamana. kebobrokan itu masih mengintai dan belum pergi.
ia tau bagaimana seharusnya sebuah pemerintahan berjalan, bagaimana masyarakat seharusnya bersikap. ia tidak memihak siapapun, jika saat itu yang dilihat hanya keberpihakan semata.

ia tidak memihak siapapun.

karena tidak satu pihak pun datang satu paket.
tidak satupun datang sebagai wakil kebenaran dan idealisme.

ia memihak pada sistem yang seharusnya.

kemudian, di akhir film ia berkata,
"dilahirkan ke dunia adalah sebuah kesialan. berumur panjang lebih sial lagi. berbahagialah mereka yang mati muda.."
"hidup adalah ketiadaan, dan ketiadaan adalah hidup itu sendiri..semua kembali kepada ketiadaan..apalah arti hidup itu sendiri.."

dan tanpa merasakan hidup lebih lama lagi Gie mati muda.

dan idealisnya terhenti, otomatis.
maka ia selamanya muda, selamanya idealis.

tapi apakah itu lebih hebat dari menjalani hidup, menjadi tua, dan berjuang untuk selalu benar sampai tua?
berjuang hidup.

saya rasa tidak.

saya malah jadi berpikir, 
Soe Hok Gie urik!

*urik: main curang; bahasa jawa

Tuesday, November 15, 2011

Polaroid SLR 680 dan film Black Frame

saya membawa kamera Polaroid SLR 680 serta saat saya berangkat ke Jogja.
dengan film PX600 Silver Shade UV+ black frame



dan inilah hasil jepretan pertama saya:




diambil siang hari menjelang sore, saat mentari tak lagi terik.
warnanya distinct, padahal saya menghendaki warna yang kontrasnya rendah dan bold.
hari ini, ditengah niat saya untuk mengambil gambar di slide ke 2, saya menengok kembali gambar kemarin. dan ternyata dia sudah menjadi seperti ini:



hari ini warnanya lebih keluar :]

dan ini jepretan kedua saya:


sama dengan kemarin, saya menghendaki kontras yang rendah. berharap bisa mendapatkan gambar yang tegas..tapi kembali gagal.
jepretan kedua ini posisi lightmeter saya geser ke setengah darken.
jam 11 siang, tapi cukup terik.

camera, books, and pictures

"Cup in the Sink" & "Macak"



Jogja Youth Festival

hari Sabtu kemarin saya datang ke Jogja Youth Festival


menemani Mba Ria yang dapet award di ajang ini :D
doi dapet award "Heroes of the Dream", sebagai pelaku seni yang berhasil mewujudkan mimpinya, dan membuat sesuatu yang bermakna dan berdampak dari mimpi nya tersebut. seru yaa..

dan di acara Jogja Youth Festival ini, semua komunitas komunitas pemuda Jogjakarta turut diundang untuk buka stand dan mempertontonkan kebolehan.
ada komunitas sepeda, komunitas skate, fingerboard, tato, industri kreatif (tentu saja), craft, kuliner, dan yang membuat saya menarik diri dan memotret tentu saja: komunitas robot UGM!




soalnya baru-baru ini di bandung sedang bertualang di ranah robot-robotan sama Riset Indie :D
juga karena Saska pasti tertarik sekali melihat komunitas Robot!
dan ituuuu, mereka bikin mobil F1 sendiri versi Indonesiaaaa! betapa seru nya! :D

dan! 
ada lagi yang menarik saya untuk mendatangi booth nya:
Klastik, alias komunitas kamera plastik!
karena mirip mirip dengan Polaris di Bandung! huhuhuhu!
tapi mereka fokusnya sama kamera kamera plastik.


lalu saya menemukan satu kamera yang menggugah rasa ingin tau saya:


he he he.
lensa nya 4, pemirsa!

disana saya juga diperkenalkan dengan film 35mm jenis "positif"
film ini tidak seperti film 35mm yang biasa saya pakai dulu waktu masih sering bercengkerama dengan Yashica bapak saya.
kalau yang beredar lumrah di pasaran itu film negatif.
nah...penasaran saya langsung beneran tidak terbendung!
katanya, film positif ini bisa mengeluarkan warna lebih edyan dari film negatif.

walhasil, saya membeli satu film positif..ehe ehe.. *saska, izin main yaaa :D

we'll see!

next experiment: Polaroid black frame dan kamera plastik 4 lensa!



Monday, November 14, 2011

jogja lagi

so, i'm back in Jogja :] ha ha. i'll be doing puppet theatre once more with Papermoon :D
the show will start to run in the middle of December, so that makes these days as rehearsal days *another month to go!


dan sudah beberapa hari di Jogja, memungkinkan saya untuk mengunjungi Ngayogjazz dan Jogja Youth festival :D
ngayogjazz kali ini diselenggarakan di daerah Kota Gede, di sekitar pasarnya.
jam 4 sore, menghindari matahari yang terlalu terik, saya dan Mba Ria, Mas Octo, Beni, Mas Grewo, dan Emily bersepeda dari Papermoon menuju Kota Gede. sesampainya disana kami parkir sepeda berjamaah di rumah Mba Cahya :D
seru sekali, melihat perkampungan Kota Gede disulap menjadi area panggung-panggung para musisi Jazz berlaga. total ada 6 panggung yang membuat para penonton wara wiri kesana kemari untuk menikmati cuplikan musik atau memutuskan untuk berdiam diri larut. yang paling menyenangkan bagi saya adalah kesempatan untuk bertemu banyak hal. dari bertemu walikota sampai temu kangen kawan lama. dari segar bugar berjalan-jalan sampai duduk lelah menikmati Chocomelt cafe Momento yang superdahsyat :D
oia, ada tesla dan Jalu! ha ha! teman lama di Bandung. wih, seru sekali lho, panggung mereka PUEEENUH sekali! banyak orang menonton aksi panggung mereka. Tesla juga membawa Mahagotra Ganesha, karena yang dia bawakan album kolaborasi dan eksperimentalnya dengan gamelan bali. yang bikin saya senang dan merasa ter-re-charge luar biasa adalah, Tesla juga membawa penari Jauk Manis, tari topeng Bali. oohh..begitu melihat penari itu beraksi mini *karena hanya sebagai bagian dari aksi panggung* dalam diri saya langsung ser-seran karena semangat..langsung timbul rindu luar biasa untuk bergerak menari-nari dengan aktif dan dinamis! uuggh! langsung semangat dan janji ke diri sendiri untuk mulai menari lagi :D ingiiiiiiinnnnn! setelah lelah -dan semakin penuh sekali-, kami memutuskan untuk pulang saja. lagipula sudah malam, dan kami naik sepeda, dan kami butuh energi untuk disimpan, maka kami pulang


photo oleh Mas Budi Adi

days yet to come, hari hari latihan akan segera dimulai!
sedihnya saska tidak bisa join the adventure kali ini, karena petualangannya di laut juga sedang berjalan. hiks.
tapi kami harus tetap semangka :D

se mang kaaaaaa!
:D

1 + 1 = 1 1

seperti sepasang penari:
yang satu memimpin yang lainnya, untuk bergerak bersama. yang memimpin gerakan harus memperhatikan penari yang dipimpin. yang dipimpin harus waspada tanggap dan ikhlas dipimpin. bukan masalah siapa yang lebih hebat, tapi bagaimana bisa bekerjasama sehingga menjadi indah dan sinergis. yang dipimpin pun, sebenarnya memimpin dengan caranya; memimpin dengan cara membiarkan dirinya dipimpin.


seperti sepasang pelari:
pelari marathon dan sprinter yang harus mencapai garis finish bersama. pelari sprint harus sabar dan memperlambat pacu lari untuk menyamakannya dengan pelari marathon, pelari marathon harus sabar dan membantu pelari sprint untuk mengatur staminanya supaya tahan berlari jauh. tidak ada yang lebih hebat, tujuannya sampai di garis finish bersama dengan selamat dan efisien.


seperti sepasang kekasih:
semakin bertambah tua, kemampuan laki-laki untuk menerima suara dengan desibel yang tinggi melemah, dan sebaliknya untuk perempuan, semakin lanjut usia, kemampuannya untuk menerima suara berdesibel rendah kian berkurang.


*terimakasih Kandi Sekarwulan, Nur Maliyanti, dan Datta Hitakaraka yang thoughts nya saya kompilasikan disini :]