Saturday, March 7, 2009

Balonku ada Lima

Hari ke lima saya menonton lomba tari usia SD di Shanti Graha, Jalan Sudirman, sebelah SMA 2.
It’s not really a DANCE competition though, it’s more like a dance, singing, and playing the trditional games in one package composition.
Menarik :D
Ada 8 kelompok peserta, termasuk di dalamnya kelompok dari TK tempat cucu Ibu Arini, narasumber saya, turut ikut lomba. Namanya Ary.
Temanya ingin melestarikan nanyian-nyanyian daerah Bali, melestarikan Bahasa Bali yang halus, permainan tradisional, dan kegemaran bermain musik tradisional sederhana.

Saya tidak begitu ingat atraksi tiap kelompok, tapi kira-kira pola komposisinya seperti ini:
Ada kurang lebih 15 anak dalam satu kelompok.
Mereka masuk arena panggung sambil menari dan bernyanyi (gerak nya tingkah lakunya lucu sekali).
Mereka membawa alat-alat musik tradisional sederhana juga.
Setelah masuk panggung, berbaris ke samping dan duduk.
Lalu ada skenario disana, semacam bermain tebak-tebakan.
Ada satu anak yang di set secara sengaja maju ke depan, menghadap samping, mengajukan tabk-tebakan.
Ada salah satu adegan tebak-tebakan yang sukses bikin saya ngakak, kira-kira begini (suaranya agak kurang jelas karena tidak disediakan mic, dan tata panggung nya memang bukan tata panggung teater, udah gitu yang nonton buannyak sekali desek-desekan, panas dan pengap karena indoor),
“apa hayoo, beda supermen dengan suparman?”
Lalu anak-anak lain sisanya acting berpikir dengan menyentuhkan jari telunjuk mereka di pelipis, seraya bergumam,
“apa yaa..apa yaaaaa..”
Lalu si anak berkata lagi,
“tidak ada yang tau? Kalau supermen celana dalamnya di warna merah, kalau suparman celana dalamnya warna putih!” (siapa ini guru yang bikin garingan ini? Harus ketemu Agni dia kayanya)
Lalu anak-anak kecil yang lain berakting,
Begini ni aktingnya,
Muka masih datar, beberapa mulai bengong kehilangan fokus, tapi masih hafal urutan dialog, beberapa melihat ke arah penonton, lalu bersama-sama berseru (muka masih datar),
“ha ha ha ha ha ha”

Hmm. Itu lucu sekali. Sampai sakit perut saya tertawa melihat watak-watak polos itu berlakon.

Komposisi masih panjang, setelah beberapa tebak-tebakan, masih ada menari, bermain musik, dan mereka bermain permainan tradisional.

Nah, ada 1 kelompok yang sangat berkesan buat saya, kebetulan kelompok nya Ary.
Di kelompok ini mereka punya icon, semacam pemimpin grup nya gitu lah, seorang anak laki-laki, gwendut, ipel-ipel kalo bahasa jawanya, botak, dan jalannya sengaja meliuk-liuk, LUCU banget. Kalo dia jalan, atau keluar, atau joged, satu gedung pasti ketawa dan tepuk tangan. Benar-benar iconic. Secara keseluruhan komposisinya sama saja kok, tapi si satu tokoh ini membantu sangat! Liat aja rasanya pengen nyubit, atau bawa pulang, blum lagi tingkah dan aktingnya yang agak konyol, jadi tengil kesannya. Menarik sekali.

Dan mereka dapat juara satu.
Hoho, saya sudah duga.
Saya jadi mikir,

Nanti-nanti kalau pulang ke bandung dan ada kegiatan yang melibatkan lomba untuk anak-anak dan saya yang jadi kakak pembimbingnya, saya akan buat satu play, atau satu kelompok yang punya KARAKTER, dan jadi ICONIC, harus punya icon. Karena ternyata untuk bisa “stand out among the crowd” bukan cuma butuh jadi beda (be different kalo kata majalah-majalah cewe masa kini), menjadi beda tapi kalo ga ada jiwanya percuma. Selain menjadi beda, ternyata penting untuk bisa memperlihatkan karakter.

Dan selama belajar menari pun.
Menari dan menghafal masih bisa diakalin.
Yang susah adalah mengeluarkan karakter si tokoh yang ditarikan.

Tuesday, March 3, 2009

si jago merah*


*dibaca dengan gaya deklamasi anak es de membaca puisi di podium saat acara tujubelasan atau ulangtaun sekolah
dengan tangan kanan mengayun ke kanan dan berganti tangan kiri ke sebelah kiri setelahnya, saat satu tangan mengayun, tangan yang satunya diam di depan perut

si jago merah
kuberi dia nama,
warnanya merah walau tidak mewah
tapi sungguh teman yang tangguh dan setia,
kami lalui jalan maupun sawah
walau seringkali orang melihat kami dan tertawa,
tapi kami selalu punya kisah
yang akan kami bagi pada dunia.

karya, amanda mita.

Sunday, March 1, 2009

Speaking of Sunset

Saya jadi inget salah satu cerita di Le Petit Prince, waktu dia dateng ke sebuah planet yang sangat kecil sehingga dia hanya perlu menggeser kursi untuk melihat dan menikmati matahari terbenam. Lagi, lagi, dan lagi. Dan dia bilang dia sangat menikmati sensasi mengamati matahari tenggelam, karena ada sesuatu yang sendu saat itu.
Sendu.
Kenapa ya?
Saya setuju si, memang rasanya seperti sendu. Makanya saya juga selalu terdiam kalau mengamati langit senja, apalagi melihat mataharinya langsung yang terbenam.
Tapi kenapa ya?
I wonder,

“Sendu.
Karena saat matahari terbenam di cakrawala,
Ia menjauh dari langit yang sepanjang siang ia cumbu.”

Is it?

Ayo belajar bahasa Bali sedikit sedkit

Cicing = anjing kasar
(khahahahaha di bandung kan artinya diem, saya jadi kebayang, “Cicing siah!” berarti bisa berarti “Diem kamu!” atau “anjing, kamu” tanpa si orang itu tau dia dikatain. Khahahahahahahha)
Asu = anjing halus
Sing = tidak
Kengken = apa
Sing kengken = gapapa
Geg = neng, non
Jegeg = nona
Kije, geg? = bade kamana, neng? Mau kemane non?
Sugre = punten, permisi
Bedik = sedikit

Just Another Word for*

Beradaptasi
Is
Sembelit

Khahahahaha

*judul lagu Tazio & Boy di album Note-Book

empat: Denpasar, Bali

Genap 4 hari saya di Bali, tapi belum juga saya menyentuh pantai. Terakhir kemari dan bermain cukup lama disini tahun 2005, tinggal di daerah kuta legian, dan hampir setiap hari saya menyentuh ombak, melihat pantai, atau setidaknya mencium aroma laut.
Tidak kali ini.
Saya berdiam di Denpasar, capital city Pulau Bali.
Lain dengan pengalaman saya waktu menginap di daerah kuta legian sekitar,
sehingga kalau ada yang menyebut Bali, secara otomatis memori saya akan memberikan semua perasaan saya yang disimpan disana dengan tag: Liburan, Turis Berlibur, Turis dimanamana, Pantai, Toko-Toko pinggiran yang murah, Belanja, Baju ethnic, Aksesoris ethnic, Belanja lagi, Pantai dan lebih banyak pantai, Bermain dengan Debur Ombak, Melihat dan Memotret Sunset, Tertawa, Santai, 311 (lho? Eh iya bener loh) dan masih banyak lagi tag lain yang mampu diberikan otak saya sehingga yang keluar dari mulut saya dengan segenap hati dan perasaan ingin adalah, ”waaaaaahhh..asik yaaaaaaa....” sambil setengah melongo dan muka pengen ga bisa di kontrol.
Ternyata,
Selama di Denpasar 4 hari ini, semua tag yang ada di otak saya itu satu-satu mulai berubah. Bali tidak cuma sekedar Turis berlibur, aroma pantai, sunset setiap hari, toko menggelar aksesori dan baju-baju ethnic dmanamana, circle K dmanamana, orang-orang mabok di malam hari, beach boy pamer perut enam pak dan kulit coklat sempurna bergelimpangan, ajakan “kepang, kepang? Tato, tato” sepanjang jalan, dan belanja minded.
Bali,
Tidak se-glamour itu, ternyata.
Bali, juga punya Denpasar yang seperti ibukota lainnya.
Sibuk dan hiruk pikuk,
orang-orang beraktifitas normal bukan berlibur,
panas,
Banyak pendatang dari kota lain untuk belajar di ISI (dan kebanyakan dari mereka malah blum pernah berjalan-jalan di kuta sekitar),
Ada warung-warung makan murah,
Tidak melulu pantai,
Bahkan sejauh saya berjalan-jalan, blum saya temui Circle K yang menjamur di Kuta.
Denpasar ternyata tidak jauh berbeda dengan ibukota normal lainnya, walau tetap ada yang berbeda disini. Ya, seperti kota-kota lain yang pasti memiliki cirikhas masing-masing. Seperti Bandung dengan FO nya dan angkot ngetem dmanamana nya,
Jakarta dengan Polusi dan metromini nya,
Yogya dengan kebudayaannya yang masih kental, Bali pun.
Adat istiadatnya masih kental.
Saya masih bisa menemukan perempuan-perempuan berkebaya bersanggul sederhana naik motor atau berjalan di trotoar membawa bokor tembikar, tua maupun muda. Pun laki-laki dengan bawahan kain dan penutup kepala kain.
(pengen rasanya juga di bandung kmanamana bisa pake kebaya)
Rumah-rumah modern yang bersinergi dengan model rumah adat pun ditemui hampir di setiap rumah. Dengan skala sederhana maupun mewah.
Oia, yang khas lagi di denpasar tapi tidak di kota lain yang pernah saya datangi, dalam pengamatan saya sejauh ini:
Anjing diiiimanamana,
Banyak sekali warung makan babi,
Jarang sekali saya lihat angkot, tapi masih lebih sering dijumpai beroperasi di Denpasar sini dibanding di daerah Bali selatan seperti Kuta Legian sekitar.

Belum kmanamana lagi selain Denpasar sini.
Insyaallah selasa akan ke Ubud, ke Peliatan untuk menonton teman saya Ade menari Baris, dan merekam tari Legong Keraton. Lalu hari minggu nanti diajak mengunjungi dan bermalam di salah satu Desa di Singaraja, tempat teman saya Rima pulang. Oia, Rima ini primadona tari di desa nya lho! :D mudah-mudahan jadi. Amin! :]

satu dua tiga

sabtu, 29 februari 20009
Charger Mary rusak.
:’[
Setengah hari saya habiskan mencari tempat service laptop.
Berakhir di dealer service resmi yang jaraknya cukup jauh, dan solusi yang paling baiknya adalah membeli charger baru.
tapi tidak murah.
Huaaaaaaaa.

Bersepedah di hari kedua

Jumat, 27 februari 2009

Setelah paginya menonton teman-teman menari di ISI, siang nya saya memutuskan berjalanjalan dengan sepeda sekalian mencari ATM dan membeli jepit jemuran.

Maka diputuskan,

Dari ISI sini, saya akan bersepeda ke arah selatan,

ke matahari atau Robinson untuk membeli jepit jemuran di jalan Dewi Sartika,

Belok mencari ATM di Jalan Diponegoro,

Pulang lewat Jalan Mudita, belok ke Jalan Udayana,

Melewati Patung Catur Muka dan Lapangan Puputan.


catur muka statue


Di lapangan Puputan saya berhenti sebentar, parkir.




patung di Lapangan Puputan


Ternyata di lapangan ini akan ada acara.


panggung pesta rakyat


zoom panggung pesta rakyat


Ada panggung dan serombongan orang-orang check Sound.

Dan lapangan ini berfungsi dengan baik sebagai taman publik.

Banyak orang duduk-duduk di pelataran rumput dan mengobrol, ada yang duduk di tempat duduk yang sudah disediakan, dan banyak anak-anak bermain. Dari bermain skateborad, sampai bermain bola plastik.


orang duduk duduk


main skate!


Saya menghampiri mas mas dan mba mba yang duduk duduk di pelataran rumput,

“mba, mawu ada acara apa ya disini?”

“oh, gatau tu..he he” sambil nyengir

“oh, ya, terimakasih mba.”


Lalu saya menghampiri sekumpulan anak-anak yang lagi jalan.

Saya sapa dan mereka menyapa balik dengan riang.

Senang.

Saya ajak ngobrol aja, terus saya tanya,

“mawu ada acara apa ini?”

“oh itu acara ulangtaun sini yang ke 17”

“oohh..ya ya!” ternyata anak-anak jauh lebih perhatian dan tau dibanding orang dewasanya.

“saya foto ya? mau?” sambil nyengir.

“mau mau mau mau!” sambil pose.



kamu kamu kamu


Selesai saya ambil gambar nya, mereka mengerubungi saya melihat hasilnya.

Lalu melanjutkan jalannya sambil dadah dadah.

“daaaaaahhh!” saya membalas.



dadah dan terimakasih :D


Friday, February 27, 2009

du du dua

pagi ini menonton pertunjukkan tari di ISI.
ada tamu dari Kamboja.
dipersembahkan 3 tarian oleh ISI.


tarian pertama, Tari Selat Segara yang ditarikan cantik sekali sama mahasiswa ISI semester 8


tarian kedua, nah ini, saya lupa nama tarian nya, tapi yang menarikan mahasiswa asing yang belajar nari di ISI. ada yang dari Cheko, dan Jepang. Lucu deh, ngeliat mereka menari Bali. yang paling saya ingat yang Cheko dan Jepang karena mereka yang paling mencolok. si Cheko melotot-nya lucu sekali, si Jepang melotot terus sama sekali ga senyum, khaha, tegang dia rupanya, sempet liat di Backstage, wajahnya mengernyit usai tampil.


tarian ketiga, lupa juga namanya, tadi dikasi tau. nah ini yang nari temen-temen di kosan. ada Ade, Astina, Sidik, Kadek dan teman teman. tarian ini tarian perang antara Gatotkaca dan Karna di epik Mahabratha. terus ya, menarik nya, di tengah-tengah tarian 8 orang ini, nanti mereka berformasi jadi kereta kuda yang membawa Karna. ada 2 orang jadi kuda, 2 orang moter payung besar jadi roda, dua orang pegang kipas jadi kereta, sisanya di tengah jadi Karna, dan di belakang bawa payung. khihi.






selesai tampil mereka main salah-salah an, siapa yang narinya ga bener, khaha.






para penari dan perempuan penitipan barang

Thursday, February 26, 2009

hari pertama: langsung bertemu Biang Bulan

dan makan siang pertama saya di Denpasar trip kali ini GRATISS
khehehehehehehehe :D
plus plus, sempat ngobrol dan interview, yeay.
Alhamdulilah!

Pak Suartha, Misto, dan Pak Hans Ibu Netty

1/2 hari pertama.
pagi-pagi sekali mulai jam 6 Bali hujan.
hmm, Legian lebih tepatnya.
Legian hujan.
sepupu saya maupun temannya yang berjanji bersama akan mengantar saya, tidak satu pun bangun.
mungkin masih terlalu pagi, mari tidur lagi.
...
tidak tidak, ayo bangun. fokus. fokus.
fokus. dingin. ngantuk. fokus!
ok, saya bangun.
membangunkan yang lain.
percuma.
mari buka peta saja. seberapa jauh ISI denpasar dari Legian?
lumayan.
hmm..
membangunkan orang-orang.
sia-sia.
baiklah saya telfon 108.
"selamat pagi mas, boleh minta nomer telfon taxi Bluebird? 701 111, ok, terimakasih, selamat pagi"
membangunkan, berpamitan, dan saya meluncur, diantar Pak Gede Suartha yang mewakili burung biru yang saya pesan.
pertama bertemu saya minta tolong ia untuk mengangkat sepeda dan koper saya, karena tubuhnya pun besar, saya tidak sungkan minta tolong, tapi wajahnya agak galak.
saya pasang senyum aja deh, lebar-lebar.
he...
saya jadi serba salah. "maaf pak, saya ga kuat, maaf ya" saya membatin. sambil tetep senyum pastinya.
saat taksi meluncur dia mulai bertanya ini itu, dan saya pun kemudian bercerita ini itu.
ternyata pak Suartha cukup ramah dan guide yang baik :] banyak informasi saya dapat dari dia.
saya pun sampai di kosan tempat ibu Dayu.
tempatnya persis di belakang (atau samping, ya? aduh saya blind direction) ISI.
cek baby cek.
adalah Misto yang menjaga kosan tersebut.
laki-laki berkulit sawo matang usia paruh baya.
masih cukup muda. dan asalnya dari jawa (daa, namanya Misto gitu) (iyeee, sapa tauuuu..nama lengkapnya misto li, misto d -dibaca mistah di-, atau misto siahaan).
keadaan kamar kosan..hmm....
hmm..
"maaf mba, ini lampu nya mati, nanti siang saya kesini lagi bawa bola."
bawa bola?
"ayo mas kita main basket! atau main futsal! mas tau aja saya uda lama ga main basket!"
no, really, saya ngerti yang dia maksut lampu.
1 - 10..nilainya 4..hm, masih bisa survive kok, mari kita periksa kamar mandi.
ok. kerannya airnya keluar kecil sekali, banyak sarang laba-laba, lampu kuning, dan ada air mengalir dari arah kloset. nilainya 2.
"mas, keran nya emang sebesar ini keluar airnya?"
"iya, emang udah ga bisa lebih kencang lagi keluarnya. kadang malah mati mba. soalnya pipa nya suka mampet. kecil pipanya, bersihin nya susah."
nilainya..ah..saya nangis aja deh.
mas Misto keluar meninggalkan saya dengan janjinya untuk kembali bersama bola dan bayangan saya yang kelabu.
saya pun memutuskan untuk keluar dan keliling.
dan saat itulah saya bertemu Hans (kemudian saya panggil Pak Hans), yang halaman samping (atau belakang?) nya menempel dengan pelataran kos kosan.
Pak Hans orang Belanda yang sudah 11 tahun di Bali dan menikah dengan ibu Netty.
kami pun berbincang.
dari mulai tujuan saya di sini, harga-harga naik, krisis ekonomi, anjing gila dan fakta bahwa kira-kira sudah 5 orang di Denpasar sini meninggal kena gigit anjing rabies, serta rencana nya untuk berburu dan membunuh anjing-anjing gila yang dia temukan berkeliaran (lalu dia mengajak saya turut serta berburu dengan wajah super ceria. hiiiii -saya balas undangannya dengan gelengan dan senyum kecut, soalnya saya blum juga mandi selain karena saya juga ngeri). itu cerita dia.
sampai kamar kotor, bau, dan kamar mandi yang....(maaf saya kehabisan kata-kata, saya cuma memberikan mimik wajah). ini keluhan saya.
dan Pak Hans bilang memang begitu keadaan kosan yang itu.
"lebih baik kamu ke ibu.. (aduh saya lupa namanya) yang rumahnyadi depan situ, tembok putih. dia akan kasih kamu lihat sendiri kamar yang dia punya. lebih bersih."
mendapat secercah harapan, saya pun melesat ke rumah ibu...
saya disambut dan akhirnya saya melihat tempat penyewaan kamarnya.
pas.
ada kosong satu.
jodoh.
lebih mahal sedikit, tapi berbanding lurus. worth it bahasa masa kini nya.
dan saya pun berkenalan dengan penghuni kosan tersebut yang mayoritas anak tari ISI angkatan 2007. muda sekali, cih. *khahahahahha*
meet my new friends, they're warm and welcoming me well :]
rima, eni, yuli, astina, ade, kadek (masih akan menyusul karena ini baru sebagian).

Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...