Tuesday, January 26, 2010

kemanakah jalan menuju kantor pos asia afrika?



"Kantor pos asia afrika itu dimana sih?"

"di..jalan asia afrika.."

"euh, di..mana ya..?"

"begini begini, biar saya beri kamu hand map."

"hotel preanger dimana?"

"ini disini," sambil menggambar dekat pergelangan tangan, "nah kalo luruss aja..nih disini..nanti melewati PR, braga, cikapundung, gedung BRI..nah disini ni.." sambil menulis, "P T P O S I N D O S I A R.."

lho lho lho..eh, bukan, saya..

"NAHH jalan ini ni.." sambil menulis, "Jalan A S I A M A R I K A..gabungan martabak asia dan amerika, tah.."

lho lho lho

"Jangan nyasar ya, udah jelas gini petanya!"

Thursday, January 14, 2010

membedah stop this train

No I'm not color blind
I know the world is black and white
Try to keep an open mind but...
I just can't sleep on this tonight
Stop this train I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't
But honestly won't someone stop this train

Don't know how else to say it, don't want to see my parents go
One generation's length away
From fighting life out on my own

Stop this train
I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't but honestly won't someone stop this train

So scared of getting older
I'm only good at being young
So I play the numbers game to find away to say that life has just begun
Had a talk with my old man
Said help me understand
He said turn 68, you'll renegotiate
Don't stop this train
Don't for a minute change the place you're in
Don't think I couldn't ever understand
I tried my hand
John, honestly we'll never stop this train

See once in a while when it's good
It'll feel like it should
And they're all still around
And you're still safe and sound
And you don't miss a thing
'til you cry when you're driving away in the dark.

Singing stop this train I want to get off and go home again
I can't take this speed it's moving in
I know I can't
Cause now I see I'll never stop this train

saya menemukan lagu dari John Mayer, continuum album, yang judulnya Stop This Train ini sangat menyolek mood kontemplatif.
lagu ini enak.
pertama saya mendengar lagu ini langsung suka. tapi belum paham betul liriknya, hanya suka "rasa" nya, dari pertama mendengar petikan gitarnya juga.
hal kedua yang menarik kuping dan sanubari saya yang merasakan lagu ini adalah kata-kata "..go home again.." yang dengan mudahnya terdengar tanpa harus baca lirik.
saya tertarik..
"go home? kemana? apa maksudnya ya lagu ini?"
maka dimulailah, pencarian lirik lagu ini.
pertama baca, tanpa sambil dengerin lagunya, langsung suka kata kata "Don't know how else to say it, don't want to see my parents go" lalu, "had a talk with my old man, said help me understand, he said turn 68, you'll renegociate.." dan satu lagi, "John, honestly we'll never stop this train"
menarik.

lalu, sambil didengarkan lagunya, sambil dibaca liriknya..
lagu ini kemudian bertransformasi menjadi seperti cerita seorang teman di tengah malam dalam rangka membagi kebingungan, banyaknya benang pikiran yang numpang lewat minta diurai.
kemudian yang membuat saya terdiam sejenak (sebelum setelahnya saya selalu mengulang-ulang lagu ini di playlist) adalah,
sebelum klimaks mulai bagian "So scared of getting older", lagu di pause dulu dengan alunan gitar.
jadi, klimaks lagu ini benar-benar terasa.
dan sambil baca liriknya,
So scared of getting older, I'm only good at being young --khaha, saya rasa hampir semua "youngsters" di usia saya sekarang merasakan ini, atau setidaknya PERNAH merasakan ini once in their moment of life.
So I play the numbers game to find away to say that life has just begun --ya ya, menipu diri sendiri, khahahahaha *tertawa cynical*
Had a talk with my old man, Said help me understand, He said turn 68, you'll renegotiate --bagian ini, yang dari awal baca lirik tanpa musik saja sudah menarik saya, apalagi pas dilagukan..aduh..bagus sekali.
gmana ya, yang kebayang, seperti si John Mayer ini cerita sama bapaknya, dia bingung kenapa hidupnya terasa cepat sekali..atau..mendadak hilang tujuan hidup dan bingung (ya ampun..saya atau teman teman saya sering punya perasaan gini), terus bapaknya, yang dengan kalem dan penuh kelumrahan (mungkin ya, ini interpretasi saya) cuma bilang, turn 68, u'll renegociate. kha ha.

"Don't stop this train
Don't for a minute change the place you're in
Don't think I couldn't ever understand
I tried my hand
John, honestly we'll never stop this train" --satu rangkaian, petuah dari sang ayah, "don't stop this train, jangan, jangan semenit pun menyesali dimana kamu berada sekarang, tapi jangan pikir ayah tidak mengerti, tapi memang "kereta" ini tidak akan diberhentikan" dengan kata lain, terima saja lah, nak..

See once in a while when it's good, It'll feel like it should --ya when it's gud, then it'll feel like it should..tapi..
And they're all still around, And you're still safe and sound, And you don't miss a thing --iya, tapi..
'til you cry when you're driving away in the dark --iya, tapi kalo udah begini..hah..

Singing stop this train I want to get off and go home again, I can't take this speed it's moving in, I know I can't --yup, tidak bisa diberhentikan memang, apalagi berputar balik.
Cause now I see I'll never stop this train --alangkah sebuah kesimpulan.

a bit depressive mungkin ya, interpretasi saya.
hmm, life is, sometimes.
but we'll never stop this train after all, let's live it and make it meaningful at least :]
kembali pada sebuah quote yang mudah dikutip dan diucap, tapi kalau sudah mulai dipikir tidak semudah itu.
"segala sesuatu, semuanya, adalah sementara"
kha ha.

oh..ternyata! hujan itu...

alvi mengirimkan pesan untuk albi.
melalui Pak Pos.
"Pak Pos, TOLONG yaa..bilang itu sama SI ALBI! psst pst pst pstt psssst pst..bla bla bla bla..na na na la la la.."
sip!
wuuuzzzz..
sekejap pak pos pergi, tidak terlihat jejak langkahnya.

tak lama hujan mengguyur halaman tempat alvi si kucing bernaung.
membuat tanah dan rumput basah, mencongkakkan aroma buminya yang nyaman meneduhkan.

hari ini sahabatnya, albi si jerapah, sedang pergi jauh.
kenapa alvi bisa tau?
karena tingkah laku konyol dan tarian-tarian gilanya tidak tampak seharian ini.
pun leher panjang dan hidung besarnya.

hujan rintik yang sejuk nyaman meneduhkan itu sejenak kemudian membuat alvi meringkuk terbuai diatas peraduan empuknya.

tidak lama, alvi terbangun dikejutkan oleh albi yang datang kuyup dan bersin-bersin.
albi kesal karena dibanjur hujan.
tapi pesan alvi sampai.
:D
alvi tertawa mengerti.

"oh..ternyata! hujan itu..Pak Pos!"

Friday, January 8, 2010

"mita sayang ibu.."

jaman waktu saya masih se-lengkuas (masih kecil), saya selalu ga bisa jauh dari ibu saya.
pernah satu waktu saat masih kelas 1 es de, saya diajak traveling "tour de Java" bareng sepupu-sepupu sama orangtua salah seorang sepupu.
kita ke pangandaran, ke..mana lagi ya? saya lupa. yang jelas waktu sudah sampai Cilacap, saya mewek setiap malam. kangen ibu.
karena rewel, akhirnya pakde saya menelpon rumah, saya dibiarkan berbicara dengan ibu.
serentak saya hanya menangis waktu dengar suara ibu dengan kalimat yang meluncur,

"mita kangen ibhuuuu..mita sayang ibhuuu..huaaaaaa"

ibu saya orang Jawa dan sangat kental dengan aura Jawa, aktif berbicara dengan bahasa Jawa pula, jadi waktu kecil pun saya masih ketularan medhok Jawa.
di ujung sana ibu saya hanya tertawa sambil berkata lembut,

"Ibu juga sayang mita..udah kamu jangan nangis..jangan rewel, gitu lho. kamu tu, ngerepotin pakde mu aja. jangan rewel, makan apa adanya, jangan minta yang aneh-aneh. udah ya?"

si ibu lembut tapi lempeng, ga menye-menye terbawa melankolia reaksinya, sewajarnya, sementara saya masih aja nangis di ujung telpon satunya, sampe pakde saya harus ambil alih gagang telpon lagi.
dan sepupu-sepupu saya, bukannya menghibur supaya saya berhenti menangis malah menirukan kata-kata saya dengan mimik mengejek,

"mita sayang ibbHuuuuuk.."

dengan penekanan di H secara tidak wajar dengan maksud mengejek, memang, lalu tertawa ramai-ramai.
semakin pecah tangis saya.

sekarang, saya juga masih suka kangen Ibu.
tapi dalam keluarga saya tidak terbudayakan bilang sayang spontan.

kasus yang marak jaman saya es de kelas 3-5,

"Bu, mita sayang ibu.....matematika mita 5 bu.."

kasus lain,

ibu: "Udah jam berapa ini, kamu baru pulang?? udah jam 6 sore ini! pulang sekolah MAIN aja, ga langsung pulang!! udah ah, terserah kamu! Ibu gak mau ngurusin kamu lagi!! TERSERAH! gausah phulang aja sekalian!!" sambil berjalan cepat menuju kamar bersiap menutup pintu dan meninggalkan saya sendirian yang sedang menangis di ruang tengah dengan despair dan penyesalan edan.
mita: berjuang mengejar Ibu karena takut ga diurusin lagi, menangkap kaki beliau dan berteriak sambil menangis histeris di ambang pintu kamar ibu, "MITA SAYANG IBHUUUUU..jangan ga urusin mita, Bhuuuuu....!!!"

dalam keluarga saya tidak terbudayakan bilang sayang spontan, tapi belakangan semakin mencoba kenal dengan konsep "sederhana", semakin terpupuk juga spontanitas-spontanitas dalam diri saya.
alhasil, sore kemarin, tiba-tiba saya meng sms ibu dengan spontan karena merasakan sesuatu:

07.01.10 12:30 pm
ibuuuuuuu..mita sayang ibuuu! :D
khehehehe,jd inget jaman kecil dulu mita sering nangis di telpon,klo lagi pergipergi.

lama SMS ini tidak berbalas. saya pun tidak menunggu balasan sebenarnya. saya percaya beliau pasti lebih sayang lagi sama saya. saya cuma ingin memberikan kesempatan pada spontanitas. karena akan lebih seru :D
eh, malamnya sms saya pun berbalas.

07.01.10 09:27 pm
ib jg chayank mita...

tapi ini bukan bahasa sms ibu saya. ibu saya bukan tipe mendayu-dayu. pasti si bapak ini yang membalas dari telpon ibu saya. dan saya pun tidak membalas sms itu lagi. soalnya bapak lagi sensitif akhir-akhir ini. lagi mellow beliau, entah kenapa. jadinya suka menginterpretasikan sesuatu secara lebih.

pagi ini ada sms masuk,
dari si bapak,

08.01.10 8:15 am
Ass,kmrn km sms ke ibu,gt amat,ada apa Mit?,nakut2in ajah..,ada apa dng mu...

tuh kan bener.

ternyata memang dalam keluarga saya tidak terbudayakan bilang sayang spontan.
agak susah berpikir sederhana.
menangkap sesuatu tidak seperti apa terlihatnya. diulik sampe HARUS TAU apa alasannya. curiga pasti ada apa-apa nya.
padahal alasannya tidak harus diberitaukan, DI INFORMASIKAN secara verbal atau tulisan.
padahal kalau alasannya cukup disampaikan lewat transfer energi bersamaan dengan sms spontan, akan lebih kaya rasanya. "alasan" itu pun kemudian akan dirasa cukup.
cukup.
si pengirim pun kemudian akan merasa plong.
tenang.
senang.
tanpa merasa harus menunggu jawaban atau balasan.
soalnya yang spontan itu tulus.


Tuesday, December 22, 2009

cindera mata dari Ujung Genteng


























the playlist:
311 - amber
John Mayer - 3x5
Ivy - Ocean City Girl
The Temper Trap - Sweet Disposition

Monday, December 21, 2009

karena membaca berita ttg pers infotainment yang seenaknya main tuntut, saya jadi mikir..

manusia, jika sudah berdiri pada kelompoknya, meskipun kelompok tersebut menyatakan diri sebagai pihak yang lemah atau kalah, tetapi tetap punya tendensi untuk menjajah.
minority IS always powerless,
nevertheless,
groups of minority is equal to majority.

mungkin..yang namanya bener bener minoritas itu ga ada.
sisi positifnya, se-minoritas apapun sebuah kelompok yang positif, pasti bisa membawa perubahan yang positif juga.
sisi negatifnya, "kelompok minoritas" kemudian hanya dijadikan "topeng" untuk menyelimur tindak penjajahan sebuah kelompok tersebut.

Tuesday, November 24, 2009

cita-cita

kata ulang yang, buat saya, punya arti dan makna yang sangat penting.
tanpa itu saya tidak bisa menentukan akan kemana kaki saya melangkah selanjutnya, setelah melalui berbagai fase.
kemudian ketidaktauan dan ketidaktentuan itu hanya akan berakumulasi menjadi energi negatif.
kalau sudah begitu saya akan merasa kehilangan daya hidup.
nanti lama-lama jadi mesin.
sayang ya, anak-anak kecil jaman sekarang kurang dipacu untuk bercita-cita dengan bebas walau liar.
lagu-lagu yang mereka senandungkan saja lagu-lagu band prodak media massa hari gini.
tidak ada lagi Ibu Sud atau Bu Kasur.
heum..
..
tidak ada lagi yang menyanykan betapa serunya membangun mainan sendiri,
atau se-sederhana awan putih yang seperti kapas,
atau sebuah titik di tengah laut yang menjelma menjadi kapal api.

"apa cita-citamu?"

Monday, November 9, 2009

cinta di Kartini Ngga Sampai Eropa

khehe, sedang membaca sebuah novel karya sammaria, saya menemukan petikan-petikan yang menarik.
lucu.
witty.

mereka sedang membahas cinta, gay, Tuhan, dan agama.
"Love...it's strong, but not everlasting."

"dan, mungkin cinta itu juga anugerah Tuhan, Anti... gak diusahakan sendiri. I can't believe there are two human beings can stand each other forever and ever. makanya, nikah itu ibadah. nothing is forever...even love. well...except diamond tentunya =)"

setuju, perasaan C tadi, ataupun sebuah chemistry, itu anugerah. it's a gift.
tapi, kalo mencomot petikan dari film "Dan in the Real Life",

"Love is not a feeling, Mr.Burns, it's an ability"

ya, dan ability itu juga bisa dilihat sebagai sebuah anugerah.

dan sebagai petikan penutup, kembali pada novel karya sammaria,

"if you feel depressed, just remember that everything shall pass anyhow. nothing is forever, babe. not even diamond. berlian (carbon) akan dengan mudahnya berubah menjadi gas CO2 kalo bereaksi dengan O2 cair di suhu -184 derajat celcius =)"

khaha,
saya adalah manusia sementara :]

Sunday, November 8, 2009

jakarta

dan malam itu, dari perbincangan tentang cinta, masih di sesi bersama wonder woman keturunan serambi mekah, obrolan merembet kepada pertanyaan,
"So, how's life? what next?"

dan cita-cita saya yang menjawab pertanyaan ini adalah,
"ga di Jakarta yang jelas, insyaallah."

disambut,
"Hah? kenapa dah?"

"karena.."
saya jadi ingat pengalaman satu hari sebelumnya, terjebak macet parah di sebuah jalan tikus, di salah satu wilayah hectic di Jakarta Selatan.
mobil-mobil berjubel.
penuh sekali.
dua kali atau bahkan tiga kali kalau bisa.
p e n u h.
saya dalam keadaan lelah dan bosan.
panik mengejar waktu sudah menguap, berganti pasrah.
dan di kanan kiri, pengemudi-pengemudi diperhatikan semua berwajah sama mimik.
datar.
dengan guratan kaku pada rahang.
"termesinisasi"
ter-mesin-isasi.
lamunan saya tersadar.
"karena.." saya berusaha kembali meneruskan jawaban

"iya si emang, gw akuin..disini, kalo lo ga lari ikut sama yang lain, lo akan ketendang-tendang. pilihan lo cuma dua, lo ikut lari sama yang lain, apa lo ditendang-tendang. apalagi untuk kelas pekerja macam kita kita gini"

saya kembali terdiam, tidak menyelesaikan kalimat saya.
dari rumah untuk sampai ke tempat kerja, rata-rata orang Jakarta yang kantornya di daerah perkantoran prestise itu butuh waktu 2 jam, jarak yang bisa ditempuh Bandung Jakarta.
saling berjubel adalah cemilan sehari-hari.
tidak semua pekerja bisa memilih kendaraan pribadi ber-AC untuk sampai kantor.
mungkin ini memang hanya penilaian dari satu sudut pandang dalam melihat fenomena kelas pekerja di Jakarta. Tapi sudut pandang ini yang paling mendekati realitas untuk saya bayangkan saat ini.
semua orang berlari, mengejar dan mengejar. tidak ada kata cukup.
entahlah, i'm just being cynical.

"saya cuma merasa jakarta bisa mengubah saya menjadi seseorang yang lain. sejauh yang saya lihat, Jakarta terlalu menggoda untuk membuat orang selalu merasa kurang."

"lo beruntung masih bisa milih, punya pilihan..walaupun sekarang lo milih kere ga punya duit, khahaha"

"khahahahahahaha! so much choice for ur life, eh?"

malam itu kami tertawa saja, menertawakan pilihan masing-masing dengan resiko yang akan kami tanggung sendiri-sendiri juga.
dia butuh saya untuk menertawakan betapa hectic hidupnya, saya butuh dia untuk membuat saya tetap bisa melihat realitas, tidak mengawang.
hey, tidak semuanya buruk, segala sesuatu memiliki dua sisi.

walaupun membuat pilihan bukan sesuatu yang mudah, tetapi masih bisa punya pilihan adalah sesuatu yang patut disyukuri.
tidak semua orang punya pilihan.
be thoughtful.


masih menyerempet keempat tulisan Seniman Dapur tentang hasil obrolan ngalor ngidul ngetan ngulon

setelah sesi sore itu, hari ini topik yang sama kembali menghantui saat saya bertemu Tengku Firli Anggina untuk saling bertukar cerita dan meng-up date kabar, saling menginjeksikan positivity.

cinta.

mencintai dicintai.

menghantui dan sama bundet nya dengan pelajaran Diterangkan-Menerangkan dan Menerangkan-Diterangkan (saya cinta pelajaran Bahasa Indonesia sejak SD, tapi ga pernah mudheng kalo udah sampe bab yang ini).

"Cinta, deritanya tiada akhir..." itu menurut Ti Pat Kay di serial Kera Sakti.

"Jatuh cinta itu biasa saja"
saya setuju. arti kata cinta saat ini terlalu dilebih-lebihkan (terimakasih kepada media. sinetron terutama. untung belantika musik Indonesia masih punya Efek Rumah Kaca) tapi ironisnya, malah mengalami pendangkalan makna.
"Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat. Saling mencari di dalam gelap. kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap, hati kita gelap, lalu hati kita gelap."

hasil obrolan saya, Seniman Dapur, Seniman Setrum, dan Seniman Lingkungan di sesi sore tempo hari tentang cinta pun beraneka macam.

"Cinta itu ya proses itu sendiri..." menurut Seniman Setrum.
"Ga ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. itu berarti bukan cinta. cinta itu kalau bertemu di tengah-tengah. cinta itu kalau saling. cinta itu jodoh."


"Cinta itu absurd, banyak sekali pengorbanan yang dilakukan atas namanya. Banyak sekali kematian, ironi, tragedi dan rasa sakit hati mengelilingi apa yang disebut cinta tadi. Peperangan pun dilakukan atas nama cinta." kata Eeyore.

entah kenapa pendapat terakhir dari Eeyore memacu saya untuk berpendapat.
menurut saya itu ego, bukan cinta.
ego itu rasanya seperti cinta, tapi bukan cinta.
menurut saya,
cinta itu kesederhanaan.
Cinta itu bentuk paling sederhana dari kasih sayang, justru.
Seperti 4/8 adalah 1/2.
Cinta itu saat segala sesuatu yang dirasakan dalam sepersekian detik menjadi tampak sederhana dan bisa membuat tersenyum.
Dan rasa sederhana itu biasanya cuma datang dalam waktu singkat dalam pikiran kita, manusia, dan pergi menghilang kembali, diganti ego.
Karena perasaan "sederhana" itu perasaan divine.
Manusia (justru) butuh effort besar untuk merasakan rasa "sederhana" tadi.

cinta yang sungguh itu justru cinta yang sederhana.

kesederhanaan itu salah satu bentuk cinta yang tulus.

tapi sesuatu yang sederhana bukan berarti mudah.
para seniman matematika kadang bisa njelimet saat ingin menyederhanakan sesuatu, bukan?

ahh, puisi "Aku Ingin" dari Sapardi Joko Damono tiba-tiba kembali termaknai dan menjadi lebih dalam.

Seniman Lingkungan juga punya quotes berkaitan dengan topik ini:
"Cara mencintai yang baik adalah mencintai dengan penuh kesadaran bahwa yang kita cintai itu akan hilang"


Friday, November 6, 2009

Perjalanan Siti mencari Situ

"Tet tet tet tet tet tet"

Alarm pagi membangunkan Siti, gadis desa (asal garut, mojokerto, atau magetan, tidak pernah jelas asal muasalnya) di bumi pertiwi kota jakarta.

Jakarta, saudara-saudara.

Kota metropolitan tempat para selebritis itu lho!

Pagi ini Siti bangun dengan panik karena harus menyelesaikan proposal. Kehadiran Siti di jakarta pun untuk mengantarkan itu proposal ke Situ (sebuah tempat berinisial jalan w-i-j-a-y-a 1 no 28).

Karena proposal belum diselesaikan, Siti panik dari pagi, hari ini deadline.

Maklum, Siti memang procrastinator handal Pembantu Ketua 1 geng “The Deadliners” (ada yang mau daftar, bay de wei?)

Siti panik dari pagi. Terhitung mulai jam delapan pagi.

Waktu berjalan dengan efektif.

Waktu mepet deadline memang dirasa waktu yang efektif dan membuat otak encer mengerjakan tugas tugas.

Dikejar pembunuh berantai bisa membuatmu berlari 10 kali lebih cepat dan efektif.

Percayalah..(apa yang dikatakan Rudy).

Waktu berjalan dengan efektif..sampai jam 12 siang.

Tinggal SEDIKIT lagi, Siti selesai, tapi saudara-saudara, tidak dibiarkan Siti merasa lega barang sedikit, karena mobil menuju Jakarta Selatan akan segera berangkat.

Bergegas Siti mandi. Tanpa berdandan dan dengan setelan rambut basah macam mba-mba nyuci baju di kali a la film Barry Prima, Advent Bangun, dan Yurike Prastica, Siti melompat masuk mobil. Dan kembali menyelesaikan sisa proposalnya di jalan.


First destination: Kampus Interstudi, Tendean.

Karena Tuan Besar 1 ada kuliah, maka perhentian pertama adalah kampus ini. Disini Siti turun mengharap ada secercah WiFi yang bisa Siti manfaatkan untuk mengirim proposal via eMail, kalau kalau Siti tidak menemukan Situ.

Jaga-jaga. (see, Siti pintar sebenarnya, walau dia procrastinator dan deadliners, tapi masih sedikit punya rasa tanggungjawab)

WiFi gagal digunakan. Komputer mini Siti tidak bisa tersambung.

“baiklah begitu, ke tukang print, dan di print aja, terus berjuang menemukan Situ”, Siti bertekad dalam hati dengan tulus dan semangatnya.

“ASTAGA, flashdisk masih di mobil, yaudah deh, ntar aja mindahin ke flashdisk nya di tempat nge-print” cetus Siti yang dengan cerobohnya meninggalkan perkakas di mobil.

“kira-kira ngeprint di SUBUR berapa ya?” Siti menilik dompet yang isinya hanya ada 3.000 rupiah.

“ASTAGA, berarti harus ke ATM dulu!”


Next destination: BCA

Bergegas lah Siti ke tempat parkir dan melesatkan Si Manis, mobil Tuan-nya ke ATM.

Parkir.

Seperti namanya, Bank Capek Antre, antreannya emang bikin capek mata. Dan pegel hati. Untung kaki Siti kuat. Maklum, gadis desa, betisnya aja segede Tales Bogor.

Bay de wei, disini ada 3 ATM penarikan dan hanya bisa dipake 1.

Long story long, uang sudah ditarik, 100ribu.

“yak, cukup lah yaaa..” batin Siti dengan polos.


Next destination: SUBUR

BCA dan SUBUR terletak sederet, dengan jarak lumayan lah. Dan sedihnya mereka dibangun di jalan one way. SUBUR udah kelewat. Jadilah Siti tidak punya opsi lain selain jalan kaki ke SUBUR, ga mungkin mundur naik mobil, lagian...

Lagian...

INDIKATOR BENSIN MOBIL TUAN SUDAH BERJARUM DI E!

Jalan it is.

Siti masih melenggang dengan ringan. Masih positippp otak nya yang suka nyangsang dimana mana itu.

Kali ini ia tidak lupa menenteng komputer mini dan flashdisk nya.

Sesampainya di SUBUR Siti mengambil nomer antrean dan tidak lama Siti dipanggil.

“Untung ngantre nya ga lama!” ceria sambut Siti.

Setelah memesan kertas, dan anu ini, Siti menanti print-print-an nya jadi.

Sambil menunggu Siti bertanya sama mas mas,”Mas, kira kira biaya nya berapa ya?”

Si mas: “kertas fancy nya 2, jadi 23.000 kali 2, blum ditambah print BW nya”

Siti dalam hati: “Mak, mati aku!”

Siti berujar dengan wajah menelan ludah tapi senyum: “Oh, oke d mas, uda jadi print print an nya?”

Si mas: “duduk aja mba, ditunggu, nanti dipanggil.”

...

..

Setengah jam berlalu...

Siti Dugem.

Ya, dugem.

Dugem!

Duduk gremet-gremet.

Siti: “Mas uda kelar, print-an saya?”

Si mas, sambil seperti tersadar dan berlari ke belakang: “Sebentar mba..”

Tidak lama Siti dipanggil ke kasir.

Mba kasir: “Total nya dengan jilid ring jadi 58.700, mba.”

Siti cuma senyum assem, sambil bayar.


Bergegas Siti berjalan kembali ke mobil untuk ke Situ.

Eh,

Apa isi bensin dulu?

Dilemma.. (seperti nama merk teh yang enak itu deh..hmmm..teh cammomile enak juga ni..*ctar!!* fokus fokus!)

Ok, singkat dilemma, akhirnya Siti memilih mengejar ke Situ dulu mengingat jam sudah menunjuk angka 3.

“Jalan aja, gausah pake AC! yang penting nyampe Situ dan proposal ini ga sia sia. Berjuaaaaaaang!” tekad Siti.


Next destination: Situ!

Jalan Wijaya I no.28

Siti tidak tau itu dimana sebenarnya, tapi ia bertekad mencari, berbekal bismillah.

Sekali cari, LANGSUNG dapet! Rumah nomer 28! “Cocok lah untuk menjadi sebuah sekretariat”, pikirnya. Setelah parkir dan turun Siti bertanya, “Mas, ini Seknas Habitat?”

Mas: “wah, bukan mba ini SALON”

Siti: “lho, kalo jalan wijaya I no.28 dmana mas?”

Mas: “oh..wijaya I si, lampumerah sana masih lurus lagi, situ Wijaya I mba..”

Siti: “oh, ok ok, makasih mas..”

NYASAR


Next destination: Situ part 2

Jalan wijaya I no.28

M A C E T ghila.

Berenti.

Bensin di jarum E.

AC mati.

Waktu menunjukkan jam 3.45 sore.

Siti memutuskan untuk parkir dan turun, mencari alamat dengan berjalan.

Beruntung Siti parkir di bangunan bernomor 30. Di tempat yang alamatnya runut begini, dan di lajur genap begini, perkiraan Siti rumah selanjutnya pastilah bernomor 28!

Ternyata keberuntungan-masa-kuliah-selalu-ga-ada-dosen-pas-bolos itu masih menyertai Siti.

BETUL, nomor 28!

Berbinar matanya..

Eh lho lho eh..tapi kok..RESTORAN?

Siti masuk.

Ternyata ini rumah makan “Bu Endang”

Alih alih mendapatkan Seknas Habitat, Siti bertemu Ibu Endang nya LANGSUNG!

Officially. Salah alamat.

“Eh, Nak, tapi kalo kamu jalan terus sampe sebelum lampu merah itu juga ada rumah nomor 28 lho..” cetus Ibu Endang yang rambutnya disasak a la nyonyah pejabat ini.

Secercah harapan kembali muncul.

Siti kembali berjalan kaki menuju lampu merah.


Next destination: Situ..euh..semoga.

Sesampainya di rumah sebelum lampu merah, Siti kaget.

Yang ia temukan adalah Rumah Tidak Terpakai, Rumah Kosong.

OH TUHAN!

Jalanan pun semakin macet.

Priority switched!

Cari pompa bensin

Cari WiFi


Kenyataan: JALANAN STUCK, BERHENTI, MACET TOTAL.


Tindakan: jalan kaki kembali ke mobil

ambil jalan memutar

Analisa: pom bensin terdekat, Senopati

WiFi terdekat, Bakoel Koffie Senopati


Ngeng!


Next destination: Pom Bensin Senopati

Macet dijalani.

Orang serobot serobot tidak dimaki.

Bis kota mengintimidasi dilalui.

AC mati masih diamini.


Yang penting sedikit lagi ketemu pom bensin!

Sabar sabarr!


Secercah harapan itu masih membuncah.

Setitik pengharapan itu masih berasa renyah.


3 meter

2 meter

1 met..

Lho lho lho, mata laler tolo tolo!

POM Bensin NYA DIBONGKAR?

Tidaaaaaaaaaaakkk!

4.34 pm


Get urself together Siti!

Cari pom bensin, cari pom bensin!


Analisa: pom bensin terdekat, Tendean

Tindakan: Cari jalan tikus!


M

A

C

E

T


Jarak kurang lebih 3 kilometer menuju pom bensin Tendean pun terlalui dengan waktu

S A T U J A M.

Tanpa A SE.

Siti yang sintal sudah mengurus sedikit sesampainya di pom bensin.

5.30 pm


Tepat saat itu superhero ibukota, Flying Yuppie Gummy Bear, menghubungi via satelitpon.

“Siti, kamu salah alamat, Jalan Wijaya I no.68”

“TAPI di infonya kan Jalan Wijaya I no.28”

“euh, mereka salah input..”

“...”


Mba mba bensin: “mau isi premium apa pertamax mba?”

Siti dengan tatapan nanar: “premium mba..”

Mba mba bensin: “berapa mba?”

Siti dengan tatapan nanar membuka dompet, cuma ada sisa 30rb: “20ribu mba”

Mba mba bensin: “baik, premium, 20rb, dimulai dari 0 ya..”


Flying Yuppie Gummy Bear: “Siti, Siti, halo?”

Siti dengan tatapan kosong: “ya?”

Flying Yuppie Gummy Bear: “dan deadline nya diperpanjang sampe 2 minggu ternyata..”

Siti: “...”

Flying Yuppie Gummy Bear: “halo, Siti? Bagus kan, diperpanjang..”

Sit...

Si..

S..


Siti terlalu lelah menghadapi dunia perkotaan.

Sungguh frase “Tua di Jalan” adalah benar adanya di ibukota metropolitan.


Siti bukan selebriti.


Siti terlalu lelah.

Situ enak, Siti?


Bagai putri duyung, Siti yang lelah hati berubah menjadi buih premium...


Mba mba bensin: “dimulai dari 0 ya..mba? Mba?”













Totto-chan: Sebuah Ulasan

Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...