ViaVia Jogjakarta akan memperingati kehadiran mereka yang sudah puluhan tahun ikut meramaikan keriaan kota Jogjakarta. Dalam selebrasinya itu, mereka akan menerbitkan buku kumpulan dokumentasi, foto, juga cerita dari setiap orang yang pernah terlibat di dalamnya. Tidak terkecuali saya yang pernah bekerja disana, walau singkat. memenuhi permintaan mereka untuk membeberkan cerita-cerita saat saya disana mau tidak mau membawa saya kembali pada masa-masa itu. ada beberapa cerita yang berkesan buat saya, namun tidak pernah saya tuliskan sebelumnya. Saat menuliskannya dalam email, membuat saya teringat banyak hal, banyak peristiwa, banyak rasa..masa-masa itu, haha. saya pun ingin berbagi cerita-cerita berarti itu disini, cerita yang membawa beberapa pengalaman baru dalam hidup saya.
1.
Pertama kali kerja di ViaVia langsung ada masalah karena ternyata ada pameran bentrok di luar kuasa aku, hehehe. Jadi ceritanya waktu itu lagi pamerannya Yuni Bening, lalu ganti jadi aku yang mengurus pameran, dari jadwal dan amanah yang kurator terdahulu berikan, harusnya yang pameran Dodi Taring Padi. Di masa peralihan itu aku yang baru pertama kalinya bekerja di ViaVia ga tau harus menunggu Yuni Bening selesai atau bisa langsung pameran Dodi, side by side. Karena melihat kuantitas karya dari Yuni yang juga tidak terlalu banyak, aku mulai berpikir taktis, bahwa ViaVia bisa diperlakukan layaknya galeri yang mempunyai ruang-ruang yang bisa digunakan lebih dari satu seniman; seniman ini di ruang A, seniman itu di ruang B. Sementara itu, pihak Dodi yang sudah dijanjikan tanggal oleh kurator sebelum aku mulai bertanya terus mengenai kejelasan pamerannya. Kurangnya pengalamanku membuat aku menjanjikan Dodi tetap mendapat tanggal yang dijanjikan kurator terdahulu, dan aku berjanji akan negosiasi ke Yuni Bening untuk menyatukan karyanya di ruangan yang lebih kecil. Sayangnya tidak semulus itu semua berjalan. Pihak Yuni sebenarnya ingin karyanya menyebar dan "invisible" adalah bagian dari salah satu konsepnya...yang mana tidak pernah dikomunikasikan ke saya, dari pihaknya maupun dari pihak kurator terdahulu. Akhirnya Mie, owner dari ViaVia ikut negosiasi, dan semua seniman setuju "ikut aturan main" Via Via. Dari situ aku belajar pentingnya kontrak yang menjelaskan klausul hak dan kewajiban dari seniman dan pihak ViaVia; apa yang diharapkan dan akan didapat kedua pihak. Sehingga setiap masa peralihan pergantian kurator, saya harap, tidak akan terjadi lagi kejadian membingungkan serupa, hehe.
2.
Ada juga cerita tentang pameran yang paling berkesan buat aku selama jadi kurator di ViaVia! Pameran itu adalah pameran temanku dari bandung, sepasang Widyastuti dan Indrawan Prabaharyaka. Judul pamerannya "The Marginalized" dari 27 November - 19 Desember 2010. Buat aku, pameran ini istimewa luar biasa. Selama aku menyelenggarakan pameran di ViaVia, pameran ini adalah pameran yang karyanya paling bisa aku nikmati, hehe. Pameran ini merupakan pameran foto hasil perjalanan berbulan-bulan travelling back packer keliling Asia Tenggara mereka. Selama perjalanan itu mereka tinggal di hostel-hostel murah, bermain dengan anak-anak warga sekitar, blend in dan menghidupi setiap daerah yang mereka kunjungi, dan semua mereka tangkap dengan jeli menggunakan kamera dan gambar tangan mereka. judulnya pun "The Marginalized", karena yang banyak mereka temui dan selami kesehariannya adalah kaum-kaum terpinggirkan, kaum marjinal, mereka yang hidup sebagai penduduk kota, tetapi juga terhimpit oleh pergerakan kota itu sendiri. Karya foto yang banyak ini memenuhi seluruh dinding ruang utama restoran ViaVia. Pengunjung restoran mau tidak mau tersuguhi potret-potret indah dari area kumuh kota-kota di Asia Tenggara. Pameran ini berbeda dari pameran yang lain selama aku di ViaVia, juga karyanya paling bisa menyentuhku dengan cerita dan visualisasinya.
3.
ada lagi pameran dari Octo Cornelius. Pamerannya di ViaVia adalah pameran tunggal perdananya. Melihat pameran itu seperti melihat ia bercerita dengan akrab masa-masa hidupnya sedari ia kecil sampai perjalanannya membawa ia ke Jogjakarta. Masa-masa bertualangnya saat remaja di Rembang dan di Jogja, sampai masa dewasanya yang sudah lebih bijak di Jogja. Ia mengekspresikan pengalaman dan ceritanya, lewat benda-benda yang terbengkalai selama masa hidupnya berjalan lalu ia kombinasikan dengan craftmanship-nya yang terampil mengolah kayu. Senang rasanya melihat Octo pada pembukaan pamerannya, ia membagi secuil kisah hidupnya pada para pengunjung di malam itu; tentang knalpot dari motor custom kebanggaannya dulu yang kini menjadi bangkai kemudian ia oleh menjadi karya, tentang pengalamannya menjadi mahasiswa fotografi di ISI Jogjakarta (dan hantu juga tokek yang menghuni studionya), tentang Rembang kota kelahirannya di pinggir pantai yang jauh dari matanya, tapi selalu dekat di hati dan kulit gelapnya.
Saturday, February 23, 2013
Sunday, February 10, 2013
Tuesday, November 20, 2012
Ibadah
"Bagaimana caranya menyatukan dua logika dari dua makhluk yang berbeda?"
Rasanya sulit..
Bukan berarti tidak mungkin, tapi tidak mudah.
Ada unsur mengalah di dalamnya, ada ego yang yang harus di taklukkan, ada amarah yang harus di redam, ada keikhlasan yang harus hadir.
Ada legowo yang senantiasa harus dimiliki.
Bukan berarti tidak mungkin, tapi sangat tidak mudah.
Karenanya lah, maka bersatu, dalam hal apapun; berteman, berkomunitas, berkehimpunan, bernegara, beragama, menikah; adalah sebuah bentuk pengabdian dalam ibadah.
iba·dah n perbuatan untuk menyatakan bakti kpd Tuhan, yg didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; ibadat;
Rasanya sulit..
Bukan berarti tidak mungkin, tapi tidak mudah.
Ada unsur mengalah di dalamnya, ada ego yang yang harus di taklukkan, ada amarah yang harus di redam, ada keikhlasan yang harus hadir.
Ada legowo yang senantiasa harus dimiliki.
Bukan berarti tidak mungkin, tapi sangat tidak mudah.
Karenanya lah, maka bersatu, dalam hal apapun; berteman, berkomunitas, berkehimpunan, bernegara, beragama, menikah; adalah sebuah bentuk pengabdian dalam ibadah.
-KBBI
Sunday, September 2, 2012
This is how i get here pt.2
"Celana dalem..cek! Jaket..cek!"
I never thought i made it here.
Perjumpaan pertama saya dengan Papermoon adalah di tahun 2010 saat saya magang di salah satu program Yayasan Kelola, Magang Nusantara, di LIP atau populer dng nama CCF di luar Yogyakarta.
"kaos..hmm..bawa berapa ya kaos.."
Mereka berkolaborasi dengan Desacorde dari Prancis, yang juga sebuah puppet company. Beberapa saat setelah pementasan itu, mereka menggelar presentasi oleh-oleh, sepulang mereka dari New York di LIP. Saya yang magang disana tentu menjadi seksi bantu-bantu. Saat itu pula saya berkenalan dengan anggota lain dari Papermoon selain Mba Ria. Ada Mas Iwan dan Mas Octo. Ternyata mereka juga pesepeda, obrolan kami semakin mengalir dan akrab. Ada juga sebongkah boneka perempuan biru, yang wajahnya agak mirip tokoh psikopat dalam film Saw. Haha.
"Baju tidur..celana training buat tidur.."
Pertemuan selanjutnya, adalah ulangtahun LIP yg ke 35. Sebelumnya ms. Marie, direktris LIP yang menjabat saat itu, juga beberapa kali "menjodohkan" saya dengan Mba Ria karena saya sedang mencari kost. Berakhir menempati Papermoon selama 4 minggu dan perjanjian mengikuti petualangan proses mewujudkan Mwathirika..untuk pertama kalinya.
"...oh! Anduk!"
Pertemuan demi pertemuan, kejadian demi kejadian, latihan demi latihan, curhat demi curhat. Semua tampak berjalan dengan sangat cepat..kadang berjarak, kadang tidak.
"yak beres! Tinggal masukin alat mandi, tutup kopernya!"
Mwathirika pertama kali kami pentaskan di bulan Desember tahun 2010. Saat itu Mba Ria dengan Papermoon-nya mendapat grand dari salah satu program Yayasan Kelola, Empowering Women Artist.
Setelah serial pertunjukan Mwathirika di Yogyakarta, awal 2011 kami layaknya geng sirkus di tanggap di Jakarta oleh Goethe Institute. Beberapa bulan kemudian, saya mendengar bisik-bisik tetangga dari Mba Ria bahwa ia mengikutsertakan karya Mwathirika untuk mengikuti sebuah program pertukaran kebudayaan yang diselenggarakan amerika,
"mudah-mudahan kepilih ya ndot..kalo kepilih piknik kita..ke amerikak!"
Saya masih ingat betul Mba Ria mengucapkannya dengan senyum lebar mata berbinar penuh harap. Berharap tapi mencoba tidak terlalu berharap ternyata sulit juga, hahaha. Belum lagi di pertengahan tahun yang sama tersiar kabar bahwa sang penyelenggara acara akan datang ke Jogja untuk menilik secara langsung para finalis.
"hah..kita masuk finalis mba?"
"iya! Makanya, kamu dateng ikut ngobrol ya, kita presentasi nanti!"
Bulan demi bulan berlalu, sampai mendekati penghujung tahun, lewat surat elektrik berantai di sebuah jejaring sosial, Mba Ria memberitahukan anggota geng sirkus..bahwa kami akan berangkat di tahun mendatang. Senang sekali rasanya.
Ini menjadi perjalanan pertama saya keluar negeri.
Saya harus bekerja lebih giat dan bermain lebih bebas :D
"Saska, packing udah, passport surat-surat udah. Hmm, terimakasih ya, udah dibantuin packing, ditemenin panik dengan sabar, ditemenin belanja keperluan ini itu, ditemenin latihan persiapan di Jogja, diijinin pergi main sambil kerja sebulan..he he he he. Ditungguin istrinya pulang bertualang ya.."
Dengan senyum cerah, imajinasi membuncah, kaki lincah, saya melangkah.
Walau hatinya ada tertinggal setengah.
Negeri di luar Nusantara, bagi saya masih antah berantah.
Namun tak gentar saya akan menjelajah.
Saya akan pergi ke Amerika :D
I never thought i made it here.
Perjumpaan pertama saya dengan Papermoon adalah di tahun 2010 saat saya magang di salah satu program Yayasan Kelola, Magang Nusantara, di LIP atau populer dng nama CCF di luar Yogyakarta.
"kaos..hmm..bawa berapa ya kaos.."
Mereka berkolaborasi dengan Desacorde dari Prancis, yang juga sebuah puppet company. Beberapa saat setelah pementasan itu, mereka menggelar presentasi oleh-oleh, sepulang mereka dari New York di LIP. Saya yang magang disana tentu menjadi seksi bantu-bantu. Saat itu pula saya berkenalan dengan anggota lain dari Papermoon selain Mba Ria. Ada Mas Iwan dan Mas Octo. Ternyata mereka juga pesepeda, obrolan kami semakin mengalir dan akrab. Ada juga sebongkah boneka perempuan biru, yang wajahnya agak mirip tokoh psikopat dalam film Saw. Haha.
"Baju tidur..celana training buat tidur.."
Pertemuan selanjutnya, adalah ulangtahun LIP yg ke 35. Sebelumnya ms. Marie, direktris LIP yang menjabat saat itu, juga beberapa kali "menjodohkan" saya dengan Mba Ria karena saya sedang mencari kost. Berakhir menempati Papermoon selama 4 minggu dan perjanjian mengikuti petualangan proses mewujudkan Mwathirika..untuk pertama kalinya.
"...oh! Anduk!"
Pertemuan demi pertemuan, kejadian demi kejadian, latihan demi latihan, curhat demi curhat. Semua tampak berjalan dengan sangat cepat..kadang berjarak, kadang tidak.
"yak beres! Tinggal masukin alat mandi, tutup kopernya!"
Mwathirika pertama kali kami pentaskan di bulan Desember tahun 2010. Saat itu Mba Ria dengan Papermoon-nya mendapat grand dari salah satu program Yayasan Kelola, Empowering Women Artist.
Setelah serial pertunjukan Mwathirika di Yogyakarta, awal 2011 kami layaknya geng sirkus di tanggap di Jakarta oleh Goethe Institute. Beberapa bulan kemudian, saya mendengar bisik-bisik tetangga dari Mba Ria bahwa ia mengikutsertakan karya Mwathirika untuk mengikuti sebuah program pertukaran kebudayaan yang diselenggarakan amerika,
"mudah-mudahan kepilih ya ndot..kalo kepilih piknik kita..ke amerikak!"
Saya masih ingat betul Mba Ria mengucapkannya dengan senyum lebar mata berbinar penuh harap. Berharap tapi mencoba tidak terlalu berharap ternyata sulit juga, hahaha. Belum lagi di pertengahan tahun yang sama tersiar kabar bahwa sang penyelenggara acara akan datang ke Jogja untuk menilik secara langsung para finalis.
"hah..kita masuk finalis mba?"
"iya! Makanya, kamu dateng ikut ngobrol ya, kita presentasi nanti!"
Bulan demi bulan berlalu, sampai mendekati penghujung tahun, lewat surat elektrik berantai di sebuah jejaring sosial, Mba Ria memberitahukan anggota geng sirkus..bahwa kami akan berangkat di tahun mendatang. Senang sekali rasanya.
Ini menjadi perjalanan pertama saya keluar negeri.
Saya harus bekerja lebih giat dan bermain lebih bebas :D
"Saska, packing udah, passport surat-surat udah. Hmm, terimakasih ya, udah dibantuin packing, ditemenin panik dengan sabar, ditemenin belanja keperluan ini itu, ditemenin latihan persiapan di Jogja, diijinin pergi main sambil kerja sebulan..he he he he. Ditungguin istrinya pulang bertualang ya.."
Dengan senyum cerah, imajinasi membuncah, kaki lincah, saya melangkah.
Walau hatinya ada tertinggal setengah.
Negeri di luar Nusantara, bagi saya masih antah berantah.
Namun tak gentar saya akan menjelajah.
Saya akan pergi ke Amerika :D
Thursday, August 23, 2012
Kereta Api Sekarang Bagus deh!
"Terus..jagoannya mati ga?"
Pagi ini saya dan Saska berkereta menuju Yogyakarta. Kereta berangkat jam 7 pagi, kami sampai stasiun jam enam lewat 35 menit. Langsung grasak grusuk setengah berlari geret koper menyeberang stasiun, mengurus izin bagasi karena Saska bawa sepeda lipat.
Iya, Saska bawa sepeda untuk komuting selama di Jogja.
Begitu masuk gerbong, Saska keluar beli makan. Saya selalu takut ketinggalan kereta kalau sudah naik tapi turun lagi, padahal masih ada 10 menit. Saska belum kembali, penumpang lain datang meng-claim tempat duduk kami. Ternyata kami yang salah gerbong -_____-
Long story short, sambil tergopoh-gopoh menggeret dan menggotong bagasi, kami maju 1 gerbong lagi.
Kereta api sekarang bagus sekali deh. Bersih dan tertib. Semua petugas jasa pengangkut barangnya pun berseragam rapih dan bersih. Semua izin jelas bagian kepengurusannya. Kereta api terlihat begitu reliable. Petugas-petugasnya pun tampak ramah melayani.
Begitu duduk tenang, petugas kereta api datang bergerombol. Lima orang berjalan beriringan ke belakang, ada yg membawa bolpen merah, lembaran kertas, alat penghitung penumpang, dan sepanjang memeriksa tiket mereka berdiskusi sendiri. Ada satu orang lagi mengenakan seragam petugas keamanan, dan ia membawa senjata api yang ukurannya besar. Ini petugas keamanan kedua yang saya lihat membawa senjata api.
"Itu serem amat Ka, bawa senjata!"
"iya. Soalnya kereta begini, kalo dibajak serem."
"emang kereta api bisa dibajak?"
"bisa lah. Kaya cerita itu lo tau ga? Eh tapi itu bukan di bajak sih, kalo itu kereta api otomatis rusak alat pengendalinya. Tau ga? Yang main Danzel Washington."
"engga. Pelham 123."
"ha?"
"iya judul film nya Pelham 123? Danzel Washington?
"bukan."
"gatau, gimana tu ceritanya?"
"iya jadinya ada kereta otomatis gitu, terus alat kontrol nya rusak, jadi ga bisa dikendaliin. Kecepatannya jadi serem gitu. Dan kalo dibiarin itu terancam nabrak pabrik kimia, yang efeknya bisa se-kota-eun. Serem deh."
"terus? Akhirnya gmana? Selamet ga?"
"iya terus si Danzel Washington nya nyusul gitu, naik mobil, naik helikopter, naik ke atas keretanya, masuk, terus lari ke depan gitu, ngendaliin kereta nya dari dalem.."
"ooo..itu teh ga ada masinisnya? Kereta api nya otomatis?"
"iyaa.."
"ooo..terus..gmana ahirnya? Bisa selamet?"
"iya akhirnya bisa berenti, itu based on true story lho"
"waaaw..terus..jagoannya mati ga?"
"mati."
"dibunuh sama musuhnya?"
"engga. Matinya karena mati tua"
"..."
"lama film nya..dua setengah bulan gitu."
Lalu kami berdua tertawa-tawa sendiri terhibur oleh imajinasi proyeksi film versi masing-masing yang sudah terdistorsi, berputar dalam pikiran kami sendiri-sendiri.
Pagi ini kami menuju Jogja.
:D
Matahari Jogja we're comiiiiiing!
Pagi ini saya dan Saska berkereta menuju Yogyakarta. Kereta berangkat jam 7 pagi, kami sampai stasiun jam enam lewat 35 menit. Langsung grasak grusuk setengah berlari geret koper menyeberang stasiun, mengurus izin bagasi karena Saska bawa sepeda lipat.
Iya, Saska bawa sepeda untuk komuting selama di Jogja.
Begitu masuk gerbong, Saska keluar beli makan. Saya selalu takut ketinggalan kereta kalau sudah naik tapi turun lagi, padahal masih ada 10 menit. Saska belum kembali, penumpang lain datang meng-claim tempat duduk kami. Ternyata kami yang salah gerbong -_____-
Long story short, sambil tergopoh-gopoh menggeret dan menggotong bagasi, kami maju 1 gerbong lagi.
Kereta api sekarang bagus sekali deh. Bersih dan tertib. Semua petugas jasa pengangkut barangnya pun berseragam rapih dan bersih. Semua izin jelas bagian kepengurusannya. Kereta api terlihat begitu reliable. Petugas-petugasnya pun tampak ramah melayani.
Begitu duduk tenang, petugas kereta api datang bergerombol. Lima orang berjalan beriringan ke belakang, ada yg membawa bolpen merah, lembaran kertas, alat penghitung penumpang, dan sepanjang memeriksa tiket mereka berdiskusi sendiri. Ada satu orang lagi mengenakan seragam petugas keamanan, dan ia membawa senjata api yang ukurannya besar. Ini petugas keamanan kedua yang saya lihat membawa senjata api.
"Itu serem amat Ka, bawa senjata!"
"iya. Soalnya kereta begini, kalo dibajak serem."
"emang kereta api bisa dibajak?"
"bisa lah. Kaya cerita itu lo tau ga? Eh tapi itu bukan di bajak sih, kalo itu kereta api otomatis rusak alat pengendalinya. Tau ga? Yang main Danzel Washington."
"engga. Pelham 123."
"ha?"
"iya judul film nya Pelham 123? Danzel Washington?
"bukan."
"gatau, gimana tu ceritanya?"
"iya jadinya ada kereta otomatis gitu, terus alat kontrol nya rusak, jadi ga bisa dikendaliin. Kecepatannya jadi serem gitu. Dan kalo dibiarin itu terancam nabrak pabrik kimia, yang efeknya bisa se-kota-eun. Serem deh."
"terus? Akhirnya gmana? Selamet ga?"
"iya terus si Danzel Washington nya nyusul gitu, naik mobil, naik helikopter, naik ke atas keretanya, masuk, terus lari ke depan gitu, ngendaliin kereta nya dari dalem.."
"ooo..itu teh ga ada masinisnya? Kereta api nya otomatis?"
"iyaa.."
"ooo..terus..gmana ahirnya? Bisa selamet?"
"iya akhirnya bisa berenti, itu based on true story lho"
"waaaw..terus..jagoannya mati ga?"
"mati."
"dibunuh sama musuhnya?"
"engga. Matinya karena mati tua"
"..."
"lama film nya..dua setengah bulan gitu."
Lalu kami berdua tertawa-tawa sendiri terhibur oleh imajinasi proyeksi film versi masing-masing yang sudah terdistorsi, berputar dalam pikiran kami sendiri-sendiri.
Pagi ini kami menuju Jogja.
:D
Matahari Jogja we're comiiiiiing!
Friday, August 17, 2012
Merdeka
"Ka, kita ga pasang bendera?" adalah pertanyaan yang keluar dari mulut saya untuk Saska seraya melewati beberapa rumah dan kompleks yang gegap gempita dengan bendera. Dan akibat dari pertanyaan itu adalah sebuah diskusi panjang mengenai "tujuhbelasan".
"gw sedikit galau dengan pemaknaan gw terhadap 17an dan hari kemerdekaan..." adalah potongan pertama jawaban yang keluar dari privasi pikirannya ke arena diskusi.
Saya jadi berpikir dan merenung dalam pikiran saya sendiri, "tujubelasan ya...hmm.."
Bagaimana biasanya saya merayakan 17an? Sedari saya es de ya gitu-gitu aja.
Bangun pagi bendera sudah berkibar di halaman depan rumah, bahkan dari beberapa hari sebelumnya, tidak sadar siapa yang memasang;
Upacara;
Aneka lomba: makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, balap karung, sepak bola daster (yang terakhir saya ingat betul, dulu marak sekali di es de dan es em pe saya. Karena lucu sekali melihat anak-anak laki berebut main bola di bawah terik matahari dengan peluh yang begitu macho-nya...dan daster yang begitu..ppfffttttt..yang saya ingat hanya tawa terpingkal-pingkal bersama beberapa sahabat..apalagi kalau ada kecengan bersama disana *mata hati hati bunga bunga, hal selanjutnya yang saya tau adalah saya tertawa-tawa tanpa sebab. Cari perhatian. Histeris, penyakit perempuan) ;
Pulang cepat (yak, di es de saya dulu kalau 17an pasti pulcep karena ada lomba. Kalau ga ikut lomba boleh bawa dan baca komik di kelas)
Dari tahun ke tahun begitu adanya 17an saya. Upacara, lomba, pulang cepat. Semasa kuliah saya tidak terlalu menggubris momen 17an juga, bahkan pada masa saya sedang gencar-gencarnya terobsesi pada "budaya Indonesia"..sampai malam itu, 16 agustus, saat melihat bendera terpancang dimana-mana.
"bagaimana kamu memaknai 17 agustus? Hari kemerdekaanmu?", saya bertanya pada diri saya sendiri melalui Saska.
Saska: 17an adalah momen dimana kita, anak bangsa Indonesia, diingatkan lagi pada janji kemerdekaan, yang selalu dibacakan pada pembukaan dasar UUD , yang belum juga terwujud, dan itu adalah hutang kita, generasi yang lahir dalam era "kemerdekaan" yang belum sempurna.
Saya: 17an adalah momen saat lo bertanya pada diri lo sendiri, sejauh apa lo kenal bangsa ini, sepelosok apa lo tau susahnya orang-orang Indonesia; di tepi-tepi perbatasan, di desa-desa yang luput dari perhatian, dari mata masyarakat metropolitan.
Merayakan 17an, hari kemerdekaan, BUKAN dengan mengenang perjuangan masa lalu para pejuang, tapi dengan lebih jeli dan teliti memetakan permasalahan yang ada sekarang. Kemudian berusaha sebisa kita, dengan kapasitas dan passion yang kita miliki, untuk mencari solusi.
Walaupun belum bisa mewujudkan solusi, saya percaya pada waktu, asalkan kita bisa tetap memupuk mimpi itu dan berusaha berjalan kesana.
Saya dan Saska pernah mendiskusikan tentang betapa kaya nya negeri Indonesia ini. Kamu lempar apapun bisa tumbuh. Etos kerja di iklim sedemikian mudahnya juga menjadi santai dan tidak ngoyo.
Sewaktu kami mengunjungi sebuah daerah pegunungan di Bali, masyarakat lokal disana bercerita,
"disini kami ndak susah cari makan, buat makan. Semua hasil kebun bisa kami makan. Tapi kalo dapat uang kami susah. Makan kami tidak susah, tapi kalau sakit, harus ke dokter..tu dah..susah kami. Uang dari manaaa.."
"hasil panen kebun ga bisa dijual dengan harga layak, bu?"
"kecil. Kami petani susah hidup. Cuma jaman ganti presiden Habibie itu aja kami petani agak mending harga-harga. Semua bagus. Ndak tau itu bagaimana bisa. Sayang cuma sebentar.."
Miris sekali mendengarnya. Padahal area kebun mereka luas dan panen cukup banyak, tapi mereka tetap susah dapat uang. Pdahal mereka adalah garda depan pertahanan pangan negeri ini.
"Indonesia mit, negri yang berkali-kali di rampok, tapi ga miskin-miskin..", dengan kesungguhan tertentu mengucapkan, kata kata ini benar bisa merenyuh isi dada saya sampai sesak dan meleleh di pelupuk mata.
"gw sedikit galau dengan pemaknaan gw terhadap 17an dan hari kemerdekaan..." adalah potongan pertama jawaban yang keluar dari privasi pikirannya ke arena diskusi.
Saya jadi berpikir dan merenung dalam pikiran saya sendiri, "tujubelasan ya...hmm.."
Bagaimana biasanya saya merayakan 17an? Sedari saya es de ya gitu-gitu aja.
Bangun pagi bendera sudah berkibar di halaman depan rumah, bahkan dari beberapa hari sebelumnya, tidak sadar siapa yang memasang;
Upacara;
Aneka lomba: makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, balap karung, sepak bola daster (yang terakhir saya ingat betul, dulu marak sekali di es de dan es em pe saya. Karena lucu sekali melihat anak-anak laki berebut main bola di bawah terik matahari dengan peluh yang begitu macho-nya...dan daster yang begitu..ppfffttttt..yang saya ingat hanya tawa terpingkal-pingkal bersama beberapa sahabat..apalagi kalau ada kecengan bersama disana *mata hati hati bunga bunga, hal selanjutnya yang saya tau adalah saya tertawa-tawa tanpa sebab. Cari perhatian. Histeris, penyakit perempuan) ;
Pulang cepat (yak, di es de saya dulu kalau 17an pasti pulcep karena ada lomba. Kalau ga ikut lomba boleh bawa dan baca komik di kelas)
Dari tahun ke tahun begitu adanya 17an saya. Upacara, lomba, pulang cepat. Semasa kuliah saya tidak terlalu menggubris momen 17an juga, bahkan pada masa saya sedang gencar-gencarnya terobsesi pada "budaya Indonesia"..sampai malam itu, 16 agustus, saat melihat bendera terpancang dimana-mana.
"bagaimana kamu memaknai 17 agustus? Hari kemerdekaanmu?", saya bertanya pada diri saya sendiri melalui Saska.
Saska: 17an adalah momen dimana kita, anak bangsa Indonesia, diingatkan lagi pada janji kemerdekaan, yang selalu dibacakan pada pembukaan dasar UUD , yang belum juga terwujud, dan itu adalah hutang kita, generasi yang lahir dalam era "kemerdekaan" yang belum sempurna.
Saya: 17an adalah momen saat lo bertanya pada diri lo sendiri, sejauh apa lo kenal bangsa ini, sepelosok apa lo tau susahnya orang-orang Indonesia; di tepi-tepi perbatasan, di desa-desa yang luput dari perhatian, dari mata masyarakat metropolitan.
Merayakan 17an, hari kemerdekaan, BUKAN dengan mengenang perjuangan masa lalu para pejuang, tapi dengan lebih jeli dan teliti memetakan permasalahan yang ada sekarang. Kemudian berusaha sebisa kita, dengan kapasitas dan passion yang kita miliki, untuk mencari solusi.
Walaupun belum bisa mewujudkan solusi, saya percaya pada waktu, asalkan kita bisa tetap memupuk mimpi itu dan berusaha berjalan kesana.
Saya dan Saska pernah mendiskusikan tentang betapa kaya nya negeri Indonesia ini. Kamu lempar apapun bisa tumbuh. Etos kerja di iklim sedemikian mudahnya juga menjadi santai dan tidak ngoyo.
Sewaktu kami mengunjungi sebuah daerah pegunungan di Bali, masyarakat lokal disana bercerita,
"disini kami ndak susah cari makan, buat makan. Semua hasil kebun bisa kami makan. Tapi kalo dapat uang kami susah. Makan kami tidak susah, tapi kalau sakit, harus ke dokter..tu dah..susah kami. Uang dari manaaa.."
"hasil panen kebun ga bisa dijual dengan harga layak, bu?"
"kecil. Kami petani susah hidup. Cuma jaman ganti presiden Habibie itu aja kami petani agak mending harga-harga. Semua bagus. Ndak tau itu bagaimana bisa. Sayang cuma sebentar.."
Miris sekali mendengarnya. Padahal area kebun mereka luas dan panen cukup banyak, tapi mereka tetap susah dapat uang. Pdahal mereka adalah garda depan pertahanan pangan negeri ini.
"Indonesia mit, negri yang berkali-kali di rampok, tapi ga miskin-miskin..", dengan kesungguhan tertentu mengucapkan, kata kata ini benar bisa merenyuh isi dada saya sampai sesak dan meleleh di pelupuk mata.
Friday, August 3, 2012
brain blocked
sudah lama sekali tidak memuntahkan dan memburai isi kepala.
tampaknya ia mulai penuh.
sudah mulai sering protes dan mogok kerja.
mulai berkongsi dengan mood.
arrrgghhhh!
...
badan dan pikiran dalam diri saya adalah dua hal berbeda yang tidak bisa disatukan, diperlakukan sama, ataupun dilupakan salah satunya karena mengurus yang satunya.
i need to feed both of them or they got paralyzed eventually.
one thing lead to another.
ayo bertelur!
Sunday, March 4, 2012
Saturday, March 3, 2012
kita tak semestinya berpijak di antara ragu yang tak berbatas
adalah seorang perempuan sedang duduk termangu.
seorang perempuan yang termangu-mangu.
ia bertanya pada sepi dan senyap yang lembab dan langu.
dengan tubuhnya yang kian mengurus tanpa sangu.
"hei sepi, pernahkah kau mempertanyakan tujuan keberadaanmu di dunia ini?"
...
"hei senyap, pernahkah kau terjebak pada mimpimu yang lenyap?"
...
tidak ada jawaban,
entah kemana ia harus bertanya.
rongga dadanya sesak walau tidak ada beban,
entah obat apa yang harus dicarinya.
adalah seorang perempuan duduk bersila,
tumitnya mulai pecah-pecah, dan jari jemarinya luka,
kulitnya mengering dan nyamuk menggigiti wajahnya,
ia memikirkan banyak pertanyaan di benaknya,
rasa ini...berat sekali..apa orang lain juga pernah merasa,
ia bosan, dan mulai mempertanyakan langkah-langkahnya.
terus berdoa menghadap barat kotanya,
ia rindu menjadi anak yang menyusu pada ibunya,
rindu pada muda yang memesona mimpi-mimpinya,
memberikan angan-angan tanpa batas hampa
rutinitas itu menjadi kosong.
menyisakan ketidakberartian dalam rongga.
sendiri selalu membuatnya hampa dan bolong.
oh Tuhan, sesak itu terus mendesak, menganga.
dalam henti ia mencari jangkar kapalnya,
di tempat ini ia memutuskan berhenti dan melabuhkan dirinya.
bersama arus itu mereka akan bergerak bersama-sama,
bercita-cita: untuk selamanya.
tapi dimana jangkarnya berada?
suaranya terdengar, tapi antah berantah jauh dimana
pikirannya terbaca, tapi tidak bisa ia merasakannya
mimpinya terbagi, tapi tidak dirasa lagi mereka bergerak bersama
*judul puisi dikutip dari sebuah lagu yang "mangu" oleh Payung Teduh, "Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan"
seorang perempuan yang termangu-mangu.
ia bertanya pada sepi dan senyap yang lembab dan langu.
dengan tubuhnya yang kian mengurus tanpa sangu.
"hei sepi, pernahkah kau mempertanyakan tujuan keberadaanmu di dunia ini?"
...
"hei senyap, pernahkah kau terjebak pada mimpimu yang lenyap?"
...
tidak ada jawaban,
entah kemana ia harus bertanya.
rongga dadanya sesak walau tidak ada beban,
entah obat apa yang harus dicarinya.
adalah seorang perempuan duduk bersila,
tumitnya mulai pecah-pecah, dan jari jemarinya luka,
kulitnya mengering dan nyamuk menggigiti wajahnya,
ia memikirkan banyak pertanyaan di benaknya,
rasa ini...berat sekali..apa orang lain juga pernah merasa,
ia bosan, dan mulai mempertanyakan langkah-langkahnya.
terus berdoa menghadap barat kotanya,
ia rindu menjadi anak yang menyusu pada ibunya,
rindu pada muda yang memesona mimpi-mimpinya,
memberikan angan-angan tanpa batas hampa
rutinitas itu menjadi kosong.
menyisakan ketidakberartian dalam rongga.
sendiri selalu membuatnya hampa dan bolong.
oh Tuhan, sesak itu terus mendesak, menganga.
dalam henti ia mencari jangkar kapalnya,
di tempat ini ia memutuskan berhenti dan melabuhkan dirinya.
bersama arus itu mereka akan bergerak bersama-sama,
bercita-cita: untuk selamanya.
tapi dimana jangkarnya berada?
suaranya terdengar, tapi antah berantah jauh dimana
pikirannya terbaca, tapi tidak bisa ia merasakannya
mimpinya terbagi, tapi tidak dirasa lagi mereka bergerak bersama
rutinitas itu menjadi kosong.
menyisakan ketidakberartian dalam rongga.
sendiri selalu membuatnya hampa dan bolong.
oh Tuhan, sesak itu terus mendesak, menganga.
dalam hati perempuan itu berharap,
kalau saja air mata yang tumpah bisa mengendap,
untuk kemudian mengisi rongga yang larung.
dan bertemu jangkarnya lagi untuk kembali mengarung.
dan bertemu jangkarnya lagi untuk kembali mengarung.
*judul puisi dikutip dari sebuah lagu yang "mangu" oleh Payung Teduh, "Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan"
Thursday, February 2, 2012
pagi pagi merenung
kalau saya berulangtahun,
saya tidak meminta usia yang panjang,
saya minta saya bisa dimudahkan untuk selalu berbahagia selama hidup saya,
dan sepanjang umur saya, kehadiran saya di bumi, saya bisa bermanfaat bagi banyak orang..terutama bagi orangtua dan keluarga terdekat.
oh, dan satu lagi!
...hmm...yang ini saya simpan dalam hati saja.. :3
saya tidak meminta usia yang panjang,
saya minta saya bisa dimudahkan untuk selalu berbahagia selama hidup saya,
dan sepanjang umur saya, kehadiran saya di bumi, saya bisa bermanfaat bagi banyak orang..terutama bagi orangtua dan keluarga terdekat.
oh, dan satu lagi!
...hmm...yang ini saya simpan dalam hati saja.. :3
Wednesday, January 25, 2012
di tenggara
setting:
taman di depan rumah.
entah rumah siapa, di daerah mana dalam realita.
orang-orang dan teman-teman terdekat sedang berkumpul bersama bermain di luar rumah.
hari itu kami berencana untuk berjalan-jalan ke bukit terdekat dari rumah kami. kami akan piknik! hore!
semua sudah siap dengan bawaan masing-masing. sayapun sudah keluar rumah dengan topi bundar saya untuk menghindari sinar matahari langsung. namun hari itu memang agak lebih dingin dan berangin dari biasanya. tiba-tiba, di kejauhan, saya melihat ada segumpal asap hitam pekat menggulung dan berkumpul jadi satu di sebuah titik. gambarannya seperti melihat cairan hitam yang baru saja dimasukkan ke dalam cairan bening..melayang-layang. saya bingung sekaligus takut, berteriak meminta perhatian semua orang,
"itu! itu apa itu!"
dan sejenak itu juga gumpalan serupa asap hitam pekat itu menarik awan abu-abu tua yang ada di sekitarnya..terus berkumpul menjadi satu gumpalan besar. menakutkan sekali melihat gumpalan itu melayang-layang di atas langit. angin bertiup semakin kencang, topiku yang bertali itu hampir lepas terbawa angin, segera saya berteriak-teriak memanggil semua orang yang berserakan di taman,
"masuk! masuk! semuanya masuk pintu!"
entah kenapa saya berkata "masuk pintu" alih-alih berkata masuk rumah, yang jelas mereka yang mendengar lalu mengikuti arah pandang mata saya dan bergegas berlarian masuk dalam rumah yang pintunya saya tahan untuk terbuka lebar.
"Masuk! masuk! masuk!"
satu persatu orang-orang masuk lewat pintu ke dalam rumah. gumpalan hitam keabu-abuan itu kini menjadi angin beliung, berputar-putar, kencang sekali! menarik apapun yang ada di sekitarnya ke dalam putaran kencangnya.
orang terakhir masuk ke dalam rumah lewat pintu, angin semakin kencang dan mendekat, masih ada jarak cukup jauh, menurut asumsi saya. namun saat saya melangkahkan kaki untuk masuk rumah, intensitas seretan angin bertambah, hampir saya terseret, semuanya menjadi abu-abu dan lembab, pintu yang belum tertutup pun semakin terbuka lebar. sulit dan berat sekali rasanya melawan arus.
"ahhh!"
saya tidak bisa berkata-kata, tidak seucap kata "tolong" pun. disaat itulah tangan-tangan dari dalam rumah menjangkau dan menarik tangan saya..dan pintu pun tertutup. kami semua menunduk, jongkok, memeluk kaki masing-masing.
takut.
kami ketakutan.
dan di luar berbunyi suara angin kencang yang melewati celah-celah.
"bwruuuuu...bwruuuuuuuu....ffffbbbbruuuuuuuwwww..."
***
kemudian saya terbangun..kamar masih gelap, adzan subuh berkumandang. saya bermimpi. mimpi yang meninggalkan rasa takut dan ngeri.
empat hari kemudian angin di Bandung menggila. terlebih pagi ini saat saya dan beberapa teman dari Sahabat Kota sedang sarapan bubur dan kupat tahu di daerah supratman. gerobak bubur serta terpal-terpalnya yang dipancang itu hampir terhempas angin.
teringat mimpi beberapa hari yang lalu, pikiran saya melayang jauh ke tenggara.
saya khawatir sekali.
taman di depan rumah.
entah rumah siapa, di daerah mana dalam realita.
orang-orang dan teman-teman terdekat sedang berkumpul bersama bermain di luar rumah.
hari itu kami berencana untuk berjalan-jalan ke bukit terdekat dari rumah kami. kami akan piknik! hore!
semua sudah siap dengan bawaan masing-masing. sayapun sudah keluar rumah dengan topi bundar saya untuk menghindari sinar matahari langsung. namun hari itu memang agak lebih dingin dan berangin dari biasanya. tiba-tiba, di kejauhan, saya melihat ada segumpal asap hitam pekat menggulung dan berkumpul jadi satu di sebuah titik. gambarannya seperti melihat cairan hitam yang baru saja dimasukkan ke dalam cairan bening..melayang-layang. saya bingung sekaligus takut, berteriak meminta perhatian semua orang,
"itu! itu apa itu!"
dan sejenak itu juga gumpalan serupa asap hitam pekat itu menarik awan abu-abu tua yang ada di sekitarnya..terus berkumpul menjadi satu gumpalan besar. menakutkan sekali melihat gumpalan itu melayang-layang di atas langit. angin bertiup semakin kencang, topiku yang bertali itu hampir lepas terbawa angin, segera saya berteriak-teriak memanggil semua orang yang berserakan di taman,
"masuk! masuk! semuanya masuk pintu!"
entah kenapa saya berkata "masuk pintu" alih-alih berkata masuk rumah, yang jelas mereka yang mendengar lalu mengikuti arah pandang mata saya dan bergegas berlarian masuk dalam rumah yang pintunya saya tahan untuk terbuka lebar.
"Masuk! masuk! masuk!"
satu persatu orang-orang masuk lewat pintu ke dalam rumah. gumpalan hitam keabu-abuan itu kini menjadi angin beliung, berputar-putar, kencang sekali! menarik apapun yang ada di sekitarnya ke dalam putaran kencangnya.
orang terakhir masuk ke dalam rumah lewat pintu, angin semakin kencang dan mendekat, masih ada jarak cukup jauh, menurut asumsi saya. namun saat saya melangkahkan kaki untuk masuk rumah, intensitas seretan angin bertambah, hampir saya terseret, semuanya menjadi abu-abu dan lembab, pintu yang belum tertutup pun semakin terbuka lebar. sulit dan berat sekali rasanya melawan arus.
"ahhh!"
saya tidak bisa berkata-kata, tidak seucap kata "tolong" pun. disaat itulah tangan-tangan dari dalam rumah menjangkau dan menarik tangan saya..dan pintu pun tertutup. kami semua menunduk, jongkok, memeluk kaki masing-masing.
takut.
kami ketakutan.
dan di luar berbunyi suara angin kencang yang melewati celah-celah.
"bwruuuuu...bwruuuuuuuu....ffffbbbbruuuuuuuwwww..."
***
kemudian saya terbangun..kamar masih gelap, adzan subuh berkumandang. saya bermimpi. mimpi yang meninggalkan rasa takut dan ngeri.
empat hari kemudian angin di Bandung menggila. terlebih pagi ini saat saya dan beberapa teman dari Sahabat Kota sedang sarapan bubur dan kupat tahu di daerah supratman. gerobak bubur serta terpal-terpalnya yang dipancang itu hampir terhempas angin.
teringat mimpi beberapa hari yang lalu, pikiran saya melayang jauh ke tenggara.
saya khawatir sekali.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Totto-chan: Sebuah Ulasan
Segera setelah adegan terakhir Totto-chan membuka pintu kereta yang masih berjalan sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi, lal...
-
too much to say leave a silence. what will tomorrow fells like without u, i wonder,, what will a small tiny caterpillar feels without it...
-
Cicing = anjing kasar (khahahahaha di bandung kan artinya diem, saya jadi kebayang, “Cicing siah!” berarti bisa berarti “Diem kamu!” atau “a...

