Wednesday, May 19, 2010

sari kusuma

saya sudah menemukan sanggar tempat saya akan belajar menari!
HO RE!
sanggarnya ada di Jalan Pujokusuman.
nama sanggarnya nDalem Pujokusuman.
Ibu yang mengajar saya menari bernama Ibu Sasmita Diah.

"Boleh, panggil Ibu Sas, boleh panggil Diah."
"kalo nama saya itu Sasmita, kalo Diah itu nama pemberian dari Sri Kanjeng"

Ibu Sas ini lucu, suka bercanda.
seperti kemarin saat kita sedang berlatih..

"Sudah bisa mba, tadi gerakan 1 gerakan 2?"
"euh..50% bu!"
"nah ayo diulang lagi, kita buat jadi 70 persen.."

lalu saya kembali mengulang gerakan 1 dan 2 sendiri. beliau mengamati.

"naaahh..nah..," sambil tersenyum sumringah, "wis meh.. (sudah mau/akan)," saya sudah berasumsi bahwa yang beliau maksud adalah "oke, bagus, sudah hampir bisa" saat kemudian ia menambahkan, "meh lali.. (mau/akan lupa)"
lalu ia tertawa..saya pun tertawa lepas..
"ngga, ngga mba, guyon. meh iso 90 persen..kalo yang 10 persen itu memang suka ga pasti.." sambil tersenyum jenaka.

rewind ke belakang lagi, tempo hari saat saya mendatangi beliau pertama kalinya untuk bertanya-tanya pasal jadwal latihan menari saya juga bertanya,
"berapa biayanya, Bu?"
lalu ia menjawab dengan wajah serius,
"yaa..asal sebulan bisa buat beli Avanza, atau Inova gitu lah mba.."

:]
lucu deh Ibu Sas ini.
yang jelas, beliau piawai menari.
pun berfilosofi.

di kelas pertama menari saya kemarin, beliau bercerita tentang filosofi menari.

"Bisa" menari itu bukan hanya sekedar hafal, tapi harus Wirogo, Wiromo, Wiroso. nah, apa itu?
pertama, Wirogo.
wirogo itu, raga, badan. artinya, untuk bisa menari bagus, harus tau teknisnya. tapi untuk bicara teknis, pertama tama kita harus hafal dulu gerakannya. biarkan badan mengingat gerakan demi gerakan dengan rinci.
lalu Wiromo.
kalau sudah hafal, dengan gerakannya, jangan lupa kalau kita menari itu juga dengan lagu. harus kita rasakan betul-betul itu, irama musik pengiringnya. gong itu artinya apa, kenong itu tandanya harus bergerak bagaimana, dan seterusnya. padukan gerakan dengan merasakan irama musik pengiringnya.
nah lalu kalau sudah Wirogo, wiromo, nah baru..Wiroso.
bagaimana kita menghayati terian tersebut. menjiwai lah setidaknya, kalau belum bisa menghayati. dengan bergerak mantap, sepenuh hati, sehingga bisa menyampaikan jiwa tarian itu terhadap penonton.
walau menari Jawa itu tanpa ekspresi.
ekspresi tari Jawa itu ada di dalam sini (sambil menyentuh dada), hanya bisa dirasakan, tidak perlu diperlihatkan.

dan pelajaran pertama saya adalah,
Tari Sari Kusuma.

1 comment:

  1. biayanya berapa mbak sebulan? pendaftarannya berapa? saya juga pengen sekali blajar menari..trimakasih :)

    ReplyDelete