Thursday, May 27, 2010

oleh oleh buat Mba Dan


mba Dan! pagi ini aku menyambangi Toko Jamu yang aku ceritakan tempo hari :D
pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor aku ke sini duluu..
namanya "Toko Jamu Tradisional Indonesia GINGGANG"

toko nya old skul sekali mba, tapi hangat (selain karena jogja juga "hangat" sekali ya, khaha)
pintunya warna kuning, dan tegel di dalamnya warna merah bata.
bagusss.
sayangnya bukan fuschia ya mba, khehe.

tampak depan toko nya. ini ya mba, CUERAH SEKALI, aku motret nya pake kamera handphone tho, ini aja sampe over gini cahaya nya..kebayang ga mba, "cerah" nya? khaha

lihat, lihat mbaaaaa, bangunan dalam toko iniiii..aku suka banget mba..
kursi kayu nya suka
tegel merah bata nya suka
jam nya suka
taplak bunga-bunga nya juga suka :D

aku pesen Kunir Asem
enak :]

this one is my favorite :D
chairs, brown, and red plum

"jendela"



HARGA HARGA, khahaha :D

dekor ruangan nya juga old skul banget ini
banyak artikel artikel dan foto lama dan berjabat tangan dengan pejabat dipajang, khihihihihi.

when u're here, i'll take u there :]

petualangan berlanjut



saya cuma bisa begini kalau sedang mengendarai sepeda :]
hari ini saya mencoba rute baru! yeay!
karena ingin berkunjung terlebih dahulu ke sebuah Toko Jamu sebelum ke kantor.
khihi.
pagi-pagi, keluar dari rumah, Jogja terasa luar biasa cerah.
langit biru,
awan putih.
dan seperti biasanya perjalanan ke kantor, saya menuju arah Gunung Merapi.
tidak di setiap pagi bisa kelihatan lho, tapi pagi ini kelihatan! senangnya, disapa Gunung Merapi yang gagah :]

itu tu, menyembul puncaknya, terlihat tidak?

pertama-tama saya melewati jalan belakang penjara,

lihat, langitnya biru sekali, kan? ini cerah pisan pisan pisan..

itu "si tanduk merah" :] sepeda pinjaman selama di Jogja

saya suka pintu dan jendela di tembok ini

dari situ tembus menuju Pura Pakualaman *iya, tempat rujak es cream itu*
lalu langsung menuju Toko Jamu Tradisional Indonesia "GINGGANG"



cerita mengenanai Toko Ginggang akan saya posting tersendiri, sebagai oleh-oleh untuk Mbak Dan :]

dari Ginggang, saya sebenarnya blum tau jalan menuju kantor saya di Jalan Sagan,
tetapi saya ingat kata-kata Datta, teman saya,
"kalo dari sini kamu sebenernya tinggal luruuuus aja tho, nanti tembusnya Lempuyangan!"

"kalo udah dari Lempuyangan, tau deh, jalan ke kantor!", batin saya.

maka alih-alih saya kembali ke rute standar, saya meladeni naluri Dora-the-Explorer saya.

terik sungguh, sebenarnya, dan tidak semakin teduh,
tapi,
saya ambil resiko!
maka saya melajukan "si tanduk merah", sepeda yang saya kendarai, dan menemukan sebuah perempatan.

"nah lho! ini belok mana ni?
sebentar sebentar,
dimana puncak Gunung Merapi terlihat? tujuan saya ke arah sana!
nah! di sebelah kanan, berarti usai lampu merah ini, saya akan melaju ke kanan. semoga dari sana jalan sudah tampak familiar.."

maka saya membelok ke kanan,
yang ternyata,

"lho lho lho,
ngga Dhuong*, ini saya,
dimana tho ini?"

*dipotong dari asal kata mudheng yang artinya paham

maka saya mengandalkan senyum saya yang sudah tidak lagi manis, tertelan wajah merah yang terlihat bengkak, bertanya pada seorang penjaga bangunan terdekat, yang adalah sebuah poliklinik.

"Pak, permisi, kalo ini lurus aja, tembusnya kemana ya, Pak?"
"nah mba nya ini mau kemana?"
"ke..jalan Sagan, Pak.."
"ho ya, ini kalo lurus juga bisa, nanti ketemu Lempuyangan tho, jembatan, terus belok kiri.."
"hoo, kalo perempatan tadi lurus..itu tembusnya kemana pak?"
"ya lurus tadhi juga bisa..tapi jalan nya belok belok mba..terserah mba nya mau ambil jalan mana.."

saya berpikir..
dengan kepala saya yang mulai pusing dan kulit yang mulai memerah perih*..

*sebenarnya saya tidak terlalu bisa dijemur matahari, dari SD.
sekali waktu itu pernah pingsan saat tengah menjadi pemimpin upacara di SD saya,
lalu saya nangis di UKS. soalnya malu di tengah-tengah jumawanya menjadi pemimpin upacara, hoalah, malah pucat, semaput! lalu diganti teman saya Fiona, yang jauh lebih jumawa. seorang atlet renang junior yang pernah masuk profil Bobo pada zamannya.

"kalo jalan nya lebih belok belok itu biasanya lebih teduh..kalo gitu saya ambil jalan itu ahh.."

tidak lupa mengucap terimakasih, saya membelokkan "si tanduk merah"
dan saudara saudara..
teu aya teduh-teduh na acan!
t e r i k k

tapi nasi sudah kebanyakan air,
menjadi bubur.

jadi saya teruskan saja lah perjalanan..
akhirnya ketemu Stasiun Lempuyangan dan jembatan layang yang menjadi patokan saya.

huhu.
mata saya mulai berkunang-kunang.
baju saya mulai terasa basah.

"have worries u don't," kata Master Yoda dalam diri saya, "saya bawa baju ganti, dan saya pasti bisa sampai kantor.."

maka setelah melalui perjalanan yang memerahkan *membuat merah*,
saya sampai!
:D
ho re!

Wednesday, May 26, 2010

Henri Cartier-Bresson: Indonésie, 1949

dalam rangka mempersiapkan 35 tahun LIP Yogyakarta,
saya menyortir acara-acara paling menarik yang melibatkan LIP,
selama era Jean Pascal Elbaz, direktur LIP terdahulu.

selama membuka-buka filing folder berisikan dokumentasi era 98-2002,
saya menemukan dokumentasi acara ini:

bulan foto:
Henri Cartier-Bresson: Indonésie, 1949
11 Juni - 2 Juli 2002
museum Sonobudoyo, Yogyakarta

dan foto yang dipamerkan kali itu adalah foto-foto Henri Cartier-Bresson
beliau adalah fotografer berdarah Perancis yang sering disebut-sebut sebagai bapak jurnalisme foto modern.
di pameran ini, karya-karyanya yang dipamerkan adalah karya fotografi kilasan perjalanan sejarah Indonesia tahun 1949 dan 1950 yang jarang ditemui.
seperti saya kutip dari Harian Kompas 13 Juni 2002,
"seorang fotografer selain harus membekali dengan keterampilan teknis dan keberanian di lapanganm juga harus berharap mendapat keberuntungan sejarah. Henri merupakan salah seorang fotografer langka yang mendapatkan semua itu.
"Dengan bekal semangat petualangan luar biasa, Henri selama tiga tahun meliputi Asia.
"Di Indonesia, tahun 1949 - 1950, ia memotret periode peralihan kemerdekaan Indonesia dengan ketajaman dan ketepatan pandangan seorang fotografer. Di dampingi Retna Mohini, istrinya yang berkebangsaan Indonesia, fotografer l'instant decisif (momentum yang tepat), sebutan yang ia sandang, menjelajahi negeri dari berbagai aspek historis, politik, artistik serta budaya Indoensia."

*intermezo*
"dibalik kehebatan seorang pria, selalu ada perempuan-perempuan hebat"
hoho, entah kenapa kutipan itu teringat lagi.
jadi ingat sedikit tentang kisah cinta mantan presiden kita, B.J. Habibie,
yang semanis gula jawa :]
*intermezo, selesai!*

menggoda sungguh menggoda.
am gonna need my pintukemanasaja.

ada satu foto yang menggugah sungguh,
tentu dengan keterangan foto yang secara instan menarik akal pikiran saya:


satu kompi gerilyawan PNI (Partai Nasional Indonesia) baru saja turun dari gunung untuk tinggal satu hari di kota. beberapa di antara mereka tidak bersepatu tapi bersenjata, yang lain bersepatu tapi tidak bersenjata. ketika saya berbicara dengan pemimpinnya, dia mengatakan bahwa dia siap melaksanakan apapun perintah atasannya. dia mengetahui perundingan yang sedang berlangsung di Den Haag dan dia ulangi lagi bahwa apapun keputusan dari atasannya akan dia turuti. dia katakan bahwa rakyat mendukung pergerakan mereka dan semua pergerakan kemerdekaan yang lain.
"kami adalah ikan", katanya, "dan rakyat adalah laut tempat kami bergerak".

ke Ungaran

lewat muntilan,
ada motor tua yang bagus. khaha.

magelang..
ada rumah yang bangunan nya tampak tua sekali.

dan sebuah gunung yang entah apa nama gunung nya ini, yang jelas, dari mobil tempat saya duduk bergerak, puncaknya selalu menyembul, membuat saya penasaran ingin selalu meliriknya.
gagah.
bagaimana tidak, secepat kendaraan yang membawaku melaju, ia masih saja bisa mengawasi.
diselubungi sedikit awan-awan putih, menambah rasa ingin saya untuk selalu melirik.
mencoba memotret tapi selalu gagal terhalang sesuatu.

dihalang pohon..


dihalang tiang-tiang..

dan sampai pada foto ini.
khaha.
satu-satu nya hasil tangkapan ter-jelas.

ting tung ting tung! "alat pengumpul keringaaaatt"

ternyata benar adanya jaket parasut adalah kolektor keringat.

setelah sekian lama, akhirnya saya kembali bersepeda! horeeeee :D
senang sangat!
bisa bangun pagi dan tidak tidur lagi hari ini, terimakasih Tuhan,
lalu lala-lili, dan
saya berangkat kerja dengan sepedah!
TAPI
u la la
saya tidak ingin sesampainya di kantor bau asep knalpot kendaraan lain seperti hari hari bersepeda sebelumnya.
maka saya pun punya ide (yang saya rasa) BRILIAN!
saya pakai saja jaket parasut yang biasa saya pakai kalo saya naik motor!

sesampainya di kantor,
melepas jaket anti asap,
dan apa yang terjadi saudara saudara,
KEMEJA SAYA BASAH aja..

satu pelajaran untuk saya, disertai sertifikasi mengalami sendiri,
"ternyata benar adanya jaket parasut adalah kolektor keringat"

Thursday, May 20, 2010

oleh oleh buat Kandie

di satu siang yang panas,
dari Taman Budaya Yogyakarta,
aku melihat pemandangan ini, Ndie!
aaawwwwwhhhh, ada anak kucing! dua buah! beda warna..dan mereka lagi tidur siang, dan saling menumpuk..heuuuu..L U C U banget.
aku inget di laptop kamu banyak gambar binatang menggemaskan.
mungkin secara fotografi kurang bagus ngambil angle nya, abis aku takut mereka bangun terganggu kalo aku kedeketan, jadi dari jauh aja motretnya, khehe :P

Wednesday, May 19, 2010

oleh oleh buat Saska

di taman budaya ada Theo Jansen, Ka! :D
gila gila gila!


ini, yang ini makhluknya! apa namanya, Ka?


ada kaya rantai sepeda-nya tapi, tidak seperti karya Theo Jansen yang bergeraknya dengan angin


ini tampak belakang.
itu ada kursi pengendara nya.
dan ada tangki biru nya.


see, seperti rantai sepeda..


ini tuas rem nya.
seperti tuas rem pada sepedah juga.


another zoom kursi dan tuas rem


fin.
:]

cerita rujak es cream dan toprak jakarta di halaman Pura Pakualaman, serta hujan

wisata kuliner strikes back! :D
kali ini Amanda Mita beraksi di Halaman Pura Pakualaman!

dengan menu:
RUJAK ES CREAM
dan
TOPRAK JAKARTA

Rujak, tapi pake Es Cream?
bayangkan, Jogja terik, Matahari bersinar ceria, menggigit kulit setiap remaja tua maupun muda yang bergumul dengan asap debu jalanan. ugh. belum lagi peluh yang tak kunjung kering akibat udara lembab dan angin yang juga terasa panas. jadi..bukan salah bunda mengandung jika tulisan "rujak es cream" secara instan menarik jiwa maupun raga. dan aku pun berlabuh.

waktu disajikan, tampilan rujak ini secara kasat mata adalah, es krim berwarna putih menutupi serutan campuran-campuran buah.


mari kita bedah!


es cream yang membuat saya penasaran, sempat saya duga merupakan es cream vanila, ternyata oh ternyata, es cream nya adalah es puter yang biasa disajikan emang-emang roti es cream gerobak dorong sodara-sodara.
mari kita tilik komposisi buah pada rujaknya:
timun, mangga, pepaya muda, nanas, kedondong, dan bengkuang (yak, absen selesai! maaf bebuahan, kalau ada yang kelewat sama indra perasa lidah saya)

dan mari kita rasakan..

hmm..cocok sungguh cocok dimakan panas-panas siang terik begini di Jogja sodara-sodara. se cocok alan budikusuma dan susi susanty yang mengawinkan thomas cup dan uber cup yang kemudian menikah sungguhan itu!
perpaduan antara es puter yang rasanya manis tapi rada asin itu, lalu dinginnya mengiringi sensai pedas dan asin dari rujak serut, belum lagi ditambah bebuahan yang masih muda kinyis-kinyis itu begitu "krius" dan "kruwes"
sluuurrrrpp!
memberikan sensasi cair dan lumer tersendiri di dalam mulut saya.
hmm.. *sambil senyum dan merem lalu terbang di angan-angan a la Yoichi si bocah Born to Cook!

oia, info harga! DUA RRRRRIBU rupiah saja sodara-sodara!

lalu karena sudah jam makan siang juga, sayang rasanya kalau tidak sekalian memberi makan si Alvi, piaraan saya dalam usus.
maka setelah browsing, surfing, dan aming..mata saya pun menghujam sebuah gerobak di pojok dengan titel,
"Toprak Jakarta"

kenapa saya memilih Toprak Jakarta padahal saya ada di Jogja?
nah JUSTRU karena saya ada di Jogja saya heran,

"Ngapain si toprak jakarta ikut mejeng di mari, di kota gudeg?"

maka rasa penasaran itu pun mendorong saya untuk berjalan memesan,
"toprak nya satu, bu!" sambil cengengesan.


cengengesan karena tidak sabar ingin membandingkan seperti apakah rasa Toprak Jakarta di kota Gudeg? apakah ia berhasil menjadi sidestream di tempat mainstream gudeg ini?
long story short, Toprak saya datang!
jeng jeng!

o w k e i, LET'S EAT :D
eh tunggu, sebelum saya mulai makan, saya mengingat-ingat rasa ketoprak yang sering saya makan dulu di depan SMA saya, SMA 6 jakarta.
kelebihan ketoprak atau toprak dari makanan sefamilinya seperti kupat tahu, gado-gado, lotek, dan pecel, adalah,
ketoprak memakai bihun.
dan rasa bawang putihnya terasa.


owkai, sekarang makan beneran! mari kita bedah komposisi sayurannya:
kol, toge, tahu, tupat, kacang panjang, bihun (yak, bihun, check!), bawang goreng, telur rebus, dan timun. tunggu tunggu, nah ini yang beda..disini ketoprak nya pake telur rebus dan timun. mungkin karena itu namanya dipotong jadi "Toprak" karena memang sedikit berbeda dari "Ketoprak" :P agak sedikit ke-gadogado-an rupanya. tapi tidak apa, yang beda itu memberi variasi :]
lalu tidak lupa juga bawang goreng (yumm), kerupuk dan bumbu kacang yang..juga maniss, khaha, teteup, maniss.
harga: Rp 6.000,00

selesai makan, saya pun pergi dalam rangka kembali melanjutkan tugas.
tugas hari itu adalah memotret panggung Taman Budaya dan ke tempat Sound System, BLASS.
dalam jalan pulang, saya melihat seorang simbok-simbok (ibu-ibu tua) yang sedang membakar sate.
saya jadi ingat ucapan teman saya, Datta,

"Dulu tuh di pakualaman sini ada simbok-simbok tuaa banget, yang jualan sate kere (miskin). dinamain kere soalnya sate nya tu harganya muraaah banget. dulu tuh harganya 2000 udah dapet banyak. itu lho, sate yang kalo dibakar tu baunya wangii banget tapi kalo dimakan lengket-lengket di gigi itu lho, soalnya banyak lemaknya.."

euh.
bisa ya jualan tetelan disini.
kalau saya yang jualan, pasti pulang-pulang saya kurus* :P
*maaf becanda lokal, mungkin hanya beberapa yang mengerti, khaha*


dan hari pun berlanjut.
dan seperti daerah lain nya pula, di Jogja, hujan masih merajuk ingin bercengkerama dengan sang tanah dan banyak pepohonan, selain tiang-tiang listrik dan manusia-manusia liliput di antaranya.
alhasil, hari itu saya ikut bercengkerama dengan hujan di bawah atap demi atap selama total kurang lebih 2 jam.

di peneduhan terakhir, karena hari sudah sore dan udara terasa agak dingin, saya pun tergoda dengan Bapak-bapak penjual Wedang Ronde :]


tidak ada yang spesial secara rasa dari Wedang Ronde ini, bahkan cenderung sederhana.
tidak semanis dan sekental Wedang Ronde di Jalan Alkateri di Bandung.
juga tidak se-ramai Wedang Ronde di Jalan Bengawan di Bandung.
dua tempat biasa saya mencari Wedang Ronde waktu di Bandung.

Wedang Ronde ini sederhana.
kuah jahe nya encer,
mochi nya pun berisi sedikit kacang.

tapi di tengah sore yang hujan itu,
melihat si Bapak senang karena mendapat pelanggan di tengah hujan,
si Alvi pun senang karena sedikit diberi kehangatan,
rasanya wedang ronde ini terasa pas.
cukup.
dan sebagai sambutan, saya hanya bisa melahapnya sambil tersenyum-senyum :]
senyum dikulum, my favorite.